Rabu, 22 Januari 2020

Petualangan Sherina, Permen-permen Coklat dan Sebuah Keinginan Masa Lampau

Bagi generasi tahun 90-an, Petualangan Sherina sepertinya bukanlah film yang asing. Ya, film yang rilis tahun 2000 ini menceritakan tentang perjalanan seorang anak perempuan dengan beberapa konflik batin karena harus berhijrah ke kota Bandung. Padahal diketahui bahwa ia sudah merasa nyaman dengan tempat tinggal lamanya.

Bayangkan aja lho, kalau kamu udah merasa nyaman dengan lingkungan tempat tinggalmu, teman-temanmu di sekolah, guru-gurumu hingga jalan yang biasa kamu lalui, tiba-tiba orangtua kamu bilang kalau sekeluarga harus pindah ke kota lain. Jelas, itu menjadi bentuk kesedihan yang cukup mendalam, apalagi untuk anak kecil.

Namun demikian, konflik dan keseruan film ini justru terletak pada cerita Sherina setelah pindah rumah ke Kota Bandung. Banyak hal-hal tak terduga yang ia dapatkan setelah menjejakkan diri ke sekolah barunya. 

Mengenai film Petualangan Sherina, aku ingat saat menontonnya pertama kali, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku menonton film ini bersama teman sebangku melalui kaset DVD.

Saat itu, sebagai hadiah temanku rangking 2, ayahnya membelikan kaset DVD Petualangan Sherina. Eits, saat itu belum ada yang namanya youtube atau Indo XX1, ups, (yaiyalah secara youtube baru hits beberapa waktu ini) jadi nonton pakai DVD aja rasanya udah happy dan mewah banget.

Apa, mewah!!? Jelas. Dikampungku pada masa itu, orang yang punya televisi dan DVD bisa diitung pakai jari. Kebetulan teman kelasku ini keluarganya cukup berada. Jadi gak heran kalau ia bisa menikmati film-film favorit yang ia inginkan setiap waktu. Dan asyiknya, aku selalu diajak olehnya.

Bagiku, film Sherina memberi efek yang cukup kuat mengenai persahabatan dan petualangan. Apalagi ditambah lagu-lagu keren yang bahkan sampai saat ini masih bisa kuingat. Well, petualangan Sherina itu film musikal, jadi kita akan disuguhi beberapa lagu di dalamnya. Sampai sekarang lagu yang cukup ternginang yang berlirik,

"Dia pikir dia yang paling jago merasa paling hebat dan paling kuat, bla bla bla..."
Hayoloh siapa yang baca tuh lirik sambil nyanyi, ngaku..ayo..ngaku...hahah. Bagi kamu yang nyanyi nih lirik berarti kamu termasuk orang yang kena racun Petualangan Sherina kayak aku.

Riri Riza selaku sutradara telah berhasil membuatku tenggelam dalam imajinasi menjadi tokoh Sherina. Yaps, selepas nonton, jiwa bertualangku seolah terbangun. Ahaiii, rasanya ingin sekali bisa menjadi pemberani dan smart seperti Sherina (Sherina Munaf).

Penokohan yang Sherina mainkan membuatku suka. Dia bukanlah sosok pendiam dan lemah. Dia mudah sekali beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal itu bisa dilihat saat dia menjejak pertama kali ke sekolah saja, Sherina sudah bisa membuat geng. Tapi, ada 1 orang anak laki-laki yang cukup bandel dan cukup kontra dengan kehadiran Sherina. Dialah bocah laki-laki bernama Sadam (Derby Romero). Btw, si Sadam ini juga punya geng yang isinya laki-laki. Jadi ceritanya geng milik Sherina dan Sadam bertengkar mulu kerjaannya.
Lucunya, ayah Sadam yang bernama Ardiwilaga (Didi Petet) ternyata merupakan kepala perkebunan tempat ayah Sherina (Mathias Muchus) bekerja. Ya otomatis Sherina bakalan ketemu donk  sama Sadam, lha wong ayahnya Sherina harus sering laporan ke Ardiwilaga. Eh seru banget beneran pas aku lihat adegan mereka berdua ketemu. Maklum, pas itu masih kecil, jadi adegan kayak gini tuh bikin gemes hehe.
Konflik dimulai ketika Sadam memberi Sherina tantangan untuk menjelajahi perkebunan milik Sang Ayah. Disana ternyata mereka bertemu para penculik (Yadi Timo, Butet Kertarajasa, Sas Wijanarko)---yang masih memiliki hubungan pekerjaan dengan keluarga Ardiwilaga---dan meminta tebusan uang 2 Milyar. Waduh!!

Singkat cerita, Sherina berhasil kabur dan melaporkan dalang utama dibalik penculikan yang mereka alami. Penculikan yang tak lain disebabkan oleh rekan kerja Ardiwilaga sendiri bernama Natasha (Henidar Amroe) dan Kertarajasa (Djaduk Ferianto).

Pada akhirnya, para penculik pun berhasil ditangkap. Sherina dan Sadam akhirnya bisa menjadi teman baik, menyatukan geng perempuan dan laki-laki. Ceritanya memang simpel, namun bagiku yang sangat mengidolakan Sherina, aku begitu bahagia bisa menontonnya.
Permen Warna-warni, Makanan yang Mewah buatku
Sumber gambar : Pinterest
Kamu yang udah nonton, masih ingatkan dengan adegan Sherina yang makan permen coklat warna-warni dalam wadah plastiknya? Ya, itu adegan favoritku banget. Tahu gak sih, selain suka dengan jalan ceritanya, aku dulu pengen banget rasanya bisa bawa bekal permen-permen coklat layaknya Sherina.

Bisa dibayangkan, permen coklat seperti itu, pada zaman SD, harganya tak murah. Yang bisa membeli permen-permen semacam itu tentu saja anak-anak yang punya orangtua berada. Sedangkan aku bukanlah anak dari orangtua berada. Imbasnya, aku kala itu hanya menyimpan imajinasi memiliki seransel makanan-makanan enak, termasuk permen coklat di dalam tas bututku.
Permen-permen coklat itu cukup hits setelah Film Sherina tayang. Di berbagai supermarket menjual mereka dengan harga variatif. Rata-rata sih agak mahal untuk ukuran keluargaku yang jarang pergi ke supermarket.  Lucunya, aku pernah berdoa supaya Tuhan menjatuhkan hujan permen coklat dibumi. Hehe, sebuah permintaan khas anak-anak banget.

Setiap aku bernostalgia dengan permen coklat yang akan selalu kuingat adalah Sherina dan doaku pada Tuhan diberi hujan permen. Ya, mungkin kamu memiliki pengalaman yang sama, bernostalgia dengan masa kecil lalu menemukan keinginan polosmu?

Keinginan Masa Kecil yang tak bisa diwujudkan.
Mungkin keinginanku makan permen coklat layaknya Sherina serupa dengan salah satu postingan dari netizen bernama @bagassadillah. Melalui twitter, kurang lebih ia mencuit seperti ini

Hallo @wallsidn, saya merindukan ice cream ini.. saat saya kecil saya tidak mampu membelinya karna harganya tergolong mahal untuk bocah sd, namun skrng saya sudah dewasa dan saya mencari ice cream ini sudah tidak ada lg :( bsakah kau menghujutkan mimpi sya untuk mencoba nya? (Sumber : Tribun Manado).

Bisa dipahami bahwa zaman dulu, orangtuaku bekerja sebagai penjual buah dengan rata-rata pendapatan yang tak mesti. Jangankan membeli permen-permen, untuk membeli kebutuhan primer saja harus memutar otak.  Penghasilan berbanding lurus dengan segala hal yang kita inginkan. Saat penghasilan orangtua kita besar, maka keinginan apapun bisa menjadi nyata, tak sekadar doa.

Cuitan Bagas melui twitternya seolah memvisualisasikan aku di masa lalu. Jika Bagas ingin makan es krim, aku ingin makan permen coklat warna-warni. Kami sama-sama memiliki keinginan untuk memakan sesuatu yang tak bisa terwujud. Hanya saja, nasib masih baik padaku. Permen coklat ala2 Sherina masih dijual hingga sekarang. Bahkan harganya pun terjangkau kantongku. Sedang Bagas, masih harus bersabar. Setahuku, Es Krim Vien***** sudah tidak diproduksi lagi oleh perusahaan.
Sumber gambar : Hexus Forum
Mungkin saja diluaran sana banyak anak-anak yang memiliki keinginan polos di masa lampau dan itu harus berhenti karena kondisi ekonomi. Ya, meskipun pada akhirnya aku bisa mewujudkan keinginan itu bertahun kemudian, tapi its allright. Bagiku, keinginan makan permen menjadi penanda bahwa masa kecilku full imajinasi. Satu hikmah, ini artinya sesuatu yg mungkin kita inginkan bakal bisa terwujud. Asal sabar dan tetap berusaha, oh ya, jangan lupa berdoa pada Tuhan.

Yap, demikian kisah Sherina, Permen Coklat dan Sebentuk Keinginan di masa lampau. Semoga aku bisa membagikan cerita-cerita lainnya sepanjang aku menjalani hidup. See ya friends, keep smile always :)

4 komentar:

  1. Waah mengenang Sherina era 90,an..Sedih2 lucu filmnya meski tidak serius kala itu nontonnya. Jadi penasaran apakah ada diyoutube kali yaa filmnya.😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe nonton aja Bang. Itu film yang hipe banget buat anak 90an. Bagus kok ceritanya, seru :D

      Hapus
  2. Film kesukaan saya nih.. hahaha.. jadi pingin nonton lagi.. nostalgia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku aja pengen nonton lagi. Kangen aja sama cerita dan nuansanya haha

      Hapus