Sabtu, 17 Oktober 2026

Hilangnya Jejak Pangan Lokal diantara Asap-Asap Karhutla

Singkong sebagai pangan lokal paling adaptif (dokumentasi pribadi)

Tidak semua orang bisa menanam padi sebagai sumber pangan, namun semua orang bisa menanam singkong, memanfaatkan tanah-tanah kecil di halaman rumah

Tahun 2018 lalu, aku pernah datang ke sebuah desa kecil di Gunung Kidul. Saat itu aku mengantar seorang teman yang akan wawancara seorang kepala dukuh desa tersebut, kebutuhan, temanku meneliti cerita-cerita soal Pulung Gantung. 

Singkat cerita, dari rumah sederhana itu, seorang ibu mengantarkan sepiring getuk dan singkong goreng. Si ibu dengan ramah menyapa kami lalu berkata, 

"Maaf ya mbak, cuma bisa menyuguhi makanan sederhana ini, kebetulan kami cuma ada singkong dan getuk, makanan orang kampung"

Aku dan temanku tersenyum tipis. Kami berkata pada si ibu, bahwa singkong goreng dan getuk tersebut makanan lezat. Bukan makanan kampungan. 

Sejak saat itu aku berpikir, benarkah bagi sebagian orang, singkong dianggap sebagai makanan orang kampung atau (maaf) miskin? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar dalam pikiranku. Lantas sebuah lagi dari Arie Wibowo berjudul 'Singkong dan Keju' menjawab sekilas pikiranku. 

Secara tersirat, lagu tersebut menggambarkan bahwa singkong bukan makanan orang kaya/kota. Anak singkong bermakna sebagai anak desa. 

Pada akhirnya, pemikiran bahwa singkong itu makanan orang desa/orang miskin menjadi semakin menguat. Padahal, stigma itu salah besar. Selain beras, singkong justru tanaman pangan yang memiliki nilai gizi dan mudah didapat.

Andai,

Suatu hari Indonesia mengalami krisis beras karena kekeringan. Maka singkong bisa jadi makanan pengganti beras. Singkong tumbuhan yang mudah dikembangbiakkan bahkan di tanah kering sekalipun.

Soal Singkong merupakan makanan orang miskin juga ternyata senada dengan yang dipikirkan salah satu narasumber, Bang Arif dalam gathering Eco Blogger Squad pada 16 Oktober 2026 lalu.

Bang Arif menyampaikan kalau umbi-umbian seringkali dianggap makanan orang miskin. Hal ini karena kita telah terdoktrin sejak dulu bahwa makanan pokok hanyalah beras. 

Dari gambut ke meja makan 

Oh iya, gathering kedua EBS dengan judul "Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas dan Pangan" menghadirkan 2 narasumber kompeten yakni Yoga Apriliano dan Ahmad Arif. 

Keduanya menjelaskan materi secara menarik, membuka kembali ruang-ruang dalam pikiran, soal menjaga gambut dan hubungannya terhadap pangan lokal kita.

Menjaga Gambut, Menjaga Nafas Kehidupan

Sebagai orang yang tinggal di area tanah mineral, awalnya aku tak terlalu paham soal tanah gambut. Aku hanya pernah sekilas mempelajarinya di bangku sekolah.

Dulu, guru geografi mengatakan bahwa Indonesia juga memiliki tanah unik bernama gambut. Berbeda dari tanah mineral, tanah gambut tercipta oleh tumpukan daun-daun dan zat organik lain selama bertahun-tahun.

Tak heran tekstur gambut sama seperti spons, seperti yang dijelaskan dalam gathering Eco Blogger Squad. Setelah menjejak sendiri ke Riau beberapa waktu lalu, aku jadi bisa merasakan sendiri tekstur gambut bahkan memegangnya.

Berkenaan dengan gambut, di wilayah Sungai Apit, Kabupaten Siak, orang-orang memanfaatkan lahan gambut untuk menanam nanas ratu. Bahkan nanas yang diproduksi telah dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.

Bu Apo, salah satu petani nanas mengatakan bahwa mulanya warga hanya menanam sayuran,  namun karena kondisi lahan yang tak cocok, sayur yang tumbuh juga terbatas. Penghasilan pun ikut terbatas.

Hingga suatu hari, Bu Apo dan kelompok tani setempat mendapatkan pelatihan dari pihak swasta dan diberi pengetahuan soal tanaman nanas yang cocok tumbuh di lahan gambut.

Nanas yang ditanam di Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau (Dokumentasi Pribadi) 

Tak disangka, setelah setiap orang budidaya nanas, pertumbuhannya luar biasa. Bu Apo kini bisa memiliki penghasilan lebih melalui nanas madu yang ditanamnya, termasuk para petani lain di Sungai Apit.

Nah, pelajaran yang bisa diambil dari sini, seharusnya Indonesia bukan menanam tanaman pangan secara homogen, namun disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebiasaan masyarakat.

Seperti di Papua misalnya, mereka mulanya tidak mengenal nasi. Mereka hanya mengenal sagu dan umbi-umbian sebagai bahan pangan. Rencana mengubah lahan gambut menjadi lahan yang cocok ditanami padi, tentu bukan hal baik.

Mengapa? Pada dasarnya gambut mengandung asam sehingga tidak cocok jika ditanami padi. Salah satu cara menghilangkan zat asam, orang akan melakukan kanalisasi (membuat aliran-aliran kecil seperti sungai) untuk mengalirkan air yang terkandung dalam lahan gambut.

Ketika lahan gambut mengering, itu akan fatal. Di musim kemarau (yang diperparah oleh perubahan iklim), gambut kering akan mudah terbakar serta meluas. Hal mengerikan lagi, memadamkan gambut yang terbakar sangat lah sulit.

Tak heran, saat aku berkunjung ke Desa Dayun, Kabupaten Siak yang notabene di wilayah gambut, petugas di sana berkata bahwa tak boleh ada warga membakar sampah. Sedikit percikan api, bisa membuat kebakaran hebat. 

Jika kebakaran meluas, jelas bahwa semua kehidupan di atasnya akan hilang. Pernah dengar istilah #PeatlandsIsNotWasteLand? Kalau diartikan bermakna gambut bukanlah lahan sia-sia. 

Mengandung asam bukan berarti gambut tidak bisa ditanami. Hal yang perlu kita lakukan seharusnya adalah mencari tanaman yang cocok untuk lahan gambut seperti sagu, singkong, jagung, nanas dan kacang-kacangan. 

Dalam gathering EBS, Bang Arif, salah satu narasumber mengatakan bahwa sebenarnya tanaman sagu itu lebih tua dari padi. Sejak zaman Belanda, padi dibudidayakan lebih banyak, padahal sagu sudah lebih dulu dimanfaatkan sebagai karbohidrat. 

Aneka ragam pangan lokal selain padi (Sumber: Slide Power poin Bang Arif) 

Masifnya penggunaan padi sebagai makanan sehari-hari, membuat lidah orang Indonesia terbiasa makan padi (nasi) sehingga melupakan sumber karbohidrat lokal lain. 

Dampaknya apa? Kebiasaan memakan nasi akhirnya membuat berbagai pihak berupaya memperluas lahan untuk menanam padi, mengubah ekosistem gambut dengan membakarnya. 

Pada akhirnya, potensi-potensi pangan lokal itu hilang, menguap bersama asap-asap karhutla. Dan Indonesia, kehilangan diversifikasi pangan. Hal ini kemudian membuka pikiranku bahwa menjaga kesehatan lahan gambut berarti menjaga potensi pangan lokal kita di masa depan. 

Mengenal Singkong, Sumber Karbohidrat yang sering disepelekan

Di Indonesia ini, selain padi, tanaman yang seharusnya diperbanyak adalah singkong. Mengapa? Singkong merupakan jenis tanaman umbi-umbian yang tahan banting. Bisa ditanam di jenis tanah apapun. 

Aku memiliki tanaman singkong yang tumbuh di belakang rumah. Mukanya, bapak saya menemukan potongan batang singkong terbawa banjir, lantas diletakkan begitu saja di belakang rumah. 

Tak disangka, setelah berbulan-bulan, batang singkong itu telah tumbuh sangat tinggi, menghasilkan banyak umbi ketela yang bisa kami makan. 

Tanaman singkong di belakang rumah yg sangat subur

Padahal, tanah tempat singkong tersebut tumbuh tak pernah disiram, terlihat kering dan gersang, tapi ajaibnya, singkong bisa tumbuh dan bertahan. Sejak saat itu, aku berpikir, bisa gak ya kalau singkong bisa jadi bahan lokal pengganti nasi.

Nah, berkenaan dengan singkong, di rumah aku suka sekali mengolahnya. Selain dimakan biasa (goreng atau rebus) aku biasa membuat singkong menjadi kudapan lezat berisi gula merah.

Blendung Watung yang aku buat dari singkong (dok.pri)

Pernah mendengar Blendung Watung?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam