Senin, 30 September 2019

Menghidupkan Literasi Sains Melalui Wisata Mangrove

Tahukah kamu? Budaya literasi yang baik mampu menumbuhkan kecakapan bagi individu untuk menjalani kehidupan. Literasi tak hanya berfungsi sebagai sarana memperkaya informasi, mengembangkan kemampuan berpikir kritis hingga meningkatkan prestasi. Tetapi juga menggerakkan diri supaya bisa mengambil tindakan yang cepat dan tepat.

Mirisnya, sebagai negara dengan jumlah penduduk besar, budaya literasi yang dimiliki masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Dilansir dari OECD tahun 2015, negeri ini menempati urutan ke 62 dari 70 negara, menyoal literasi masyarakatnya. Ini jelas membuktikan bahwa kedekatan tiap individu dengan dunia bacaan masihlah minim. Hal tersebut juga tercermin dari beberapa fakta yang ditemukan melalui penelitian lainnya.
Rendahnya kemampuan literasi masyarakat, akan berdampak bagi perkembangan intelektual generasi muda. Mengapa? Budaya literasi selalu dimulai dari keluarga, terutama dari orangtua yang merupakan titik start bagi anak setelah mengenal dunia membaca dan menulis. Apabila orangtua tak punya kemampuan literasi yang mumpuni, anak-anak cenderung mengikuti. Pada akhirnya, mereka terpola miskin literasi sejak dini.

Rabu, 25 September 2019

Our Times (2015) : Film Romantis Yang Bikin Baper Sebaper-bapernya

Sumber : Wikipedia
Siapa dari temen-temen yang suka dengan film romantis? Hayolohhhh pasti kalau udah klik dengan judul film tertentu biasanya langsung ndekem seharian depan laptop sambil rebahan dan cenger-cengir sendiri, yekan yekan? Heheh. Baik. Kalau begitu kita sama. Itu aku banget pas nonton film, termasuk untuk genre romantis berjudul Our Times. 

Senin, 23 September 2019

Mampir Ke Pekalongan, Jangan Lupa Main Ke Mangrove Park!

Hayoo siapa yang lagi butuh refreshing sejenak nih? Kalau kamu sedang berada di Kota Pekalongan, gak ada salahnya lho jalan-jalan keliling sembari menikmati hijaunya mangrove dan angin sepoi-sepoi khas kota batik ini. Seperti yang kulakukan bersama adek-adekku minggu lalu. Rasanya tuh pengen banget bisa refreshing. Sesekali, melepas penat karena berkutat dengan laptop dan tulisan-tulisan.

Minggu, 22 September 2019

Sawit dan Secuil Kisah Perjalanannya Hingga Menuju Rumahmu

Namaku Sawit, aku dilahirkan dari orangtua bermarga Elaeis guineensis. Sebelum berada di Indonesia, nenek moyangku merupakan penduduk asli Afrika Barat. Melalui tulisan di blog ini, aku akan menceritakan petualangan nenek moyangku yang menjelajah dunia hingga menetap di negeri zamrud khatulistiwa ini.

Oh iya, aku juga akan menceritakan perjalananku hingga bertemu dengan kamu sebagai wujud yang beraneka ragam. Apakah kamu sudah siap membacanya? Baiklah kalau begitu kumulai dari sisi histori kehadiranku ya.

Selasa, 17 September 2019

Dari Warung Tradisional Hingga Digital, tetap Merdeka Bersama KUDO

Warung tradisional di puncak Gunung Lawu
(Sumber gambar : Kompas.com)
Wakiyem nama aslinya. Orang-orang biasanya memanggil wanita beranak 4 itu dengan sebutan Mbok Yem. Ya, siapa yang tak kenal dengan pahlawan bagi pendaki di Gunung Lawu ini. Sosok yang mampu memanjakan perut pendaki, dari ancaman kelaparan karena perjalanan jauh. Mbok Yem merupakan pemilik warung tradisional “Argo Dalem” yang berada dekat dengan Hargo Dumilah, puncak tertinggi gunung Lawu.

Senin, 02 September 2019

Merdekakan Anak-Anak Dari Pneumonia Dengan 3 M (Melindungi, Mencegah dan Mengobati)

Sumber gambar : Baranews.co
Siapa bilang merdeka itu hanya berkaitan dengan bebas tidaknya sebuah negeri atas penjajahan bangsa lain? Tidak sayang. Lebih dari itu semua, arti merdeka sesungguhnya juga diwakili oleh kondisi kesehatan yang dimiliki masyarakat di sebuah negeri, terutama pada anak-anak di dalamnya.

Membahas tentang anak-anak, ah, saya jadi ingat salah satu dialog dalam film animasi Jepang karya Masashi Kishimoto, Naruto Shippuden. Dalam film tersebut, Masashi berusaha menyematkan pesan-pesan positif pada penggemarnya tentang berharganya keberadaan anak-anak bagi sebuah peradaban.