Selasa, 18 Juni 2019

Salah memilih Jurusan, Mengapa?

Setiap orang mungkin pernah mengalami kontradiksi dalam hidup mereka. Bergelut dengan berbagai macam pertanyaan mengenai keputusan yang dipilih. A atau B, B atau C, C atau D dan seterusnya, termasuk menyoal pemilihan jurusan ketika melanjutkan ke perguruan tinggi. Memilih mengikuti kata hati atau saran dari oranglain.
Selepas ujian nasional SMA, biasanya tiap siswa akan mulai mengulik dan menjadi stalker tingkat tinggi pada universitas yang diidamkan. Dengan mencampurkan motivasi dan doa, mereka berharap bisa mendapatkan nilai terbaik sebagai modal masuk universitas. Entah melalui jalur prestasi (SNMPTN), SBMPTN atau Seleksi Mandiri.

Aku juga dulu demikian. Setelah ujian nasional berakhir, masih ada rasa cemas di dalam hati. Takut jika nilai ujian nasional tak sesuai dengan target, lalu berimbas pada lolos tidaknya aku di perguruan tinggi nanti. Setiap hari selama sekolah tak libur, aku selalu datang untuk berkunjung. Setengah niatan untuk bertemu teman, setengah niatan lain meminta saran soal jurusan.

Ternyata, tiap anak yang datang, juga punya niatan yang sama denganku. Mereka ingin meminta pendapat dari para guru di SMA. Dan alhasil, para guru pun dengan senang hati memberikan saran. "Kamu masuk ke jurusan ini aja, kamu kan pinter di bidang ini" atau "kamu pilih universitas ini aja, kan biar dekat sama keluarga" dan masih banyak lagi. Saran-saran itu kemudian di tampung sebagai bahan pertimbangan.

Setelah melakoni beberapa semester hingga menjelang akhir, tak sedikit yang mulai merasa jenuh dan mempertimbangkan kesesuaian antara jurusan yang dipilih dengan realita skill yang dimiliki. 

"Kok aku bisa milih jurusan Biologi ya, padahal aku suka jurnalistik sama bisa nyanyi? Kayaknya aku salah jurusan deh, Ra"

What?

"Ini udah jalan hampir jalan 4 tahun lho, alias mau selesai. Kok baru sadar beb?"

Banyak hal yang melatarbelakangi seorang mahasiswa merasa salah jurusan ketika mendekati semester akhir. Hal pertama yang kutahu karena pilihan jurusan yang ia ampu bukanlah pilihan sendiri, melainkan pilihan orangtua, paman, atau guru di sekolah.

Salah satu temanku bercerita bahwa ia merasa kesulitan dengan mata kuliah yang dijalaninya. Ia sangat suka dengan kegiatan yang berhubungan dengan menjahit dan desain pakaian karena basik sekolahnya memang SMK Busana, namun orangtuanya memilih untuk memasukkan dia ke jurusan informatika yang memiliki grade tinggi dan banyak dicari, padahal, di universitasku tersedia jurusan busana yang sesuai dengan basik sekolahnya.

Keadaan ini tentu berpengaruh terhadap proses belajar temanku. Ia harus lebih keras memahami mata kuliah yang bukan basiknya. Kadang ia bercerita bahwa susahnya memahami perkuliahan sampai harus mengulangnya di semester yang lain. Tak hanya itu, nilai yang ia dapatkan tiap mata kuliah akhirnya jadi tak memuaskan.

Baiklah, jika tadi cerita temanku yang memilih karena orangtua, hal selanjutnya yang menjadi penyebab mahasiswa menjadi salah jurusan bisa jadi karena justru pilihannya sendiri. Mengapa bisa terjadi? Beberapa teman lain pernah bercerita bahwa mereka memilih jurusan atas dasar jumlah peminat yang sedikit.  Semakin peminat sebuah jurusan sedikit, semakin kecil pula mereka bersaing. Itu artinya kesempatan diterima di perguruan tinggi menjadi sangat besar.

Temanku mengatakan bahwa keinginannya untuk kuliah begitu besar. Entah bagaimana caranya ia harus masuk ke perguruan tinggi negeri. Nah, karena ia takut tak diterima setelah melihat angka passing grade dan minat yang begitu besar, ia memutuskan mencari alternatif jurusan yang memiliki peminat paling sedikit dengan harapan bisa diterima secara mudah. Tentu saja, akhirnya ia pun diterima di jurusan pilihannya namun pada akhirnya, jurusan itu bukan passionnya.
Semua orang yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pastinya tak mau salah memilih jurusan pada akhirnya. Yap, itu karena proses yang dijalani akan menjadi sulit. Mereka yang salah jurusan cenderung menjadi malas untuk kuliah. Imbasnya, mereka bakal keteteran menyelesaikan masa studinya. Jangan sampai gitu deh, beneran rasanya bakal gak enak banget. Baiklah, berikut merupakan hal yang ingin kubagikan terkait cara memilih jurusan yang tepat untuk kamu.

Pilih Jurusan Sesuai Basik Pendidikan

Memilih jurusan sesuai basik pendidikan itu penting banget dilakukan. Alasannya, ilmu yang kamu dapat di level sebelumnya akan berlanjut dan berkembang di perkuliahaan. Kamu tinggal meneruskan saja, tak perlu memulai dari awal . Sepertiku yang memilih program Ilmu Sosial ketika di SMA, kemudian aku mengambil program Manajemen karena aku ingin belajar lebih mengenainya. Alhamdulillah, karena jurusan yang kuambil di perkuliahan linier dengan jurusan saat SMA, aku tak begitu kesusahan dengan mata kuliah yang diberikan oleh dosen. 

Cari informasi  sebanyak mungkin mengenai Jurusan yang dipilih


Sumber : www.altitudeinformation.com
Mencari informasi sebanyak mungkin mengenai jurusan yang akan dipilih penting banget lho gaes. Itu karena kamu akan berkecimpung di dalamnya untuk beberapa tahun kedepan. Jika kamu mengabaikan dan gak mau tahu mengenainya, bagaimana kamu bisa menyiapkan materi-materi dan langkahmu kedepan?

Risiko yang bisa terjadi jika kurang mencari informasi adalah kamu akan shock setelah tahu bahwa mata kuliah di jurusan yang kamu pilih tak sesuai dengan pikiranmu. Misalnya kamu memilih jurusan Biologi karena berharap tak bertemu mata kuliah fisika, eh ternyata kamu malah bertemu dengannya sebagai mata kuliah pengantar yang bersifat wajib. Well, bakalan bikin kamu kelabakan jadinya

Ambil keputusan sesuai kata hati

Dalam memilih jurusan, keputusanmu adalah sesuatu yang penting. Yap, kamu akan belajar 4 tahun dengan jurusan tersebut. Jika jurusan yang kamu pilih tak sesuai dengan minatmu, kamu akan kesulitan menyesuaikan diri. Apalagi jika itu merupakan paksaan dari orang lain. Beneran gaes, itu bakal terasa cukup berat.

Aku bisa mengatakan hal tersebut berat, karena pengalaman dari teman yang memilih jurusan tak sesuai keputusannya. Dia merasa kesulitan menjalani proses belajar yang tak ia kenali sebelumnya. Dia harus berusaha lebih keras untuk beradaptasi, bahkan memulai dari awal. Beruntung jika bertemu dengan kawan yang bisa membantu, kalau tidak? Ya, kamu harus bisa bertahan dan berusaha secara mandiri.

BTW, saran dari oranglain itu penting banget sebagai referensi. Tapi satu hal yang pasti, kamu yang menjalani semuanya. So, memilih sesuai kata hati dan minat akan melatihmu untuk berani mengambil risiko, gak tergantung sama oranglain, dan memiliki daya survive yang tinggi karena kamu memperjuangkan keinginanmu sendiri.

Siapkan mental sejak awal

Menyiapkan mental sebelum memilih jurusan itu penting sekali. Setelah kamu berusaha stalking sebanyak mungkin informasi tentang jurusan favoritmu, kamu harus menyiapkan mental baja untuk menghadapi segala kemungkinan. Yap, kemungkinan jika banyak hal yang tak sesuai dengan ekspektasimu.

Terkadang, saat kita telah memilih jurusan sudah sesuai minat dan keinginan, banyak hal yang tak sesuai dengan bayangan awal. Misalnya, kuliah yang kamu jalani semakin sulit karena mendapatkan dosen yang gak asyik (killer), atau karena kamu anak organisasi yang notabene sibuk sana sini. Nah, mental baja diperlukan supaya kamu bisa menghadapi tekanan dan rasa malas karena sesuatu yang tak kamu harapkan. Mental baja yang disiapkan sedari awal membuat pikiran dan hati kita jadi tahan banting.

Miliki Komitmen dan Tujuan Hidup

Punya komitmen dan tujuan dalam diri itu penting banget. Soalnya, komitmen dan tujuan merupakan 2 hal yang akan menguatkan langkah-langkah kita kedepannya. Biasanya nih gaes, saat menghadapi tekanan atau stress akibat kendala dalam perkuliahan, kamu cenderung malas melakukan berbagai hal. Lantas, itu berujung pada perkuliahan yang tersendat-sendat.

Adanya komitmen dan tujuan dalam diri, akan membangkitkan semangat dan keyakinanmu kembali. Ia seperti menguatkan impian-impian yang kamu bangun sebelumnya. Komitmen dan tujuan hidup akan mampu menyalakan motivasimu yang mulai lemah. 

Yap, demikianlah beberapa alasan mahasiswa merasa salah jurusan di akhir-akhir masa perkuliahaan. Apa yang kuceritakan disini merupakan pengalaman beberapa teman dan sedikit pengalaman pribadi. Tentu, pengalaman dan alasan tiap orang akan berbeda. Thats good, because every person have different way and different decision.

Hmm, apakah kamu juga merasa salah jurusan? Jika iya, alasan apa yang melatarbelakanginya. Mungkin kamu bisa share cerita mengenai itu. Semakin banyak pengalaman yang dibagikan, semakin kita bisa mencari solusi bersama untuk mencegah oranglain melakukan kesalahan yang sama, kemudian membantu mereka mendapatkan jurusan sesuai keinginan dan passion. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Catatan : 

Selama aku menempuh pendidikan hingga kuliah, aku gak pernah merasa salah jurusan. Soalnya aku percaya bahwa yang kupilih adalah sesuatu yang aku inginkan. Dan sesulit apapun aku menghadapi kendala yang ada, itu risiko yang harus kuhadapi dengan mental sekuat baja. 

"Sebuah tulisan tentang pengalaman, opini dan perspektif mengenai fenomena salah jurusan para mahasiswa. Hanya ingin share uneg-uneg"

19 komentar:

  1. perlunya dipikir matang2 agar gak menyesal, kalau sdh pilihanya sesulit apapun hrs diperjuangkan gitu kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, betul banget mbak. Perlu banget menegaskan diri kalau apa yang kita pilih itu yang terbaik :)

      Hapus
  2. Selain memilih jurusan karena sesuai minat & bakat agar kuliah nyaman!

    Yg lebih penting juga harus di fikirkan setelah lulus kuliah nanti, jurusan yg kita ambil banyak peluang kerja tidak!

    Terkadang banyak orang kuliah sesuai minat saja, setelah lulus nganggur karena sudah banyak lulusan di bidang itu, Cari kerja sulit hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau menurut saya sih peluang itu selalu ada bang, hanya saja kita mau ngambil atau enggak.

      Hapus
  3. memilih jurusan itu memang harus sesuai minta dan bakat, kalau saya pribadi kuliah karena ga punya opsi lain, orangtua saya ga mampu jadi ga bisa mengirimkan saya ke universitas "biasa" yang jurusannya saya sukai. Sementara 2 beasiswa ga lolos, akhirnya lulus di kampus yang ga bayar biaya apa2. dan sekarang udah kerja 5 tahun.

    nanti kalau saya punya anak, saya akan sekolahkan dibidang yang disukai saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Shiap Bang, aku juga gitu. Aku bakalan mengarahkan aja soal pilihan anak-anakku nantinya. Tapi masalah dia mereka mau milihnya apa, itu udah tak serahkan ke mereka.

      Hapus
  4. Menurutku, koentjienya adalah sesuai kata hati. Jadi nantinya bisa belajar dengan gembira bahagia. Maka idealnya, ortu tak memaksakan anak untuk kuliah di jurusan yang tak diminati anaknya. Itulah yang dilakukan bapakku. Bapakku ingin aku di FH, aku minat di Sastra,... Akhirnya aku bahagia sebab boleh milih sastra dan akhirnya kuliah di Sastra..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren mbak Agustina, kuncinya mah yang bisa bikin bahagia deh pokoknya :)

      Hapus
  5. Akutu dulu milih jurusan teknologi pangan justru karena aku nggak suka makan hahaha. Kepo, kenapa aku nggak suka makan. Meski akhirnya gak kerja di industri pangan tapi ilmunya Alhamdulillah tetep kepake buat bikin makanan sehat buat anak anak di rumah hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Unik juga mba kalau gak suka makan, soalnya rata2 orang ya suka makan, kayak aku 😅

      Hapus
  6. Aku sebelum kuliah, sejak sma udah kerja. Pilih kuliah sesuai kerjaan, terus tertarik kuliah di jurusan lain.. itu termasuk salah jurusan nggak sih? hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama mba Nisya gak ngerasa salah jurusan dan bahagia di situ ya berarti engga neg menurutku 😁

      Hapus
  7. Bener bangett sihh jurusan harus banget dipilih dari awal karena akan menentukan karir kita kedepannyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan menentukan perjalanan kita dalam menikmati proses di jurusan tersebut sih mba hehe

      Hapus
  8. Kalau aku awalnya emang ngerasa ragu karena jurusanku itu pilihan kedua. Yaudah dilakoni ae. Pas masa skripsi tuh baru ngerasa "shiiittt bukan ini yang aku mau". Akhirnya tetep selesein sampe detik2 terakhir. Sekarang kerjaan malah ga nyambung sama jurusan sama sekali wakakaka. Tapi masih ada benang merah walau gak seberapa "merah" HAHAHAHA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya mba, akhirnya bisa kelar. Perjuangannya itu loh kudu strong 👍

      Hapus
  9. Apapun jalur pendidikan yang terpilih akhirnya harus dijalani ya, pasti akan ada faedahnya.Ga da yang sia sia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, kudu stay positif yg paling penting

      Hapus
  10. Kayak kisahku. Pas mau UM UGM malah kecelakaan.tangan kanan patah. Boro2 belajar, yg ada belajar megang pensil hiks. Akhirnya pasrah gpp ga lolos univ negeri. Eh malah lolos tp pilihan ketiga yaitu biologi. Pilihan pertamaku farmasi udah lolos pas hari H aku kecelakaan, pengumuman lolos farmasi tapi univ swasta. Akhirnya aku tetep pilih yg swasta. Dg alasan jurusan tadi

    BalasHapus