Jumat, 28 September 2018

Meretas Jerat-jerat Stunting melalui Pencegahan dan Kesadaran Diri

Stunting. Awalnya saya tak begitu memahami kata tersebut. Terdengar anyar rasanya di telinga ini. Namun yang membuat saya heran, kata tersebut pernah menjadi viral dan berada pada trending topik di twitter beberapa waktu lalu. Saya mulai searching maknanya melalui Google dan menemukan ulasannya dengan sangat mudah. 

Hanya dalam waktu 0,40 detik ketika kata itu diketik, muncul sebanyak 22.000.000 hasil pencarian. Wow, cukup mengejutkan. Ternyata begitu banyak ulasan berkenaan Stunting tersebar di internet. Mengapa sebanyak itu yang mengulas? Seurgen apakah Stunting sehingga ia ramai dibahas oleh banyak kalangan?

Baiklah, mari kita berdiskusi sejenak untuk memahami makna Stunting dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Banyak kalangan yang membahas perihal stunting, karena hal tersebut memiliki dampak yang begitu signifikan terhadap masa depan negeri ini.  
Stunting, masih menjadi hantu yang menyeramkan bagi negeri ini. Bahkan menurut gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mengungkapkan bahwa Stunting merupakan permasalahan mendasar yang harus segera dicari solusi penyelesaiannya, baik untuk masyarakat pedesaan maupun di perkotaan. 

Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016, pravelensi stunting Indonesia mencapai 27,5 persen. Padahal menurut WHO, persentase masyarakat dikatakan kronis ketika memiliki pravelensi sebesar 20 persen. Artinya apa? Indonesia benar-benar gawat stunting. Berikut merupakan pravelensi Stunting di Indonesia sejak tahun 2013 hingga tahun 2018.
Jika kita mengamati data diatas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pravelensi jumlah stunting anak-anak Indonesia memang kronis. Dari tahun 2013 hingga 2019, persentasenya melebihi standar kronis yang ditetapkan WHO yakni 20%. Dengan demikian menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih banyak yang menderita kekurangan gizi kronis. Kasus yang sempat mencuat beberapa waktu yang lalu terjadi di wilayah Papua yakni anak-anak di Kabupaten Asmat. Keadaan masyarakat disana cukup membuat miris karena banyak sekali balita yang mengalami gizi buruk, mengalami stunting dan kelaparan. Sungguh sangat sedih saya melihatnya. 
Angka stunting masih tinggi di Indonesia karena berbagai macam faktor. Faktor yang paling sering terjadi adalah kesadaran pemenuhan gizi yang rendah dari masyarakat. Menurut Menteri Kesehatan Nila Moeloek, bayi yang terlahir stunting, lebih banyak disebabkan oleh kekurangan gizi kronis. Ya, tingkat kemiskinan, kebiasaan merokok, infeksi kesehatan, pola kebersihan lingkungan dan kurangnya pengetahuan seputar kehamilan memiliki andil untuk memunculkan bayi Stunting.

Faktor kemiskinan yang masih melanda masyarakat menyebabkan mereka tak mampu membeli bahan makanan yang bisa memenuhi nutrisi selama kehamilan. 
Melihat riset diatas, saya cukup merasa miris. Kita tahu, bahwa ibu hamil membutuhkan banyak makanan yang mengandung protein, asam folat, kalsium dan sebagainya. Namun, karena ketidakmampuan membeli bahan makanan tersebut menjadikan masyarakat miskin hanya seadanya memenuhi nutrisi pada masa 1000 Hari Pertama Kelahiran dan dampaknya mereka menderita kekurangan gizi kronis.
Dari data di atas, kita bisa melihat bahwa disamping para ibu yang kekurangan gizi, balita juga ikut mengalaminya. Bahkan angkanya begitu tinggi. Berikut juga data mengenai pravelensi stunting di tiap propinsi di Indonesia berdasarkan kementerian kesehatan via Katadata.co.id. Nusa Tenggara Timur masih menjadi propinsi yang memiliki angka penderita stunting tertinggi yakni 40,3 %.
Di Indonesia, kekurangan gizi kronis juga bisa disebabkan oleh kebiasaan merokok masyarakat miskin. Sebelumnya, saya pernah membuat ulasan mengenai pengaruh kebiasaan merokok terhadap kenaikan jumlah bayi Stunting di Indonesia. Ya, rokok menjadi salah satu faktor terjadinya stunting karena paparan zat berbahaya di dalamnya. Selain itu, rokok telah menjerat masyarakat miskin untuk terus mengkonsumsinya dari waktu ke waktu.

Dalam perspektif ekonomi, selama 20 tahun dari tahun 1993-2014 terjadi kenaikan pengeluaran rokok sebesar 2% dimana kenaikan itu dibarengi oleh penurunan pengeluaran untuk pembelian makanan. Dengan adanya penurunan daya beli terhadap makanan, maka mampu memunculkan permasalahan-permasalah terkait kesehatan termasuk stunting. Mengapa? karena itu berarti terjadi penurunan pemenuhan nutrisi bagi anak. Padahal nutrisi itu begitu penting terutama selama masa-masa kehamilan. 

Menurut Teguh Dartanto, Ph.D (ketua Departemen ilmu Ekonomi dan bisnis UI) sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh PKJS Universitas Indonesia, anak-anak dari orang tua perokok kronis, berat badannya 1,5 kg lebih rendah dibanding anak dari golongan bukan perokok. Demikian pula dengan tinggi badan anak-anak dari seorang perokok sekira 0,34 senti lebih pendek dari ukuran anak bukan dari keluarga perokok. Nah, melalui penelitian tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa merokok merupakan faktor penyebab stunting.

Faktor lainnya yang mampu memunculkan stunting adalah kurangnya pengetahuan para ibu terkait kebiasaan yang harus dilakukan selama menjalani masa kehamilan. Masih banyak para ibu yang kurang aktif di kegiatan Posyandu atau melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Padahal, 2 kegiatan tersebut sangat penting untuk mengetahui perkembangan bayi di kandungan dari waktu ke waktu. 

Di desa Saya di kota Pekalongan, Posyandu berfungsi sebagai media komunikasi, sosialisasi dan informasi perihal kesehatan dari puskesmas ke masyarakat. Penyampaian informasi kesehatan yang diberikan meliputi pentingnya imunisasi, data berat balita, pengetahuan untuk ibu hamil, juga pengetahuan mengenai isu-isu kesehatan terkini. Nah, oleh karena hal tersebut, penting bagi masyarakat termasuk calon ibu untuk turut aktif menimba ilmu melalui kegiatan posyandu maupun sosialisasi kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas. 
Stunting merupakan permasalahan mendasar yang memiliki dampak begitu besar. Stunting tidak hanya berpengaruh terhadap kehidupan satu bayi atau satu keluarga saja. Tapi ia juga mempengaruhi perekonomian dan masa depan suatu negara. 

Cobalah kita lihat melalui generasi yang terlahir. Sebuah negara bisa dikatakan kuat bukan hanya melalui pendapatan negara yang tinggi, wilayah yang luas ataupun sumber daya alam yang melimpah. Namun juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusianya (SDM). Jika SDM yang dimiliki suatu negara berkualitas baik, maka ia akan memiliki produktivitas tinggi dengan kontribusi terhadap perekonomian yang tinggi pula. 

Sebaliknya, jika SDM (generasi penerus bangsa) yang dihasilkan lemah karena permasalahan kesehatan, Stunting misalnya. Tentu, itu juga akan berpengaruh pada lemahnya produktivitas negara. Mengapa demikian? Ya, ini berkaitan dengan efek yang ditimbulkan oleh Stunting pada anak.
Anak yang menderita Stunting, cenderung memiliki pertumbuhan fisik yang lambat dengan kognitif yang tidak optimal. Kelambatan dalam perkembangan fisik memicu terjadinya risiko penyakit kronis yang diderita. Sedangkan pertumbuhan kognitif yang tidak optimal bermuara pada rendahnya produktivitas anak karena mereka kalah bersaing.

Saat ini, stunting turut memberikan kontribusi kerugian PDB bagi Indonesia. Berdasarkan informasi dari Katadata.co.id, kasus stunting ini berpotensi merugikan PDB Indonesia hingga Rp 300 triliun per tahunnya. Wow, cukup banyak sekali potensi kekayaan Indonesia yang bisa hilang karenanya. Tak hanya itu, stunting juga berpotensi mengancam bonus demografi Indonesia.
Anak-anak yang sudah terlanjur mengalami stunting akan sulit untuk dipulihkan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pencegahan, merupakan solusi paling pas untuk meretas jerat-jerat stunting yang ada di Indonesia.

Dalam rangka membuat masyarakat Indonesia sehat bebas Stunting, berbagai pihak telah menggaungkan kampanye serentak pencegahan stunting. Termasuk dari kementerian kesehatan melalui sosialisasi dan bantuan kesehatan ke seluruh pelosok negeri. Salah satu sosialisasi yang dilakukan oleh kementerian kesehatan adalah memberi edukasi mengenai pentingnya 1000 HPK selama masa kehamilan, sebagai upaya pencegahan stunting.

Pada beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa blogger sempat diundang ke satu acara yang diadakan oleh  sebuah organisasi kesehatan. Acara tersebut mengajak para blogger, baik yang telah menikah maupun yang masih single untuk memahami arti penting 1000 HPK. 
Nah, yang dimaksud dengan 1000 HPK ialah 1000 hari pertama kehidupan anak. Dihitung mulai dari janin yang masih berada dalam kandungan (9 bulan 10 hari = 280 hari) dan sampai anak tersebut berusia 2 tahun (720 hari), diasumsikan 1 bulan sama dengan 30 hari.

Pada periode perkembangan bayi tersebut, beberapa ahli menyebut sebagai “Periode emas”. Dalam periode emas, pertumbuhan bayi sangat ditentukan oleh nutrisi dan asupan yang dimakan oleh sang ibu. Jika sang ibu memberi nutrisi yang tepat dan sehat, maka bayi yang dikandungnya akan sehat dan memiliki pertumbuhan yang cukup baik.

Seribu hari pertama kehidupan anak dimulai sejak ia berada di dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Masa ini adalah periode penting. Sebab, perkembangan otak dan fisik akan ditentukan pada periode ini. Asupan gizi memegang peranan penting pada 1000 hari pertama kehidupan. Bila asupan gizinya sampai kurang, anak akan sangat mungkin mengalami gangguan tumbuh kembang, terlambat bicara dan berjalan serta mengalami stunting (Kekerdilan).

Kita tahu bahwa kondisi stunting cukup sulit ditangani lagi bila anak telah memasuki usia dua tahun. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya stunting pada anak, ibu perlu mengonsumsi asupan gizi yang layak, terutama selama masa kehamilan hingga anak lahir dan berusia 18 bulan.
Namun, bila ibu sudah terlanjur melahirkan bayi yang mengalami Stunting, maka perawatan dan pemberian makanan yang cukup dan sehat menjadi sebuah keharusan. Sebab, bayi yang mengalami Stunting pun membutuhkan nutrisi yang baik untuk  perkembangannya tubuhnya.
Jika kita ingin meretas jerat-jerat stunting yang ada di Indonesia, maka tugas itu tidak hanya bertumpu pada pemerintah atau organisasi kesehatan saja. Namun kita sebagai masyarakat harus memiliki kesadaran yang nyata untuk memberantasnya. 
Caranya adalah dengan memperkaya pengetahuan seputar kesehatan dan kehamilan sejak dini. Selain itu, mengedukasi anak-anak dan para calon ibu juga sangat penting karena mereka adalah penggerak masa depan negeri ini. Jika anak-anak dan para calon ibu tak memahami berkenaan dengan permasalahan stunting. Kesadaran mereka untuk menjaga kesehatan akan terabaikan. Termasuk menjaga kesehatan ketika hamil.

Nah pengetahuan berikut bisa dilakukan oleh para ibu demi mencegah terjadinya stunting.
Saya adalah perempuan. Dan suatu hari saya akan menjadi ibu bagi anak-anak saya. Pengetahuan berkenaan pencegahan stunting seperti memahami prinsip 1000 HPK sangat penting bagi saya. Saya tak mau anak saya menjadi stunting yang pada akhirnya akan mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif mereka.

Pravelensi stunting yang meningkat dengan persentase 29,6 ini harus segera dihilangkan. Jangan sampai jerat-jeratnya tetap memberi perangkap pada generasi muda Indonesia, anak-anak dan para calon ibu.

Saya ingin Indonesia Sehat dan saya ingin melindungi generasi masa depan. Dengan demikian saya akan melakukan pencegahan stunting mulai dari diri saya sendiri. Yakni dengan memperkaya informasi tentang kesehatan, memulai kebiasaan sehat, memakan asupan yang bergizi dan selalu menjaga kebersihan lingkungan untuk menghindari infeksi. Jika bukan diri kita yang memulai sejak dini, siapa lagi? Ingat, pencegahan itu penting!


Sumber data : 

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/04/08/di-mana-provinsi-dengan-stunting-tertinggi-2017

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180704/0826366/menkes-cegah-stunting-sedini-mungkin/

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20180703/1426360/wapres-jusuf-kalla-bicara-pencegahan-stunting-bicarakan-masa-depan-bangsa/

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/03/30/berapa-prevalensi-bayi-stunting-di-indonesia

Siaran Radio Publik KBR #RokokHarusMahal

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=Stunting

24 komentar:

  1. Mirisnya gini, gizi buruk pun bisa menimpa keluarga yang tak miskin. Dulu aku punya beberapa tetangga yg sebetulnya berkecukupan tapi balitanya kekurangan gizi. Nah ini soal mentalitasnya yg perlu dibenahi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, gak semua keluarga yang stunting itu ternyata keluarga miskin. Biasanya sih karena pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kehamilan saat 1000 HPK yang minim mbak.

      Hapus
  2. Di kampung saya masih banyak anak-anak yang jika dibanding anak seusianya ia tampak lebih kecil dan lebih pendiam. Saya lihat mereka sekarang mendapat "perhatian" dari bidan desa dan puskesmas. Mungkin program pemerintah sudah sampai ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm, kalau pendiam bukan berarti tanda2 stunting sih mbak kalau menurutku. Tapi kalau nampak lebih kecil kemungkinan besar merupakan tanda2 terjadinya stunting

      Hapus
  3. Makanya ya ibu hamil kudu jaga asupan makanan nya agar ibu dan anak sehat bebas stunting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, mencegah itu kudu dimulai dari diri sendiri menurutku mba. Apalagi sebagai seorang perempuan

      Hapus
  4. Ada juga maaf keluarga kurang mampu tapi nggak kurang liat bapaknya tiap hari beli rokok. Jadi memang pemahaman akan kesehatan bagi keluarga, anak, bumil ini pondasi bagi lahirnya generasi generasi yang lebih baik dan bebas dari Stunting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bener banget mba, soalnya berkenaan dengan stunting banyak banget faktor2nya. termasuk Rokok dan kurangpahamnya para ibu mengenai 1000 HPK

      Hapus
  5. Aku setuju dengan komentarnya mba Agustina Purwantini.. Ada anak tetangga yg mengalami gizi buruk karena dari kecil sukanya indomi :( dirawat di rs karena usunya bermasalah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm. gitu ya mba. Emang makan mie instan terus2an itu gak baik. ya gak hanya mie instan sih. Ada makanan instan yang lain

      Hapus
  6. Sedih yah karena di tahun 2017 masih tinggi kasus stunting ini.. Apakah kurang d edukasi, informasi, maupun kurang dewasanya berpikir si ibu sehingga kasus ini tinggi? Padahal, bukankah seseorang yang sudah sanggup berkeluarga berarti sudah mampu dan dewasa yah.

    BalasHapus
  7. Bener banget, stunting ini sangat bisa dicegah. Sejak dalam kandungan ibu. Kesadaran orangtua, bahkan lingkungan bisa membuat stunting tidak perlu terjadi. Miris dengan angka kasus stunting ini. Sebab di sisi lain, banyak juga kasus anak yang kegemukan dan obesitas karena kebanyakan makan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak orangtua yg msk ke dunia pernikahan tanpa bekal memadai, eh saat hamil pun tak mau mencari tau keilmuannya ya sudah akhirnya gak tau apa2..seadanya saja. Miris

      Hapus
  8. Kemampuan untuk memberi asupan gizi memang perlu diimbangi dengan pengetahuan lebih, bukan hanya dari pihak Ibu tapi juga Ayah sih, kalau menurutku. Karena memang Ibu yang pada umumnya bertugas memberi asupan makanan yang baik untuk dirinya, anak - anak, dan suami. Tapi dukungan Ayah yang paham pula soal kebutuhan ini, akan jadi lebih peduli. Hal sederhana misalnya dengan nggak merokok sedari muda pun, nantinya bisa sedikit banyak berkontribusi untuk pencegahan stunting ini, bukan?

    BalasHapus
  9. Semoga anak2 Indonesia sehat semua ya, nggak ada lagi yang namanya stunting. Sebagai ibu pastinya semuanya kudu peduli, tidak hanya anak sendiri...namun pada anak2 lain yg butuh penanganan

    BalasHapus
  10. iyaaa benar mba.. perlu upaya bersama untuk melawan stunting ini ya... dan pemenuhan nutrisi dari sejak ibu hamil sangat penting. semoga indonesia bebas dari stunting....

    BalasHapus
  11. Memang agak deg-degan yaa soal stunting ini. Anakku tergolong pendek tingginya, makanya nanti mau konsul lagi ke dokter. Terima kasih infonya mbak :)

    BalasHapus
  12. Mudah-mudaha anak-anak Indonesia bisa bebas stunting karena stunting juga mengancam kemajuan bangsa jika anak-anak mengalami stunting dan tidak bisa berkontribusi pada pembangunan negara

    BalasHapus
  13. Anakku dulu pernah Mbak ketahuan hampir stunting, di umur dua tahun lebih. Ya Allah... beneran ngejar ketertinggalan banget jadinya biar nggak makin fata efeknya ke anak.

    BalasHapus
  14. PR banget memang tentang pemenuhan gizi anak..saya sering khawatir karena anak picky eater sementara saya juga kurang kreatif membuat masakan di rumah..

    BalasHapus
  15. Semoga angka stunting di Indonesia bisa semakin menurun bahkan 0. Kita harus mampu menginformasikan ke banyak Ibu dan orang diseluruh Indonesai supaya sadar akan bahaya stunting dan penyertanya

    BalasHapus
  16. Kayaknya semua sedang konsen dengan stunting ini ya mbak?
    Memang yang paling penting adalah sat bayi dalamm kandungan dan kalau sudah terjadi ya yang perlu dilakukan adalah intervensi kasi gizi yang bagus ya...
    TFS

    BalasHapus
  17. Hal ini bisa dicegah oleh ortu dengan menjaga asupan gizi anak sejak kecil. Kemudian keluarga dan lingkingan sekitar juga harus mendukung apalagi pemerintah. Salah satunya dengan menyediakan dan memastikan bahwa harga pokok makanan bisa terjangkau dan tersedia dengan baik

    BalasHapus
  18. Stunting emang jadi ancaman yang mengincar masa depan anak-anak Indonesia ya.. Semoga para bunda selalu semangat memenuhi kebutuhan gizi anak2 agar terhindar dr stunting

    BalasHapus