Laman

Senin, 13 Februari 2023

Keadilan Hukum untuk Para Gajah. Apakah Ada?

Ilustrasi gajah (Foto : Pixabay/sasint)

"Bila Gajah mati karena dibunuh, apakah orang-orang akan mengupayakan keadilan yang sama seperti manusia yang mati dibunuh?"

***

Pada 25 Mei 2022 tahun lalu, seekor gajah betina ditemukan mati dalam keadaan mengandung. Tak ditemukan tanda-tanda terkena jerat atau benda tumpul di tubuhnya. Namun, si gajah mengeluarkan darah dari mulut dan duburnya.

Beberapa pihak kemudian membawa gajah malang tersebut untuk dilakukan pemeriksanaan nekropsi guna dicari tahu penyebab kematiannya.

Pada bulan Agustus 2022, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) mengungkapkan bahwa gajah betina tersebut mati karena diracun. Lebih tepatnya, ia mati setelah memakan nanas yang terkena racun.

Baca jugaPenerapan Transisi Energi, Solusi Jitu Kurangi Selimut Polusi

Menurut Genman S Hasibuan selaku kepala BBKSDA Riau, racun yang menyebabkan kematian gajah itu diduga diletakkan dalam buah nanas yang ditemukan dalam lambung gajah.

Tak heran, setelah memakan nanas tersebut si gajah meregang nyawa dan pada akhirnya ditemukan oleh warga dalam keadaan mati. 

Sungguh, pertama kali membaca berita mengenai gajah ini, saya sesak minta ampun. Air mata mengucur begitu deras tanpa berhenti. 

Saya membayangkan bagaimana si gajah hamil yang kelaparan begitu bahagia menemukan nanas yang tergeletak, lalu memakannya dengan lahap karena tak tahu bahwa di dalamnya ada zat beracun.

Kemudian, si gajah merasa sakit minta ampun karena racun yang ia makan bereaksi pada tubuh. Si gajah yang hanya sendirian itu merintih keras, namun tak ada manusia yang datang menolong hingga menghembuskan nafas terakhir bersama bayinya.

Anak dan induk gajah dalam potret yang menakjubkan (Foto : Pixabay/0fjd125gk87)

Ah, tiap kali membayangkan proses kematian si gajah. Hati saya terkoyak. Mau berbicara pun rasanya susah saking sesak di tenggorokan. Ada tangis tanpa suara dalam diri saya. Ada ribuan pertanyaan menghujam pikiran saya. Namun satu pernyataan utama, 

"Apakah gajah yang dibunuh itu bisa mendapatkan keadilan hukum dari manusia?"

Sangat sulit memang mempertanggungjawabkan kematian gajah yang notabene merupakan hewan bukan manusia. Jika manusia mengalami tindak kejahatan, ada manusia lainnya yang bisa melaporkan itu kepada pihak yang berwajib.

Namun berbeda dengan gajah. Saat mereka mati karena terkena jeratan, sengaja dibunuh untuk diambil gadingnya, atau diracun, tak ada gajah lain yang bisa bersuara untuk keadilan sesamanya.

Mereka hanya bisa bersedih ketika melihat temannya kesakitan. Tak mampu berbuat banyak untuk menolong. Hanya kepada manusia baik-lah mereka akhirnya bisa meminta pertolongan. Hanya kepada manusia pedulilah, gajah-gajah bergantung untuk mendapatkan keadilan.

Ketentuan mengenai adanya tindak pidana perburuan liar (termasuk gajah)

Pasal 40 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Di dalam Pasal tersebut disebutkan bahwa sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap pelaku yang sengaja melakukan pelanggaran perburuan liar yaitu pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Melihat aturan hukum yang demikian ringan, pantaslah bila para pemburu ilegal tidak kapok untuk membunuh para gajah. Mereka hanya terancam hukuman maksimal 5 tahun. Itupun bila ketahuan dan tertangkap.

Bagaimana dengan pemburu ilegal yang tak tertangkap? Ini masih membahas pemburu ilegal. Belum membicarakan masyarakat teledor yang membunuh gajah dengan racun atau jerat karena ditengarai menganggu lahan atau tempat tinggal.

Keberadaan manusia yang semakin besar membutuhkan untuk industri, pertanian dan rumah. Lahan tersebut didapatkan melalui pembukaan hutan yang mana menghancurkan habitat para satwa, termasuk gajah.

Akibatnya, gajah-gajah kehilangan lingkungan tempat tinggal serta tempat mencari makan. Tak heran bila mereka kemudian menuju ke wilayah manusia untuk mencari makan. Dan kondisi itulah yang menyebabkan konflik antara gajah dan manusia selalu memanas.

Menurut data World Wildlife Fund (WWF) yang dinukil dari manfaat.co.id, pembunuhan gajah Lampung dalam satu dekade berjumlah 129 ekor di Sumatera terutama di Propinsi Riau. Sebanyak 59 persen kematian gajah Sumatera karena diracun, 13 persen diduga diracun dan 5 persen karena senjata api.

Gajah yang mati dan habitat yang rusak (Foto : ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)

Padahal gajah memiliki manfaat yang luar biasa bagi alam dan lingkungan,

  1. Gajah membantu menyebarkan benih-benih tanaman melalui makanan yang mereka konsumsi.
  2. Gajah membantu menyeimbangkan jumlah tanaman yang ada di hutan
  3. Gajah memberi pupuk alami melalui kotoran yang mereka buang
  4. Gajah membuka jalan-jalan di hutan sehingga memudahkan hewan lain bahkan manusia untuk melintas.

Konflik antara gajah dan manusia tak hanya menyebabkan kematian pada pihak gajah saja tetapi juga manusia. Gajah-gajah secara brutal masuk ke perkampungan dan mulai merusak rumah warga. Salah satu kasus yang terjadi di Aceh beberapa waktu lalu.

Apakah gajah harus dialahkan lantas dibunuh begitu saja?

Sebagai manusia, cukup sulit memang untuk membela sesama manusia. Masalahnya, gajah-gajah tersebut hanya mengikuti naluri kehewanan dan rasa marah karena lingkungan tepat tinggalnya dirusak. 

Sedangkan manusia, mereka membuka lahan dengan bebasnya tanpa melihat berapa banyak hutan yang dibabat. Berapa banyak satwa yang kehilangan habitat bahkan terbunuh selama proses pembukaan lahan. Sungguh, membayangkan saja rasanya menyedihkan.

Baca Juga Perubahan Iklim dan Pentingnya Keadilan Iklim untuk Bumi Lebih Baik

Bagaimana jika 10, 15 dan 20 tahun kedepan Indonesia kehilangan para gajah dan satwa lainnya? Masihkah ada yang peduli dengan kepunahan yang mereka alami? Bagaimana jika suatu hari nanti, generasi mendatang tahu gambaran gajah hanya dari buku atau catatan sejarah. Bukankah itu menyesakkan?

Ya, keadilan hukum untuk para gajah saat ini memang belum optimal. Namun harapan saya kedepan, gajah maupun satwa lainnya mendapatkan keadilan hukum sehingga keberadaan mereka terlindungi dari manusia-manusia tak bertanggungjawab. 

Sumber referensi bacaan :

  • Bobo Grid : https://bobo.grid.id/read/08678350/manfaat-tubuh-besar-gajah-bagi-alam-
  • Manfaat.co.id : https://manfaat.co.id/manfaat-gajah-sumatera

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam