Jumat, 22 Mei 2020

Menjadi Keluarga Cerdas dengan Bijak Berenergi di Tengah Pandemi

“Salah satu kunci menjadi keluarga yang mampu cerdas mengelola energi adalah tidak menyepelekan sesuatu yang terlihat kecil”

***
Mengalami krisis energi di masa depan, rasanya bukan hanya isapan jempol apabila kita terus mengabaikan kelestarian alam sebagai sumber kehidupan. Alam mulai tersakiti oleh aktivitas manusia dengan memberi tanda-tanda berupa bencana longsor, banjir, kebakaran, dan sebagainya. Kita kerapkali abai, menganggap seolah itu hanya bencana yang akan segera berlalu.

Memang, sebenarnya kita berada pada situasi yang dilema. Di satu sisi, kita harus mengolah alam demi menjaga kehidupan dan kebutuhan manusia dalam hal energi. Tetapi pada sisi yang lain, kerusakan semakin meluas tatkala alam dieksplorasi secara besar-besaran. Katakanlah seperti tambang minyak bumi dan batu bara. Manusia membutuhkan keduanya sebagai penghasil energi.

Pernahkah kamu tahu darimana sumber listrik yang keluargamu pakai sehari-hari? Mungkin kamu pernah membayangkan, itu berasal dari turbin yang berputar dan dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan energi listrik. Ya, kamu memang benar. Hanya saja, ada realita lain bahwa untuk memutar tubin tersebut, membutuhkan peranan batubara sebagai sumber energinya.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap merupakan salah satu instalasi listrik terbesar. Lebih dari 60% listrik dunia bergantung pada keberadaan PLTU Batubara. Tak heran, keberadaan energi fosil ini begitu vital bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Eksplorasi batubara sebagai sumber energi bagi PLTU Nasional merupakan suatu kebutuhan karena belum ada penggantinya.
Tahun 2020 ini sebuah virus bernama Covid-19 atau Korona menyerang dunia, termasuk Indonesia. Diketahui hingga tanggal 22 Mei 2020 jumlah pasien positif Korona di Indonesia mencapai angka 20.162 orang dan pasien meninggal sebanyak 1278 orang. Semakin bertambahnya angka tersebut mengharuskan pemerintah untuk bertindak cepat dengan membuat berbagai aturan demi menanggulangi penyebaran virus.

Melalui pertimbangan matang, dibuatlah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Phisical dan social Distancing serta aturan Work from Home (WFH) untuk membatasi pergerakan manusia yang kemungkinan menularkan virus. Setelah aturan tersebut mulai dijalankan, pola aktivitas masyarakat mulai berubah.
Para karyawan yang biasanya bekerja di kantor, harus rela mengubah kebiasaan mereka untuk bekerja secara remote. Anak-anak yang biasanya belajar di sekolah bersama guru mereka, harus mengubah pola belajar di rumah bersama orangtua. Kini, setiap orang lebih banyak menghabiskan waktu berada di dalam rumah.

Ketika setiap orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah selama WFH, otomatis ketergantungan terhadap sumber energi seperti listrik, air, gas dan sebagainya menjadi lebih banyak. Bagaimana tidak? Selama sebulan lebih pekerjaan dilakukan menggunakan peralatan elektronik layaknya laptop, smartphone, AC, mesin cuci, sehingga energi listrik yang dibutuhkan menjadi lebih banyak. Itu masih satu keluarga.

Logisnya, selama masa WFH, setiap keluarga akan melakukan kerja di dalam rumah menggunakan peralatan elektronik mereka, apalagi di zaman digital seperti sekarang ini dimana orang bergantung pada keberadaan internet, gadget dan listrik. Bisa diproyeksikan secara kasar jumlah energi yang terserap selama masa WFH. 

Berdasarkan informasi yang dicuplik pada siaran langsung KBR berjudul “Bijak Pakai Energi di Tengah Pandemi” pada 15 Mei 2020 lalu, konsumsi energi masyarakat berupa listrik, air, gas mengalami kenaikan sebesar 3% selama masa Work from Home berlangsung.
Sumber gambar : Instagram KBR.ID
Pantaslah jika beberapa waktu kita sempat mendengar berita bahwa sebuah keluarga mengalami kenaikan pembayaran listrik sebesar 50% semenjak WFH. Mau tak mau, jumlah daya yang dikeluarkan per keluarga bertambah, tak seperti kedaan normal ketika masyarakat bekerja di luar rumah.

Saat ini jumlah penduduk Indonesia mencapai kurang lebih 267 juta jiwa. Asumsinya jika 1 keluarga menggunakan energi listrik untuk keperluan rumah tangga dan bekerja, maka daya yang PLN distribusikan ke masyarakat jumlahnya begitu fantastis per harinya. Anggaplah tiap rumah menggunakan daya listrik 450 atau 900 Watt. 

Bukankah kita tahu bahwa untuk menghasilkan sumber listrik bagi masyarakat, Perusahaan Listrik Negara (PLN)—dalam hal ini PLTU—menggunakan batu bara sebagai sumber pembakaran agar turbin mampu berputar. Ya, pembakaran batubara inilah yang menghasilkan uap panas.

Pertanyaannya sekarang, berapa jumlah batubara yang dibakar untuk membuat turbin tetap bergerak? Jawabannya tentu tak sedikit. Berdasarkan informasi dari katadata, kebutuhan batubara untuk keperluan PLTU naik dari 97 juta ton pada tahun 2019 menjadi 109 juta ton pada tahun 2020.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat konsumsi batu bara untuk sektor kelistrikan terus naik selama pandemi Korona berlangsung. Peningkatan tersebut ‎seiring bertambahnya pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di beberapa wilayah di Indonesia dan penggunaan rumah tangga oleh masyarakat.
Pada dasarnya, untuk memasok energi listrik bagi negeri, Perusahaan Listrik Negara (PLN) mendayagunakan beberapa instalasi pembangkit tenaga listrik, salah satunya PLTU. Nantinya, untuk memutar turbin, digunakan uap panas yang dihasilkan dari pembakaran batubara. Bayangkan berapa emisi karbon yang dilepaskan ke udara setiap harinya setelah batubara terbakar? Belum lagi limbah hasil pembakaran yang kemudian dibuang ke alam.
Salah satu contoh PLTU batubara (Sumber gambar : Siar.com)
Dalam kaitannya dengan bumi, penggunaan batubara akan merusak kualitas lingkungan dan menyebabkan perbahan iklim. Semenjak pandemi Korona berlangsung dan tiap orang bekerja di rumah, otomatis penggunaan energi listrik pun meningkat. Jika demikian, pembakaran batubara untuk menghasilkan listrik akan lebih banyak. 

Bumi terancam mengalami krisis energi karena bahan bakar fosil semakin berkurang. Selain itu, kualitas udara, tanah dan air pun menjadi terdegradasi karena polusi. Ini masih membicarakan listrik, belum dengan penggunaan energi lain seperti air atau gas yang jumlahnya 3% lebih banyak semenjak WFH. Air dan gas merupakan energi paling banyak digunakan setelah listrik.

Penggunaan tak bijak pada keduanya pun bisa menimbulkan efek yang buruk. Kita tahu bahwa gas merupakan sumber energi yang kita gunakan untuk kebutuhan memasak. Sayangnya, gas juga berasal dari bahan fosil layaknya batubara. Apabila gas terus dieksploitasi penggunaannya, ketersediaannya di dalam bumi pun akan berkurang. Jika itu terjadi, manusia di dunia ini akan mengalami krisis energi di masa depan, apabila tak secepatnya ditemukan alternatif pengganti bahan fosil.

Lalu bagaimana dengan penggunaan air? Secara tersirat, mungkin kita memiliki pemikiran seperti ini, “Lho, air di dunia ini kan jumlahnya banyak. Katanya bumi ini 70% terdiri dari air. Kenapa kita harus berhemat dan khawatir?” Baiklah, demi menjawab pertanyaan itu dan menambah pengetahuan mengenai air, maka tak ada salahnya membaca fakta berikut ini,
Kawan, kita mungkin sering boros menggunakan air di rumah. Padahal, ada beberapa ancaman yang mungkin terjadi apabila kita tidak bijak menggunakan air. Yang pertama adalah menurunnya permukaan tanah akibat eksploitasi air, yang kedua bencana banjir dan kekeringan, dan yang ketiga adalah terjadi intrusi air laut dimana air tawar digantikan oleh air asin. Tentu, kita tak mau itu terjadi, bukan?
Permasalahan yang timbul akibat ekploitasi sumber energi seperti polusi udara, polusi tanah, polusi air, menurunnya permukaan tanah hingga krisis energi di masa depan, tengah mengancam semua orang. Sebelum itu menjadi parah, maka tiap keluarga perlu menerapkan perilaku cerdas demi mencegah terfosirnya jumlah energi yang dikonsumsi.

Bijak mengelola energi dalam keluarga artinya kita tidak menyepelekan sesuatu yang terlihat kecil. Berikut merupakan perilaku cerdas yang bisa diterapkan keluarga demi menghemat penggunaan energi di tengah pandemi Korona.

1. Save rintik-rintik air

Pernahkah kamu menemukan keran yang tak tertutup rapat sehingga meneteskan rintik-rintik air? Jika pernah, maka sebaiknya kamu hilangkan sikap abaimu itu. Mulailah menghentikan tetes-tetes kecil itu terbuang percuma dengan merapatkan keran secara sempurna.
Sumber gambar : Dokumen Pribadi
Di rumah saya, air merupakan sesuatu jumlahnya terbatas. Dengan letak rumah berada di sekitar pantai, sumber air satu-satunya berasal dari PDAM. Tak heran, setiap malam keluarga saya harus menempatkan air di ember-ember agar memiliki cadangan untuk keperluan air minum, mandi, dan cuci mencuci esok harinya. Bagi kami, tiap tetes air begitu berharga, sehingga kami selalu memastikan keran sumber air tertutup sempurna setelah digunakan.

Kebiasaan menutup keran agar tak ada air yang menetes mungkin terlihat sepele, tapi jika dilakukan secara terus menerus, akan menjadi kebiasaan yang baik. Coba bayangkan jika kami abai, jumlah air menetes yang terbuang akan besar jika diakumulasi. Ibarat pepatah, sedikit demi sediki lama-lama menjadi bukit.

2. Hindari vampir-vampir listrik

Tahu gak sih siapa vampir listrik? Vampir listrik merupakan perangkat yang masih tersalur pada stop kontak, padahal tidak sedang digunakan. Misalnya seperti charger ponsel atau laptop yang dibiarkan menempel setelah baterai terisi penuh dan tidak dicabut.
Sumber gambar : environment Indonesia center
Katakanlah di rumahmu ada 5 ponsel dan 2 laptop. Apabila selesai melakukan charging semua perangkat charger tak dicabut, ada banyak energi listrik yang terbuang percuma. Jika itu dibiarkan, selain kita boros energi, biaya tagihan juga akan membengkak.  

3. Gunakan gas seperlunya

Dalam siaran langsung di radio KBR, narasumber menyebut bahwa gas termasuk sumber energi yang naik penggunaannya selama WFH. Ya, benar sekali. Di keluarga saya saja. Biasanya selama sebulan kami hanya memakai 4 tabung gas, namun karena jumlah anggota keluarga yang ada di rumah bertambah, akhirnya sebulan ini bapak harus membeli gas sebanyak 6 kali. 

Ada tambahan 2 gas untuk memenuhi kebutuhan memasak. Merasa bahwa pengeluaran untuk pembelian gas bertambah, ibu mengakalinya dengan melakukan 1 kali memasak tapi langsung banyak. Jadi, tidak bolak-balik mengkonsumsi gas. Nah, cara seperti itu bisa diterapkan tiap keluarga lho. Jadi kurangi intensitas memasak secara berlebihan, misal biasanya 3 kali, ubah menjadi 1 kali seperti saran dari ibu Verena Puspawardani dalam siaran radio KBR.ID.

4. Hemat menggunakan peralatan elektronik

Di dalam sebuah keluarga bisa jadi penggunaan listrik menjadi besar karena jumlah elektronik yang dimiliki. Misal satu rumah memiliki kulkas, televisi, mesin cuci, AC, laptop, ponsel, magiccom, dispenser, dan sebagainya. Selama melakukan WFH, saya yakin penggunaannya bertambah.

Jika anggota keluarga tak berhemat dengan memprioritaskan penggunaan elektronik, pengeluaran listrik bisa membludak. Itu bisa menjadi masalah secara finansial maupun lingkungan. Nah, demi menghindari itu semua, kita perlu menjadi keluarga yang bijak, keluarga harus mampu menentukan prioritas penggunaan elektronik. Mana sekiranya perangkat yang lebih penting untuk difungsikan, mana yang bisa dilakukan secara manual. Kita bisa kok menonaktifkan penggunaan mesin cuci, dispenser listrik, AC selama dirumah supaya lebih hemat listrik.

Ya, demikianlah beberapa cara bijak berenergi yang bisa diterapkan tiap keluarga. Memang, kita perlu melatih diri untuk tidak mudah abai pada sesuatu yang terlihat sepele. Semisal mencabut charger ponsel setelah digunakan atau menutup keran demi mencegah rintik air terbuang. Namun jika hal tersebut diterapkan oleh banyak keluarga di Indonesia, itu bisa jadi penghematan yang luar biasa.

Harapannya, selama pandemi ini berlangsung, kita mampu berperilaku bijak dalam mengelola energi di rumah dan menularkan ke anak-anak. Setidaknya, itu merupakan cara yang bisa kita lakukan agar isu memgenai krisis energi tidak mengancam generasi selanjutnya. Jika bukan dari keluarga yang mengajarkan, siapa lagi? Yuk mulai jaga bumi dari sekarang!

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

Sumber referensi :

  • https://www.kbrprime.id/listen.html?type=story-telling&cat=ruang-publik&title=bijak-pakai-energi-di-tengah-pandemi
  • https://tekno.tempo.co/read/1071944/hari-air-sedunia-2018-ini-12-fakta-mencengangkan-soal-air
  • https://nasional.kompas.com/read/2009/03/03/20250319/batasi.eksploitasi.air.tanah
  • http://www.pdamtirtabenteng.co.id/berita/dampak-negatip-pengambilan-air-tanah-secara-berlebihan
  • https://id.wikipedia.org/wiki/PLTU_Batubara

35 komentar:

  1. Bikin gambar itu pakai aplikasi apa kak?

    BalasHapus
  2. aku tuh yang suka ngmel juga sama vampir listrik itu, terus matiin lampu, pokoke cerewetlah ama penggunaan listrik, soalnya naik bengkaknya mba luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, soalnya vampir listrik tuh emang yg paling riskan naikin daya. Kalau dibiarin siap2 membangkak bayarnya ya mba hehe

      Hapus
  3. Aku juga sering dimarahin ibuk gara2 gak nyabut kabel charger. Ternyata alasan vampir listrik tho?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dek, chargermu itu lho bikin jadi vampir kalau gak dicabut hehe

      Hapus
  4. Sebenarnya aku baru tahu lho kalau listrik itu 60% menggunakan instalasi PLTU bertenaga batubara. Lha kalau kayak gitu ya bakal mbanyakin polusi yo Mbak. Kudu hemat energi memang. Dan itu bisa dimulai dari kebiasaan di keluarga. Makasih ulasannya mbak Nara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dek sama2. Kita saling berbagi informasi yak hehe

      Hapus
  5. Waah...ada istilah baru. Vampir listrik.
    Aku selama ini selalu cabut yang gak kepake, tapi untuk beberapa hal, kaya tivi, kesambungnya ke banyak kabel lain. Harus dibenahi lagi nih...biar ga ada vampir listrik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm, kalau TV sih aku rasa gak masalah mbak, soalnya kalau bolak balik dicabut malah naikin daya. Tapi yang dicabut tuh yang gak kepakai kayak charger hape gitu.

      Hapus
  6. Aku juga suka kena omelan sama mama kalo listrik sering cabut pake jadi makan wattnya lebih tinggi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau cabut pakainya TV, Kulkas dan yang gede2 emang naikin watt sih mbak

      Hapus
  7. Beneran nih baru tau dan ngeh ternyata cas hape klau ga dicabut itu bakal membuang listrik, aduh aku selalu begitu tuh, harus lebih menghemat energi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, dulu aku juga sering begitu. Apalagi kalau malam hari. Selak ngantuk dan gak keburu nyabut kabel charger. Tapi setelah dapat wejangan dari ibu kos, dulu, jadi lebih care sih soal menjaga energi :D

      Hapus
  8. Vampire listrik kejam emg, apalagi pas ngangkatnya,,
    apalagi kl daya 1300,, wahh wis ambayr hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap-siap bayar listrik lebih mahal yo mas wakakaka

      Hapus
  9. Nah, salah satu yang masih disepelekan oleh suamiku itu vampir listrik charger handphone, sebel aku kalau lihat itu, langsung aku cabut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu aku ya gitu juga mba, tapi setelah tahu kalau charger gak dicabut bisa bikin harga listrik membengkak, langsung cabut deh :D

      Hapus
  10. Kesemua tips di atas sebenarnya sederhana ya Mbak tetapi jika kita semua melakukannya, niscaya bisa membantu penghematan energi di negara kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener banget mbak. Kadang orang tuh masih nyepelein yg kecil soalnya.

      Padahal mah, hal sepele kalau dikumpulin hasilnya juga gede

      Hapus
  11. Energi harus digunakan sesuai kebutuhan nya, agar tidak terjadi pemborosan. Apalagi, jika energi berasal dari sumber yang tidak dapat diperbaharui, maka akan habis dalam waktu cepat apabila tidak di hemat dan akan membuat kesulitan di masa mendatang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, begitulah mbak. Apalagi kalau membicarakan energi fossil

      Hapus
  12. Jadi kalau bijak ujungny semua kebagian ya harusnya. Jadi ingat pada cerita listrik naik nih bulan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa kenapa mbak kok bisa naik, mungkin bisa berbagi cerita alasannya hehe
      Apa jangan2 karena vampir listrik :D

      Hapus
  13. yang vampir listrik itu di aku biasanya dari laptop dan wi-fi router. Berarti kudu dicabut kalau malam, ya.
    Semoga bisa hemat listrik, repot bayarnya mahal, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kalau laptop juga kadang masih gak isa nyabut mbak, soalnya baterainya udah rusak. Tapi ya kuusahakan sih tetepan

      Hapus
  14. Ilmu baru banget nih pantes klo mau nginep dirumah mama suami paling ribet suruh cabut semua colokan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh tapi kalau modelnya nginep gitu emang perlu dicabut mbah, takutnya kalau konsleting bisa terjadi kebakaran kan berabe :D

      Hapus
  15. Ternyata ada juga vampir di listrik ya..?? Menarik juga tuh, bahkan kalau charger listrik tak dicabut katanya bisa merusak charger itu sendiri, selain boros listrik ya kak..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya sih gitu Mas kalau di review2 mengenai gadget.

      Hapus
  16. Perlu banget cerdas. Soalnya tagihan bulannya aku sekarang bengkak banget. Dan itu bikin pengurangan di sana sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alokasi pengeluaran jadi berubah ya mbak, aku rasa tiap orang juga ngerasain sih

      Hapus
  17. Masa krisis gini emang bikin kita harus makin bijak menggunakan energi, ya. Jangan sampai kita buang2 untuk yang ga perlu.

    BalasHapus
  18. Aku juga sedang menerapkan penghematan energi mba, eehehe ...
    kalau nggak tagihan bisa membludak, semoga kita semua belajar bijak berenergi

    BalasHapus