Rabu, 01 Agustus 2018

Mencegah Generasi Stunting dengan #RokokHarusMahal

"Merokok dapat menyebabkan terjadinya Stunting?"
Awalnya aku memang tak begitu memahami makna Stunting. Terdengar anyar rasanya di telinga ini. Namun, kata tersebut telah viral dan sempat menjadi trending topik di Indonesia pada waktu itu. Aku mulai searching maknanya melalui google dan menemukan ulasannya dengan sangat mudah. Hanya dalam waktu 0,38 detik, aku sudah bisa menemukan cukup banyak artikel yang mengulas mengenai Stunting.

Saat ini, isu Stunting kerap kali kudengar melalui berbagai sosialisasi dan berita-berita di media sosial. Apalagi beberapa bulan yang lalu, aku sempat mengikuti salah satu program sosialisasi dari kemenkes yang membahas mengenai Stunting dan dampak-dampaknya bagi keberlangsungan generasi Indonesia. Sosialisasi tersebut telah membuka mataku, bahwa ternyata anak-anak Indonesia masih terancam oleh malnutrisi akut dan kondisi kerdil bernama stunting.  

Well, aku ingin sedikit berbagi informasi di tulisan ini mengenai arti stunting dan pengalaman yang kudapati mengenai sebuah keluarga yang anaknya mengalami stunting.
Aku sebenarnya sedih ketika harus bercerita mengenai ini, hanya saja kejadian ini cukup menggugah pemikiranku untuk lebih mempersiapkan kehamilan dan menghindari hal-hal yang menyebabkan terjadinya stunting suatu hari nanti. Harapannya dengan aku bercerita, aku juga bisa mengajak pembaca untuk memahami urgensitas stunting yang sedang melanda negeri ini serta mengajak pembaca untuk lebih peduli orang-orang disekitar kita. 
Kondisi Stunting pernah dialami oleh salah satu anak tetanggaku. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP dan aku masih belum mengerti bahwa kondisi yang dialami anak tetanggaku ini adalah kekerdilan yang disebabkan oleh mal nutrisi akut. 

Tetanggaku ini seorang buruh batik disalah satu tempat produksi batik rumahan didesaku. Setiap hari ia selalu bekerja bahkan disaat ia hamil. Suatu hari, warga desa heboh karena tetanggaku ini melahirkan di becak yang menjemput dia dari pasar. Dia melahirkan seorang bayi dengan kondisi prematur dan telah meninggal dunia. Bayinya lahir pada bulan ke 6 kehamilan. Padahal, seharusnya normal usia melahirkan adalah saat 9 bulan. Sebelum di makamkan, aku sempat melihat bayi tersebut, ukuran tubuhnya kurang lebih sebesar dua jari yang disatukan. Kecil sekali seukuran boneka barbie.

Anak pertama dari tetanggaku ini postur badannya tidak terlalu tinggi. Tubuhnya juga terlihat kurus sekali. Jika dilihat secara fisik, sudah bisa diindikasikan bahwa anak pertama tetangga ku itu mengalami stunting atau kekerdilan. Mungkin tak semua kerdil berarti stunting, namun kalau melihat kondisinya itu bisa dipastikan kalau ia kekurangan gizi. 

Tetanggaku itu sebenarnya memang dikenal sebagai salah satu keluarga kurang mampu di kampungku. Setiap bulan, biasanya akan ada orang dari puskesmas dan kecamatan datang untuk membagikan raskin dan sembako.

Terlepas dari semua itu, sebenarnya ada hal yang sedikit membuatku miris. Suami tetanggaku itu adalah seorang perokok berat. Setiap pagi aku selalu melihat suami tetanggaku itu merokok. Bau asap rokok tersebar dan selalu tercium setiap kali dia berada di teras rumahnya. Kebetulan, jarak rumah tetanggaku itu sekitar 5 meter dari rumahku, jadi setiap kali si suami merokok, pasti asapnya mencapai ke rumahku.

Melihat kondisi itu, aku baru sadar bahwa kemiskinan ternyata tetap tidak mengurangi aktivitas merokok. Padahal, kalau dilihat, mereka termasuk kekurangan dalam membeli kebutuhan hidup. Tapi kok ya masih bisa membeli rokok. Entahlah, saat itu aku tidak berpikir sejauh itu. Aku mulai menyadari akhir-akhir ini. Bahwa, masyarakat miskin ternyata banyak yang merokok meskipun kondisi perekonomian mereka masih kurang.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh BPS, rokok memiliki andil besar terhadap lahirnya kemiskinan bagi masyarakat desa dan kota. Bahkan, rokok telah menjadi komoditas kedua setelah beras yang banyak dibeli oleh masyarakat miskin. 

Berdasarkan data BPS, rokok memiliki kontribusi terhadap kemiskinan sebesar 11,07 persen untuk perkotaan dan 10,21 persen untuk desa. Sementara untuk beras, berkontribusi sebesar 20,11 persen di perkotaan dan 26,46 persen di pedesaan.

Nah, dari data diatas kita bisa melihat bahwa selain beras, masyarakat miskin lebih memilih untuk mengalokasikan uang mereka untuk membeli rokok. Jika hal tersebut terus terjadi, maka semakin lama tingkat kemiskinan akibat merokok akan bertambah. 
Mengapa demikian? Ketika salah satu anggota keluarga ada yang merokok, otomatis pendapatan yang seharusnya dibelanjakan untuk kebutuhan pokok diarahkan untuk membeli rokok. Keadaan tersebut melahirkan kebiasaan untuk memprioritaskan rokok ketimbang melakukan pembelian kebutuhan hidup bahkan saving pendapatan. 

Dalam sebuah laporan yang dibuat oleh WHO dengan judul "The global tobacco crisis" menyatakan bahwa efek ekonomi dari rokok adalah makin memperdalam kemiskinan. Industri rokok telah membuat pelanggannya kecanduan yang berimbas pada masyarakat miskin. Yang miskin akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rokok, bahkan ketika harus mengambil pandapatan yang seharusnya bisa digunakan untuk membeli kebutuhan hidup. 

Kecanduan rokok? Ini yang berbahaya. Rokok menjadi sesuatu yang diprioritaskan. Nah, jika rokok menjadi prioritas, bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan yang lain? Berikut mrupakan data dari Badan Pusat Statistik yang menyatakan bahwa kebutuhan lain yang penting seperti sandang, pendidikan, perumahan, telur, daging dan lainnya justru diabaikan demi membeli rokok.
Sumber : Badan Pusat Statistik
Jerat-jerat kemiskinan yang disebabkan oleh rokok semakin memprihatinkan. Angkanya terus merangkak naik seiring dengan bertambahnya pemakai rokok di Indonesia. 

Herannya, kebutuhan rokok pada masyarakat miskin justru berbanding terbalik dengan masyarakat berpenghasilan tinggi. Masyarakat berpenghasilan tinggi malah mampu mengurangi ketergantungan pemakaian rokok. Terutama untuk mereka yang berada di wilayah perkotaan. Yah, memang wajar sih mengingat masyarakat golongan berpenghasilan tinggi memiliki gaya hidup yang berbeda dengan masyarakat miskin. Selain itu, masyarakat golongan berpenghasilan tinggi juga mampu membayar fasilitas perawatan untuk menghentikan kecanduan rokok.
Tirto.id
Kemiskinan dan rokok, ini sama seperti kejadian yang dialami oleh tetanggaku, jika dilihat dari segi pendapatan, jelas ia termasuk masyarakat berpenghasilan rendah. Ya, ia hanya seorang buruh batik dan suaminya hanya seorang pedagang rujak buah keliling, pendapatannya tentu tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengeluarannya untuk pembelian kebutuhan termasuk untuk rokok. 

Membiayai anak-anaknya supaya mendapatkan asupan yang bergizi tentulah cukup kesulitan mengingat kebiasaan suami yang merokok. Hal ini yang menjadi penyebab tubuh si anak menjadi kecil dan kurus. Bukan hanya itu, untuk ukuran seorang laki-laki yang seusia denganku, ia terbilang pendek. 

Sebenarnya aku mulai teringat dan menelaah kondisi yang menimpa anak tetanggaku tersebut setelah aku mendengar siaran Program Radio Ruang Publik KBR pada 25 juli 2018 yang lalu. Tepatnya ketika membahas rokok dan pengaruhnya terhadap stunting. Aku jadi terpikir bahwa rokok memang memiliki andil untuk menciptakan generasi stunting.
Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis pada anak. Nah, mengenai hubungannya dengan rokok, ada dua hal yang membuat rokok menjadi faktor penyebab stunting. Yang pertama, rokok telah mengurangi jatah membeli makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi, yang kedua, rokok mengandung zat-zat berbahaya yang mampu membuat bayi dalam kandungan terpapar asap rokok.

Menurut Bapak Teguh Dartanto sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh PKJS UI, anak-anak dari orang tua perokok kronis, berat badannya 1,5 kg lebih rendah dibanding anak dari golongan bukan perokok. Demikian pula dengan tinggi badan anak-anak dari seorang perokok sekira 0,34 senti lebih pendek dari ukuran anak bukan dari keluarga perokok.

Dalam perspektif ekonomi, selama 20 tahun dari tahun 1993-2014 terjadi kenaikan pengeluaran rokok sebesar 2% dimana kenaikan itu dibarengi oleh penurunan pengeluaran untuk pembelian makanan. Dengan adanya penurunan daya beli terhadap makanan, maka mampu memunculkan permasalahan-permasalah terkait kesehatan termasuk stunting. Mengapa? karena itu berarti terjadi penurunan pemenuhan nutrisi bagi anak. Padahal nutrisi itu begitu penting terutama selama masa-masa kehamilan. 

Urgensitas isu stunting di Indonesia berhubungan dengan penurunan kecerdasan, karena anak-anak yang mengalami stunting memiliki kecerdasan yang lebih rendah dibanding anak-anak normal. Jika generasi indonesia mengalami stunting, akan menjadi seperti apa bangsa ini dimasa depan?

Stunting terjadi karena pemenuhan kebutuhan gizi yang kurang pada masa 1000 HPK. Sebagai orangtua atau calon orang tua, mengetahui arti penting 1000 HPK itu sebuah keharusan. Sebab, 1000 HPK merupakan waktu paling rawan dan membutuhkan perhatian.
Pada beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa blogger sempat diundang ke satu acara yang diadakan oleh  sebuah organisasi kesehatan. Acara tersebut mengajak para blogger, baik yang telah menikah maupun yang masih single untuk memahami arti penting 1000 HPK. 

Nah, yang dimaksud dengan 1000 HPK ialah 1000 hari pertama kehidupan anak. Dihitung mulai dari janin yang masih berada dalam kandungan (9 bulan 10 hari = 280 hari) dan sampai anak tersebut berusia 2 tahun (720 hari), diasumsikan 1 bulan sama dengan 30 hari.
Dalam masa ini kita harus mampu memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayi. Terutama nutrisi berupa makanan-makanan yang mengandung  zat protein dan asam folat. Zat-zat tersebut berguna membantu perkembangan otak. Berikut merupakan makanan yang dibutuhkan selama masa kehamilan dan juga sesuatu yang harus dihindari selama masa kehamilan. 
Stunting tidak hanya berkaitan dengan lambatnya pertumbuhan fisik anak, namun juga berpengaruh kepada tidak maksimalnya perkembangan otak, hal tersebut kemudian mempengaruhi kemampuan belajar dan mental. Selain itu, anak yang mengalami stunting akan punya riwayat kesehatan yang kurang baik karena daya tahan tubuhnya juga lemah.

Dalam infografis di atas, kita bisa melihat bahwa rokok termasuk sesuatu yang harus dihindari pada masa kehamilan. Rokok mengandung 6000 bahkan 7000 zat berbahaya yang mampu memaparkan pengaruhnya bagi janin. Jika janin sudah terpapar zat berbahaya tersebut, akan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan.

Dalam siaran radio KBR tersebut, salah seorang pendengar bernama bapak Herman asal Kalimantan barat membagikan ceritanya, beliau memiliki seorang teman perempuan yang hamil, kemudian pada saat-saat tertentu si perempuan hamil ini merokok. Kebiasaan merokok teman perempuannya ini dilakukan semenjak kandungannya berusia 3 bulan bahkan hingga ia melahirkan. Dampaknya, teman perempuannya tersebut melahirkan bayi prematur dan tidak bertahan hingga 5 hari. Pak Herman juga menanyakan apakah rokok mempengaruhi bayi hingga bisa terjadi prematur. 

Menurut Dr. Bernie Endyarni Medise, SpAK MPH (Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI) menyatakan bahwa ada dua cara pemaparan rokok. Yang pertama dilakukan langsung oleh si perokok (first hand smoker) dan yang kedua adalah pemaparannya dilakukan oleh orang lain atau kita biasa menyebutnya sebagai perokok pasif (second hand smoker). Keduanya sama-sama membahayakan.

Nah, untuk kasus teman perempuan bapak Herman itu termasuk tindakan first hand smoker, yakni merokok yang dilakukan oleh si ibu secara langsung. Tentu, tindakan ini sangat berbahaya bagi bayi yang dkandungnya. Bisa dilihat bahwa dampaknya bahkan menyebabkan ia harus melahirkan bayi secara prematur  yang kemudian meninggal dunia. 
Rokok bukan hanya membuat miris kita semua karena pengaruhnya yang menyebabkan terjadinya stunting. Bahkan, selama 21 tahun ini ada data mencengangkan yang di bagikan oleh Bapak Teguh Dartanto mengenai kenaikan jumlah perokok anak. 

Perokok anak selama 21 tahun ini meningkat dari (11-20 tahun) tahun 1993 = 1,8% kemudiaan 20 tahun 7,7% naik 4 kali lipat. Kalau yang merokok diatas 21-30 tahun (usia produktif) mengalami peningkatan dari 14,5% tahun 1993 menjadi 23, 6% 2014.

Hal yang lebih membuat miris adalah karena usia 11-20 tahun ini justru prevelensinya begitu besar. Sesuai data yang telah dilansir oleh Tirto.id bisa kita bandingkan usia-usia anak yang merokok. 
Sumber : Tirto.id
Jika sudah terjadi demikian, maka bisa dipastikan bahwa generasi muda Indonesia merupakan generasi yang kurang sehat, generasi suka merokok. 

Rokok telah menyumbangkan pengaruh terjadinya Stunting. Rokok juga telah membuat generasi muda Indonesia tidak sehat karena kecanduan, yakni anak-anak usia produktif. Harus ada kebijakan tegas dari pemerintah untuk mengatur persebaran jumlah rokok yang begitu pesat. 

Pemerintah saat ini seolah dilema untuk memberikan solusi atas permasalahan rokok yang melanda negeri ini. Di satu sisi pemerintah ingin melindungi masyarakatnya, tapi di sisi yang lain industri rokok adalah penyumbang dalam perekonomian.

Saat ini, salah satu solusi yang tetap digaungkan oleh banyak pihak adalah menaikkan harga rokok. Entah melalui kebijakan memahalkan harga cukai, entah secara langsung membuat kebijakan bahwa harga rokok harus naik. Intinya, untuk menurunkan minat masyarakat termasuk anak-anak terhadap rokok adalah dengan #RokokHarusMahal. Paling tidak harga minimal adalah #Rokok50Ribu supaya keterjangkauan terhadap anak-anak dibawah umur berkurang bahkan hilang.

Yess, demi menjaga generasi ini dari stunting dan kecanduan rokok aku mendukung penuh jika #RokokHarusMahal. Kalau bukan kita sebagai masyarakat yang mengusahakannya, siapa lagi? 
Yuk dukung Indonesia stop smoking untuk mencegah generasi stunting

Kamu bisa memulainya dengan menandatangani petisi ini. Aku sudah menandatangani ini. Sekarang giliran kamu!




Sumber informasi : 

Siaran ruang publik KBR 

Tirto.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar