Laman

Jumat, 24 Maret 2023

Menjejak ke Dayun : Dari Desa Tertinggal hingga Jadi Desa Wisata Nasional

Dok.Pri
"Embung ini mulanya digunakan untuk memadamkan api saat terjadi karhutla, namun kemudian kami berpikir untuk menjadikannya lebih bermanfaat yakni menjadi obyek wisata" (Penghulu Desa Dayun)

****

Panorama sawit berderet dari arah kanan kiri jendela mobil. Tanaman dengan nama ilmiah Elaeis Guineensis ini terlihat melambai-lambai sepanjang perjalanan menuju Kabupaten Siak. Mereka  berlagak tegak jumawa, seolah menunjukkan diri sebagai penguasa lahan.
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Tak lama, setelah bosan menatap hamparan pepohonan sawit, nampak sebuah tempat dengan penanda yang terkesan "Colorful". Penanda tersebut membebaskan pikiran saya dari rasa jenuh setelah melihat pemandangan yang begitu homogen.

Tempat tersebut bernama Embung Terpadu Dayun. Hari itu, mobil yang saya tumpangi datang ke lokasi bersamaan dengan rombongan para ibu dan anak. Mereka naik semacam odong-odong berwarna pink. Cukup heboh.


Setelah turun dari mobil, seketika itu kami langsung melesat masuk ke dalam lokasi wisata. Sebuah gapura putih bertuliskan Embung Terpadu itu nampak tegak menyambut dan mengucap "Selamat datang, teman-teman"
Saya berada di depan pintu masuk wisata embung Dayun (Dk.Pri)
Matahari memang cukup terik, namun perasaan bahagia dan ceria membuat kami tak berkutik. Ternyata, ada tempat cantik diantara pemandangan sawit yang sejak tadi mengawal perjalanan kami.
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Hari itu, saya berkunjung ke Dayun bersama teman-teman media, ditemani pengurus dari Perkumpulan Elang. Kami berniat belajar dan mengetahui lebih lanjut mengenai Wisata Embung yang terletak di Desa Dayun, Kabupaten Siak, Riau. 

Oh iya, perlu diketahui, Perkumpulan Elang sendiri merupakan LSM lokal yang punya peran penting dalam menggaungkan isu-isu perubahan iklim, lingkungan, hutan serta menjembatani masyarakat Dayun dan pemerintah daerah, perihal pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Bang Adam dari Perkumpulan Elang mulai mengarahkan kami untuk bertemu Bapak Nasya Nugrik, penghulu (pemimpin/kades) Desa Dayun di sebuah pendopo kayu dekat embung.
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Di pendopo, sudah ada beberapa tokoh masyarakat lain seperti petugas pemadam api, Pak Bhabin, ketua Pokdarwis dan salah satu pelaku UMKM di Desa Dayun. 

Masing-masing dari mereka membagikan cerita mulai usaha-usaha pemadaman api, kegiatan restorasi yang dilakukan masyarakat Dayun, proses pengelolaan embung hingga ide menghidupkan ekonomi melalui UMKM.

Pada tahun 2015 saat kebakaran besar terjadi di Riau, petugas dan masyarakat cukup kesulitan memadamkan api. Besar dan luasnya titik-titik api membuat petugas membutuhkan sumber air yang banyak.

"Waktu itu ada sekitar 500 hektare lahan di Dayun ini yang terbakar. Waktu itu sampai kacau juga negara tetangga karena asapnya" (Nasya Nugrik)

Kebakaran itu menjadi pengalaman berharga bagi siapapun. Sejak saat itu, pemerintah desa bekerjasama dengan babinsa setempat mulai mengedukasi masyarakat untuk tidak membakar api sembarang.

Bahkan, edukasi-edukasi telah diberikan sejak dini ke sekolah-sekolah mulai SD hingga SMA. Tujuannya jelas, supaya anak-anak sadar untuk menjaga tempat tinggal mereka dari potensi api yang memercik.
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Sebab, sekecil apapun api---misal dari bakaran rokok---bisa membesar karena berada di lahan gambut. Memang, saat kebakaran 2015, itu bukan disebabkan oleh masyarakat awam, ditengarai merupakan ulah oknum tak bertanggungjawab yang akan membuka lahan.

"Lho, kenapa sih tiap membuka lahan harus dibakar?"

Saat berbincang dengan Bang Janes Sinaga di kantor Perkumpulan Elang, beliau menjelaskan bahwa pembakaran yang dilakukan di lahan gambut berfungsi untuk mengurangi kadar asam yang terkandung. Jika kadar asam terlalu tinggi, maka lahan tersebut tidak dapat ditanami. 

Dengan demikian, pembakaran hutan gambut menjadi pilihan banyak oknum saat akan membuka lahan untuk ditanami kelapa sawit. Jujur, saat mendengar itu, saya cukup sedih membayangkan hutan di wilayah Riau yang semakin mengecil.

Melihat besarnya lahan kelapa sawit yang bisa dilihat dengan mata kepala membuat saya berpikir, bagaimana usaha-usaha pemerintah setempat untuk menjaga hutan yang masih ada agar tetap utuh dan lestari.

"Areal konservasi akan dijadikan pilot project kami dengan beberapa perusahaan untuk menjaga hutan yang ada di desa"

Pak Nasya mengatakan bahwa saat ini, pemerintah desa bersama masyarakat telah berkomitmen untuk menjaga hutan dengan melarang pembakaran sekecil mungkin. 

Selain itu, penguatan aturan-aturan yang berhubungan dengan penyelamatan lingkungan juga terus dipejuangkan agar hutan di Riau---termasuk di wilayah Dayun bisa terjaga. Di sinilah, peran LSM seperti Perkumpulan Elang juga penting.

Untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sawit, beberapa gebrakan mulai dilakukan. Misalnya membuka sektor pariwisata berbasis edukasi, bertani tanaman hingga pepohonan selain sawit. Nah, dari situlah tercetus ide untuk membuka pariwisata yang memanfaatkan embung Dayun. 

Bangkitnya Desa Dayun Menjadi Desa Wisata Nasional


Mulanya, Desa Dayun tidaklah seperti saat ini. Bertahun lalu, desa ini masuk sebagai desa tertinggal yang belum memiliki apa-apa. Lalu, muncul ide untuk mengubah embung yang semula berfungsi sebagai sumber air untuk pemadaman karhutla, menjadi embung wisata.
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Peran pemdes hingga LSM disini begitu krusial hingga Desa Dayun akhirnya mampu bangkit. Kini, Embung Terpadu Dayun menjadi penyejuk mata di antara cuaca panas dan gersangnya tanaman-tanaman sawit yang bertebaran. 
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Setelah selesai berdiskusi dengan penghulu dan beberapa tokoh masyarakat di Desa Dayun, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari lokasi wisata. Saya cukup terpesona dengan pernak-pernik yang ditampilkan.

Di Wisata Embung Terpadu Dayun, kita bisa menemukan sepeda air berbentuk bebek warna-warni. Saya waktu itu naik ke sepeda bebek berwarna pink, mencoba menelusuri embung seluas 6000 m² itu dengan kedalaman 1,5-2 meter itu.
Foto dari Laely M
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Saya tak menyangka bahwa embung tersebut mulanya hanya digunakan sebagai sumber air ketika kebakaran hutan terjadi. Seiring berjalannya waktu, tercetus ide untuk membuat embung lebih bermanfaat yakni dengan menjadikannya kolam wisata.

Tanpa diduga, ternyata Desa Wisata Dayun ramai dikunjungi wisatawan baik dari Kabupaten Siak sendiri maupun dari luar Kabupaten. Pengelola mengatakan bahwa ada berbagai jenis wisata yang bisa dinikmati pengunjung seperti wisata edukasi, wisata buatan hingga wisata alam. 
Data dari website ADWI Kemenparekraf
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Pada tahun 2022 lalu, Desa Dayun berhasil menyabet penghargaan dari Kemenparekraf sebagai 50 Besar Desa Wisata Nasional. Tentu, penghargaan ini menjadi salah satu bukti bahwa desa ini mampu bangkit menjadi luar biasa dari yang semula bukan apa-apa.
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Dengan menjadi bagian dari Anugerah Desa Wisata Nasional, maka Desa Dayun bisa memantikkan diri sebagai desa mandiri tanpa bergantung pada keberadaan sawit. Terlebih, masyarakat juga sudah mulai mengembangkan komoditas pertanian lain seperti semangka.
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Dok.Pri Nurul Mutiara R.A
Nomongin soal semangka, gak heran kalau Dayun menjadikannya sebagai motif batik, entah daun maupun bunganya. By the way, masyarakat umum yang ingin merasakan serunya membatik, bisa lho memilih wisata edukasi dengan membayar biaya perpaketnya. 

***
Beberapa sudut di Kampung Wisata Dayun dan harga
masuk tiap orang (Dok.Pri Nurul Mutiara R.A)
Yup, itu dia seberkas cerita tentang Desa Dayun yang kini telah bertransformasi menjadi Desa Wisata Nasional. Desa cantik yang tak lagi tertinggal ini telah menjadi tempat eisata dengan beragam atraksi, mulai dari outbound, wisata air, mural dayun, camping ground, hingga flying fox.

Selama menjejak ke tanah Riau, pengalaman wisata ke Dayun begitu menyenangkan, terkhusus, saat wisata alam ke Taman Nasional Danau Zamrud. Meski di lokasi tak ada sinyal, tapi kami bisa menikmati cantiknya hutan gambut dan makanan-makanan lezat dari nelayan. Sungguh tak terlupakan.


Semoga selanjutnya, ada rezeki dan kesempatan untuk bertandang kembali. Kemudian, mengurai kisah melalui blog sederhana ini. Salam hangat. 

2 komentar:

  1. Memang seharusnya potensi yang ada di desa bisa jadi pariwisata oatut dikembangkan ya bagus buat oemasukan buat kas desa dan kesejahteraan warga sekitar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener banget mbak. Alhamdulillah, Desa Dayun ini punya wisata ini supaya masyarakat tidak bergantung pada sawit.

      Hapus

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam