Kamis, 17 September 2020

Menghidupkan Pembelajaran Atraktif dan Kolaboratif selama Pandemi

Kompasiana.com

Segala hal berubah semenjak 2 Maret 2020 lalu. Diketahui, dua warga Indonesia terkonfirmasi positif Virus Korona atau Covid-19 setelah melakukan perjalanan ke luar negeri. Kontan, kondisi ini membuat tiap orang mulai resah. Covid-19 bukanlah virus yang bisa disepelekan.

Hingga tanggal 17 September 2020, diketahui kasus di Indonesia sudah mencapai angka 228.993 dengan jumlah kematian sebesar 9100 dan pasien sembuh sebesar 164.101 (Data Kumparan).

Awalnya, berita mengenai Covid-19 ini tak mampu menggoyahkan keinginan masyarakat untuk keluar rumah, namun setelah jumlah penderitanya kian bertambah, pemerintah mulai memberlakukan aturan PSBB dimana tiap orang harus bekerja, beribadah, dan bersekolah di rumah.

Awal Juli lalu, SMA Negeri 1 Wiradesa, tempat adik saya bersekolah memanggil para orangtua dan siswa untuk melakukan sosialisasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dikarenakan orangtua yang berhalangan, saya sebagai kakak, menggantikan orangtua untuk mengikuti sosialisasi. Ternyata, selama pandemi, para siswa akan belajar di rumah melalui PJJ.

Pembelajaran Jarak Jauh memang belum familiar bagi masyarakat. Bayangkan, selama bertahun-tahun kita selalu bertatap muka dengan guru atau siswa ketika sekolah. Peran orangtua hanya sebatas mengawasi belajar ketika jam sekolah usai atau bertanya perihal PR dari guru. 

Namun kali ini berbeda. PJJ bukan hanya melibatkan peran guru atau sekolah saja, tetapi orangtua sebagai bagian penting bagi pengembangan seorang anak. Selama PJJ orangtua harus memfasilitasi kebutuhan belajar seperti ponsel berserta kuota internet.

PJJ bukan hanya bicara mengenai upaya menambah pengetahuan akademik para siswa, tetapi juga melengkapi mereka dengan pendidikan karakter seperti kemandirian, religiusitas, kejujuran dan kebiasaan berpikir kritis dengan menitikberatkan peran anggota keluarga di rumah.

Pembelajaran yang Atraktif dan Kolaboratif itu Bagaimana?

Sudah 2 bulan lebih pembelajaran daring berjalan. Saya cukup bahagia karena tak ada kendala yang berarti bagi adik ketika sekolah. Adanya PJJ justru menguatkan nilai-nilai positif bagi kami yang berada di rumah. Selama belajar, tingkat komunikasi dan diskusi mengenai materi yang disampaikan guru justru hidup.

Pembelajaran juga terasa lebih berwarna karena guru tak hanya menyampaikan materi melalui tulisan, tetapi juga video-video menarik melalui media Whatsapp, Google Classrom dan youtube. Menurut adik saya, pembelajaran seperti ini terasa lebih menarik dan tak membosankan. 

Nah, demi menghidupkan pembelajaran yang atraktif selama di rumah, saya dan anggota keluarga selalu menyempatkan berdiskusi ringan mengenai materi yang diberikan guru tiap harinya. Misalnya pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam mengenai Mangrove. Tak segan-segan saya mengajak adik mengamati Mangrove di lokasinya secara langsung.

Dok.Pri
Dok.Pri

Kebetulan di kota saya, Pekalongan, ada Pusat Informasi Mangrove yang digunakan sebagai tempat wisata edukasi bagi masyarakat. Itung-itung, kami bisa belajar sekaligus berwisata menikmati sunset dari balik rimbunnya pepohonan Mangrove.

Dok.Pri

Cara belajar seperti ini terbukti mempermudah adik saya memahami materi sehingga ia tak sekadar menghafal namun memahami secara nyata mengenai materi IPA yang guru sampaikan. Berkenaan dengan pelajaran Bahasa Inggris, biasanya saya mengajak adik menuliskan kosakata yang ia dengar melalui film atau game yang dimainkan.

Jika materi mengenai “Greeting” biasanya saya akan meminta adik membuat dialog lalu memperagakan bersama. Mungkin ini terlihat melelahkan. Tapi percayalah, melalui keikusertaan kita dalam kegiatan edukasi mereka, pembelajaran akan terasa lebih atraktif, hidup dan tak membosankan. Salam.

14 komentar:

  1. Nah jadi ingat film film zaman kecil kalau pembelajaran di luar ya seperti pemanfaatan Pusat Informasi Mangrove yang digunakan sebagai tempat wisata edukasi bagi masyarakat. Jadi learning by doing itu rasanya langsung paham ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setidaknya pas aku ngajak adikku tuh, mereka jadi mengingat melalui pengalaman belajar dengan cara datang langsung ke sumbernya

      Hapus
  2. Kakak yang baik hehehhe aku jadi kangen mangrove mbak. Kapan-kapan ke sana bareng2 yok. Semoga dimudahkan dalam pembelajaran adiknya yo mba. Semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Nyi sudah mampir untuk membaca. Iyo, kapan2 ke Mangrove Park Yokkk

      Hapus
  3. Memang dlm mensukseskan PJJ tidak hanya siswa dan guru yg harus aktif melainkan keluarga siswa juga harus terlibat aktif ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sekarang, ortu juga kudu aktif banget mbak hehe
      Apalagi adik atau anak full ada di rumah

      Hapus
  4. Anak-anak sangat membutuhkan pembelajaran yang interaktif yaa, kak..
    Karena zaman sekarang, sudah gak relevan lagi pengajaran menggunakan pedagogi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Interaktif, komunikatif dan mengajak orang terdekat untuk berbagi

      Hapus
  5. Iya benar, justru dengan dekat dengan alam danlingkungan sekitar, dibantu orang tua dan orang-orang terdekat, anak-anak akan lebih mudah memahami pelajarannya. Karena memang sejatinya belajar itu di mana saja bukan cuma di sekolah ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, dan alhamdulillah melalui cara ini adik2 juga jadi semakin ringan untuk diajak berdiskusi tentang sekolahnya. Kalau dulu, boro2 mau cerita, malu banget kata mereka

      Hapus
  6. Pembelajaran di outdoor memang menyenangkan, nambah pengalaman bisa langsung praktek

    BalasHapus
  7. Emang harus jeli mencari cara agar belajar anak menyenangkan..Nah kalo udah dibawa outdoor activity pasti seneng banget sampe susah diajak pulang hehhe

    BalasHapus
  8. Metode belajar secara interaktif memberikan pembelajaran yang dinilai cukup efektif dimana akan lebih mampu merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut dan memperdalam pengetahuan. Apalagi jika di berikan dengan nuansa yang berbeda berada di alam terbuka misalnya

    BalasHapus