Sabtu, 30 Desember 2017

Mencintai Rupiah Melangitkan Indonesia

Masih ingatkah kasus beberapa tahun silam mengenai sengketa wilayah Sipadan dan Ligitan oleh Indonesia dan Malaysia? Jika masih, maka ada beberapa hal yang mungkin bisa kita diskusikan kembali mengenai kasus tersebut. Kasus Sipadan dan Ligitan kembali mencuat setelah Malaysia menyatakan akan membangun resort untuk kepentingan pariwisatanya di kedua pulau tersebut. Padahal, telah diketahui bersama bahwa status kedua pulau masih belum jelas kepemilikannya. 

Mendengar rencana pembangunan resort yang akan dilakukan Malaysia, Indonesia menjadi geram. Pada tahun 1997 Indonesia dan Malaysia sepakat membawa kasus tersebut ke Mahkamah Internasional untuk meminta penyelesaian. Masing-masing negara melakukan banding dengan membawa bukti-bukti untuk memperkuat claim. Namun pada tahun 2002 lalu, Mahkamah internasional memutuskan bahwa pemilik sah Sipadan dan Ligitan adalah Malaysia berdasarkan pertimbangan effective occupation dan Malaysia lah yang merawat serta memanfaatkan pulau tersebut. 
Merawat serta memanfaatkan pulau Sipadan dan Ligitan? Ya, ternyata pertimbangan tersebut menjadi masuk akal setelah ditemukan fakta bahwa sebagian besar penghuni pulau menggunakan bahasa Melayu dan bertransaksi menggunakan Ringgit Malaysia. Tidak ditemukan warga yang menggunakan rupiah untuk bertransaksi. Cukup membuat miris.

Hal tersebut ternyata senada juga dengan kasus yang terjadi di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Tepatnya di desa Aji Kuning kecamatan Sebatik. Warga di desa tersebut lebih suka menggunakan Ringgit Malaysia dan membeli barang-barang kebutuhan yang berasal dari negara jiran tersebut. Alasannya? Pasokan barang dari negara Malaysia dinilai lebih mudah didapatkan dibanding barang dari Indonesia. Selain itu, harga yang ditawarkan Malaysia juga lebih murah. Sampai hari ini, masyarakat di kecamatan Sebatik masih ada yang menggunakan Ringgit sebagai alat pembayaran dalam kegiatan perekonomian mereka. 
Kawan, penggunaan mata uang asing ternyata masih menjadi permasalahan warga Indonesia yang berada di wilayah perbatasan. Alasan mereka memang cukup masuk akal. Mudah mendapatkannya dan memiliki nilai tukar yang lebih tinggi dibandingkan dengan rupiah. Namun demikian, pola perilaku yang diterapkan oleh masyarakat di wilayah perbatasan tersebut ternyata cukup berpengaruh terhadap kestabilan nilai rupiah lho. 

Nah, itu baru kasus di daerah perbatasan Indonesia di pulau kalimantan. Bagaimana jika di wilayah perbatasan lain masyarakat juga masih belum menggunakan rupiah sebagai bagian dari perekonomian mereka? Dampak yang terjadi adalah semakin melemahnya mata rupiah jika dibandingan mata uang negara lain.  

Jika menarik benang merah pada kasus Sipadan dan Ligitan pun, kita bisa tahu bahwa penggunaan mata uang bisa menjadi semacam identitas yang memperkuat sebuah kedaulatan. Penggunaan uang Ringgit oleh masyarakat di pulau Sipadan dan Ligitan dalam bertransaksi memunculkan asumsi bahwa Indonesia bukanlah pemilik dari kedua pulau tersebut. 

Sedih sebenarnya melihat realita bahwa Indonesia kehilangan pulau karena masalah identitas. Apalagi mengetahui kenyataan lain bahwa masih ada saudara sebangsa kita yang menggunakan mata uang negara lain ketimbang rupiah. Padahal semakin sering kita menggunakan rupiah, nilainya akan menguat dan itu sangat menguntungkan bagi perekonomian bangsa.
Melangitkan nilai rupiah. Yap, itu merupakan upaya yang sedang pemerintah lakukan melalui Bank Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan mengoptimalkan penggunaan rupiah pada setiap transaksi di wilayah NKRI baik itu transaksi tunai maupun non tunai. 
Untuk memperkuat upaya tersebut, Bank Indonesia bahkan mengeluarkan peraturan nomor 17/3/PBI/2015, tentang kewajiban menggunakan uang Rupiah.

Dalam mewujudkan upaya melangitkan rupiah, Bank Indonesia bekerjasama dengan Netmedia akan menghidupkan kembali "Gerakan Cinta Rupiah" yang dulu sempat dicanangkan pada era reformasi tahun 1998. 

Gerakan cinta rupiah ini akan disosialisasikan ke enam kampus yang ada di wilayah Indonesia melalui "BI Goes To Campus 2017". Mengapa ke kampus-kampus? Tentu saja, kampus dinilai memiliki andil besar terhadap perubahan bangsa. Kampus merupakan tempat para mahasiswa mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Sudah diakui bahwa mahasiswa merupakan agen perubahan bagi bangsa. Oleh sebab itu, edukasi dan sosialisasi cinta rupiah ke mahasiswa diharapkan mampu membangkitkan mindset mereka mengenai pentingnya penggunaan rupiah kemudian menularkan mindset tersebut ke masyarakat.
Sumber : Google
Edukasi dan sosialisasi "Gerakan Cinta Rupiah" mengajak seluruh mahasiswa untuk mencintai rupiah secara sadar karena rupiah bukan hanya sebentuk alat pembayaran, ia juga merupakan simbol kedaulatan dan identitas bangsa.

Bisa kita lihat bagaimana seriusnya BI membuat uang dengan gambar para pahlawan di setiap sisinya. Itu bukan tanpa alasan. Melalui para pahlawan, Indonesia bisa terbebas dari penjajahan. Diharapkan dengan gambar pahlawan yang tercetak pada tiap lembar rupiah, masyarakat akan senantiasa mengingat semangat perjuangan pahlawan dan meninggikan nasionalisme. 

Di tengah edukasi dan sosialisasi Cinta Rupiah, perwakilan dari Bank Indonesia juga menyampaikan beberapa hal yang harus dilakukan untuk menjaga dan merawat rupiah yang kita miliki. Apa sih wujud cinta kepada rupiah?
Cinta adalah perasaan untuk melindungi sesuatu dengan sepenuh hati. Pernahkah kamu merasa jatuh cinta, bagaimana rasanya? Bukankah ketika kamu jatuh cinta kamu akan melindungi orang yang kamu cintai dengan segenap hatimu? Yap, sama halnya dengan cinta antar manusia. Cinta terhadap rupiah pun memiliki pola yang sama. 

Dalam merayakan perasaan cinta, tak akan pernah terbesit sedikitpun keinginan menyakiti dan merusak. Itu karena kamu begitu menghargai perasaan cinta. Ada keinginan untuk menjaga dan merawat cintamu. Mungkin, itu bisa dianalogikan ketika kamu mencintai rupiah. Kamu tak akan pernah merusak mereka. Barang selembar pun.

Untuk mencintai rupiah, Bank Indonesia menerapkan lima "Jangan". Namun dalam tulisan ini saya membuat sebuah modifikasi menjadi lima "Tidak".
Pemerintah melalui kerjasama Bank Indonesia dan Netmedia telah melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya cinta rupiah. ya, sosialisasi dan edukasi untuk kita para mahasiswa. Tujuannya jelas, mereka ingin melangitkan Indonesia melalui penanaman rasa cinta terhadap rupiah. Semakin rupiah dicintai dan digunakan, semakin menguatlah nilainya terhadap mata uang asing. Hal tersebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara. Selain itu rupiah adalah identitas bangsa sehingga mencintainya berarti kita ikut andil melangitkan nama Indonesia di kancah internasional.
Masing-masing orang tentu memiliki cara tersendiri untuk mencintai rupiah. Saya pun demikian. Ada beberapa pendapat mengenai cinta rupiah pada beberapa orang yang saya wawancarai.

Itulah wujud cinta mereka terhadap rupiah. Bagaimana dengan wujud cintamu?

By the way, apakah saya juga memiliki rasa cinta terhadap rupiah? Tentu. Saya mencintai rupiah melalui cara saya sendiri. 

Wujud cinta yang saya lakukan untuk mencintai rupiah adalah dengan memungut koin-koin rupiah yang terbuang. Mengapa?

Rupiah adalah semua uang yang saya gunakan sebagai alat pembayaran. Bagi saya mencintai rupiah itu harus secara keseluruhan. Tidak hanya berpaku pada nominal yang tinggi, namun juga melalui nominal terkecil. 

Saya pernah mendapati pengalaman miris soal uang rupiah dengan nominal terkecil. Begitu mudahnya mereka dibuang tanpa ada rasa menyesal atau kehilangan dari pemiliknya. Alasannya, malu memungut? Bisa jadi. Tapi bagaimana jika setiap orang malu untuk memungut uang koin mereka yang terjatuh. Berapa koin yang harus terbuang jika asumsinya setiap orang di Indonesia ini pernah menjatuhkan koin mereka. 
Pernahkah kamu memiliki pengalaman yang sama, melihat koin rupiah nominal kecil terbuang disekitarmu? Saya seringkali menemukannya. Gambar diatas merupakan gambar yang saya ambil ketika jalan-jalan ke Sunday Morning (Pasar Minggu). Koin yang tak terambil. Koin yang terlantar, tak dicintai. 
Uang koin Rp 50 dan Rp 25 rupiah diatas telah terbuang dan saya pungut untuk disimpan. Terlalu sayang jika tergeletak sia-sia dijalanan, padahal ia penuh dengan sejarah dan kenangan. Uang zaman dulu.

Sampai saat ini, beberapa uang koin zaman dulu masih saya simpan di dompet khusus dan terpisahkan dengan koin-koin lain keluaran tahun 2000-an.
Koin-koin pada gambar di atas merupakan rupiah zaman saya kecil yang masih sempat  saya simpan. 

Saya bukan kolektor uang kuno, namun saat saya menemukan uang masa kecil, akan saya pungut dan simpan. Menemukan uang masa kecil itu mengingatkan kembali transaksi masa lalu dimana permen hanya seharga Rp 50 rupiah. Saya pernah mengalaminya. 

Koin tahun 2000-an saya simpan di dalam dompet terpisah.
Begitulah cara saya mencintai rupiah. Terlihat sepele memang. Namun pada kenyataannya memungut uang koin yang terjatuh di jalan tidak segampang yang dipikirkan. Awalnya saya merasa malu saat dipandangi orang-orang disekitar saya. Apalagi kalau ada yang nyeletuk ,
"Duh Mbak uang Rp 100 aja diambil"
Namun setelah sering melakukannya, saya jadi terbiasa. Cuek ajalah. Itu yang ada di benak saya.
Terserah orang-orang mempersepsikan tindakan saya seperti apa, tetapi prinsip terbaik yang saya tanamkan pada diri saya adalah bahwa setiap koin adalah nilai yang berharga berapa pun nominalnya. 

Jika saya sudah mencintai rupiah bahkan melalui koin terkecil, maka saya rasa cinta saya terhadap rupiah sebagai identitas bangsa akan dengan sendirinya tercipta dihati. 

Mencintai rupiah adalah kewajiban. Ia adalah simbol identitas negeri ini. Ia adalah wujud dari kedaulatan Indonesia. Semakin sadar bangsa ini menggunakan rupiah, semakin menguatlah ia dalam perekonomian. Tentu, itu berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi yang bermuara bagi kemajuan bangsa.
Bersama kita mencintai rupiah, bersama kita melangitkan Indonesia.



Sumber bacaan/referensi pengetahuan : 

http://www.bi.go.id/id/peraturan/sistem-pembayaran/Documents/pbi_170315.pdf

https://economy.okezone.com/read/2016/02/22/320/1318317/bi-masyarakat-perbatasan-lebih-kenal-ringgit-malaysia-dibandingkan-rupiah

http://kaltim.tribunnews.com/2017/08/16/rupiah-masih-dijajah-ringgit-warga-perbatasan-pilih-belanja-sembako-malaysia

43 komentar:

  1. ya ampun...bener banget mba rupiah udah kayak gak ad harganya banget ya, pernah loh aku kasih 500 ke pengamen dan langsung dia buang didepanku sambil bilang, "gope buat apa, pelit banget sih jadi orang" duhhhh... kesel!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh, pengalaman yang sama mbak, aku jga pernah digituin ama pengamen gara2 ngasih 500. Respon yang gak enak banget Miris sebenarnya. :)

      Hapus
  2. Wah berarti melipat uang, termasuk gak cinta rupiah dong...hihih
    Kalau ini agak susah ya mbak..habis dompetnya kecil..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, mungkin karena itu bisa membuat rupiah menjadi gak rapi dan jadinya mudah rusak kalau sering kelipet. Berarti solusinya beli dompet yang lbh besar sepertinya mba Sara hehehe

      Hapus
  3. Dan saya sampe sekarang seneng banget ngumpulin recehan. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak, recehan saya banyak di dompet. Entah kenapa gak kepake. Cuma tak kumpulin doank hehe

      Hapus
  4. Artikelnya keren. Infografisnya kece. Saya dukung gerakan cinta rupiah!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbak Rinta. Iya, mari dukung cinta rupiah selalu :)

      Hapus
  5. Sebenarnya aku males baca, Tapi setelah membaca judulnya aku terkesan.. Entah mengapa kog infografisnya sama dengan Perilaku aku saat menggunakan uang rupiah.. Tapi dengan membaca dan menelaah tiap paragraf artikel mba aku merasa harus lebih sayang (red : menggunakan) uang rupiah secara rapih dan tidak merusaknya... Sangat bermanfaat sekali mba terimakasih atas artikelnya yang cetar membahana😁😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas. Saya membuat seperti itu karena realita yang kadang saya dapati melalui artikel di internet, perilaku diri saya sendiri dan observasi perilaku oranglain. Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  6. Aku cinta rupiah biar dollar dimana manaaa. Cinta rupiah jg bntuk nasionalisme ya mba :)

    BalasHapus
  7. makasih sharingnya lengkap, memang kita harus cinta rupiah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mb Tira. Iya mbak pake banget cintanya :)

      Hapus
  8. Sedih banget ya dulu 2 pulau kita hilang. Memang kita harus cinta rupiah supaya ga kalah sama dolar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb Leyla, Temen2 ku aja msh banyak yg demennya ama dollar. Ya emang masalah kesukaan sih. Tapi kalau dibiarkan, merugikan jga ternyata #Hiks

      Hapus
  9. Aku cinta rupiah tapi masih suka melipat uang nih mba.. mau aku terapin.. nggak melipat uang
    Nanti aku kasih tau anak2 juga ah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip mbak. Mencintai rupiah mulai dari hal sederhana. Termasuk kerapian uang hehe

      Hapus
  10. Saya tetep sih paling seneng belanja dengan rupiah dan mengumpulkan rupiah. Tapi pernah sih ke daerah pelosok dan ternyata penduduknya bnyk menyimpan uang asing dr para pekerja asing yg bekerja disekitar tempat tinggal mrk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pekerja dari daerah perbatasan biasanya emang gitu mbak. makanya pemerintah lagi mencoba menerapkan penggunaan rupiah sebagai alat pembayaran di wilayah NKRI. Niatnya untuk merubah pemakaian uang asing oleh masyarakat perbatasan :)
      Semoga bisa terrealisasi niat pemerinta tsbt.

      Hapus
  11. Harga eceran barang/makanan murah itu jarang yg di bawah 500 rp. Tapi masih ada duit 100, 200 yg beredar, dan gak semua orang mau. Well...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener sih mbak, tapi 100 rupiah kalau dikumpulkan bisa jadi banyak lho hehe

      Hapus
  12. Nemu bacaan yang berbobot juga akhirnya,, hhe...
    Miris si liat rupiah itu,, kebanyakan angka nol, kesanya jadi kecil dan kurang berharga di banding mata uang lain...
    RM 1 aja setara Rp 3.200,00
    USD 1 setara 13.500,00

    Harapannya si lebih ringkas aja,, dan nilai rupiah bisa seperti zaman saya kecil dulu, dimana Rp 100,00 bisa beli bubur ayam untuk sarapan,, hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh, 100 rupiah dapat bubur ayam ya. Saya pernah ngalamin gak ya?
      kalau bubur ayam 250 rupiah pernah sih. Enak dan lengkap :D

      Hapus
  13. Widiiih, uang koin koleksinya banyak banget mba :D
    Salut banget deh sama mba. Kadang saya rada kesel sama orang-orang yang ngga mau terima duit recehan. :( Solusinya gimana yaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kumpulin aja mbak recehannya. Kalau gak sempet terpakai bisa jadi koleksi. atau kalau udah banyak bisa di tuker di Bank Indonesia hehe

      Hapus
  14. Saya juga kadang jengkel lihat uag rupiah yang banyak tulisan dan coretannya, bikin tidak indah dan merusak citra rupiah itu sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya rupiah seribuan mbak, yang pernah saya temukan ada gambar roker sama nomor hape. Aneh banget, tujuannya apa sebenarnya. Apa nyari jodoh? wkwkw
      tapi gak etis tetepan :D

      Hapus
  15. Jelas, semua orang cinta rupiah :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, saya juga sangat cinta rupiah πŸ˜€

      Hapus
  16. Mantap, congrats mbak. alur pembahasannya mudah dipahami. Yuk cintai rupiah untuk melangitkan indonesia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas Adi. Yokkk lah. Cinta rupiah? Harus donk πŸ˜‰

      Hapus
    2. Makasih mas Adi. Yokkk lah. Cinta rupiah? Harus donk πŸ˜‰

      Hapus
  17. Tulisanmu bagus dek.... Iyap.. Rupiah harus diperjuangkan harganya #ehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya makasih mbak arni,
      harus itu mbak. Kita kan cinta Indonesia, jadi cinta rupiah hehehe

      Hapus
  18. Keren abis tulisannya. Memang layak jadi juara. Selamat suhuku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih suhu wawan, njenengan juga termasuk sosok bloger inspiratif bagiku :D

      Hapus
  19. Keren banget mbak tulisannya. Risetnya kuat, masih ditambah wawancara, dan pake infografis segala. Paket komplit! Salam kenal ya mbak dr sesama blogger jogja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, salam kenal mbak. Makasih ya mbak Arry. Kita sama2 belajar hehe

      Hapus
  20. Selamat mbak atas capaiannya. Tulisan ini memang layak jadi juara. Bernas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas Aziz. Tulisan-tulisan mas Aziz juga keren lho ya hehe

      Hapus
  21. Mba keren bgt tulisannya :)
    Oiya kalau gambar yg plg bawah itu (peta indonesia) mba buat dmn ya? Gif-kah itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau peta nya saya download via google, tapi kalau gambar GIF nya saya buat sendiri kak :)

      Hapus