Jumat, 20 November 2020

Review Film On-Drakon : Film Romantis Rusia yang Bikin Ketagihan Nonton

Menonton film Barat, India maupun Korea Selatan aku yakin bukan sesuatu yang luar biasa di era kiwari. Hampir tiap orang sudah katam dengan berbagai judul dan situs yang biasa diakses. Namun, diantara kamu pecinta film, udah pernah kepo film dari negara Rusia belum sih?

Kalau belum, gak ada salahnya nih nonton sebuah film bergenre romantis yang akan membuat jantung kamu berdegub kencang. Hayooo, kira-kira judulnya apa nih? Oke mari kita bahas.

Well, jadi beberapa waktu lalu ketika membuka youtube, aku memilih sebuah video musik instrumental kesukaan. Kebetulan aku memang sering replay dan mengamati cerita yang disajikan dalam video tersebut.

Awalnya kukira itu memang klip asli dari instrumental berjudul Beyond Love karya Ivan Torrent. Namun setelah melihat salah satu komen, ternyata scene di video bukanlah klip asli melainkan potongan-potongan adegan film romantis asal Rusia berjudul "On-Drakon".

Pernah melihat atau menonton film On-Drakon? Jika Belum, baiklah, berarti kita satu formasi. Dalam tulisan kali ini, aku akan mengulas film On-Drakon yang apabila diterjemahkan dalam Bahasa Inggris berarti He is The Dragon atau I am Dragon. Kan jarang-jarang tuh lihat film dari Rusia kecuali Masha and The Bear, wkwk

On-Drakon merupakan film besutan sutradara Indar Dzhendubaev yang rilis tahun 2015 lalu. Diperankan oleh Maria Poezzaeva dan Matvey Lycov, film romantis fantasi ini telah membuat hatì penontonnya berbunga-bunga. Bagi kamu yang suka dengan film genre romantis fantasi, film ini bisa jadi salah satu pilihanmu.
***
Cerita dimulai dari monolog seorang lelaki yang tengah bercerita menggunakan  wayang mengenai legenda Naga dan ritual pengantin kematian. Diceritakan bahwa dulu, ada sebuah ritual yang mengorbankan para perempuan muda untuk dijadikan sandera seekor naga. Lho kok kejam banget ya orang-orang itu?
Arman tengah memegang wayang dan bercerita tentang naga (Sumber : theidlewoman.net)
Memang sih rasanya kejam sekali karena harus memberikan nyawa. Tapi, ibaratnya gini, orang-orang itu kan gak mau desanya terkena musibah yang disebabkan oleh semburan api dari mulut naga. Jadi demi menghindari itu, mereka menyiapkan para perempuan melalui ritual persembahan.

Setiap ritual dimulai, orang-orang akan menyanyikan lagu tertentu untuk memanggil Naga. Sebelum itu, mereka akan menghanyutkan beberapa perempuan muda menggunakan perahu. Tentu saja dengan posisi kaki tangan para perempuan itu terikat.

Sembari bernyanyi dan menunggu Naga datang, masyarakat melontarkan buah-buah Berry merah. Jika diperhatikan, Berry itu menyimbolkan darah sebagai tanda bahwa pengorbanan itu akan berakhir dengan hilangnya nyawa.

Nantinya, dari sekian perempuan, akan dipilih 1 orang. Bener saja, dari 4 yang dihanyutkan, ternyata Naga hanya memilih 1 perempuan yang menurutnya cocok untuk dijadikan sandera, sebelum akhirnya dibunuh.

Apes bagi Si Naga, perempuan itu ternyata punya kekasih yang nantinya bakal membunuh dirinya. Sebagai seorang yang mencintai si perempuan, tentunya lelaki itu akan berjuang penuh untuk menyelamatkan kekasihnya dari jeratan naga.

Bersama dengan tekat membara, si lelaki bermaksud datang sendiri ke Pulau Naga, tempat dimana makhluk  tersebut bernaung. Sebelum itu, si lelaki berlatih beladiri terlebih dahulu agar bisa bertarung jika bertemu dengan Si Naga.

Selesai berlatih, Ia kemudian mendatangi pulau, berharap bisa membawa kembali kekasih pujaannya untuk diajak menikah dan hidup bahagia. Naas, ternyata si Lelaki terlambat, kekasihnya sudah mati oleh semburan api sang naga.

Saat datang ke gua, yang tersisa hanyalah kalung si perempuan, teronggok tak bertuan pada sebuah batu dimana pada atasnya terdapat abu. Tentu saja itu membuat si lelaki murka.
Pulau Naga tempat para perempuan dibawa oleh Naga, termasuk Mira (Sumber gambar : Youtube)
Dengan kemurkaan yang membara, si Lelaki membunuh naga tersebut ketika lengah yakni ketika si naga berubah menjadi manusia. Si lelaki menusukkan tombak ke manusia naga hingga terjatuh. Naga pun mati, jatuh ke dasar lautan.

Dengan berat hati si lelaki harus kembali ke desanya tanpa sang kekasih. Meski demikian, si lelaki kemudian dijuluki sebagai "Pahlawan Pembunuh Naga" oleh masyarakat karena telah berhasil menghabisi monster berapi itu.

***
Bertahun berlalu, serangan naga tak pernah lagi ditemukan. Semenjak itu, setiap upacara pernikahan, orang-orang tidak lagi menyanyikan lagu panggilan naga, namun tetap menjalankan ritual melepas pengantin dengan meletakkan mempelai perempuan ke perahu.

Jadi ceritanya, nanti mempelai laki-laki di seberang bakal menarik perahu pengantin perempuan melalui tali yang diikatkan pada perahu. Kalau dilihat, itu semacam simbol bahwa lelaki itu tengah berjuang mendapatkan cinta pengantin perempuan melalui usaha menarik perahu.
Mira sedang berada di perahu yang tengah ditarik oleh Igor (Sumber gambar : Voyages)
Kali itu yang menikah adalah anak seorang Raja bernama Miraslava atau Mira (Maria Poezzaeva). Ia hendak dipersunting oleh cucu dari "Sang Pembunuh Naga" bernama Igor (Pyotr Romanov). Ritual telah dijalankan, Mira telah dihanyutkan menggunakan perahu yang nantinya akan ditarik oleh Igor sebagai simbol ia telah berjuang mendapatkan Mira

Namun demikian, ada kesalahan fatal ketika prosesi menarik perahu. Merasa naga sudah tak ada, orang-orang menyanyikan kembali lagu memanggil naga. Hal itu dilakukan sebagai simbol penghormatan karena Igor merupakan cucu dari Sang Pembunuh naga.

Alih-alih pernikahan berjalan lancar, ternyata malah sebaliknya. Ada Naga yang datang dan membawa Mira menuju pulau naga. Dari sinilah petualangan cinta Mira dan Sang Naga, Arman (Matvey Lycov), dimulai. Apakah nasib Mira juga akan sama seperti perempuan lainnya, mati menjadi abu?

On-Drakon menawarkan cerita fantasi yang begitu apik. Romansa tokoh utamanya terjalin melalui berbagai hal yang terjadi. Gemas, cemas dan setiap kata-kata manis membuat cerita ini begitu indah. Imajinasi yang tercipta melalui persahabatan antara naga dan manusia menjadi hal yang indah untuk diulik. 

Jujur, aku begitu menikmati tiap alur yang disajikan oleh sutradara Indar Dzhendubaev . Cerita On-Drakon hampir serupa dengan romansa karya Disney, Beauty and The Beast. Hanya saja ini versi Rusia. Tentunya, ada beberapa perbedaan, inti ceritanya adalah tentang penerimaan dan mencari cinta sejati. Wow banget kan? 
Untuk romansa lebih lanjutnya, mungkin bisa teman-teman saksikan sendiri supaya feel dan gregetnya dapat. Ya, seperti apapun, review atau spoiler hanya salah satu cara untuk melihat bagus tidaknya suatu film.

Saya mungkin hanya menceritakan bagian awal dan kerangka dari film On-Drakon ini sehingga banyak hal yang belum tersampaikan secara mendetail. Menurutku alurnya mudah dipahami dengan ending yang apik.

Rusia sepertinya memiliki film-film yang cukup bagus untuk kita nikmati. Sekali-kali tengok saja film dari negara yang jarang kita ulas. Layaknya harta karun, mungkin ketika kita mencarinya, kita bakal menemukan story-story yang tak biasa.

Back to On-Drakon, menurutku menontonnya sendiri akan menjadi sesuatu yang lebih baik. Soalnya ada bagian yang belum kuceritakan. Kan sayang tuh kalau kamu jadi penasaran. Mending buka laptop, siapkan camilan dan kuota. Lihat film ini deh hehe

Baiklah, sekian ulasan film On-Drakon kali ini. Untuk rating, saya akan memberi 4,5 dari 5 karena ceritanya yang bagus. Kalau kamu, bisa jadi akan memberi rating yang berbeda karena selera yang berbeda pula, its okay. Itu normal. Sekian dariku, salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar