Senin, 11 Mei 2020

Review Film Get Out : Ketika Romantisme menjadi Tameng untuk Menutupi suatu "Rahasia"

Sumber gambar : Medium.com
Film horor memang selalu menyajikan daya tarik tersendiri bagi penggemarnya. Apalagi jika film horor tersebut memiliki cerita yang luwes dengan ending yang bagus. Itu akan membekas pada pikiran penonton dan sangat mungkin direkomendasikan kepada orang lain. Sebagai pecinta film horor, aku begitu pemilih. Apalagi yang mengandung unsur sadisme dengan ending menggantung. No no no, I hate it so much.

Nah, bagi kamu yang sudah membaca artikel "Rekomendasi Film Horor ala Naramutiara", mungkin akan melihat judul film horor thriller "Get Out" di dalamnya. Ya, itu merupakan salah film yang cukup membekas di dalam pikiran. Ceritanya bagus dan memiliki alur yang kuat serta mengandung ending yang memukau. Ada rasa puas ketika menyaksikan tindakan tokoh utama di akhir cerita.

Cerita bermula pada kehidupan seorang lelaki berkulit hitam bernama Chris (Daniel Kaluuya) yang berpacaran dengan gadis berkulit putih bernama Rose (Allison Williams). Romantisme keduanya begitu menggebu. Chris merasa bahagia karena Rose bisa mencintai dan menerima dirinya tanpa membedakan ras. Ya kita tahulah bahwa rasialisme di Amerika Serikat kadang masih terasa.

Oke lanjutt!! Suatu hari Rose mengajak Chris ke rumah orangtuanya. Niatnya ingin mengenalkan gitu. Awalnya Chris merasa ragu karena ia takut keberadaannya tidak direstui. Selain itu latar belakang keluarga Chris yang tak harmonis ketika kecil menyiratkan trauman tersendiri. Dia menjadi sosok yang canggung saat bertemu orang baru. Sebagai pacar, Rose memberi dukungan yang manis sehingga Chris merasa luluh dan setuju untuk bertandang ke rumah calon mertuanya itu.

Diperjalanan menuju rumah keluarga Rose, keduanya mendapat kejutan tak terduga. Sebuah insiden kecil terjadi (aku tak mau spoiler ya). Insiden tersebut sepertinya menjadi pertanda bagi Chris agar tidak datang ke rumah keluarga Rose. Tapi, ya namanya udah janji dan tak mau membuat kecewa sang pacar, Chris akhirnya tetap melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah yang letaknya cukup terpencil.

Saat kedua pasangan itu sampai, di rumah itulah semua hal menjadi begitu rumit bagi Chris. Ia merasa canggung berhadapan dengan anggota keluarga Rose. Apalagi Rose memiliki kakak yang cukup mengganggu yang membuat Chris semakin merasa tak nyaman. Banyak hal-hal tak terduga terjadi padanya. Awalnya dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rose dan keluarganya. Namun dengan lihai, Rose menampis semua dan memberi romantisme yang manis pada Chris, lagi-lagi ia trenyuh. 
Sumber gambar : The New Yorker
Setelah beberapa hari Chris tinggal di rumah keluarga Rose, ia membuka satu demi satu rahasia yang mengerikan. Chris terkejut dengan berbagai kenyataan yang Rose simpan rapat bersama keluarganya. Ternyata, romantisme yang selama ini Rose berikan adalah sebuah tameng untuk menutupi sebuah kengerian. Sebuah keluarga Psiko yang sangat terobsesi dengan orang-orang berkulit hitam. Dan ya, melalui kecerdikan Chris, pada akhirnya semua rahasia terkuak satu per satu. Permasalahannya sekarang, bagaimana Chris bisa melarikan diri dari jerat-jerat kengerian yang ia alami?

Bagi kamu yang belum melihatnya, cerita dari film ini memunculkan rasa greget yang begitu besar. Bahkan aku saja sampai harus memukul-mukul bantal saking gemasnya. Ya, film besutan sutradara Jordan Peele ini benar-benar nyaris sempurna. Bahkan kabarnya, penontonnya rela memberi rating tinggi.
Sumber gambar : Layar.id
Dari segi penokohan, para pemainnya sangat menguasai karakter masing-masing. Rose beserta keluarganya terlihat begitu mencekam., meskipun awalnya terlihat begitu innocent. Pantaslah jika film ini disebut sebagai horor psikologi. Sebab, tiap ekspresi yang ditawarkan oleh pemeran antagonis sangat mengganggu penonton. Tak lupa, Chris sebagai pemeran utama mampu menghidupkan klimaks melalui usaha-usaha yang ia lakukan.

Sebagai penyuka horor, aku akui film ini sangat bagus. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil di dalamnya, termasuk menyoal jangan mudah percaya pada orang lain, meski itu pacarmu sendiri. Seromantis dan semanis apapun pacarmu, batasan dalam berhubungan harus tetap diterapkan.

By the way, kalau aku lihat, film Get out memang sedikit mengangkat isu rasialisme yang terjadi di Amerika, namun Jordan Pelee mengemasnya melalui cara yang berbeda. 

Yap, demikian sedikit review mengenai film horor Get Out. Apabila kamu ada waktu, bisa lho berkeringat-keringat ria menontonnya. Apalagi ini lagi WFH, cocok buat kamu yang suka horor sambil rebahan. Oh iya, rating dariku untuk film ini 9.5/10 ya.

17 komentar:

  1. Iya lho kadang ya zaman sosmed banyak yang memperlihatkan romantisme aja beda dengan kenyataannya. Nice info kak

    BalasHapus
  2. Tadi waktu bilang horor gitu aku mikirnya bakal ada hantu atau zombie gimana gitu. Ternyata ini semacam thriller gitu ya? Kalau horor aku tidak mau. Kalau thriller apalagi yang pakai 'mikir' kadang masih suka menarik buat dinikmati.

    BalasHapus
  3. Weits, kayaknya beneran keren nih sampai Kak Mutiara kasih poin 9.5/10. Eh, ini horor tapi aku belum dapat suasana tegangnya, nih. Nantinya ada yang mati gitu kali, ya. Soalnya horor di kepalaku itu pokoknya hantu, wkwkk ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk mgkn emang beda persepsi sih ya mbak. Kalau aku mah horor apapun ya horor. Tapi emang sih, harusnya thriller

      Hapus
  4. Iyaa bener banget kebanyakan di sosmed bgtu sih kak, kadang susah mau nilai baik buruk nya seseorang , tapi setelah baca aku suka bngt info yng kk share di sini, noteed bangett kak ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film ini bagus kok kak, ya sebenarnya gak berhubungan dengan sosmed sih. Tapi lebih pada kehati2an dalam memilih pasangan

      Hapus
  5. Membaca kalimat ini

    Rose beserta keluarganya terlihat begitu mencekam., meskipun awalnya terlihat begitu innocent.


    Saya jadi penasaran, keluarga phsico seperti apa ya keluarganya Rose?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka terobsesi sama orang-orang kulit hitam mba

      Hapus
  6. Ta kira tadi full film romantis, jebule genre film horor ya? Kalau lihat film horor, banyak bagian yang saya skip, gak sanggup (alias takut) kalau lihat yang bagian yg horor. Suka kebayang kalau pas di rumah sendirian soale

    BalasHapus
    Balasan
    1. Santuy mba, ini bukan horor hantu2an kok. Tapi emang agak serem dalam hal psikologis

      Hapus
  7. oke, aku belum nonton film ini. bisa nih jadi pilihan film ditonton ntar malam

    BalasHapus
  8. aku belom nonton film ini Mba Nar, kalau udah tahudari awal genrenya horor aku udah mundur duluan hahah suka kebawa-bawa sampai berhari-hari kalau nonton film horor gitu, sukanya drama romantis, semelow itu ya jiwa aku hahah

    BalasHapus
  9. Wuhaaa sepertinya seru sekali.
    Aku belum nonton mbak. Pengen ah kaoan2 nyari filmnya. Nugu nonton drakor ku kelar wkakaka

    BalasHapus
  10. Wah, tentang psiko. Horor lagi. Aku (agak) sudah membayangkan hahaha. Tapi keknya bukan aku banget kalau bikin kebawa mimpi hahaha. Keknya bisa direkomendasikan ke suami nih.

    BalasHapus