Senin, 06 Juli 2020

Bicara tentang Laut dan Upaya Menjaganya di Tengah Pandemi

Banjir Rob Pekalongan dilihat dari atas (Sumber gambar : Antara Foto/Haviyan Perdana Putra)
“Kerusakan yang paling terlihat adalah tenggelamnya 3 desa di daerah Demak, itu dengan perubahan garis pantai mencapai 2,6 kilo. Jadi bisa membayangkan suatu daratan yang tadinya daerah pertambakan dan pertanian menjadi genangan sedemikian rupa dan rumah-rumahnya tak bisa ditinggali” 
(Prof. Muhammad Zainuri, Guru Besar Kelautan Universitas Diponegoro dalam talkshow KBR)

Kita mungkin pernah mendengar isu pemanasan global yang sering diperbincangkan oleh banyak orang. Dimulai dengan gambaran mencairnya es di kutub utara maupun selatan hingga naiknya volume air laut di dunia. Kala itu, saya masih menjadi anak SMP yang tak terlalu ambil pusing dengan isu yang disampaikan oleh guru di depan kelas. Saya masih menyepelekan dan menganggap bahwa bumi “baik-baik saja”.

Bagaimana perilaku saya tak seperti itu? Lha wong merasakan dampak pemanasan global saja belum pernah. Namun perilaku menyepelekan itu berubah 10 tahun kemudian, tatkala saya merasakan sendiri dampak dari perubahan iklim terhadap kota kelahiran saya, Pekalongan.

Selepas menyelesaikan wisuda, saya memutuskan kembali ke kampung halaman. Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah, saya dibuat heran terhadap genangan air dengan ketinggian setengah meter. Padahal saya tahu betul bahwa hari itu tidak hujan. Ketika saya bertanya ke Bapak, beliau menjawab bahwa itu merupakan banjir Rob.
Banjir Rob di depan Lapas Panjang Wetan dengan tinggi mencapai lutut (Dokumentasi Pribadi)
Pernah mendengar istilah banjir Rob?  Banjir Rob bukan seperti banjir pada umumnya yang disebabkan oleh air hujan. Banjir ini muncul karena pengaruh air laut yang mengalami pasang dan menggenangi daratan.

Di wilayah Pekalongan, banjir Rob menjadi tradisi tahunan yang selalu dirasakan masyarakat wilayah pesisir. Gara-gara banjir ini, tanah yang awalnya kering dan digunakan masyarakat untuk bertanam, tambak kecil-kecilan hingga menjemur ikan asin menjadi hilang karena tenggelam.
Beberapa rumah warga terdampak Rob yang selalu tergenang air (Dokumentasi Pribadi)
Saya menyaksikan sendiri rumah-rumah warga menjadi tergenang dan rusak karena pengaruh air laut yang mengintrusi daratan. Katakanlah seperti di daerah Panjang Wetan, tempat bapak saya bekerja. Dulu saya sering berkunjung kesana dan kondisinya tak parah seperti saat ini. Sekarang, hampir tiap waktu pemerintah kota harus menganggarkan dana untuk membenahi jalanan yang rusak akibat Banjir Rob.

Banjir Rob menyebabkan perubahan di berbagai sektor kehidupan. Banyak kantor dan perumahan yang pada akhirnya ditinggalkan karena tergenang air. Masyarakat mulai melakukan perpindahan ke area yang tak terkena Rob. Yang membuat saya sedih, tempat-tempat yang biasa saya datangi semasa kecil telah lenyap. Kini di beberapa perkampungan nelayan seolah tak berpenghuni. Sunyi senyap.

Tahun 2019 lalu, saya menghadiri undangan bloger dari Pemerintah Kota Pekalongan untuk diskusi bertajuk “Optimalisasi Promosi Pariwisata Pekalongan”. Dalam diskusi tersebut, salah satu hal yang dibahas adalah menyoal penguatan pariwisata dalam kota. Sebagai wilayah yang terkenal dengan batiknya, pemerintah kota berkeinginan memperkenalkan potensi lain berupa wisata bahari.
Diskusi yang dihadiri perwakilan Pemkot Pekalongan dan Bappeda Jateng (Dokumentasi Pribadi)
Nah, ternyata kendala yang membuat semua promosi parwisata bahari belum optimal adalah soal banjir Rob. Beberapa lokasi wisata seperti Taman Mangrove dan Pantai Pasir Kencana berada di area Rob. Tentu saja ini menjadi tantangan ganda bagi pemerintah kota.
Pembahasan mengenai tempat-tempat wisata di Kota Pekalongan dan Kendala akibat banjir Rob (Dok.Pri)
Di satu sisi pemkot harus mengoptimalkan potensi wisata bahari yang ada, tetapi pada sisi yang lainnya, fasilitas umum seperti jalan raya dan bangunan-bangunan di area wisata selalu mengalami kerusakan akibat korosi air laut.

Anggaran dana dari pemerintah provinsi yang seharusnya digunakan untuk pengembangan dan mempromosikan tempat-tempat wisata, pada akhirnya berubah ploting untuk membenahi fasilitas umum yang rusak di pesisir pantai. Bukan itu saja, fokus pemerintah kota juga berubah menjadi lebih mengutamakan solusi untuk mencegah banjir Rob ketimbang promosi wisata.
Sungguh, ketika mengikuti diskusi, saya menyadari betul bahwa banjir Rob bukanlah hal sepele karena telah menghambat kemajuan bidang sosial dan ekonomi di lokasi terdampak. Saya yakin kota lain pun mengalami tantangan serupa. Seperti Kota Demak misalnya yang menurut Prof. Muhammad Zainuri kehilangan 3 desanya karena tenggelam.

Dari kenyataan inilah saya kemudian menyadari bahwa perubahan iklim dan pemanasan global bukanlah isapan jempol. Keduanya bukan sebatas isu yang bisa kita sepelekan begitu saja. Sebab, pada kenyataannya kota kelahiran saya terkena imbas secara langsung dari meluapnya air laut ke daratan. Apakah suatu saat akan tenggelam karena air laut kian naik? Big no! Jangan sampai itu terjadi.

Lantas mengapa Rob bisa terjadi dan apa hubungannya aktivitas manusia dengan bencana tersebut? Prof Zainuri mengatakan bahwa sebagian besar industri berada di pinggir pantai supaya bisa dengan mudah membuang limbah. Industri-industri tersebut kemudian mengeksploitasi air tanah secara berlebihan sehingga air laut mengintrusi tanah yang menyebabkan tanah mengalami penurunan karena struktur tanah yang rusak. Apabila tanah menurun, maka air laut mulai akan masuk ke daratan.

Kerusakan laut, akibat ulah manusia?

Tahun 2018 lalu, Indonesia digemparkan dengan penemuan seekor Paus jenis Sperm Whale (Physeter macrocephalus) di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Mamalia tersebut ditemukan dengan kondisi badan telah membusuk. Setelah warga berinisiatif membelah perut si Paus, ditemukan fakta yang sangat mengerikan. Di dalam organ pencernaan hewan tersebut terisi banyak sampah plastik yakni sekitar 5,9 Kilogram.
Sumber infografis : Kompas.com
Seorang aktivis Wakatobi yang turut serta dalam evakuasi berujar bahwa kemungkinan kematian Paus karena plastik yang terakumulasi dalam tubuhnya. Ya, semua orang tahu bahwa plastik bukanlah benda yang bisa dicerna oleh tubuh, lantas hilang dalam bentuk feses. Saat plastik masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang besar, itu akan mengganggu aktivitas pencernaan bahkan cenderung meracuni tubuh melalui zat-zat yang terkandung. Cukup logis apabila plastik dikatakan menjadi salah satu penyebab kematian si Paus.

Senada dengan kejadian di Wakatobi, seekor Paus jenis Paruh Angsa juga ditemukan mati di perairan dangkal Provinsi Compostella Valley, Filiphina. Ketika perut si paus dibelah ditemukan pula sampah-sampah plastik yang jumlahnya fantastis, 40 Kilogram. Kejadian ini seharusnya memberi tamparan serius bagi banyak pihak, ekosistem laut mulai terancam rusak penuh karena ulah manusia dan industri.

Berita mengenai kematian Paus sempat membuatku sedih. Bagaimana tidak? Melihat kondisinya melalui gambar-gambar, saya turut merasakan penderitaan luar biasa dari mamalia tersebut sebelum mati. Bayangkan, selama beberapa waktu, ia menggendong berkilo gram benda yang tak bisa dicerna dalam perutnya hingga kemudian ditemukan warga dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Mungkin kita penasaran bagaimana bisa Paus memakan plastik, emang tidak ada makanan di laut? Sebenarnya Paus merupakan hewan yang makanannya berupa organisme perairan dalam seperti cumi-cumi atau ikan-ikan ukuran sedang, ia makan plastik bukan karena di laut sudah tidak ada makanan, tetapi mengira bahwa plastik yang masuk ke laut sebagai ikan atau organisme laut lainnya.

Sekilas itu merupakan kasus kematian Paus akibat pencemaran laut yang perlu kita ingat kembali. Kenyataannya, sampah plastik menjadi salah satu ancaman bagi lingkungan, entah itu di darat maupun lautan. Berdasarkan data teranyar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sampah plastik yang mencemari lautan Indonesia mencapai 1,29 juta metrik ton (M/T). Tentu saja itu bukan jumlah yang main-main, Sayang! Tak heran apabila Indonesia disebut sebagai negara penghasil sampah terbesar kedua bagi lautan setelah Tiongkok.

Kemirisan inilah yang kemudian membuat saya dan teman-teman organisasi ketika kuliah mengadakan kegiatan sukarela untuk membersihkan sampah. Kegiatan bertajuk Resonansi (Restek--nama organisasi saya--Sosial Responsibility) ini kami laksanakan di Pantai Parangtritis, Yogyakarta.
Lho kesana ngapain? Sederhana sebenarnya, kami hanya bertugas memungut sampah yang terlihat di sepanjang pantai. Melalui kegiatan bersih sampah, saya dan lainnya belajar untuk selalu menjaga alam. Seain itu, kami jadi sadar bahwa inisiatif membuang sampah pada tempatnya oleh para wisatawan masihlah rendah.
Saya yang sedang membawa trash bag setelah membersihkan beberapa area di Parangtritis (Dok.Pri)
Teman-teman saya yang tengah memungut sampah (Dok.Pri)
Berbagai sampah mulai dari kertas-kertas, duri-duri ikan hingga bungkus makanan dengan bebasnya tersebar di atas pasir pantai. Dan sebagian besar yang kami dapati merupakan sampah plastik. Kami membutuhkan 5 trash bag untuk membungkus sampah-sampah yang terkumpul yang pada akhirnya kami serahkan ke TPA terdekat menggunakan motor.
Memungut sampah di tengah terik bukanlah masalah (Dok.Pri)
Sampah-sampah plastik hasil buangan wisatawan (Dok.Pri)
Pantai Parangtritis sangat ramai didatangi wisatawan setiap waktu. Apalagi ketika week end tiba, entah wisata bersama keluarga, sahabat maupun sendiri, pantai ini selalu memiliki daya tarik yang begitu besar. Bagi para pelancong yang baru menjejak ke Jogja, pantai ini menjadi semacam icon layaknya Malioboro sehingga wajib untuk didatangi dan diabadikan melalui fotografi.

Terlepas dari itu semua, kebiasaan buruk wisatawan dalam menjaga kebersihan masihlah minim. Tiap kali saya datang ke Parangtritis atau pantai lainnya, pasti terlihat sampah berserakan dimana-mana. Imbasnya, pantai menjadi begitu kotor dan tak seindah yang dipikirkan.

Baiklah, itu secuil cerita saya tatkala menjalani kehidupan sebagai mahasiswa rantau di Kota Yogyakarta. Pengalaman menemukan secara langsung sampah-sampah plastik di Pantai Parangtritis membuat saya mengerti bahwa selain menguntungkan secara ekonomi, aktivitas wisata memiliki sisi buruk bagi lingkungan. Sampah bukan hanya mencemari pasir pantai tetapi juga mengapung di antara ombak yang bergerak. Miris.

Kalau dipikir, ini baru bicara sampah yang dihasilkan dari pembuangan wisatawan, belum membicarakan limbah industri yang seringkali dibuang ke laut. Mari kembali pada ingatan di tahun 2004 lalu. Kala itu sebuah teluk bernama Buyat di Propinsi Sulawesi Utara tercemar limbah berat yang disebabkan oleh industri pertambangan. Diketahui, limbah-limbah berat yang dibuang mengandung Arsen dan Mangan.

Dampak dari pembuangan limbah itu mempengaruhi ekosistem di sekitar teluk. Banyak ikan-ikan ditemukan mati mengapung karena keracunan. Pencemaran Teluk Buyat ini bahkan sempat dibawa ke ranah hukum karena sebuah perusahaan tambang disinyalir terlibat setelah membuang limbah secara sembarangan.

Ya, demikian sedikit nostalgia terhadap kasus yang terjadi 16 tahun yang silam. Setelah pandemi Korona, ada kabar baik dimana pembuangan limbah industri ke laut menjadi berkurang. Logis sebenarnya, sebab kegiatan di luar rumah menurun pasca kebijakan PSBB dan WFH mulai diberlakukan oleh pemerintah untuk menghindari penyebaran virus.

Bagaimana kondisi laut ketika pandemi Korona merebak?

Pandemi Covid-19 atau Korona memang meresahkan banyak pihak. Bukan hanya di Indonesia saja, hampir semua negara di dunia dibuat repot oleh persebaran virus yang satu ini. Namun demikian, Korona ternyata juga memiliki sisi baik yang tak bisa diabaikan begitu saja. Melalui berkurangnya aktivitas manusia di luar rumah, polusi udara di perkotaan menjadi berkurang. Begitu pula dengan polusi suara yang disebabkan oleh kendaraan.

Di wilayah sekitar pantai, semenjak pandemi Korona merebak, polusi suara yang disebabkan oleh kapal laut menjadi berkurang. Sampah-sampah yang disebabkan oleh habit buruk wisatawan juga menurun dalam kurun waktu 2 bulan ini. Tentu kondisi demikian memberi kabar baik bagi kita semua karena artinya laut mulai bisa bernafas dengan lega. 
Dalam talkshow KBR bertajuk "Menjaga Laut di Tengah Pandemi", salah satu narasumber, Githa Anathasia (Pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Raja Ampat) mengatakan bahwa kondisi wisata setelah pandemi berubah cukup signifikan. Ikan-ikan jumlahnya menjadi lebih banyak, Ikan Tuna dan Hiu yang semula hanya bisa dilihat di tengah laut, kini bisa ditemukan keberadaan di sekitar bibir pantai.
Sumber : Youtube
Dampak positif lainnya selama pandemi juga dirasakan masyarakat Raja Ampat dimana mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggarap lahan, memancing bahkan berkumpul bersama keluarga. Senada dengan Mbak Githa, Prof. Zainuri juga mengatakan bahwa selama pandemi biota-biota laut mengalami perkembangan yang baik. Ikan-ikan mulai brkembang biak dan terumbu karang tumbuh  dengan cepat karena tak ada manusia yang menganggu.

Di Pekalongan, kondisi laut selepas pandemi memang tak ada yang berubah. Air pasang masih sering terjadi, bahkan tahun 2020 diperkirakan sebagai pasang terbesar karena terjadi Rob yang tinggi melebihi tahun-tahun sebelumnya. Gelombang pasang  penyebab rob memang tak bisa dihindari tahun ini, sebab itu dipegaruhi oleh alam.
Berdasarkan informasi dari Kepala Pusat Hidrologi dan Oceanografi, Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro, gelombang pasang dipicu adanya siklon tropis di selatan Samudra Hindia, yaitu topan Amphan dan topan Mangga, yang terjadi bersamaan dengan adanya spring tide atau pasang laut purnama.

Memanfaatkan Momentum Pandemi untuk Menjaga Laut

Kita bisa mengajak teman-teman untuk membersihkan laut 
Bicara mengenai laut memang banyak sekali problematika yang terjadi di dalamnya. Baik menyoal kerusakan akibat ulah manusia maupun karena pengaruh alam. Namun demikian, pandemi ini ternyata memberi pelajaran cukup baik bagi kita. Seharusnya, kita mampu memanfaatkan momentum yang ada untuk memperbaiki kualitas laut.

Kita secara individu mungkin tak cukup kekuatan untuk mencegah terjadinya bencana seperti rob, mencairnya es di kutub, tenggelamnya wilayah pesisir, hingga peningkatan suhu air laut. Sebab itu sudah terlanjur terjadi. Namun kita bisa melakukan aktivitas positif untuk membuat laut menjadi bersih dari sampah-sampah hasil wisata. Ingat! krisis pangan di masa depan juga bisa menjadi ancaman bencana apabila kita tak mampu menjaga laut dengan baik lho.

Lautan merupakan sumber pangan, sumber kehidupan bagi manusia. Kematian biota laut yang terjadi karena kerusakan lingkungan pada akhirnya akan merugikan masyarakat juga. Jika itu sudah terjadi, kita tak akan bisa membalikkan waktu pada posisi laut masih bersih. Nah, sebelum terlambat, maka perlu kita mulai dari diri kita sendiri.
Salah satu SMA yang telah turut serta dalam menanam Mangrove di Pekalongan
Mari take action menjaga laut dengan tidak membuang sampah sembarangan, menangkap ikan secara bijak (tidak menggunakan racun atau bom), mengurangi penggunaan plastik, menanam terumbu karang, menanam Mangrove, melarang pembuangan limbah industri ke laut dan sebagainya. Jika tindakan ini dilakukan, kedepannya kita pasti mampu secara sempurna menjaga laut. Ya, mumpung pandemi masih membuat masyarakat stay di rumah, bersama, satu Indonesia, kita jaga laut.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Kalian juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya bisa selengkapnya lihat di sini ya

Referensi : 

  • Siaran langsung KBR melalui youtube
  • https://kkp.go.id/djprl/p4k/page/1994-sampah-laut-marine-debris
  • https://ekonomi.bisnis.com/read/20200108/45/1188172/anggaran-pengamanan-pantura-jawa-rp508-triliun
  • https://inet.detik.com/science/d-5036112/ini-penyebab-gelombang-tinggi-di-berbagai-perairan-indonesia
  • https://news.okezone.com/read/2016/06/09/512/1410953/atasi-banjir-rob-pemprov-jateng-siap-kucurkan-dana

31 komentar:

  1. dampak plastik memang sangat mengeringkan untuk biota kehidupan laut, sampah segitu banyak akhirnya kembali lagi kemanusia melalui mikro plastik pada ikan yang dikonsumsi oleh manusia.

    diharapkan pengelolaan sampah bisa jadi baik, semoga saja program pelarang plastik 1 kali pakai yang denger2 juli mulai berlaku di Jakarta dan program cukai (pajak) plastik terealisasi tahun 2020.

    cukai plastik akan bikin harga plastik lebih mahal, jadi orang2 lebih milih bawa kantor sendiri yang pada akhirnya membentuk habit baru.

    Terakhir untuk sampah di tempat wisata, maunya sih pengelola wisata membuat kebijakan denda jika kedapatan buang sampah sembarangan. Dengan adanya kebijakan ini, bisa menekan buang sampah semabrangan di area wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, semoga saja cukai plastik mampu meminimalisir jumlah plastik yg dibeli masyarakat. Dan utamanya memyoal habit sih mas, habit buang sampah sembarangan itu msh tinggi :)

      Hapus
  2. Semoga kita semua aware sama lingkungan. Mulai dari hal-hal kecil dulu untuk ga buang sampah sembarang, apalagi buang ke sungai/ laut. Seneng juga di beberapa daerah supermarket-nya ga lagi menyediakan kantong belanja plastik dsb. Mudah2an langkah kecil gini bisa berdampak banyak (positif)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mas, perlu banget kita mulai meski melalui langkah2 kecil.

      Hapus
  3. Perubahan alam yg terjadi saat ini juga akibat dari ulah manusia itu sndiri, besar kecil yg kita lakukan akan berdampak pada lingkungan...semoga kita semua smakin peduli trhadap lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, semoga jadi lebih aware utk menjaga lingkungan, termasuk laut :)

      Hapus
  4. Sediiih..melihat kota kita ya Rul.. Duh, semoga tak terjadi hal terburuk yg sangat kita takutkan akibat rob yg tak tertangani. Yuuk..mari kita ikut aktif jaga pantai & laut kita..

    Oya, semoga sukses di lomba ini yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, apalagi aku yg deket banget sama lokasi Rob, kadang sedih ngelihat bapak kudu jalan kaki gegara menghindari kendaraan biar gak cepet rusak.

      Nuwum doanya Mba Mecta :)

      Hapus
  5. Ya Allah sedih banget dengan kenyataan ini. Masalah banjir, dampaknya, sampah plastik dan dampaknya pula.Duh. Semoga saja bisa segera ada langkah antisipasi yang berpihak kepada masyarakat yang berdampak signifikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau antisipasi udah ada kok mba, pemerintah kota Pekalongan menyiapkan tanggul2 darurat utk lokasi terdampak. Masalahnya Robnya itu kian parah tiap tahunnya :(

      Hapus
  6. Laut harus kita jaga bersama, karena kelestariannya tanggung jawab semua manusia, biar tetap indah bumi ini

    BalasHapus
  7. Laut sudah separah itu yah, sampai ada 3 desa yg sudah terendam parah...hhmmmm.. harus segera ditemukan nih solusinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, sebenarnya pas aku buka2 lagi, di Demak ada total 9 desa yg tenggelam. Ngeri banget beneran :(

      Hapus
  8. Rob sudah menjadi masalah serius sejak lama ya.. aku pernah mampir ke daerah semarang, rob udah bener2 menenggelamkan kampung,bukan musiman lagi tapi permanen. Serem ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu Mba, hampir semua kota yang ada di wilayah Pantura itu pernah mencicipi Rob bahkan ada yg permanen.

      Hapus
  9. I am support you to take care our beach from my self and its urgent

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mba Milda, harapanku kita semua melakukannya :)

      Hapus
  10. Ya ampun itu banyak amat sampahnya yah semoga masyarakat yang berkunjung lebih aware terhadap kebersihan lingkungan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kenyataannya gitu. Ada bahkan foto yg lbh parah dari itu

      Hapus
  11. Semoga kita semakin sadar buat jaga lingkungan laut. Aku mau anak cucuku kelak bisa rasain indahnya laut-laut Indonesia tanpa sampah huhu. Alhamdulillah, masa pandemi selain bikin manusia untuk istirahat di rumah aja, bisa bikin laut kita bebenah, bebas polusi, dan tenang ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, ada sisi positif dari pandemi ini dimana laut dan lingkungan kota menjadi lebih lega. Ya paling engga ngurangi polusi lah

      Hapus
  12. bener banget nih kadang suka sedih kalo ngeliat limbah laut yang banyak gitu terus habis itu dimakan sama ikan laut jadikan sedih juga sih rasanya Semoga kita bisa tetap melestarikan alam ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, kasus yang Paus mati itu kan karena limbah dan sampah2 yg dibuang masyarakat

      Hapus
  13. Kalau kubilang ya Pekalongan udah parah banget dari temenku kecil banget sampe doi udah puluhan tahun umurnya ga berubah. Semoga ada solusi terbaik kasihan yang kena rob.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang aku tahu yo mbak, ditempatku yang semula kering sekarang berubah karena rob selalu nggenang. Parah emang Rob di wilayah Pantura

      Hapus
  14. Masih belum terlambat bagi kita agar dapat berubah menjadi lebih baik untuk dapat melestarikan laut. Jangan biarkan lagi laut kita penuh dengan sampah plastik, karena feedback nya ke kita juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semua bergantung dari habit kita dan juga aturan dari pemerintah terkait pembatasan plastik

      Hapus
  15. Sebelas dua belas sama daerah tempat tinggal saya. Padahal pantai dan sungai2nya bagus2. Tapi ya itu,sekalinya kena hujan besar langsung banjir. Sampah ada di mana-mana.

    Pantai bagus di sini juga banyak, tapi sampahnya bikin pantainya ga bagus lagi. Kita jg dari komunitas pariwisata sering banget melakukan aksi bersih2 sampah, tp kayak gak ada guna, masyarakatnya lagi lagi hobi nyampah. Sebel gak siih 😭😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Punya mbak di daerah mana sih?
      Ternyata sama ya mbak kondisinya. Jujur aku kadang ya mikir ngeri juga kalau nanti daratan kian menghilang karena Rob. Ini ngeri banget sih :((

      Hapus
  16. Penanganan sampah memang menjadi masalah kita bersama,r terlebih untuk sampah plastik. Ketika kita pergi ke pasar ataupun minimarket, dalam hitungan menit aja kita bisa melihat kalau banyak banget barang-barang yang yang dibungkus dengan plastik baru.

    Kalau setiap hari plastik baru terus terpakai apa kabar dengan plastik lama yang ada di rumah? Jadi membawa tempat belanjaan dari rumah itu sebenarnya berarti banget jika kita bisa membeli tanpa meminta kantong plastik.

    BalasHapus