
"Nduk, mau ikut simbah panen ubi ungu di ladang sana ndak? Nanti sekalian mbah masakin sayur daun ubi kesukaan kamu"
***
Sebuah lamunan tentang perkataan simbah Rusmini tiba-tiba buyar ketika ibu memintaku mencuci mangga yang kami panen sore itu. Aku hanya sekilas membayangkan, namun memori itu menghangatkan selalu menghangatkan hati.
Saat KKN, tepatnya tahun 2016 lalu, aku dan kelompokku mengenal simbah pertama kali. Kala itu simbah menawarkan rumah sederhananya untuk dijadikan posko, tempat kami belajar dan beristirahat.
Menurut beliau, Anak-anak KKN yang banyak bisa meramaikan suasana rumah. Wajar, rumah beliau sudah terasa sepi karena ditinggal anak-anak merantau ke Bandung hingga luar negeri.
Mbah Rusmini sudah cukup sepuh, kira-kira berusia 65 tahun. Tapi, satu hal yang menurutku keren, beliau masih memiliki semangat bekerja layaknya anak muda. Bertani di ladang tiap hari adalah keseharian beliau dan suami.
Tiap pukul 5 pagi, mbah Rusmini selalu siap membawa caping dan arit. Beliau merawat tiap tanaman mulai dari kacang hijau, ubi ungu, hingga kangkung.
Aku dan teman-teman KKN lain biasanya membantu simbah tiap sore. Kami akan membantu panen hasil ladang atau membawakan simbah makanan.
Sedikit bercerita, simbah sangat suka memasak hasil panennya, apalagi semenjak kami tinggal di sana. Diantara semua masakan simbah, aku sangat menyukai tumis lengguk (daun ubi) dan sayur gambas. Sederhana namun lezat.
Tanaman lengguk yang ditanam Mbah Rusmini sangat subur serta gemuk. Uniknya, simbah tak pernah memberi pupuk atau menyiraminya secara teratur karena air pada saat itu cukup langka. Sumur-sumur galian di ladang kering; musim hujan belum tiba.
Menurut simbah, daun lengguk punya kemampuan unik mempertahankan tekstur tanah agar tetap lembab, jadi, ketika musim kemarau, air yang dibutuhkan untuk menyiram tak terlalu banyak.
Mengenal Ubi Jalar dengan Berbagai Manfaat
Sebenarnya, aku mengenal daun lengguk sejak masih kecil. Saat itu ibuku bercerita bahwa daun lengguk menjadi makanan yang ibu konsumsi bersama nenek.
Nenekku suka membuat urap daun lengguk, lantas dimakan bersama tempe gembus. Zaman dulu, jumlah tukang sayur atau pasar tidak sebanyak sekarang sehingga untuk mendapatkan variasi sayur tidak semudah membalikkan tangan.
Selain itu, finansial orang zaman dulu belum sebaik saat ini. Di masa-masa sulit itu, apapun bahan pangan yang tersedia, itu menjadi kunci bertahan hidup.
Untuk mendapatkan sayur dan lauk---jika tak memiliki uang---nenek biasanya barter dengan tetangga atau menanam bahan pangan di halaman rumah. Nah, tanaman pangan yang dipilih nenek adalah lengguk dan singkong karena mudah beradaptasi dengan lingkungan.
Ini contoh batang tanaman lengguk yang aku tanam di halaman rumah, batang tersebut hanya aku siram beberapa kali plus diberi pupuk,
![]() |
| Batang tanaman ubi jalar yang aku tanaman pada 26 Agustus 2026 |
Lalu, setelah sebulan berlalu, batang-batang itu telah tumbuh dan membentuk daun-daun baru seperti ini. Gimana terlihat sehat bukan? Percaya deh. Dua bulan kamu tinggal, tiba-tiba ubi jalar ini sudah memenuhi halaman rumah.
![]() |
| Tanaman ubi jalar yang mulai tumbuh |
For your information, tanaman ubi jalar, bisa dengan mudah ditemukan di seluruh Indonesia. Sebab, cara menanamnya memang tidak sulit. Baik melalui umbinya maupun batangnya mereka bisa hidup.
Di Wilayah Papua, selain sagu, ubi jalar menjadi makanan pokok masyarakat. Ubi jalar dipilih karena mudah di tanam, bahkan di area pegunungan.
Apakah kamu pernah mendengar tradisi bakar batu di Papua. Bagi yang belum tahu, tradisi Bakar Baru adalah ritual memasak bersama menggunakan batu panas yang disusun sedemikian rupa.
Dalam website KPU Yalimo, tradisi bakar batu diadakan untuk merayakan,
- Penyambutan tamu kehormatan.
- Perayaan kelahiran atau pernikahan.
- Perdamaian antar suku setelah terjadi konflik
- Penobatan kepala suku
- Persiapan pedang
- Upacara kematian
Setiap suku di Papua memiliki sebutan lokal masing-masing soal tradisi Bakar Batu.
- Suku Dani (Lembah Baliem / Puncak): Logo Lakwi atau Bakar Batu
- Suku Lani (Tolikara / Lanny Jaya): Lago Lakwi
- Suku Hubula / Suku Dani (Wamena / Jayawijaya): Kit Oba Isogoa
- Suku Paniai: Mogo Gapil atau Gapiia
- Suku Biak: Barapen
- Suku Damal: Kelayogotago
- Suku Nduga: Kerep Kan
- Suku Pegunungan Bintang: Hupo
Tradisi bakar batu sudah ada sejak lama dan diwariskan turun temurun. Jadi kalau berkunjung ke Papua, lebih tepatnya di bagian pegunungan, tradisi ini masih langgeng dilaksanakan.
Aku pernah melihat salah satu video reel dari warganet, seorang perempuan membagikan persiapan tradisi bakar batu untuk memperingati keberhasilan panen. Orang-orang dari desa tersebut berbondong-bondong menuju lapangan tempat pembakaran. Mereka terlihat sangat bahagia dan antusias.
Ketika Bakar Batu dilaksanakan, hasil bumi seperti ubi jalar, singkong, pisang, serta daging babi akan ditumpuk dalam lubang, diberi batu-batu panas, lalu, ditutup rapat dengan daun-daunan seperti daun ubi jalar dan singkong. Tujuannya menjebak uap panas sehingga makanan cepat matang.
Ubi rambat dan singkong yang telah masak akan menjadi karbohidrat bagi warga. Mereka akan menyantap ubi bakar bersama dengan daging babi. Luar biasa sekali tradisi ini, benar-benar membumikan makna gotong royong yang kian tergerus zaman.
Jika melihat tradisi Bakar Batu bisa diketahui bahwa ubi jalar dan umbi-umbian lain sangat dibutuhkan keberadaannya. Bagi lingkungan, ubi jalar mampu meredam potensi erosi yang diakibatkan oleh air hujan; ia juga membuat tekstur tanah menjadi lebih gembur.
Secara sosio-kultural, keberadaan ubi menjadi bagian penting dari upacara tradisional masyarakat Papua, sumber pangan untuk melengkapi karbohidrat yang bisa ditanam dengan mudah, murah dan cepat. Ubi jalar benar-benar memiliki peran ganda yang tak bisa disepelekan.
Mengenal Mangrove, Tanaman Dobel fungsi yang lain
Apakah kamu pernah melihat buah Mangrove? Yup, Mangrove adalah tanaman yang berfungsi untuk mencegah abrasi. Biasanya mudah ditemukan di area pantai. Tahu gak sih kalau ternyata buah mangrove juga bisa menjadi sumber pangan lokal?
Berkenaan dengan dobel fungsi tanaman Mangrove, beberapa waktu lalu, aku bersama teman-teman Eco Blogger Squad diajak bertualang online ke Raja Ampat melalui sebuah gathering.
![]() |
| Gathering Eco Blogger Squad 2026 |
Gathering yang mengambil tema "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat" ini menghadirkan 2 narasumber kompeten, mereka adalah Daniel Kbarek (Program Officer TAF) dan Wawiyai Steve (Program Manajer PKPRA).
Ternyata, selain tanaman ubi ungu yang memiliki fungsi ganda, mangrove juga memiliki lho! Daniel Kbarek membagikan kisah tentang hutan mangrove yang telah menjadi sumber penghidupan masyarakat Raja Ampat.
Di hutan mangrove, hidup beraneka ragam satwa seperti kepiting, ikan bakau, hingga kerang. Semua satwa itu menjadi sumber pangan lokal masyarakat. Para mama biasanya akan datang ke pesisir untuk mencari sumber pangan yang tersedia.
Tangan-tangan mama secara ajaib akan mencari aneka sumber pangan, sehingga bisa memenuhi kebutuhan keluarga.
![]() |
| Hasil laut di mangrove selain ikan |
Bang Daniel mengatakan bahwa saat para ayah/laki-laki menuju ke laut lepas untuk menangkap ikan laut, para perempuan lah garda terdepan penjaga dapur keluarga. Para mama tidak berdiam, mereka ikut mencari bahan pangan di sekitar rumah.
Selain bahan pangan berupa seafood (ikan, kepiting, udang dsb), ternyata buah mangrove juga dicari oleh masyarakat di Raja Ampat, terutama di Desa Adat Friwen dan Yenbeser.
Ada beberapa makanan hasil olahan buah Mangrove telah dibuat, salah duanya adalah keripik mangrove dan kukis buah mangrove. Belum lagi produk olahan lain yang nantinya akan dijual ke homestay atau tempat wisata.
Menurut Bang Steve, meski mangrove sangat bermanfaat di Raja Ampat; sumber pangan lokal, namun keberadaannya kian tergerus zaman. Perubahan iklim dan pembangunan resort merusak ekosistem mangrove.
![]() |
| Data perubahan mangrove di Papua (Sumber: Wawiyai Steve) |
Jika ini terus dibiarkan, ancaman nyata kehilangan hutan mangrove ada di depan mata. Padahal, tanpa mangrove, hewan-hewan maupun sumber pangan lokal dari mangrove tidak pernah bisa ditemui. Artinya? Masyarakat tak lagi mampu produksi pangan dari hutan mangrove.
Bang Steve dan Daniel berharap, kedepannya hutan Mangrove di Raja Ampat bisa hidup lebih banyak, tidak dieksploitasi besar-besaran, hal ini demi menjaga lingkungan pesisir dari abrasi, juga menjaga ketahanan pangan lokal masyarakat.
Nah masih ngomongin soal ketahanan pangan melalui tanaman lokal, Oktober ini, berbagai solusi untuk menghadapi perubahan iklim akan dibicarakan dalam Bangkok Climate Action Week.
Namun, solusi tidak hanya datang dari ruang-ruang diskusi. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal. Salah satunya dilakukan oleh para mama di Desa Friwen dan Yenbeser.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam