Kamis, 12 Juli 2018

Kerokan, Kearifan Lokal yang Harus Diwariskan

Bercerita mengenai kerokan, ah saya jadi teringat kembali sosok Mbah Sumi, seorang ahli pijat plus kerokan tradisional di kampung saya di kota Pekalongan. Sebagai pemijat handal dan legendaris di kampung Silirejo, Mbah Sumi tidak pernah sepi pelanggan. Bahkan bagi Mbah Sumi, pekerjaan sebagai pemijat telah menjadi panggilan dari jiwanya. Setidaknya, itulah yang pernah beliau katakan pada saya.

Pelanggan Mbah Sumi bermacam-macam, mulai dari ibu-ibu pasca melahirkan, orang-orang meriang atau masuk angin hingga mereka yang pegal-pegal dan memiliki masalah nyeri sendi.

Orangtua saya termasuk pelanggan setia Mbah Sumi. Terutama ibu. Setiap kali pegal atau sakit, ibu selalu meminta bantuan beliau untuk memijat atau mengerok punggungnya. Ya, meskipun terkadang ibu juga meminta bantuan saya dan adik, namun kebanyakan kerokan mbah Sumi lebih terasa menggoda bagi ibu.

Untuk melakukan kerokan, Mbah Sumi biasanya menggunakan koin seratusan jaman dulu atau batok kelapa yang sudah ditumpulkan, dipadu dengan minyak kelapa buatan sendiri yang biasa disebut minyak Cengkir. Begitu tradisional.
Kamu pernah dikerok? Sepertinya sebagian besar orang pernah merasakan kerokan. Saya pun demikian. Hanya saja ketika saya kerokan, saya tidak menggunakan jasa mbah Sumi tapi saya melakukannya sendiri. Alasannya? Saat dikerok sendiri, saya bisa menentukan tekanan koin dan mencari sumber sakit di badan saya. Meski terkadang membutuhkan bantuan orang lain untuk wilayah yang tak bisa saya jangkau.

Memilih dikerok atau minum obat? Pertanyaan tersebut pernah saya ajukan ke teman saya yang kebetulan mengikuti organisasi pecinta alam di kampus. Dia menyukai kegiatan outdoor seperti kemah, panjat tebing, dan muncak ke beberapa gunung di Jawa. 

Sebagai penyuka kegiatan outdoor, pastilah ia pernah memiliki pengalaman sakit serta cara mengobati sakit tersebut. Dan benar. Ia punya pengalaman pusing dan masuk angin ketika perjalanan mendaki ke puncak gunung Slamet. Saat itu musim hujan dan udara begitu dingin. Temanku merasa kelelahan karena medan pendakian yang becek dan lingkungan yang dingin tertutup kabut. 

Untuk mengatasi rasa lelah dan pusing selama perjalanan, dia membawa bekal obat-obatan. Termasuk minyak angin dan balsem. Saat menjawab memilih obat atau dikerok, dia mengatakan lebih suka dikerok. Menurutnya, setelah dikerok, badannya akan terasa hangat. Lagipula perjalanan di tengah hutan itu perlu fokus yang tinggi dan stamina prima sehingga ia menghindari minum obat supaya tidak mengantuk.

Kerokan merupakan pengobatan tradisional yang masih eksis sampai sekarang. Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh Prof Didik Gunawan Tamtomo, seorang guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Prof  Didik membagikan sejumlah angket kepada responden untuk mengetahui jenis pengobatan yang dilakukan oleh mereka ketika mengalami gejala masuk angin. Dari 390 angket yang dikembalikan responden, 90% responden menjawab melakukan kerokan. 

Ya, kerokan telah dipercaya masyarakat Indonesia sebagai pengobatan awal ketika mereka merasa pusing atau mual. Apalagi bagi mereka yang tidak memilih obat kimia sebagai penyembuh. Kerokan dinilai cukup efektif untuk menghangatkan tubuh dan mengurangi rasa sakit.

Saya pernah membaca sebuah artikel online mengenai bahaya kerokan. Artikel tersebut menginformasikan bahwa kulit bekas kerokan akan mengalami kerusakan, terutama di bagian pembuluh darah.  Entah itu artikel valid atau tidak, tetapi semenjak membacanya saya  merasa khawatir ketika kerokan. Selanjutnya saya penasaran. Benar gak sih kalau kerokan itu membahayakan tubuh? 

Nah, demi membuktikan fakta mengenai kerokan, Prof Didik melakukan serangkaian tes pada kulit tangannya sendiri. Beliau mengerok kulit tangannya dan mengambil sampel kulit ari untuk penelitian mikoroskopik. 

Hasilnya? Pembuluh darah bekas kulit yang dikerok mengalami pelebaran. Pelebaran pada pembuluh darah berpengaruh pada aliran darah. Darah yang semula memasok oksigen sedikit, akan mengambil oksigen lebih banyak setelah pembuluh darah melebar. Tentu, semakin banyak darah mengandung pasokan oksigen, hal tersebut semakin baik bagi kesehatan. Kesimpulannya, pembuluh darah memang mengalami pelebaran tapi tidak rusak.

Pada tahap akhir penelitian, Prof Didik menemukan bahwa setelah dikerok, kadar endorfin dalam tubuh akan meningkat. Peningkatkan endorfin akan membuat orang yang dikerok merasanya nyaman, rileks dan berkurang rasa sakitnya. Nah loh, itu membuktikan kalau kerokan tidak bahaya lho. Hanya saja, harus dilakukan sesuai aturan. Tidak keseringan.
Dari sisi kesehatan, kita telah memahami bahwa kerokan termasuk pengobatan tradisional yang  memiliki manfaat bagi relaksasi dan pelancaran peredaran darah di tubuh. Namun seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi di dunia medis, masihkah kerokan menjadi pilihan setiap orang? Masih. 

Beberapa teman di kos, bahkan saya sendiri sering melakukan kerokan setiap kali pulang dari kegiatan organisasi kampus. Saat merasa lelah dan pusing, saya meminta dikerok di bagian punggung dan leher belakang. Teman kos saya pun demikian. Kami kerokan bergantian. Meski tersedia obat untuk penyembuhan, kerokan tetap menjadi andalan kami. Prinsip kami, dikit-dikit jangan minum obat lah.

Ketika ritual kerokan akan kami lakukan, uang koin plus Balsem Lang telah saya siapkan. Srett..srett, bunyi koin ketika bergesek dengan kulit terdengar. Kulit dengan warna merah berbintik-bintik sudah mulai terlihat. Itu artinya, saya harus menggesekkan koin ke arena lain.

Sobat hangat, Saya menggunakan Balsem Lang ukuran mini 10 gram. Alasannya? Balsem Lang ukuran mini ini bisa dibawa kapan saja dan dimana saja, bahkan ketika saya sedang kuliah. Balsem Lang selalu siap di kantong  celana saya.
Balsem Lang dan kerokan adalah sebuah kolaborasi sempurna untuk mengobati pusing, perut mual, mabuk perjalanan dan perut kembung. Karenanya, kerokan tak pernah ketinggalan jaman.

Dear sobat hangat, jika dilihat dari sisi tradisi, kerokan adalah pengobatan turun temurun. Ia telah menjadi semacam budaya yang tak bisa dilepaskan dalam masyarakat. Bahkan, ada kepercayaan pada bapak saya perihal kerokan.
"Neg durung kerokan, awak durung krasa kepenak"
Kalau belum kerokan, badan terasa belum membaik. Itu kalimat yang pernah diucapkan bapak dulu ketika saya masih di SMA. Bagi saya, perkembangan jaman hanya merubah bahan untuk kerokan. Jika dulu mbah Sumi menggunakan minyak kelapa untuk mengerok ibu dan orang-orang di kampung. Sekarang, saya memilih menggunakan Balsem Lang. Why? Balsem Lang praktis dan memiliki aroma terapi yang begitu menenangkan. Rasanya hangat di kulit dan tidak lengket.

Kerokan. Pengobatan tradisional ini mudah dan murah. Ia juga secara psikologis mampu mendekatkan kita dengan orang lain. Adakalanya, curhat menjadi penyambung yang menyenangkan antara "pengerok" dan yang "dikerok". Itu yang saya alami.

Baiklah Sobat hangat,
Kita tahu pentingnya pewarisan ilmu supaya generasi selanjutnya mampu mengenal dan tidak pernah menghilangkan kebiasaan tradisional berupa kerokan. Oleh karena itu, mari mewariskan kebiasaan yang baik. Kerokan bukan sekedar pengobatan, namun ia adalah bentuk kearifan lokal yang harus diwariskan.


Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba blog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar