![]() |
| Ilustrasi perempuan (Dok.Pixabay) |
Suatu malam, aku menemukan dan menonton sebuah video reel, rekaman CCTV seorang anak yang tercebur ke kolam air. Anak itu berusia sekitar 1 tahun dan kedalaman air sekitar 1 meter.
Well, karena tak bisa berenang, si anak kesusahan dan meminta tolong. Tangannya melambai-lambai ke atas air. Si ibu melihat dan mendekati kolam tersebut, bukannya menolong si anak, si ibu malah berputar-putar tidak jelas.
Beruntung, beberapa menit berlalu, ada ibu lain segera menyeburkan diri ke kolam dan mengangkat si anak dengan tangkasnya. Kemudian, ia meletakkan si anak ke daratan. Terlihat, si penolong basah kuyup.
Kontan, postingan tersebut banyak menuai komentar, beberapa orang menghujat ibu si bocah--aku juga agak kesal sih--karena tidak lekas turun ke kolam dan menolong anaknya. Komentar lainnya menormalisasi tindakan si ibu.
Takarir di postingan mengatakan bahwa ibu tersebut berputar-putar karena shock berlebihan, sehingga logikanya menjadi tumpul. Okelah bisa dipahami selekas. Tapi bayangkan kalau gak ada orang lain yang menolong, bukankah nasib si bocah bakal berakhir tragis?
Melihat video CCTV tersebut, lantas aku berpikir, sepertinya perempuan harus punya kontrol emosi yang baik supaya pikiran terkendali. Basik skill berupa menolong dan refleks cepat harus dimiliki.
Contoh basik skill menolong? Aku beri contoh cerita video lain. Di pasar, ibu-ibu penjual kelapa parut sedang menyalakan mesin untuk memarut kelapa. Tak disangka, baju si ibu penjual terselip ke mesin sehingga tertarik.
Ada banyak ibu di sekitar penjual, bukannya mencari sumber listrik dan menarik colokan kabel untuk mematikan mesin, para ibu malah saling lihat, berdebat satu sama lain. Tidak ada inisiatif menolong. Akhirnya, ada bapak-bapak datang, ia segera mencari sumber listrik dan mematikan mesin.
Video lainnya. Seorang ibu dan anaknya terlibat kecelakaan. Saat itu posisi si anak jatuh ke persawahan dan menangis keras, ibu si anak duduk di aspal karena shock. Perempuan lain datang, bukannya membantu si anak naik, malah cuma teriak-teriak dan sibuk merekam.
Si anak akhirnya diselamatkan oleh bapak-bapak pemotor yang kebetulan lewat. Bahkan si bapak sampai menjatuhkan motornya demi mengambil si anak dari sawah.
Greget rasanya tiap lihat ada satu kejadian, perempuan sibuk berteriak tanpa menolong. yang lebih parah, malah sibuk merekam untuk dijadikan konten dengan hastag tertentu.
Aku tahu, panik memang membuyarkan fokus, tapi kalau kepanikan itu tak dilatih menjadi ketenangan. Bencana bisa lebih parah.
Memang, gak semua perempuan sepasif itu. Pernah menemukan video, ibu-ibu penjual ayam geprek, gas yang ia punya ternyata bermasalah dan mengeluarkan api.
Dengan cekatan, si ibu segera mengambil gas tersebut dan meletakkannya ke luar warung. Kemudian, ia mengambil kain basah dan meletakkan di atas gas yang berapi hingga padam tuntas.
Salut, itu yang ada di pikiranku ketika melihat si ibu. Aku harap, kita semua, siapapun perempuan punya refleks dan pengendalian diri yang baik saat terjadi insiden. Alih-alih ribut dan mengganggu yang lain, kita harus punya kecakapan untuk membantu dengan cepat.
Coba deh kalau ada kejadian-kejadian tertentu, beberapa perempuan cuma teriak-teriak tanpa berbuat apa-apa. Jangan deh. Jangan lanjutkan. Untuk kita perempuan, belajar tanggap dan tenang menghadapi sesuatu sifatnya wajib.
Oh iya, salah satu rekomendasi belajar yang oke, bisa lihat juga video-video petugas damkar saat berbagi tips. Dari mereka, kita bisa belajar untuk bertindak ketika menghadapi insiden kebakaran. Misalnya saat tabung mengeluarkan api atau saat menemukan anak tersedak. Perngetahuan tersebut benar-benar berguna.
Baiklah, itu dulu uneg-uneg dari aku untuk semuanya, terkhusus untuk kita, para perempuan. Kalau kalian gimana? Apakah kalian juga berpikir hal yang sama?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam