Sabtu, 04 Juli 2026

Ketika Kucingku Bernama "Kula" Pergi untuk Selamanya

Kula, salah satu kucingku di rumah 

Seandainya aku tahu bahwa hari itu terakhir kalinya aku bertemu Kula, mungkin sebelumnya aku akan memperbanyak foto lucunya di galeri ponsel, kusimpan sebagai kenang-kenangan supaya bisa dilihat setiap rindu

*** 

Memiliki anak bulu (anak bulu) adalah hal umum di zaman sekarang. Tingkah mereka yang lucu membuat bahagia seisi rumah. Rasanya ingin selalu bermain bersama anabul. Aku pun memiliki beberapa di rumah. Ada 9 ekor kucing.

Salah satu dari sembilan kucingku bernama Kula. Ia merupakan peranakan kucing kampung dan anggora. Kula berwarna oren dengan muka sangar. Mengapa kunamai Kula? Sebenarnya itu singkatan dari "Kucing Lanang".

Kula punya saudara yang mirip; oren dan juga jantan, bernama Leon. Namun wajah Leon lebih kalem serta lucu. Sedangkan Kula memiliki tampang khas kucing jantan dengan pandangan mata tegas. Hal itulah yang menginisiasi aku menamainya Kula, karena "Ngelanang" banget. 

Tanggal 8 Juni 2026 lalu, tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak. Ternyata itu teriakan mbak-mbak pengendara motor. Tak disangka, mbak tersebut menabrak salah satu kucingku bernama Kula.

Kula merupakan kucing anakan persia dan kampung. Meski dia campuran, tapi memiliki bulu panjang. Gemas tiap kali Kula berlari, seperti sekumpulan kapas hidup berwarna oren.

Sebelum pergi, Kula genap berusia 1 tahun. Tubuhnya yang gembul seolah memperlihatkan kalau dia sudah menjadi lelaki sejati. Padahal dia masih anak remaja.

Kepergian Kula hari itu cukup membuat sedih. Apalagi dia termasuk hewan yang clingy dan pintar. Tiap pagi pukul 4, dia akan menggigit tangan adikku, seolah membangunkannya agar tidak terlambat bekerja.

Sore, 9 Juni 2026 lalu, penabrak Kula datang ke rumah. Ia meminta maaf karena telah menabrak Kula. Kami memaafkannya. Jujur, aku dan ibu sangat mengapresiasi mbaknya karena mau datang untuk meminta maaf.

Tak semua orang mau lho untuk mengakui kesalahan. Dia bilang kalau pagi itu dalam keadaan tergesa-gesa sehingga tidak melihat keberadaan Kula yang berdiri di pinggi jalan. Dia menggerakkan motor dengan kecepatan cukup tinggi.

Mempersiapkan Mental Kehilangan Anabul

Hewan-hewan peliharaan memiliki usia lebih singkat dari manusia. Terlepas dari takdir, usia memang tidak ada yang tahu. Tapi secara fakta, usia anabul---dalam hal ini kucing---biasanga tak lebih dari 6 tahun. 

Dengan adanya hal itu, maka mempersiapkan mental saat mereka pergi selamanya adalah keharusan. 

Aku punya cerita. Salah satu sahabatku bernama Grace punya hewan peliharaan anjing. Namanya Choky. Choky ini anjing kampung biasa dan tidak agresif saat bertemu orang baru. Bagi Grace, Choky sudah dianggap sebagai keluarga. 

Bulan Januari 2026 lalu, Choky tertabrak, sama seperti Kula. Dia ditemukan oleh tetangga Grace yang sedang menjemur pakaian. Setelah lihat di CCTV, Choky ternyata keluar lewat sela-sela gerbang. 

Dia keluar karena di depan rumah Grace ada bola pingpong kecil. Mungkin mau mengambil. Tak di sangka, ada mobil lewat, dan Choky tertabrak. 

Beberapa waktu setelah Choky pergi, sahabatku Grace selalu update story soal kehilangannya. Dia bilang kalau Choky ini segala baginya. Teman saat senang dan sedih. Kalau sedang dirundung masalah, Choky selalu jadi teman setia yang mendengarkan. Matanya penuh perhatian. 

Kehilangan Choky membuat Grace hanya diam di rumah semingguan. Dia berkata padaku, butuh waktu untuk menenangkan diri. Bersyukurnya, dia sekarang sudah pulih. Hatinya membaik setelah keluarganya adopsi anjing kecil lagi. 

Dari cerita tersebut, aku bisa memahami bahwa Anabul adalah keluarga. Dia bisa menjadi teman cerita, bonding bersama dengan pemiliknya. Entah itu kucing, anjing atau hewan lainnya, kehilangan mereka adalah pukulan berat. 

Meski demikian, mempersiapkan mental saat berpisah dengan mereka itu penting, supaya hati bisa lega dan tidak terpuruk. Aku yakin, mereka juga tidak mau kalau pemilik mereka berlarut dalam kesedihan. 

Melalui tulisan singkat di blog ini, aku hanya ingin berbagi cerita bahwa salah satu kucingku pergi untuk selamanya. Aku harap, selanjutnya kucing-kucingku bisa lebih aman. Tentunya, kami akan sekuat mungkin berusaha menjaga mereka agar tidak berlari ke jalanan. 

Nah, soal Anabul, apakah kalian juga memiliki cerita mengenai mereka? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam