Senin, 06 Januari 2020

Menelisik Kontribusi Nyata Freeport Bagi Bumi Cendrawasih

“Ukiran itu bukan barang mati, bukan kosong, tetapi jiwa semangat seorang pengukir terkandung di dalamnya” (Patris - Maramowe the Kamoro Carver)
Dialog antara Timo (Kiri) dan Patris (Kanan) dalam trailer 
film Maramowe (The Kamoro Carver). Sumber : Youtube Minor Pictures
Begitulah sebuah kalimat yang muncul dalam dialog antara Timo (Benjamin Melam) dan Patris (Herman Kiripi) di Film pendek karya Alfan Ramadey berjudul Maramowe (The Kamoro Carver). Dalam film tersebut, Alfan berusaha untuk mencuatkan sisi keindahan Bumi Cendrawasih melalui jejak para pengukir asli Papua yang berada di Kabupaten Mimika, bernama Suku Kamoro.

Berdasarkan informasi dari Papua.go.id, saat ini jumlah suku asli Papua tercatat sebanyak 255 suku. Dari total keseluruhan, terdapat 7 suku yang bertetangga langsung dengan area Freeport, termasuk Suku Kamoro.

Mungkin tak banyak orang mengetahui tentang suku Kamoro dan berbagai sisi menarik mereka. Padahal, suku ini memiliki kontribusi dalam pelestarian seni ukir di Papua. Ya, merekalah pencipta kearifan lokal seperti Wemawe (patung orang), Yamate (perisai), Po (dayung), Paru (mangkuk sagu), Eme (gendang), dan Mbitoro (totem leluhur).
Sumber : Instagram PT Freeport Indonesia
Menurut Suku Kamoro, ukiran adalah jiwa. Ukiran adalah perpaduan antara seni, asa, kreativitas dan bentuk komunikasi mereka terhadap leluhur. Wemawe dan Mbitoro misalnya, merupakan jenis ukiran yang memvisualisasikan leluhur Suku Kamoro. Bagi mereka, membuat karya ukir berupa Mbitoro/Totem perlu ritual khusus yang tak bisa dilakukan oleh sembarangan orang.

Nah disinilah tantangannya, tak semua generasi muda Kamoro memiliki keinginan melanjutkan skill mengukir. Apalagi dengan hadirnya arus modernisasi, membuat para Pemuda Kamoro memilih  profesi yang lain.
Karya seni ukir dan anyaman dari suku Kamoro 
(Sumber : Instagram PT Freeport Indonesia)
Melihat permasalahan tersebut, banyak sekali pihak yang berkeinginan mengepalkan kembali kesadaran pemuda Papua terhadap seni ukiran. Termasuk Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, sebuah lembaga yang didirikan oleh perempuan bernama Luluk Intarti atas dukungan penuh dari PT Freeport Indonesia, demi melestarikan budaya mengukir Suku Kamoro di Kabupaten Mimika, Papua.

Hadirnya Yayasan Maramowe bagi Suku Kamoro layaknya hujan di tanah yang kering. Ia memberikan secercah kehidupan melalui air yang membasahi. Suku Kamoro yang awalnya hanya membuat karya seni seadanya dan dijual dengan harga murah, kini telah berubah. Karya ukir mereka tak hanya lebih diapresiasi karena bentuknya yang indah tetapi juga telah dipamerkan di ajang budaya nasional bahkan internasional.

Yayasan Maramowe—yang saat ini diketuai oleh Herman Kiripi—tak hanya membekali masyarakat Kamoro ilmu mengukir saja, tapi juga cara memasarkan dan mengikutsertakan produk melalui berbagai pameran seni hingga memperkenalkan ke sekolah-sekolah. Yayasan Maramowe merupakan contoh nyata kontribusi Freeport untuk masyarakat Bumi Cendrawasih. Sebenarnya, masih banyak sumbangsih lainnya yang tak kalah luar biasa.

Pernahkah kamu mendengar tentang Noken? Noken merupakan tas rajutan atau anyaman multifungsi hasil kerajinan tangan masyarakat Papua. Seandainya kamu pernah melihat mamak-mamak Papua menggendong tas kulit kayu di kepala mereka, nah itulah tas bernama Noken. Noken sendiri merupakan kearifan lokal yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.
Beginilah bentuk Noken, kerajinan khas Papua yang telah diakui oleh UNESCO 
Berita baiknya, Freeport menjadi salah satu perusahaan yang mendukung penguatan dan ketrampilan para pengrajin Noken melalui bantuan alat pemintal. Bukan hanya itu saja, Freeport juga menyediakan para pendamping dan mitra agar kerajinan Noken semakin dikenal dan mudah untuk dipasarkan. Freeport Indonesia berharap para pengrajin Noken mampu mandiri melalui alat pemintal dan pengembangan skill yang mereka dapatkan.
“Apa yang pertama kali kamu bayangkan ketika mendengar tentang PT Freeport?”
Sumber gambar : Bisnis.com
Barangkali kita sama, menarasikan PT Freeport Indonesia (PFTI) sebagai perusahaan yang berkecimpung dalam pertambangan mineral. Ya, memang kamu tak salah. Namun dibalik itu semua, ternyata PT Freeport tak hanya berbicara mengenai tambang tembaga, emas ataupun perak. Lebih dari itu, perusahaan ini juga berkontribusi dalam pengembangan bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur hingga ekonomi masyarakat Papua melalui praktik mining for life atau green mining.
Pada tahun 2018, terjadi penandatanganan Sales Purchase Agreement (SPA), dimana 51% saham milik Freeport resmi dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Berita tersebut jelas membawa angin segar bagi tiap orang di negeri ini, terlebih mereka yang berada di wilayah Papua. Mengapa demikian? Sebab, itu berarti pemerintah pusat dan daerah memiliki cukup ruang untuk mengatur kebijakan, SDM dan pendapatan yang diperoleh PTFI, entah dalam bentuk pajak hingga hasil penjualan bahan tambang. 

Bayangkan saja, selama kurun waktu 1992-2017, Freeport telah berkontribusi sebesar 94% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Mimika, sebesar 48% terhadap PDRB Provinsi Papua dan memberikan sumbangsih bagi negeri berupa PDB sebesar 0,6%. Belum lagi pendapatan dari pajak. Berdasarkan informasi dari kompas.com, tercatat, PFTI merupakan pembayar pajak terbesar dengan total 756 juta dollar AS pada tahun 2017.
Kabar baik dimilikinya saham Freeport sebesar 51% juga terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Baik pemerintah pusat maupun daerah bisa memberi ruang lebih bagi rakyat Indonesia, terutama masyarakat Papua untuk berkarir melalui skill yang mereka miliki.
Freeport memberi ribuan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia
 (Sumber gambar : Instagram Freeport)
Apabila diakumulasi, tentu saja masih banyak kontribusi lainnya yang Freeport upayakan bagi pengembangan masyarakat di bumi Cendrawasih, terkhusus mereka yang tinggal dekat dengan lokasi pertambangan. Seperti yang kita tahu, ada 7 suku di lingkungan operasional Freeport yang memiliki kemampuan mencipta karya seni berupa ukiran, anyaman dan khasanah budaya yang lain.
Pameran Seni Kamoro, salah satu cara memperkenalkan budaya
Papua ke masyarakat luas (Sumber gambar : Instagram Maramowe Foundation)
Tak ingin khasanah budaya tersebut memudar tergerus zaman, Freeport berinisiatif mendukung komunitas pengrajin dengan menyumbang 1% dana dari total pendapatannya melalui Corporate Social Responsibility yakni 33 juta dollar AS pada tahun 2016 dan 44 juta dollar AS pada tahun 2017 (Ekonomi.kompas.com). Salah satunya disalurkan melalui Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe.

Telah banyak narasi positif yang PT Freeport Indonesia torehkan bagi negeri, terutama bagi kehidupan masyarakat Bumi Cendrawasih. Harapannya, perusahaan ini akan terus memberikan dedikasi yang mampu melejitkan nama Indonesia melalui aktivitas Mining for Life yang mulai diupayakan. Akhir kata, terima kasih Freeport. Teruslah merajut asa bagi Bumi Papua dan Indonesia. Salam dari Pekalongan!


Artikel ini diikutsertakan dalam #NarasiDariPapua Blog Competition yang diselenggarakan oleh PT Freeport Indonesia.

Referensi : 
  • https://ptfi.co.id/id/facts-about-feeport-indonesia
  • https://katadata.co.id/infografik/2017/03/06/berapa-kontribusi-freeport-bagi-indonesia
  • https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/22/142513326/pembayar-pajak-terbesar-freeport-sumbang-penerimaan-negara-172-miliar-dollar
  • https://mediaindonesia.com/read/detail/117910-sumbangsih-lima-dekade-bagi-indonesia
  • https://bobo.grid.id/read/08677360/ukiran-maramowe-dari-kamoro
  • https://www.papua.go.id/view-detail-page-254/Sekilas-Papua-.html

16 komentar:

  1. Wiwin | pratiwanggini.net17 Januari 2020 12.34

    Aku di rumah punya noken lho... Kebetulan kami terbiasa bergaul dengan orang-orang Papua, baik yang ada di Jogja, maupun yang ditemui di mana pun. Semoga keberadaan Freeport bisa membawa masyarakat Papua menuju sejahtera ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beli dimana Mba Wiwin? Soalnya aku kalau di Pekalongan gak pernah menemukan. Kalau di Jogja banyak ya?

      Lucu tuh untuk oleh2, beli Noken :)

      Hapus
  2. Freeport memang berkontribusi nyata buat masyarakat Papua. Saudaraku ada yang di Papua pernah kasih oleh-oleh tas Noken. Anaknya sekolah di Jawa. Mbak Nurul kalo mau bisa pesan lho... (he, he..malah iklan).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iyakah? Satu tas Noken itu dijual berapaan Mbak Yus. Pengen sih beli Noken untuk koleksi tas dirumah. Apalagi bisa dibawa untuk belanja tuh. Mlayan, hemat penggunaan plastik dengan Noken :D

      Hapus
  3. Bicara Papua berarti mengembalikan ingatan pada masa lalu. Aku sedikit tahu tentang Papua dari seseorang yang bertahun-tahun hidup di sana. Termasuk suku dan distrik yang ada di sana. Berharap Papua masih akan selalu alami asri dan ganas biar tidak mudah untuk digasak sana sini. Btw noken itu satu barang yang punya cerita panjang untuk pejuangLDR

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah wah sepertinya Mbak Mini punya cerita tersendiri nih tentang Papua dan Noken?

      Hapus
  4. Jadi pengen nonton filmnya juga nih. Btw, dengan saham 51% udah milik Indonesia, semoga bisa makin memberikan kesejahteraan untuk warga sekitarnya ya. Gimanapun jangan sampai lagi lah, aset bangsa malah dipegang bangsa lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harapannya seperti itu Mba Inna, semoga saja semakin majunya Freeport memberi pula kemajuan bagi Indonesia, terkhusus Papua :)

      Hapus
  5. Semoga keberadaan freeport semakin memberi kontribusi kepada masyarakat papua. Filmnya menarik mb, jadi sedikit tahu tentang masyarakat papua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja Mba Sapti. Iya, aku juga kepo sama filmnya :D

      Hapus
  6. Bila mendengar Freeport, aku kok jadi teringat ayah kawanku yg dulu kerja di sana... Hehehhe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana gimana mbak? Apakah ada cerita yang bisa diceritakan hehehe

      Hapus
  7. ternyata perempuan pendiri yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, proud of you Mba, btw cerita papua selalu menairk, suka dengan budayanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pengen banget bisa ke Papua Mba, ngerasain suasana didasana seperti apa hehe

      Hapus
  8. Aku dulu keliling Papua tapi tak sempat melihat freeport deuhhh mohon maaf saya siapa kwkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk dikira Freeport tempat wisata apa mbak Ver hahaha
      Padahal tempat tambang hehe

      Hapus