Laman

Rabu, 31 Maret 2021

Bijak Kelola Sampah Wisata dan Perumahan bersama Waste4Change

Bila bumi tak kita pikirkan sedari dini, mungkin saja pada 30, 40, 50 hingga 100 tahun ke depan, tak ada lagi anak muda mengenal hewan laut bernama paus, lumba-lumba, ubur-ubur, penyu, pinguin dan yang lain.

Mereka telah punah, tergantikan oleh sampah-sampah plastik dan limbah rumah tangga yang mengapung menutupi lautan. Lalu, setiap orang mulai menyesal atas ketidakpedulian mereka terhadap kebersihan laut dan alam.

*** 

Dua tahun lalu, tepatnya tanggal 16 Maret 2019, seekor Paus jenis Paruh Cuvier ditemukan mati di sepanjang pantai Mabini, Provinsi Compostella Valley, Filiphina.

Sesaat, setelah beberapa ahli didatangkan untuk memeriksa penyebab kematian si paus, terkuak bahwa mamalia laut tersebut mati karena mengalami dehidrasi parah serta bobot yang menyusut tajam.

“Lho Paus kan hidupnya di air, kok bisa sih kena dehidrasi?”

Demi mendapatkan data akurat mengenai penyebab dehidrasi akut yang dialami paus, hewan tersebut dibawa para peneliti untuk dilakukan nekroskopi—autopsi melalui bedah bangkai. 

Yang mengejutkan, ditemukan sampah seberat 40 kilogram dimana sebagian besar merupakan sampah plastik yang berasal dari aktivitas manusia.

Pantaslah bila mamalia laut itu mengalami dehidrasi parah hingga bobot yang menyusut tajam, sampah-sampah yang terakumulasi itu telah menghalangi masuknya air hingga makanan yang seharusnya memberi nutrisi bagi tubuh paus. 

Bayangkan, dari 40 kilo gram itu, peneliti menemukan karung beras, tas belanja, tas perkebunan, kantong plastik dan sampah berbahaya lainnya.

Gaes, semua sampah itu bukanlah jenis buangan yang bisa terurai dengan mudah layaknya dedaunan atau bahan organik. Sampah-sampah plastik—yang notabene hasil buangan manusia dari daratan itu—membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun agar bisa terurai dengan alam.

Tidak heran, bila jumlah sampah plastik terus meningkat dan tidak ada kepedulian sama sekali dari manusia untuk mengurangi keberadaannya, minimal mengolahnya kembali, paus, lumba-lumba, penyu, ubur-ubur hingga biota laut lainnya akan punah dengan sangat cepat. 

Mereka mati bukan hanya disebabkan oleh kelaparan karena berkurangnya sumber makanan, tetapi juga terserang penyakit yang disebabkan oleh microplastik—potongan plastik kecil tak terurai yang mencemari lautan.

M. Reza Cordova, peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI mengatakan bahwa hewan yang mengkonsumsi mikroplastik rentan terkena tumor pada bagian saluran pencernaan. Tentu, hal ini menjadi indikasi bahwa plastik hingga pecahannya mengancam biota laut hingga manusia bila terkonsumsi secara terus menerus.

Lima tahun lalu, tepatnya pada tanggal 9 Maret 2016, sekelompok mahasiswa dari sebuah kampus di Yogyakarta memasuki wilayah Pantai Parangtritis. Kepada penjaga pantai, mereka mengatakan berasal dari salah satu organisasi tingkat universitas bernama UKM Rekayasa Teknologi. 

Para mahasiswa itu hendak melakukan kegiatan bersih pantai bernama Resonansi (Restek Sosial Responsibility) sebagai bagian dari visi pengabdian masyarakat yang dimiliki organisasi.

Program bersih sampah di lokasi wisata yang pernah saya ikuti dari organisasi kampus (Dok.Pri)

Saya yang tengah membersihkan sampah-sampah
di Pantai Parangtritis bersama mahasiswa lainnya (Dokumentasi Pribadi)

Enam trashbag berwarna hitam besar disiapkan salah satu anak yang bertugas sebagai penyedia alat. Para mahasiswa yang tak lebih dari sepuluh orang itu mulai membagi wilayah bertugas menjadi 3 kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 orang.

Setiap orang mulai memungut sampah. Ternyata Pantai Parangtritis yang terkenal  sebagai lokasi wisata di Yogyakarta tak lepas dari sampah plastik buangan wisatawan. Mulai dari sedotan es, bungkus shampo, kemasan minuman, hingga tas kresek bisa ditemukan dengan mudah di atas pasir.

Kegiatan bersih pantai di Parangtritis (Dokumentasi Pribadi)
Sampah-sampah plastik yang tersebar bebas di pantai (Dokumentasi Pribadi)
Beberapa jenis sampah plastik yang kerap ditemukan di lokasi wisata (Dok.Pri)

Dibawah matahari yang kian menyengat, mereka tak menyerah. Masing-masing sampah itu akhirnya dimasukan ke dalam trashbag. Kemudian, setelah kurang lebih 6 jam mereka berada disana untuk membersihkan bibir pantai, Parangtritis terlihat lebih bersih dan cantik.

Wisata dan sampah. Meski berbeda, namun kenyataannya mereka berdua cukup dekat. Dimana banyak orang berwisata, pasti tak lepas dari keberadaan sampah yang berserakan. Itu bisa kulihat di tiap lokasi wisata yang kudatangi.

Sampahku tanggungjawabku. Andai tiap individu yang berwisata itu sadar akan kebersihan dan tanggungjawab membuang pada tempatnya, mungkin para mahasiswa itu tak perlu berjam-jam di bibir pantai untuk membersihkan sampah yang berserakan.

Mengapa membuang sampah pada tempatnya menjadi hal yang begitu sulit bagi tiap individu? Jawabannya, selain kurangnya aturan tegas dari pengelola wisata mengenai sampah, kesadaran individu soal kebersihan juga masih rendah.

Bukan hanya itu saja, di beberapa tempat, fasilitas tempat sampah belum memadai sehingga wisatawan kesulitan membuang sampah yang dibawa. Daripada terus menenteng sampah sepanjang perjalanan wisata, tentu mereka memilih membuang sampah di sembarang tempat.

Sampah plastik yang dibuang ke sungai dan berakhir di lautan bukanlah hal sepele. Ada kehidupan biota laut yang terancam karena keberadaan sampah plastik yang kian waktu semakin tebal menutupi lautan. Cukuplah tragedi kematian Paus paruh Cuvier menjadi kisah pilu yang kita saksikan karena keberadaan sampah plastik di perutnya.

Penggunaan plastik saat ini memang masih menjadi polemik berkepanjangan. Pada satu sisi, industri layaknya makanan, minuman, kemasan, kosmetik, serta elektronik membutuhkan keberadaannya, namun pada sisi lainnya, plastik memunculkan masalah terkait pencemaran lingkungan, terkhusus di lokasi wisata dan perumahan padat penduduk.

Saat ini solusi paling logis yang bisa dilakukan pengelola perumahan maupun lokasi wisata untuk meminimalisir peningkatan jumlah sampah adalah dengan mengelolanya secara bertanggungjawab. Ya, perlu adanya aturan ketat terkait pembuangan sampah termasuk memfasilitasi tiap sudut dengan tempat sampah berwarna-wani untuk tujuan pemisahan.

Mobil pick up yang mendatangi Klien (Sumber gambar : Waste4Change)

Demi merealisasikan pengelolaan sampah yang bertanggungjawab, tiap individu perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak agar pengerjaannya lebih optimal, salah satunya dengan menggandeng jasa pengelolaan sampah seperti Waste Management Indonesia atau Waste4Change.

Waste4Change menawarkan empat layanan bagi perusahaan maupun individu berupa consult, campaign, collect dan create. Masing-masing layanan tersebut akan memiliki program tersendiri yang mendorong kesadaran setiap orang mengenai pengelolaan sampah jangka panjang yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan.

Untuk tata kelola sampah level perumahan misalnya, Waste4Change menyediakan layanan Personal Waste Management dimana pengangkutan sampah bisa langsung diambil dari rumah klien yang bersangkutan seperti di luar negeri. Harapannya, selain perumahan, Waste4Change juga tersedia untuk mengelola sampah di tempat-tempat wisata. 

Polemik mengenai sampah plastik akan terus berlanjut sampai ditemukan bahan alternatif penggantinya. Dengan demikian, mengambil jalan tengah melalui pengelolaan bertanggungjawab adalah solusi paling logis untuk mengurangi sampah di lingkungan perumahan hingga wisata.

Waste4Change bisa jadi partner pengelolaan sampah yang bisa dipilih untuk Indonesia lebih bersih. Tak ada yang tidak mungkin untuk melakukan perbaikan terhadap bumi dan masa depan. Selagi ada niat tulus, semuanya menjadi mungkin. Sampahku tanggungjawabku. Mari mulai bijak mengelola sampah dari diri sendiri!


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021 [Penulis : Nurul Mutiara Risqi Amalia]"

#BijakKelolaSampah
#HariPeduliSampahNasional

Referensi tulisan :
  • Website Waste4Change
  • Instagram Waste4Change
  • Story Pribadi bersih Pantai di Parangtritis 
  • https://nationalgeographic.grid.id/read/131950205/mengapa-hewan-laut-kerap-memakan-plastik?page=all
  • https://lokadata.id/artikel/ada-40-kg-plastik-dalam-perut-paus-di-filipina
  • https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42309772

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam