Selasa, 20 April 2021

Happy Earth Day : Ketika Menjaga Hutan sama Pentingnya dengan Merawat Kehidupan

Percayakah kamu bahwa cinta yang tulus mampu menjaga segala hal, termasuk merawat masa depan dan kehidupan? Bila kamu percaya, maka aku pun demikian. Cinta adalah anugerah Tuhan yang memiliki keajaiban dan kekuatan besar.

Ia bukan hanya membicarakan romantisme antar manusia layaknya kisah Dilan dan Milea, tetapi juga romantisme antara manusia dengan alam. Sudah pernah melihat atau mendengar kisahnya? Jika belum, akan kuajak kamu untuk mengenal satu romansa dari Wonogiri, sebuah kota yang terkenal dengan kudapan unik bernama Lentho. 

*** 

Kisah itu datangnya dari sebuah dusun kecil bernama Dali. Sebentuk romansa antara manusia dan Pohon Beringin terjadi disana. Dali menjadi saksi bisu terselamatkannya hutan dan ratusan manusia melalui ketersediaan sumber daya air hingga pangan. Dialah Mbah Sadiman, sosok lelaki sederhana berusia 69 tahun. 

Awalnya tak banyak orang tahu mengenai nama itu. Jangankan mengenal, mendengar sekilas angin saja rasanya tak pernah. Tapi semua itu berubah tatkala Mbah Sadiman diundang ke suatu acara televisi yang melambungkan namanya. Dia dikenal setelah mendapat berbagai penghargaan dari pemerintah atas dedikasinya menjaga hutan melalui penanaman Beringin sejak tahun 1996.

Mbah Sadiman tengah merawat bibit-bibit Beringin sebelum ditanam (Sumber gambar : Ublik.id)

Ini bukanlah tindakan sepele, Sayang! Bayangkan, Mbah Sadiman seorang diri membawa bibit-bibit Pohon Beringin ke atas Gunung untuk ditanam dan dirawat. Jalanan terjal, berkelok serta licin menjadi hambatan pastinya ketika itu. Tapi dia tak menyerah. Demi menghidupkan kembali lereng Gunung Kawi yang gundul akibat kebakaran hutan, segala hambatan ia terjang. 

Ironisnya, Mbah Sadiman bukan hanya berhadapan dengan aksesibilitas yang sulit. Tapi juga okultisme yang dianut masyarakat. Ya, Beringin—bagi sebagian orang—dianggap sebagai pohon wingit.

Pohon yang memiliki unsur magis kuat karena ukurannya yang besar berikut akar-akarnya yang menggantung. Adanya okultisme itu membuat masyarakat enggan bila Beringin ditanam dengan jumlah banyak. 

Masyarakat takut, desa yang mereka tempati akan penuh dengan cerita mistis dari mulut ke mulut karena rimbunnya Beringin yang ditanam oleh Mbah Sadiman. Tak pelak, cercaan hingga anggapan gila kerap Mbah Sadiman terima kala itu. Namun sekali lagi, itu tak pernah menyurutkan niat beliau untuk terus menanam, menanam dan menanam.

Mbah sadiman saat diwawancarai para wartawan (Sumber : Nets.id)

Berpuluh tahun setelahnya, terbukti sudah apa yang Mbah Sadiman harapkan. Masyarakat Dusun Dali tak pernah mengalami kesulitan air. Tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Anak-anak tak perlu ke kota membawa jerigen untuk mengantri air bersih. 

Ternyata, itu semua berkat Beringin-beringin yang Mbah Sadiman tanam. Beringin atau tanaman dengan nama ilmiah Ficus Benjamina adalah tumbuhan yang mampu menjaga tanah dan ketersediaan air melalui akar-akarnya.

Semakin banyak Beringin yang ditanam, semakin besar pula kemampuan pohon ini menyimpan cadangan air. Hal logis inilah yang tak pernah terpikirkan masyarakat itu. 

Setelah 20 tahun lebih, akhirnya Mbah Sadiman bisa membuktikan pada semua orang bahwa hal gila yang ia lakukan selama ini bukan tanpa alasan. 

Tindakan beliau bermaksud untuk menghidupkan kehidupan bukan hanya vegetasi dan keanekaragaman hayati di lereng Gunung Kawi, tetapi juga masyarakat sekitar karena ketersediaan air dan kestabilan tanahnya untuk tempat tinggal.

*** 

Bagaimana? Sebentuk perjalanan cinta yang begitu luar biasa bukan? Kisah ini merupakan satu dari ribuan cerita yang ada di Indonesia tentang romansa antara manusia dengan alam. Andai saja di dunia ini ada jutaan orang seperti Mbah Sadiman, mungkin saja berita kebakaran hutan, ilegal logging dan perburuan satwa langka tak pernah terjadi.

Prihatin hati ini tiap kali menyaksikan berita-berita negatif seputar hutan. Padahal hutan adalah paru-paru bumi. Ia merupakan bagian penting dari kehidupan. Jika keberadaan hutan kian terkikis karena keserakahan manusia, ancaman perubahan iklim menjadi hal paling pelik dialami bumi.

Bicara menumbuhkan cinta pada alam dan hutan, aku bersyukur diberi kesempatan bergabung dalam sebuah komunitas bernama Eco Blogger Squad. Di komunitas ini, ada banyak pengetahuan-pengetahuan berkenaan hutan yang dibagikan melalui webinar. Salah satunya dalam webinar bertajuk “Hutan Indonesia sebagai salah satu solusi dalam mitigasi perubahan iklim”.

Acara daring tersebut menghadirkan 3 narasumber utama yakni Yuyun Harmono selalu Manajer Kampanye Keadilan Iklim Walhi, Gita Syahrani selalu Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan Kristian Natalie selalu Manajer Program Hutan Itu Indonesia. Tentu saja, ada pembawa acara yang tak kalah keren, Fransiska Soraya dari Blogger Perempuan Network. 

Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, kita merasakan sendiri perubahan iklim yang terjadi pada bumi. Entah suhu yang semakin meningkat, musim yang terjadi tidak menentu, banjir bandang sering menerjang, angin puting beliung, longsor, dan Rob yang terjadi di pesisir. Perubahan iklim tersebut disinyalir merupakan akibat dari deforestasi yang terjadi secara masif. Lho, emang bener ya?

Pada webinar Eco Blogger Squad, Mas Yuyun Harmono selalu Manajer Kampanye Keadilan Iklim Walhi menyatakan bahwasanya bumi tidak dalam kondisi baik-baik saja. 

Hal itu bisa dilihat melalui penelitian dari Inggris yang menggambarkan perubahan suhu bumi melalui warna. Bisa dilihat bahwa semakin kesini, warna yang ditunjukkan kian memerah dan mencapai ambang batas 1,5 Celcius.

Perubahan suhu yang mencapai lebih dari 1,5 Celcius akan mengancam ekosistem penting yang mensuport manusia. Suhu dan tingkat keasaman laut meningkat, hingga kenaikan permukaan laut yang mengancam wilayah pesisir.

Tak heran bila, terjadi Rob di beberapa wilayah seperti Jakarta, Demak, hingga Pekalongan yang terparah. Perubahan iklim juga diketahui menyumbang berbagai bencana terkait hidrometeorologi. Bisa dilihat tren bencana yang terjadi di Indonesia di infografis dibawah ini.

Bila ini terus didiamkan tanpa ada tindakan pencegahan dari berbagai pihak, maka kondisi ini akan meambahayakan manusia dan bumi. Demi mencegah terjadi perubahan iklim yang semakin buruk, harus diciptakan kebijakan kuat untuk menghentikan eksploitasi. Caranya dengan menerapkan prinsip energi berkeadilan.

  • Menyediakan akses energi untuk semua sebagai hak dasar manusia
  • Aman terhadap iklim dan berdasarkan pada teknologi yang tersedia di lokal dan berdampak rendah emisi.
  • Dibawah kontrol langsung oleh publik dan diatur pula oleh publik
  • Memastikan hak-hak pekerja sektor energi
  • Memastikan hak free, prior dan informed consent bagi masyarakat yang terkena dampak.
  • Berskala kecil dan terdesentralisasi
  • Memastikan penggunaan energi yang adil dan seimbang serta meminimalisir limbah

Menurut Mas Yuyun, membangun energi berkeadilan harus dilihat dari konteks untuk menjaga hutan. Sebab, banyak masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dan bergantung pada hutan. Seperti contoh, sebuah Dusun kecil bernama Silit. Dusun yang terletak di Sintang ini memiliki KK sekitar 70-80 dengan luas lahan 5200 hektar. 

Masyarakat Dusun Silit mengolah hutan sebagaimana mestinya tanpa merusak. Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (mini) yang dibuat dari sumbangan masyarakat melalui gotong royong. Nantinya, tiap orang akan dimintai sumbangan sebesar Rp 15.000-20.000 untuk biaya perbaikan dan lain sebagainya. 

Hutan yang dijaga sebagaimana mestinya akan memunculkan keuntungan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, keberadaan hutan yang lestari dan menyediakan sumber daya alam sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. 

“Hutan Indonesia bisa menjadi salah satu solusi dalam mitigasi perubahan iklim. Bagaimana bisa? “

Perubahan Iklim terjadi karena meningkatnya gas rumah kaca di udara yang disebabkan oleh karbondioksida.  Sedangkan karbon dioksida sendiri berasal dari asap kendaraan, industri besar, kebakaran hutan, dan penggunaan energi listrik.

Hutan yang masih perawan akan memiliki pohon-pohon dengan jumlah banyak. Kita tahu bahwa pepohonan mampu menyerap zat karbon dioksida dan mengubahnya menjadi oksigen. Dengan diserap nya karbon dioksida, gas rumah kaca yang menyebabkan diketahui menjadi pemicu“Global Warming” bisa terkurangi.

Kesimpulannya, bila pohon-pohon di dalam hutan masih dengan jumlah yang besar karena dijaga keberadaannya, maka semakin besar pula kemampuan pepohonan itu dalam menyerap zat-zat karbondioksida hingga gas rumah kaca di udara. Ya, ini menjadi semacam mitigasi serta solusi agar perubahan iklim bisa dicegah bahkan diperbaiki.

Visi Ekonomi Lestari untuk Bumi dan Indonesia yang lebih Baik

Setelah mendapat pengetahuan baru dari Mas Yuyun mengenai perubahan iklim dan kaitannya dengan hutan. Selanjutnya, pemaparan materi oleh Mbak Gita Syahrani mengenai Ekonomi Lestari. Menurut Mbak Gita, menyelamatkan bumi sama artinya dengan menyelamatkan manusia. 

Mengapa? Karena bumi adalah tempat bagi semua mahkluk hidup berpijak. Bila bumi dalam keadaan sekarat maka otomatis semua yang ada di dalamnya akan musnah, termasuk manusia. Kita bisa mencintai bumi dengan cara-cara yang sederhana. Misalnya memilih produk-produk yang ramah lingkungan sekaligus ramah sosial.

  • Ramah lingkungan berarti produk yang kita pakai mampu menjaga fungsi alam dan tak mendatangkan masalah karena mengandung bahan-bahan alami, aman dan bisa mengurai dengan mudah. 
  • Ramah sosial berarti produk tersebut mampu mensejahterakan pekerja/petani yang membuatnya.

Permasalahannya, berdasarkan data produk terlaris yang didapat melalui beberapa platform, didapati kenyataan bahwa penetrasi produk lokal masih dibawah 20 persen, yang berarti masyarakat lebih banyak membeli produk yang berasal dari luar negeri ketimbang dalam negeri.

Padahal nilai transaksi e-commerce sendiri telah mencapai angka yang cukup fantastis yakni Rp 266,3 Triliun. Ironisnya, gurih nilai transaksi daring selama ini tak berbanding lurus dengan daya beli masyarakat terhadap produk lokal. 

Nah, salah satu solusi yang bisa diambil agar masyarakat mampu menaikkan nilai jual produk-produk yang mereka miliki adalah dengan menjalankan Visi Ekonomi Lestari.

Visi Ekonomi lestari menawarkan model lingkungan yang menjaga alam dan menyejahterakan masyarakat lewat industri produk turunan berbasis alam yang dikelola secara lestari bagi konsumen di penjuru Indonesia bahkan dunia.

Sebelum acara webinar dilaksanakan, sebelumnya para anggota Eco Blogger Squad dikirimi hampers dari penyelenggara berupa produk "Sago pancake Mix" dari Sapapua dan "Kopi Flores" dari Sureco. Sebagai pecinta kue, aku begitu bahagia menerima hampers dengan packaging tas Purun.

Produk hampers unik berisi Pancake Sagu dan Kopi (Dok.Pri)

Bentuknya unik menambah nilai seni tersendiri bagiku (Dok.Pri)

Dua produk tersebut merupakan buatan masyarakat lokal berbasis hutan. Ada sagu sebagai bahan utama produk Pancake. Padahal biasanya, pancake dibuat dari tepung terigu biasa. Jelas ini menambah deret keunikan produk lokal masyarakat. Tak lupa kopi Flores yang begitu nikmat menambah semarak duniaku saat mencari ide tiap malam.

Apa produk dari hutan hanya bicara Sagu atau Kopi? Oh tentu saja tidak Ferguso! Ada banyak sekali bahan alam yang bisa dimanfaatkan untuk membuat produk kosmetik, bumbu hingga makanan khas yang menggugah selera.

Nah, berkenaan dengan narasumber yang kedua, kesimpulan yang bisa kita ambil bahwa produk yang kita konsumsi sangat berperan penting untuk menjaga kelestarian hutan.

Bagaimana Kontribusi yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Hutan

Hutan merupakan hal penting yang harus dilestarikan karena manfaat pentingnya bagi kehidupan. Hutan membantu menyerap karbon dioksida, menjaga keanekaragaman hayati serta membantu menurunkan emisi gas rumah kaca melalui daun-daunnya.

Mungkin masih banyak orang yang belum sadar kontribusi apa yang bisa dilakukan untuk menjaga kelestarian hutan. Sederhana saja, itu disesuaikan dengan kemampuan yang bisa kita berikan,

Misalnya seorang penulis atau blogger. Blogger memiliki peran menghentikan perubahan iklim dengan mengampanyekan, menaikkan narasi dan awareness mengenai hutan dan juga perubahan iklim. 

Mengapa butuh kampanye hutan dan perubahan iklim? Faktanya, masih banyak orang yang belum tahu fungsi hutan, dampak hutan gundul terhadap perubahan iklim, dan hal-hal apa saja yang bisa dilakukan agar hutan tetap terjaga.

Mengapa hutan jarang dibicarakan, apa sebenarnya pandangan kita terhadap hutan yang ada di Indonesia? Nah, kemungkinan alasan hutan bukan dibahas,

  • Out of sight, out of mind, maksudnya kita tidak bersentuhan langsung dengan hutan yang notabene berada di wilayah perkotaan. Jika tak bersentuhan, maka kita tak bisa melihat secara nyata apa saja yang terjadi pada hutan. Dengan demikian, jika dimata saja kita tak bisa melihatnya maka ia juga akan jauh dihati alias rasa keingintahuan untuk membahasnya menjadi minim. 
  • Disconnect memiliki kaitan erat dengan out of sight out of mind. Karena tak banyak orang membahas mengenai hutan. Informasi menjadi tak tersebar secara menyeluruh yang menjadikan ia disconnected atau tak terhubung dengan informasi lainnya. Yang ada lebih banyak membahas hutan dari segi negatif seperti kebakaran dll. 
  • Filtered Informasi, media yang membahas hutan terfilter dengan berita lain yang dianggap lebih menarik. Hal ini membuat obrolan seputar hutan menjadi terputus. Dampaknya, pengetahuan atau informasi mengenai hutan tidak optimal. 

Hutan Itu Indonesia berniat mendekatkan hutan ke masyarakat melalui cinta dengan melakukan kampanye menjaga hutan, membagikan beribu cerita inspiratif mengenai hutan, mengajak dan melakukan adopsi hutan dengan berdonasi,

memberi info dan memanfaatkan produk non kayu agar bisa dimanfaatkan dan bernilai jual, serta mengajak siapa pun untuk jalan-jalan ke hutan demi menumbuhkan cinta tiap orang pada hutan.

Mbah Sadiman adalah salah satu sosok pahlawan yang menjaga hutan dengan menumbuhkan cinta dalam dirinya. Tanpa dibayar dan pamrih, beliau mau menanam satu per satu bibit Beringin bahkan menyirami nya layaknya pohon buah yang bernilai jual. 

Dalam hubungannya dengan materi yang disampaikan Kak Tian soal mendekatkan hutan dengan menumbuhkan cinta, itu memang pilihan paling logis yang bisa dilakukan kepada generasi era kiwari. Supaya ada kesadaran pribadi yang tumbuh dalam hati bukan melalui paksaan. Ya, ini demi masa depan bumi yang lebih baik. 

***

Baiklah, saatnya menarik kesimpulan dari materi yang dipaparkan ketiga narasumber,

  • Bumi terancam mengalami perubahan iklim karena hutan yang kian berkurang.
  • Hutan memiliki peranan penting dalam menjaga kestabilan bumi sehingga perlu ada kebijakan kuat berupa prinsip energi berkeadilan.
  • Konsumsi hasil hutan secara lestari itu harus, sebab hutan menghasilkan komoditas-komoditas penting bagi manusia yakni komoditas pangan, kerajinan, kosmetik, dan pengelolaan jasa lingkungan.
  • Indonesia memiliki beragam sumber daya hutan yang memiliki nilai jual tinggi di mata dunia. Jika dikelola dengan baik, ekonomi masyarakat lokal ikut terangkat melalui hasil hutan. 
  • Banyak cara yang bisa dilakukan oleh kita tak terbatas pendidikan, profesi dan lokasi untuk berkontribusi melindungi hutan. 
  • Hutan merupakan sumber inspirasi bagi kehidupan termasuk fashion. 

Hutan tidak hanya diidentikkan dengan pohon, tetapi juga flora, fauna, budaya, pangan, wisata, sumber daya air dan lain sebagainya. Dengan demikian, menjaga hutan agar tetap lestari menjadi tugas kita bersama untuk merawat kehidupan supaya generasi masa depan bisa turut menikmatinya. Semoga bisa terlaksana. Happy Earth Day! 

18 komentar:

  1. Mba kapan lagi ada acara seperti ini? colekin aku ya karena aku juga ingin tahu bagaimana cara menghadapi para penebang hutan yg sembarangan dan menyebabkan kebakaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak kok mbak kalau dilihat di media sosial acara blogger yang nyambut hari bumi ☺

      Hapus
  2. Salut dengan Mbah Sadiman, semangat membawa bibit-bibit Pohon Beringin ke atas Gunung untuk ditanam dan dirawat. Semoga aku bisa lakuin hal kecil lainnya untuk jaga lingkungan. Jadi bisa barengan dengan Mbah 🥺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak bener. Salut banget. Semangat beliau itu lho amazing. Naik turun gunung utk menanam benih Beringin

      Hapus
  3. Huhuhu.... Sedih banget melihat gakta perubahan suhu secara drastis. Awal tahun lalu aku sudah ikut program adopsi hutan. Tp melihag perkembangan, sepertinya tiap bulan harus menyisihkan dana untuk adopsi hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau melihat perubahan iklim saat ini emang kudu kolaboratif sih kak

      Hapus
  4. Perubahan iklim akhir2 ini memang sudah kita rasakan ya oleh karena itu kampanye menjaga hutan bnar2 harus kita galakkan agar smua orang tahu dengan menjaga hutan kita sama saja dengan menjaga bumi ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan sepertinya kegiatan kayak gini emang lagi gencar2nya utk mengedukasi temen2 semua mbak

      Hapus
  5. Betul banget. Dengan menjaga bumi sejatinya kita sedang memelihara kehidupan di atasnya.

    BalasHapus
  6. Inspirasi dari Mbah Sadiman ini jadi mencerahkan kita untuk turut serta menjaga lingkungan. Yuk kita kerja bareng untuk alam dan kehidupan yang lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayokk ayokkk mbak. Minimal kita melakukan tindakan yang sederhana dulu sih kayak nyabut stop kontak tiap kali pakai listrik

      Hapus
  7. Menjaga hutan sama seperti menjaga kehidupan. Jika hutan sidah tidak ada pasti kita kita yang tinggal di bumi akan memghilang juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan hal-hal semacam ini yang lagi gencar-grncarnya dikampanyekan

      Hapus
  8. Simple act for better world ya ka. Bumi jg perlu istirahat sesaat

    BalasHapus
  9. kalau boleh tau gimana prosedur lengkapnya kk untuk membeli bibit pohon

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Kak Diana, kalau kamu berkunjung ke instagram Hutan itu id. Di bionya ada kok cara kita bisa mendonasikan uang kita utk adopsi hutan. Semoga bermanfaat :)

      Hapus

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam