Senin, 02 September 2019

Merdekakan Anak-Anak Dari Pneumonia Dengan 3 M (Melindungi, Mencegah dan Mengobati)

Sumber gambar : Baranews.co
Siapa bilang merdeka itu hanya berkaitan dengan bebas tidaknya sebuah negeri atas penjajahan bangsa lain? Tidak sayang. Lebih dari itu semua, arti merdeka sesungguhnya juga diwakili oleh kondisi kesehatan yang dimiliki masyarakat di sebuah negeri, terutama pada anak-anak di dalamnya.

Membahas tentang anak-anak, ah, saya jadi ingat salah satu dialog dalam film animasi Jepang karya Masashi Kishimoto, Naruto Shippuden. Dalam film tersebut, Masashi berusaha menyematkan pesan-pesan positif pada penggemarnya tentang berharganya keberadaan anak-anak bagi sebuah peradaban.

Ya, saking berharganya mereka, anak-anak disebut sebagai “Raja” atau pemimpin di masa depan. Kurang lebih berikut kutipan dialog yang disampaikan oleh salah satu tokoh bernama Asuma Sarutobi kepada muridnya Shikamaru, sebelum ia meninggal.
Bagi pecinta Naruto seperti saya, quote dari Asuma Sarutobi bukan sesuatu yang asing dan sepele. Ada pesan moral yang bisa dipetik mengenai tugas menjaga anak-anak, calon pemimpin masa depan. Saya yakin, siapapun akan setuju bahwa ketika kita melindungi anak-anak, berarti kita turut melindungi masa depan Indonesia.

Anak-anak adalah generasi muda yang akan membangun, menginovasi dan memajukan negeri ini di masa mendatang. Dengan demikian, sebagai orangtua atau calon orangtua, kita wajib menjadi sosok pahlawan yang mampu mencintai dan menjaga mereka dari bahaya apapun.

Berbicara mengenai menjaga anak-anak, Ayah. Bunda. Sudahkah engkau mengenal apa itu Pneumonia? Jika belum, mari kita belajar bersama dan mendedah pengetahuan tentangnya. Sebab, Pneumonia merupakan pembunuh nomor 1 yang mengancam kesehatan anak-anak di dunia termasuk Indonesia.
"Setiap menit dua anak meninggal dunia karena pneumonia. Jika tidak dicegah, pneumonia akan membunuh 11 juta anak di tahun 2030" (Sumber: Save the children)
Bayangkan, jika tahun 2030 yang akan datang, dunia ini kehilangan generasi mudanya karena pneumonia. Bukankah itu menyedihkan? Padahal, kita telah memasuki zaman modern dimana seharusnya setiap hal mengalami kemajuan termasuk bidang kesehatan. Sangat disayangkan jika antara kemajuan zaman dan kondisi kesehatan bertolak belakang.

Tentu, kita semua tak mau itu terjadi. Melalui tulisan ini saya tak hanya berbicara mengenai peran pemerintah, organisasi kesehatan, komunitas atau semacamnya. Saya juga bicara mengenai pentingnya peran orangtua sebagai pahlawan bagi anak-anak. Setidaknya, orangtua wajib memahami ancaman-ancaman bagi anak-anak melalui literasi yang berhubungan dengan kesehatan. Termasuk mengenai penyakit saluran pernafasan bernama Pneumonia.
Pneumonia merupakan peradangan akut pada paru-paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur atau virus. Paru-paru yang seharusnya menjadi tempat masuknya oksigen menjadi terganggu karena tertutupi cairan yang disebabkan oleh peradangan. (Dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A dalam KBR)
Pneumonia merupakan peradangan pada Alveoli di paru-paru
(Sumber : http://jacksongriffinscience.weebly.com)
Penyakit ini sebenarnya bisa terjadi pada semua usia. Hanya saja, ia menjadi berbahaya ketika menyerang anak-anak, terutama bayi dan balita. Cukup logis sebenarnya mengapa bayi dan balita mudah terkena pneumonia. Alasannya, daya tahan tubuh mereka lebih rentan dibanding orang dewasa.

Menurut Cissy B. Kartasasmita, staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS, seiring dengan pertambahan usia, balita memiliki imunitas yang menurun karena berhentinya asi yang diberikan oleh ibu, padahal, asi merupakan salah satu asupan penting yang mampu menjaga imunitas.

Waktu anak-anak mulai disapih, mereka akan menghasilkan imunitas melalui tubuhnya sendiri. Jika mereka tak diberi vaksin pencegah, asupan gizi yang cukup dan tidak menjalani pola hidup sehat, maka cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Tentu, pada saat seperti ini, segala penyakit akan mudah menyerang, termasuk pneumonia. Apalagi pneumonia merupakan penyakit menular yang penyebarannya sangat cepat layaknya influenza.

Ayah. Bunda. Menyoal Pneumonia, berikut merupakan fakta-fakta penting yang perlu diketahui bersama agar kita selalu waspada terhadap kehadirannya sebagai orangtua.
Melihat fakta-fakta di atas, sebagai orangtua kita tak bisa menampik bahwa pneumonia termasuk penyakit yang mengancam kelangsungan hidup anak-anak, para calon raja masa depan. Saat ini Indonesia belum benar-benar merdeka dari pneumonia jika dilihat dari besarnya jumlah penderita.

Berdasarkan informasi dari Save The Children, kejadian Pneumonia di Indonesia sendiri cukup memprihatinkan. Tercatat ada 20.084 kasus balita pada 2016 yang meninggal akibat pneumonia. Rata-rata mereka yang bisa terserang dengan mudah adalah balita yang tinggal di lingkungan yang kurang baik. Entah dari segi udara, sanitasi, hingga tempat tinggal.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai cara penanganan pneumonia, maka saya akan membagikan informasi lebih lanjut mengenai gejala anak yang terkena pneumonia. Memang, tak terlalu berbeda dengan flu biasa. Hanya saja ada beberapa ciri khas yang patut dipahami.
Orangtua dan calon tua wajib tahu mengenai Pneumonia baik penyebab maupun gejala terjadinya. Pneumonia merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri jenis Streptococcus dan Mycoplasma Pneumonia atau virus bernama Adenoviruses, rhinovirus, influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV).

Gejala awalnya hampir sama seperti penyakit flu biasa yakni ditandai dengan demam, batuk kering atau berdahak, selera makan berkurang, mual, hingga nyeri di dada. Hanya saja, pada kasus penderita pneumonia, dahak biasanya berwarna kehijauan disertai dengan darah, selain itu penderita akan mengalami sesak nafas berkepanjangan disertai rasa nyeri yang parah.
Ya, sesak dan nyeri tersebut dipengaruhi oleh pembengkakan di bagian alveoli sehingga menutupi aliran oksigen yang seharusnya masuk. Nah, bahayanya justru pada kondisi tersebut karena oksigen yang didapatkan oleh tubuh menjadi berkurang. Selain itu, sesak berkepanjangan menjadikan tubuh menjadi lemas.

Saat pneumonia diidap oleh orang dewasa, akan lebih mudah tertangani mengingat kita bisa merasakan dan segera mengobati. Namun, bila terjadi pada balita, mereka cenderung tak bisa mengungkapkan rasa sakit yang diderita sehingga apabila orangtua kurang peka dan tak ditangani segera, akibatnya bisa fatal. Risiko terburuk adalah kematian. 

Mirisnya faktor penyebab terjadi Pneumonia pada balita bisa terjadi karena perilaku orangtua dan lingkungan. Lho kok perilaku orangtua dan lingkungan sih? Ya. Orangtua merupakan sosok paling dekat dengan anak-anak. Dengan demikian, mereka bertanggungjawab pada tiap tindakan  melalui pola perilaku yang mereka berikan.

Begitupun dengan lingkungan, ia menyumbang pengaruh sebagai media penyebaran penyakit. Jika lingkungan bersih dan terawat, penyebab pneumonia seperti virus, jamur atau bakteri tak akan mampu berkembang biak. Sebaliknya, jika lingkungan kotor, ia akan menjadi sarang bagi bakteri penyakit atau virus. Berikut ini merupakan rincian kedua faktor yang saya rangkum dalam bentuk infografis.
Merdekakan anak dari jeratan Pneumonia? Ya. Itu merupakan tugas kita semua sebagai pahlawan bagi mereka. Dibutuhkan sinergitas yang kuat dari berbagai pihak agar penyakit ini bisa dikurangi prevalensinya bahkan dihilangkan. Dan tentunya, orangtua menjadi subyek paling utama yang harus berpartisipasi aktif.
Obrolan seputar peran ayah saat mendapati anak terkena pneumonia
(sumber : Twitter KBR)
Orangtua termasuk salah satu faktor yang bisa menyebabkan balita terkena pneumonia. Entah karena pola perilaku yang salah atau karena pengabaian terhadap higienisitas lingkungan. Oleh karena hal itu, perlu adanya perubahan positif terkait kedua faktor tersebut supaya usaha pengurangan prevalensi pneumonia berhasil.

Ketika membahas orangtua, tentu kita bukan hanya bicara tentang peran ibu, tapi juga peran ayah yang ternyata cukup penting. Memang, budaya di Indonesia mengarahkan imaji bahwa anak pasti melekat pada ibu. Tetapi jangan salah, peran ayah juga begitu krusial.

Ayah merupakan sosok yang bertugas untuk mencari nafkah bagi keluarga. Sosok yang biasanya terlihat dibalik layar. Namun, menyoal kesehatan keluarga, ayah harus meluangkan waktunya untuk ikut mengontrol kondisi istri dan anak. Ya, berikut ini merupakan peran yang bisa ayah lakukan untuk mendukung bunda dalam menjaga kesehatan anak.
Ayah. Bunda. Mari menggemakan dan mengaplikasikan 3 M agar pneumonia bisa dicegah persebarannya. Ayah dan bunda pastinya tak mau bukan kehilangan tawa ceria dari si kecil  karena penyakit saluran pernafasan yang satu ini. 

Nah, demi melindungi mereka dari pneumonia. Pengetahuan dan penerapan 3 M (Melindungi, Mencegah dan Mengobati) penting dilakukan. Apa sajakah hal yang termasuk 3 M ini. Berikut merupakan ulasan lengkapnya.
Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, ketika anak-anak masih berusia bayi atau balita, mereka membutuhkan asupan zat gizi untuk menjaga imunitas yang berasal dari tubuh. Ya, asupan yang mereka dapat bisa berupa Air Susu Ibu (usia 0-24 bulan), pemberian MPASI (untuk menambah asupan pengganti ASI), pemberian Vitamin lengkap (A,B,C,D,E dan K) dan makanan lainnya yang mampu memberi gizi baik bagi tubuh.
Ketika imunitas yang ada pada anak menurun, mereka akan mudah terserang penyakit. Kita sebagai orangtua mungkin telah memberi cukup perlindungan dari dalam melalui asupan makanan. Namun, lingkungan dan pola perilaku yang buruk bisa jadi mempengaruhi kestabilan imun anak-anak dari luar. 

Demi menghindari itu, orangtua wajib mencegah pneumonia dengan memberi vaksin seperti MR, DPT dan HIB secara berkala, agar kekebalan tubuh anak tetap terjaga. Tak hanya itu saja, Ayah dan bunda juga perlu memperbaiki lingkungan sekitar serta menjalankan pola hidup sehat. Misalnya, mencuci tangan sebelum beraktivitas, menggunakan air bersih, stop merokok bagi ayah, beri ventilasi yang cukup pada rumah dan tentu saja pastikan aliran sanitasi tak tersumbat.
Jika kita mendapati anak sudah mengalami gejala pneumonia berupa sesak nafas, nyeri di dada, dan batuk disertai darah, maka sebagai orangtua, wajib bergerak cepat untuk mengobati mereka. Minimal, kita punya kotak P3K yang menampung bermacam obat untuk meringankan gejalanya.  Ya, itu merupakan step awal.
Sumber gambar : Alodokter.com
Pada step selanjutnya adalah memeriksakan anak ke rumah sakit atau dokter terdekat. Kita perlu menjadi orangtua waspada dengan menyiapkan nomor-nomor darurat yang bisa dihubungi di saat genting. Semisal, anak mengalami sesak nafas pada tengah malam dan ayah tengah bekerja. Setidaknya, sudah tersedia nomor telepon, sehingga bunda bisa meminta tolong ambulance untuk membawa ke rumah sakit.

Ya, itulah tiga hal yang harus dipahami bersama terkait cara merdekakan anak dari ancaman pneumonia. Memang, segalanya butuh proses terkait internalisasi 3 tindakan itu. Apalagi bagi orangtua baru yang belum berpengalaman menangani anak.

Ayah, Bunda, dalam hal apapun, keluarga adalah hal terpenting untuk dilindungi. Selalu berpihak pada anak adalah salah satu poin pentingnya. Tentu saja, yang harus selalu diingat, peran pahlawan bukan hanya tersemat pada Bunda saja sebagai pihak terdekat anak, tetapi Ayah dan anggota keluarga lainnya. Ya, jika bukan Ayah dan Bunda yang membuat anak-anak merdeka dari pneumonia, siapa lagi? Mari Stop Pneumonia!!


Referensi:

http://stoppneumonia.id/
http://www.depkes.go.id/article/view/13010200020/pneumonia-balita.html
http://www.depkes.go.id/article/view/410/pneumonia-penyebab-kematian-utama-balita.html

22 komentar:

  1. Kesehatan anak2 adalah prioritas. Kalau anak sakit orang tuanya makan gak enak tidur gak nyenyak. Kasihan banget pokonya kalau anak2 sampai sakit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, apalagi kalau udah bicara sakit Pneumonia mas, kasihan kalau sampai anak-anak kecil kena :(

      Hapus
  2. Aih lagi-lagi kebiasaan merokok menjadi pemicu salah satu penyakit mematikan terutama bagi anak2. Saya perlu perhatikan juga nih soal ventilasi udara mengingat kontrakan kami memang cukup padat dan minim celah pertukaran udara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini, ventilasi yang cukup juga kudu diperhatikan bang. Biar gak bikin sesak

      Hapus
  3. Kalau di kampung saya banyak anak yg terkena penyakit paru-paru disebutnya KP. Mungkin secara medis penyakit pneumonia inj kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm KP itu singkatan atau gimana mba?
      Gejalanya sama kah?

      Hapus
  4. Memang kesehatan adalah harta yang paling berharga.
    Orang tua pun harus menyadari peranannya untuk selalu melindungi buah hatinya.

    Semoga angka kematian akibat pneumonia bisa berkurang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, Semoga ya kak. Saya yakin saat ini banyak pihak tengah memerangi Pneumonia :)

      Hapus
  5. Saya sendiri sebetulnya belum paham Bagaimana penyakit pneumonia itu menyerang pada anak-anak tapi melalui artikel diatas saya jadi paham Pentingnya menjaga anak agar jangan sampai terserang Pneumonia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampir sama mba kayak flu biasa. Tapi rasa sakit yang diderita lebih lama dan menimbulkan sesak yang sangat mengganggu.

      Hapus
  6. Tentanf pneumonia ini kadang suka dianggap sepele loh hiks ku sedih kalau gini. Apa mereka blm paham kali ya. Makanya seharusnya sih lebih digalakkan lg penyuluhannya ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sekarang beberapa pihak tengah menggaungkan informasi pencegahan pneumonia mba biar masyarakat pada menyadari pentingnya pencegahannya :)

      Hapus
  7. Beberapa anak temanku mengalami Pneumonia. Saya pun pernah mengalami peradangan ini saat bayi dulu. Memang sih, untuk urusan kesehatan begini, nggak bisa hanya diperhatikan oleh Ibu. Ayah memang bertugas lebih banyak dalam keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mbak, orangtua yang gak hanya bicara urusan ibu-ibu. Para bapak juga kudu berpartisipasi aktif :)

      Hapus
  8. Dalam hal kesehatan, saya setuju bahwa tugas utama orangtua adalah melindungi anak anak dari ancaman kesehatan serius, maka mencegah lebih baik daripada mengobati.. jangan sampai anak anak terkena pneumonia yang dapat menghambat pertumbuhan anak anak

    BalasHapus
  9. Peran keluarga sangat penting untuk mencegah pneumonia. Harus berkolaborasi ya, soalnya masa depan anak-anak itu masih panjang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, seperti yang ku ilustrasikan mbak. Anak itu para calon raja masa depan :)

      Hapus
  10. Pneumonia ini ngeri. Diam diam mengancam hidup anak kita. Lebih baik memang mencegah karena jika sudah terjangkit perlu perlakuan yang lebih berat lagi. Ayo waspada pneumonia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget bang. Makanya para ortu kudu tahu literasi dan cara pencegahan penyakit ini :)

      Hapus
  11. Setau saya bisa dicegah salah satunya dengan vaksin, sayangnya vaksinnya ini tidak di subsidi pemerintah sehingga ya harganya cukup mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang ada vaksin yang gak disubsidi. Tapi kalau menurut ku pribadi demi kesehatan anak, biasanya mah ortu tetap bakalan ngusahain sih mbak.

      Hapus