![]() |
| Produk kiriman sahabat dari Kota Kendal (Dokumentasi Pribadi) |
Sahabat yang baik bukanlah mereka yang meminta harga teman saat melihat sahabat memiliki bisnis, apalagi baru dirintis. Sahabat yang baik adalah mereka yang mau membeli produk dengan harga wajar, demi mendukung keberlangsungan bisnis
***
“Hah, beneran, Bu?!”
Sebuah kalimat keluar begitu saja dari mulut. Hari itu, saya terkejut ketika ibu mengatakan kalau nasi goreng dekat rumah sudah tutup permanen. Nasi goreng Mas Karjo namanya dan telah ada sejak keluarga kami pindah ke kontrakan baru, 3 tahun lalu.
Bagi saya dan keluarga, nasi goreng Mas Karjo punya cita rasa lezat dan unik. Racikan bumbu yang dibuat pas dilidah. Mas Karjo, tak pernah pelit urusan level pedas.
Walau harga cabai sedang meroket, ia tetap memberi takaran sambal sesuai permintaan pembeli. Soal keramahan? Jangan ditanya, Mas Karjo beserta istri selalu melayani pembeli penuh senyum.
Tentang tutupnya "Nasgor Mas Karjo”, setelah saya bertanya langsung pada istri Mas Karjo, Mbak Yuni, ia berkata bahwa usaha belum balik modal selama setahun belakangan. Ngebon (berhutang) dan harga teman adalah dalang penyebab usaha nasi goreng mereka bangkrut.
Saya tidak paham, apa ini karena sifat baik yang dimiliki keduanya. Tiap berjualan, ada saja konsumen berhutang. Biasanya anak kuliah atau rantau.
Hal mencengangkan, ada konsumen datang membawa nasi dan telur sendiri, request dibuatkan nasi goreng, tapi meminta harga diturunkan. Misal harga asli Rp 12.000, karena bawa nasi dan telur jadi Rp 8000.
Setelah dipenuhi, konsumen tersebut selalu datang dengan pola yang sama. Alhasil, bukan untung yang didapat malah buntung. Sebenarnya Mas Karjo dan Mbak Yuni bisa saja menolak, hanya saja, kontrakannya bertetangga dengan si pembeli itu. Gak enak dan gak mau bermusuhan, katanya.
Harga Teman, Si Pembunuh Usaha Kecil
Berangkat dari kasus usaha Nasgor Mas Karjo, mungkin kita sering mendengar istilah harga teman. Seolah sederhana tapi memberi rasa tidak nyaman pada pemilik usaha.
Demi menjaga hubungan pertemanan tetap langgeng, pemilik usaha akhirnya memberi diskon harga sesuai permintaan si teman. Alhasil, harga teman menjadi biang kerok matinya usaha, apalagi jika itu baru dirintis.
Tak sedikit dari kita pernah menemukan atau bahkan menjadi pelaku yang meminta harga teman. Sebenarnya itu perbuatan tidak etis. Perlu kita pahami, demi membangun sebuah bisnis, ada banyak hal dikorbankan oleh pemilik. Mulai dari waktu, tenaga dan juga uang sebagai modal.
Saya sendiri pernah punya pengalaman bertemu pembeli yang meminta harga teman. Tepatnya zaman kuliah dulu. Saat itu sahabat saya, Maria, membuka usaha kado untuk hadiah wisuda dan ujian skripsi.
Ia membuat buket bunga dari kain flanel warna-warni yang didekorasi cantik. Harga mulai dari Rp 35.000 sampai Rp 80.000 tergantung ukuran dan tingkat kesulitan.
Nah, ketika usaha memasuki bulan ke enam, salah satu teman dari kampus lain berkata ingin memesan buket bunga sebanyak 10 buah untuk acara wisuda teman-temannya. Bahagia perasaan Maria kala itu. Tak diduga, teman tersebut kemudian berkata melalui WA,
“Ri, kasih harga teman ya, kan aku beli banyak sih. Nanti aku promoin ke yang lain deh...”
Saya dan Maria saling berpandangan. Baru bertemu beberapa kali, langsung meminta harga teman. Kami sempat tertegun sejenak, meski begitu Maria memutuskan tetap memberi harga diskon sebagai bentuk apresiasi karena sudah membeli buket lebih dari 5. Jujur, bagi saya meminta harga teman itu cukup merugikan.
Mudahnya, jika Maria seharusnya mendapat uang Rp 35.000 x 10 buket= Rp 350.000 karena dikorting per buket Rp 1000 sehingga Maria hanya menerima Rp 340.000. Kelihatannya memang sepele, tapi bayangkan jika berulang dan diikuti oleh orang banyak. Sangat berpotensi merobohkan usaha kecil.
Ini masih bicara satu tempat. Bagaimana jika harga teman diterapkan ke banyak usaha yang baru dirintis? Dampaknya cukup besar.
Jangan ya teman! Sebagai bentuk dukungan, baiknya kita membeli dengan harga wajar demi kelancaran usaha sahabat atau bahkan saudara sendiri. Jangan memanfaatkan relationship dengan meminta gratisan dan harga murah.
Mendukung Usaha Sahabat dari Jarak 75 Kilometer
Semenjak menjumpai pengalaman "harga teman" yang membuat Maria harus legowo mengenai keuntungan, saya tidak pernah sekalipun melakukannya. Bahkan negosiasi harga ketika membeli barang di pasar saja, saya tidak pernah meminta di bawah standar.
Saya jadi ingat aktivis Bahasa Indonesia Ivan Lanin, ia pernah berkata dalam sebuah postingan twitter,
“Harga teman seharusnya harga yang lebih tinggi dari harga normal karena bertujuan untuk membantu teman yang sedang merintis usaha”
Logis bila seharusnya harga teman tidak diarahkan untuk meminta diskon demi mengurangi keuntungan, justru berbentuk dukungan dengan membayar sesuai harga wajar. Teman yang baik pasti akan bahagia jika melihat sahabatnya mandiri dan berdaya. Bukan malah sebaliknya.
Bercerita sedikit soal aksi mendukung usaha. Januari 2026 lalu, seorang sahabat masa kuliah mempromosikan dagangannya via stori whatsapp. Ia menjual sambal kacang dan olos khas Tegal. Sahabat saya memang suka membuat camilan dan sedang merintis usaha kecil-kecilan bersama suaminya di Kendal.
Dia berkata bahwa suaminya baru saja terdampak PHK massal sehingga memutuskan pulang kampung. Demi menghasilkan rupiah, keduanya memutuskan berjualan olos. Ia juga menjadi reseler sambal kacang dari tetangganya.
Kebetulan saat itu saya rindu olos buatannya—yang sering saya makan zaman ngekos di Jogja. Saya memutuskan membeli 2 besek olos dan 2 bungkus sambal kacang.
![]() |
| Olos dan sambal kacang produk usaha sahabat (Dokumentasi Pribadi) |
Meminta harga teman? Tentu saja tidak. Total harga yang harus dibayarkan saat itu sekitar Rp 146.000. Saya membayar sesuai dengan harga asli produk plus ongkos kirimnya.
Menurut sahabat saya, barang akan dikirim jam 8 malam karena olos tak bertahan lama. Jadi dia memilih kurir yang bisa antar cepat dari Kendal ke Pekalongan.
Bagi yang belum tahu, olos merupakan makanan dari aci yang berisi sayuran atau suwiran ayam. Jika terlalu lama dibiarkan, mudah busuk. Sahabat saya bilang kalau olos beserta sambal kacang akan tiba kemungkinan esok hari. Dia memanfaatkan jasa logistik andal yang bisa satset angkut paket.
Sekitar pukul 9 pagi, pintu rumah diketuk cukup keras. Seorang kurir berpakaian JNE datang mengantarkan paket dari Kendal, sebuah paket dari sahabat sejauh 75 kilometer telah sampai ke Kota Batik, Pekalongan.
Perasaan lega memenuhi hati. Saya bersyukur karena olos di besek dalam kondisi bagus. Packaging rapi bahkan dibalut buble wrap karena olos mengandung minyak. Salut, karena JNE bisa mengantarkan produk tepat waktu. Siapa tahu, selanjutnya saya butuh jasa logistik ini untuk mengantarkan paket ke kota lain.
Penasaran, saya bertanya ke sahabat saya, dia bilang memakai JNE YES (Yakin Esok Sampai) supaya bisa segera tiba ke Kota Pekalongan. Berkat JNE, jarak 75 kilometer bukan lagi sebuah halangan untuk mendukung keberlangsungan usaha. Dari JNE, ikatan benang persahabatan kami kian menguat.
In this economy, bergerak bersama dan bergotong-royong adalah kunci.
Gotong-royong era kini bukan hanya bisa dilakukan lewat pertemuan fisik. Membayar harga wajar dan membuat usaha orang lain tetap berdenyut, termasuk upaya gotong-royong menjaga ekonomi. Soal menyambung jarak? Tenang, ada JNE yang selalu setia mengantarkan paket-paket penuh cinta itu dengan aman dan cepat.
---salam hangat---
#JNE
#ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam