Minggu, 05 Juni 2022

Peran Aktif Polri dalam Melayani Masyarakat Terdampak Rob di Kota Pekalongan

Gambar 1. Banjir Rob di Kelurahan Panjang Baru (Dokumentasi Pribadi)

Senin, 23 Mei 2022 lalu, sebuah gelombang tinggi menerjang wilayah Kota Pekalongan. Gelombang tersebut menyebabkan beberapa tanggul jebol sehingga air laut yang meluap ke daratan memiliki intensitas yang cukup besar.

Saat air laut meluap, sebagian besar rumah warga di wilayah pesisir terendam hingga mencapai ketinggian lutut. Alhasil, demi mencegah risiko terburuk, masyarakat mulai diarahkan untuk mengungsi ke wilayah yang aman. 

Menurut data dari BPBD Kota Pekalongan yang dinukil dari Detik.com, terdapat enam lokasi yang menampung sekitar 221 jiwa warga yang mengungsi.

Berikut merupakan daftar beberapa kelurahan yang terkena banjir rob akibat gelombang tinggi. Data berikut ini diambil dari Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Pekalongan yang dinukil dari Detik.com.

  1. Kelurahan Tirto, ketinggian air: 40-90 cm
  2. Kelurahan Degayu, ketinggian air: 30-50 cm
  3. Kelurahan Panjang Wetan, ketinggian air: 30-50 cm
  4. Kelurahan Panjang Baru, ketinggian air : 20-30 cm 
  5. Kelurahan Pasir Kraton Kramat, ketinggian air : 10-30 cm
  6. Kelurahan Gamer, ketinggian air : 5-20 cm
  7. Kelurahan Klego, Krapyak dan Kauman, ketinggian air : 10-15 cm

Melihat kondisi yang demikian parah, proses penambalan tanggul serta evakuasi masyarakat terdampak rob harus dilakukan secara cepat, tepat serta membutuhkan berbagai sinergi, salah satunya dari Polres Pekalongan sebagai lembaga yang berfungsi melayani masyarakat.

Peran Aktif Polisi dalam Melayani Masyarakat Terdampak Rob

Polres Pekalongan adalah salah satu dari beberapa lembaga yang memiliki peran penting untuk menjaga ketertiban, keamanan serta melayani kepentingan masyarakat umum. Tak heran, selama terjadi bencana rob di Pekalongan, para petugas terlihat di berbagai lokasi untuk membantu masyarakat.

Gambar 2. Petugas polisi membawa warga ke tempat mengungsi (Dokumentasi Pribadi)

Seperti pada hari Rabu, 25 Mei 2022 lalu, di sepanjang Jalan Kusuma Bangsa hingga Jalan Pahlawan yang berlokasi di Kelurahan Panjang Baru, beberapa personel polisi dikerahkan untuk membantu evakuasi masyarakat yang terdampak rob.

Baca juga : Sosok Polisi Harapan Masyarakat? Jadilah Seperti Bripka Seladi

Petugas polisi menggunakan semacam truk khusus untuk mengangkut warga menuju daerah yang aman. Beberapa kelompok rentan seperti lansia menjadi pertimbangan utama dalam kegiatan evakuasi kali itu. Ada sekitar 3 truk polisi terlihat berlalu lalang melintasi jalanan yang terendam air.

Gambar 3. Truk milik Petugas yang mengangkut warga Terdampak rob (Dokumentasi Pribadi)

Kebetulan, saya berada di sana untuk melihat langsung kondisi rob yang terjadi di Kelurahan Panjang Baru. Semakin menuju ke arah pesisir pantai utara, volume air yang menggenang kian meninggi. 

Tak heran, jumlah warga yang dibawa ke posko pengungsian juga semakin banyak, termasuk, para pekerja pabrik yang terjebak banjir.

Gambar 4. Warga yang mengungsi menggunakan truk Polisi (depan)
dan kendaraan Pribadi (Belakang) (Dokumentasi Pribadi)

Saya merasa trenyuh melihat bagaimana para petugas kepolisian begitu tanggap melalui aksi-aksi kemanusiaan semacam ini. Bahkan ketika hendak melewati lokasi yang tergenang air mencapai sekitar 25 cm, petugas polisi di bagian belakang truk menawari saya dan warga untuk ikut serta demi menghindari kesulitan berjalan di antara banjir yang menggenang.

“Mbak, Mas, Bu, Pak, ikut kami sekalian saja kalau mau ke arah utara, daripada nanti susah berjalan karena banjir. Ini masih banyak tempat duduk nggih, monggo dimanfaatkan”

Saat itu saya menolak tawaran Bapak Polisi untuk naik truk, sebab tujuan saya memang hendak melihat langsung banjir rob dan mengabadikannya dalam bentuk foto. Beberapa orang memutuskan naik ke truk karena mereka hendak mengambil barang-barang yang tertinggal di rumah.

Bicara mengenai fungsi pelayanan, nyatanya tak hanya bicara tentang upaya evakuasi saja, namun juga kesigapan saat mencegah banjir lebih parah.

Bekerja sama dengan masyarakat, TNI, PMI dan lembaga lainnya, petugas polisi aktif melakukan pembenahan tanggul menggunakan karung-karung pasir.

Gambar 5. TNI dan Polri bersinergi membendung tanggul dengan karung-karung pasir di Kelurahan Tirto (Sumber gambar : Suryono Sukarno/inews)

Kelurahan Tirto merupakan lokasi terparah pada bencana rob lalu karena ketinggian air mencapai 90 cm dan mengalami jebol tanggul. 

Gotong-royong penambalan tanggul menggunakan karung pasir dilakukan agar air laut yang masuk ke pemukiman penduduk bisa diminimalisir. Harapannya, volume banjir yang menggenang ke pemukiman mampu berkurang secara drastis.

Bila kita perhatikan secara saksama, upaya pembenahan tanggul hingga evakuasi warga terdampak rob merupakan dua bukti nyata bahwa Polri memiliki fungsi penting untuk melayani masyarakat saat terjadi bencana alam. Polri menjadi salah satu garda terdepan yang dibutuhkan warga saat terjadi kondisi darurat.

Tiap individu tak mungkin bisa sendirian mengatasi bencana alam yang terjadi secara tiba-tiba dan berdampak masif. Dengan adanya problematika tersebut, fungsi pelayanan dari institusi Polri harus lebih dioptimalkan agar kedepannya proses pelaporan bisa ditanggapi secara cepat tanpa harus bertatap muka. Cukup menggunakan ponsel, pulsa maupun internet.

Harapan untuk Layanan Masyarakat 110 ke depan

Salah satu upaya yang saat ini tengah dioptimalkan oleh Polri adalah Call Center 110. Layanan Satu Nomor Tunggal tersebut dihadirkan untuk merespons cepat laporan masyarakat bila terjadi problematika yang tak bisa diprediksi. Semisal, ada warga yang membutuhkan pertolongan atas tindak kejahatan atau terjebak pada situasi banjir seperti di Pekalongan beberapa waktu ini. 

Gambar 6. Infografis kebencanaan dari Buku Setapak Perubahan

Di Indonesia sendiri, bencana alam masih menjadi masalah pelik yang kerap memakan korban karena terjadi secara tiba-tiba. Seperti cerita beberapa waktu lalu, saat terjadi bencana banjir bandang di area Jabodetabek. Salah seorang warga meminta bantuan via media sosial twitter,

“Tolong dong masyarakat twitter do ur magic, help me please to get out from this place. this is the worst flood ever. bantu gue buat bisa keluar dr rumah alamat gue: (sensor karena berisi alamat) lt 1 gue udah terlahap habis, arus masi kencang. help”

Melalui informasi yang disebarkan via twitter itu, para petugas penyelamat jadi paham dan segera gercep ke lokasi untuk menolong warga terjebak banjir. Namun demikian, meminta tolong via media sosial juga punya sisi buruk. Karena informasi terbuka lebar, itu disalahgunakan oleh orang jahat.

Kita tahu, meminta pertolongan via media sosial memang efektif karena penggunanya selalu update dan masif. Namun tindakan tersebut juga rentan disalahgunakan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. Sebab, informasi alamat rumah tersebar secara bebas. 

Beberapa risiko yang mengancam masyarakat bila melapor di media sosial misalnya memicu tindak pemerasan, penipuan, penculikan hingga pencurian.

Adanya layanan nomor tunggal 110 diharapkan menjadi media utama meminta pertolongan saat terjebak bencana atau melaporkan tindak kejahatan. Perbedaan lapor di Call Center 110 dengan media sosial, tentu dari segi keamanan. 

Layanan ini terhubung secara privat ke komando center kepolisian sehingga informasi pribadi pelapor tak tersebar ke sembarangan orang.

Layanan satu nomor tunggal 110 merupakan program penting bagi Polri. Tak heran, implementasinya sangat diusahakan agar bisa tercapai dari Sabang hingga Merauke. 

Nantinya, tiap wilayah akan memiliki komando pusat untuk dihubungkan ke tiap unit organisasi kepolisian, termasuk polda dan polsek. Polri menarget 34 polda dan 493 polres sudah terintegrasi dengan layanan kepolisian dengan nomor tunggal 110 tahun 2022. 

Adapun masalah yang bisa dilaporkan via Call Center 110 yakni berkenaan dengan laporan kecelakaan, bencana alam, tindak kejahatan, kerusuhan, dan pengaduan terkait penghinaan, kekerasan, pelecehan hingga pengancaman. Masyarakat bisa menghubungi via telepon, sms, email, fax dan media sosial (Direct Message).

Bagi masyarakat, hadirnya Call Center 110 Polri bisa menjadi angin segar di tengah isu privasi dan keamanan data. Kemudian, bagi institusi Polri, layanan ini bisa dijadikan gebrakan agar menjalin komunikasi dengan masyarakat menjadi lebih mudah dan intens.

Berdasarkan data dari Hootsuite dibawah ini kita bisa melihat bahwa digitalisasi di Indonesia telah berkembang pesat.

Gambar 7. Data pengguna smartphone dan internet (Sumber : Hootsuite)

Penggunaan ponsel pintar dan internet telah menjadi makanan sehari-hari. Potensi digital inilah yang kemudian memberi harapan baru tercapainya layanan Polri yang lebih presisi, baik melalui layanan 110 atau 886 aplikasi lainnya yang sudah terintegrasi dengan data Polri. 

Demi kelancaran implementasi, saya berharap Layanan Satu Nomor Tunggal 110 memiliki beberapa aspek di bawah ini,

Akses mudah, cepat dan murah

Petugas penerima informasi tanggap dan ramah 

Petugas lapangan sigap dan cepat langsung ke Lokasi

Data terpusat dan aman

Memiliki teknologi yang canggih

Ya, demikianlah beberapa hal terkait layanan masyarakat berupa nomor tunggal 110. Kami berharap, layanan ini mampu dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat yang membutuhkan bantuan, terutama saat berada pada situasi darurat.

Setapak Perubahan itu Bisa Dimulai dari Aksi-aksi Sederhana

Dalam Buku Setapak Perubahan, Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. selaku Kapolri mengatakan bahwa ia berkeinginan menguatkan kembali fungsi pokok seorang aparat kepolisian yakni melayani, melindungi dan mengayomi. Keinginan tersebut mungkin terlihat sederhana, namun pada kenyataannya memerlukan proses yang cukup panjang.

Mengapa demikian? Sebab, bicara mengenai pelaksanaan fungsi pokok maka sangat berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat. Terlebih, kita telah memasuki era digital yang mana arus informasi bisa didapatkan dengan begitu mudahnya. 

Kemudahan mendapatkan informasi tentu memiliki sisi baik tetapi juga riskan memunculkan gejolak yang diakibatkan oleh disinformasi, persebaran hoaks hingga ulah beberapa oknum yang merenggangkan rasa percaya masyarakat terhadap institusi Polri.

Sebagai pengguna aktif media sosial, akhir-akhir ini saya kerap menemukan pemberitaan tak mengenakkan tentang petugas kepolisian. Mulai dari memberi pelayanan yang tak maksimal hingga kasus pungli yang marak terjadi. Dari pemberitaan tersebut, muncullah berbagai kritik tajam dari masyarakat. 

Seperti nukilan info grafis “Penilaian Negatif Polri oleh LSM” dari Buku Setapak Perubahan, kita bisa melihat sendiri bahwa masih banyak elemen-elemen yang perlu diperbaiki agar kredibilitas lembaga kepolisian meningkat di mata masyarakat.

Gambar 8. Infografis Penilaian oleh LSM (Sumber : Buku Setapak Perubahan)

Penilaian negatif ini bisa dijadikan sebentuk kritik membangun agar Institusi pengayom ini bisa berubah menjadi lembaga yang lebih humanis, transparan dan pro akar rumput. Harapannya, selama beberapa tahun ke depan kepercayaan publik terhadap institusi Polri meningkat.

Setapak perubahan seperti apakah yang sebenarnya publik inginkan? Pelayanan yang ramah, tanggap dan transparan. Sebagai bagian dari masyarakat, saya sangat mengapresiasi beberapa program Polres Pekalongan akhir-akhir ini yakni pelayanan pembuatan SKCK yang cepat, program vaksin masal gratis dengan syarat mudah, serta tindakan-tindakan tanggap saat terjadi bencana rob beberapa waktu ini.

Gambar 9. Suasana ketika vaksin massal di Polres Pekalongan (Dokumentasi Pribadi)

Gambar 10. Suasana ketika vaksin massal di Polres Pekalongan (Dokumentasi Pribadi)

Bagi saya pribadi, berbagai program serta aksi-aksi tanggap itu memunculkan kembali rasa percaya dalam diri saya bahwa Polri masih menjadi institusi yang dibutuhkan oleh publik. Terlebih, dalam upaya menjaga keamanan, layanan masyarakat hingga penanganan bencana.

Saya yakin, tindakan-tindakan tanggap yang dilakukan petugas polisi untuk menyelesaikan masalah, sesederhana apapun itu, bisa menjadi titik balik bagi institusi ini untuk maju dan berkembang. 

Setapak perubahan bisa terwujud apabila Polri dan masyarakat membentuk sinergi yang kuat. Semuanya dimulai dari trust building. Melalui langkah-langkah kecil namun pasti, semoga kedepannya, Polri makin Presisi yakni prediktif, responsibilitas, transparasi, dan berkeadilan. Bravo Polri!

Referensi Penulisan : 

  • Buku Setapak Perubahan tahun 2022
  • Foto-foto merupakan dokumentasi pribadi dan juga diambil dari beberapa sumber seperti Inews. Keterangan sumber disertakan di bagian bawah foto.
  • Infografis diambil dari Buku Setapak Perubahan dan Hootsuite
  • Bernardi, Robby. 2022. Walkot Pekalongan: Banjir Rob Kali Ini Terparah, Ada Tanggul Jebol. https://www.detik.com/jateng/berita/d-6092211/walkot-pekalongan-banjir-rob-kali-ini-terparah-ada-tanggul-jebol. Diakses 25 Mei 2022
  • Heri, MC Batang. 2022. Banjir Rob Landa Sejumlah Wilayah Pantura Jateng, Pemkab Ambil Langkah Darurat, https://jatengprov.go.id/beritadaerah/banjir-rob-landa-sejumlah-wilayah-pantura-jateng-pemkab-ambil-langkah-darurat/.diakses tanggal 27 Mei 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam