Kamis, 20 Agustus 2026

Sebelum Semua Kebahagiaan Itu Terenggut

 “Kanker tak pernah memilih sasarannya. Ia dapat menyerang siapa pun. Tak peduli gender, profesi, asal negara, usia maupun status sosial, semua orang bisa terkena. Namun, ada satu cara mencegah tingkat persebarannya yakni dengan cek kesehatan rutin di fasilitas kesehatan terdekat” 

***

Berita duka itu datang dini hari. Sahabat baik saya semasa SMP—Lidya—meninggal di rumah sakit karena kanker rahim. Setahun lalu, saya sempat bertemu dengan Lidya di acara pernikahannya. Saat itu, Lidya dan suami tampak semringah. Puluhan tamu datang menyalami di atas panggung sembari mengucapkan selamat. Keduanya tersenyum bahagia. 

Saya benar-benar tak menduga jika senyum bahagia itu adalah pertemuan terakhir saya dengannya. Sebelumnya, Lidya tidak pernah terlihat sakit. Ia bahkan beberapa kali posting aktivitas mengajarnya di Instagram. 

Memang, saya pernah melihat ia membuat story whatsapp tentang nyeri haid parah dan harus minum obat. Namun, saya pikir itu hanya nyeri biasa. Tak disangka, nyeri itu adalah alarm dari tubuh bahwa ia terkena kanker leher rahim stadium 3. 

Menurut ibunya, Lidya sempat drop 2 bulan belakangan. Ketika periksa ke rumah sakit, dokter berkata kankernya sudah menjalar ke organ lain, ia harus segera operasi. Tak disangka, seminggu setelahnya, tubuh Lidya drop parah. Ia akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit pukul 22.00 wib. 

Berita kematiannya tersebar luas di grup WA. Semua orang bersedih, semua orang berduka. Terutama grup WA yang berisi 34 orang. Tak ada lagi cerita seru tentang sisi hidupnya sebagai guru SD. Tak ada lagi candaan yang membuat grup ramai. Semua bahagia itu berakhir menjadi memori saat kanker merengutnya. 

Cerita Lain Penyintas Kanker

Selain Lidya sahabat saya, penyintas kanker lainnya adalah Kristiani Herrawati, istri mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Bu Ani--beliau biasa dipanggil--adalah perempuan tangguh penyintas Leukimia. Ia divonis menderita penyakit tersebut pada awal Februari 2019 oleh dokter.

Bu Ani menjalani perawatan di National University Hospital (NUH), Singapura. Beberapa media juga mengatakan bahwa kondisi kesehatannya sempat membaik. Namun, pada Hari Sabtu, 1 Juni 2019, beliau menghembuskan nafas terakhir di usia 66 tahun. Kepergian Bu Ani membuka luka mendalam bagi semua orang terutama keluarga tercinta yang telah menemaninya berjuang.

Kisah lain, mari ke luar negeri. Pernah kalian mendengar nama Kate Middleton? Ya, Kate merupakan istri dari Pangeran Wiliam, pewaris utama Kerajaan Inggris. Beberapa waktu lalu, publik pernah dibuat resah atas menghilangnya Kate Middleton di hadapan publik pada awal tahun 2024.

Setelah ditelisik, perempuan dengan gelar Princess of Wales itu ternyata harus menjalani perawatan intensif karena menderita kanker. Memang, tak diketahui secara pasti jenis kanker apa yang menyerangnya. Namun, sejak saat itu publik merasa cemas dengan kondisi Sang Putri.

Januari 2025, Kate Middleton mengumumkan bahwa ia berada dalam masa remisi atau sembuh dari kanker setelah menyelesaikan kemoterapi preventif sejak Maret 2024. Pengumuman ini disampaikan usai kunjungannya yang emosional ke Rumah Sakit Royal Marsden di London.

Data Penyintas Kanker di Indonesia

Jika dilihat dari cerita di atas, kanker memang tidak pernah pandang bulu. Ia tidak peduli latar belakang apa pun pengidapnya. Setiap orang bisa berisiko terkena dampak kengeriannya. Di Indonesia, jumlah penderita kanker cukup tinggi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Globocan mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.099 kematian setiap tahunnya. Diprediksi, angka tersebut akan terus melonjak hingga lebih dari 70 persen pada tahun 2050. 

Beberapa jenis kanker yang menyerang masyarakat Indonesia diantaranya kanker payudara (68.858 kasus), kanker serviks/leher rahim (36.633 kasus), kanker paru (34.783 kasus), kanker kolorektal (34.241 kasus), kanker hati (21.400 kasus), kanker tiroid (15.113 kasus) dan kanker Limfoma (14.620 kasus).

Masih menurut Globocan 2022, Indonesia masih menyandang status tertinggi di ASEAN soal kematian akibat kanker. Prevalensinya sebesar 70 persen. Rata-rata dari mereka datang saat kanker telah memasuki fase stadium 3-4 sehingga angka kesembuhannya minim. Mengapa itu bisa terjadi?

Salah satu alasan tingginya angka kematian penderita kanker disebabkan oleh keterlambatan diagnosis. Masyarakat enggan melakukan cek kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat untuk melihat gejala awal. 

Perempuan di negara-negara dengan IPM rendah memiliki kemungkinan 50% lebih kecil untuk didiagnosis menderita kanker payudara dibandingkan perempuan di negara-negara dengan IPM tinggi; namun, mereka menghadapi risiko kematian akibat penyakit ini yang jauh lebih tinggi karena diagnosis yang terlambat dan akses yang tidak memadai terhadap pengobatan berkualitas.” (Dr. Isabelle Soerjomataram, Wakil Kepala Divisi Surveilans Kanker di IARC)

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi masyarakat tidak mau cek kesehatan, meski itu merupakan hal penting,

  1. Pertama. Soal biaya. Tak dipungkiri bahwa biaya mahal membuat masyarakat enggan untuk periksa. Bagi masyarakat akar rumput biaya Rp 50.000-500.000 tidak sedikit, apalagi bila mereka tidak memiliki asuransi pemerintah atau BPJS.
  2. Kedua, soal administrasi dan antre panjang. Di kampung atau desa terpencil, masih ada orang tidak bisa baca tulis, terutama orang tua. Mereka akan kesulitan saat berhadapan dengan administrasi dari pihak faskes seperti puskesmas. Para orang tua juga cenderung malas untuk antre panjang sampai namanya dipanggil. Hal ini terjadi juga di puskesmas di kampung saya.
  3. Ketiga, takut hasil buruk. Alasan ini juga menjadi pilihan dominan masyarakat tidak melakukan cek kesehatan di faskes. Vonis sakit menjadi momok mengerikan. Mereka belum siap menerima informasi buruk jika ternyata di tubuh mereka ada penyakit serius.
  4. Keempat. Merasa sehat dan bugar. Di keluarga, ketika ada yang jatuh sakit dan diminta untuk periksa, pasti alasannya hanya gejala ringan. Bisa minum obat warung. Padahal, bisa jadi sakit ringan yang terjadi terus menerus merupakan gejala awal penyakit mematikan. 

Pakde dan Mbah Kakung saya adalah dua contoh orang yang anti dengan dokter atau rumah sakit. Tiap merasa tidak sehat, keduanya pasti memilih pergi ke pengobatan alternatif terdekat. 

Alasannya, mereka takut jarum suntik dan khawatir jika biaya periksa ke dokter mahal. Bagi pakde dan simbah, uang Rp 200.000-400.000 bukan nominal kecil. Pemikiran seperti Pakde dan simbah ini pula yang kerap terjadi di masyarakat. Mereka tidak mau cek kesehatan sampai akhirnya terlambat ditangani.

Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk Masyarakat

Melihat alasan-alasan itulah pemerintah kemudian membuat program bagi masyarakat yakni Cek Kesehatan Gratis (CKG). Mulai Februari 2025, masyarakat di segala kelompok usia bisa melakukan CKG tanpa bayar sepeser pun. 

Program ini merupakan kado ulang tahun dari pemerintah untuk membantu masyarakat hidup lebih sehat. Jenis pemeriksaan yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi tubuh dan usia. 

Beberapa orang mungkin penasaran, jenis pemeriksaan apa saja yang tersedia di program Cek Kesehatan Gratis. Berdasarkan uraian dari Kementerian Kesehatan, ada 3 jenis pemeriksaan yang didasarkan pada usia,

Bayi Baru Lahir

Jenis pemeriksaan yang akan diberikan untuk bayi baru lahir, meliputi deteksi dini hormon tiroid, G6PD (glucose-6-phosphate dehydrogenase deficiency atau defisiensi enzim G6PD), penyakit jantung bawaan, bayi kuning, status imunisasi hepatitis B dan skrining untuk memantau pertumbuhan anak.

Balita dan Anak Prasekolah

Jenis pemeriksaan yang akan diberikan, meliputi skrining tuberkulosis, pemeriksaan pendengaran, penglihatan, kondisi gigi, deteksi dini penyakit kusta dan scabies, serta skrining status imunisasi balita. 

Selain itu juga akan dilakukan pemeriksaan tumbuh kembang, pemeriksaan darah (usia 2 tahun) untuk deteksi dini anemia dan talasemia (kelainan darah). Mulai usia 2 tahun juga akan dilakukan pemeriksaan gula darah untuk mendeteksi dini penyakit diabetes melitus.

Dewasa dan Lansia

  1. Untuk usia dewasa dan lansia, pemeriksaan yang akan diberikan meliputi skrining risiko penyakit kardiovaskular dan metabolik seperti pemeriksaan tekanan darah, gula darah, status gizi, kebiasaan merokok.
  2. Secara umum. Tiap orang akan diperiksa bagian pendengaran, penglihatan, kesehatan gigi dan mulut, skrining kesehatan jiwa, tuberkulosis, hepatitis B, hepatitis C, dan fibrosis/sirosis hati.
  3. Deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim juga dilakukan untuk perempuan mulai usia 30 tahun, deteksi dini kanker paru dan kanker usus dilakukan untuk usia mulai 45 tahun. Untuk lansia usia 60 tahun ke atas juga akan mendapat pemeriksaan geriatri.
  4. Khusus bagi calon pengantin akan dilakukan skrining penyakit infeksi menular seksual seperti sifilis, HIV, dan khusus perempuan termasuk skrining anemia dan status imunisasi Tetanus.

Lalu, bagaimana cara mendaftar Cek Kesehatan Gratis? Salah satunya dengan memanfaatkan aplikasi SATUSEHAT.

  1. Download aplikasi SATUSEHAT Mobile di App Store atau Play Store
  2. Login dengan email, nomor HP, PIN, atau biometrik
  3. Masuk menu Cek Kesehatan Gratis → Tiket Pemeriksaan
  4.  Tekan Buat Tiket Baru, isi data diri
  5. Pilih jadwal & lokasi Puskesmas terdekat
  6. Tunjukkan nomor tiket ke petugas saat datang.

Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), diharapkan masyarakat bisa merasakan pelayanan kesehatan memadai tanpa batasan biaya, usia dan tempat tinggal. Dengan demikian, tiap orang yang terindikasi memiliki gejala Penyakit Menular atau Tidak Menular (PTM) bisa dideteksi sejak awal sehingga pengobatannya bisa dilakukan lebih cepat dan tuntas.

Cek Kesehatan Gratis beberapa waktu lalu di depan Puskesmas

Seperti apapun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Dan ya, jangan sampai kebahagiaan berkumpul bersama keluarga terenggut karena penyakit mematikan yang terlambat diketahui. 

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat

#LombaKesehatanKomdigi2026

#HUT81RI

Referensi Tulisan : 

  • Web Kemkes. (2025.4 Februari). Manfaat Cek Kesehatan Gratis Bagi Masyarakat. Link: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis
  • Web Kemkes. (2025.6 Februari). Kasus Kanker Diprediksi Meningkat 70 Persen pada 2050, Kemenkes Perkuat Deteksi Dini. Link: https://kemkes.go.id/id/kasus-kanker-diprediksi-meningkat-70-persen-pada-2050-kemenkes-perkuat-deteksi-dini
  • Web Primayahospital. Jenis-Jenis Kanker paling umum di Indonesia dan Dunia. Link: https://primayahospital.com/kanker/jenis-jenis-kanker/
  • UICC. (2024, 2 Februari). GLOBOCAN 2022: Latest global cancer data shows rising incidence and stark inequities. https://www.uicc.org/news-and-updates/news/globocan-2022-latest-global-cancer-data-shows-rising-incidence-and-stark

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam