Jumat, 31 Mei 2024

Jamu : Partner Kesehatan keluarga dan Warisan Berharga bagi Indonesia

Salah satu penjual jamu tradisional di Desa Kiringan tengah membuat jamu

“Awalnya jamu hanyalah selintas bagiku, tak ada yang istimewa darinya. Namun, ketika mencobanya pertama kali dan mendengar cerita kesederhanaan penjual jamu di Kiringan, Yogyakarta, aku pun jatuh cinta pada minuman herbal ini. Minuman asli Indonesia yang harus selalu diwariskan”

Sejak kecil, sebenarnya aku sudah mengenal jamu. Terutama karena tiap hari rumahku kedatangan tukang jamu bernama Mbak Yanti. Setiap pukul 7 pagi, Mbak Yanti akan berhenti di depan pos ronda dekat rumah seraya berteriak,

“Ayoooo jamu, Yuuuu, Jamu ne Yuuu!!”

Seketika Mbak Yanti memanggil, para ibu-ibu datang menghampiri sambil menyerahkan gelas kaca di tangan. Ada yang memesan jamu kunir asam, beras kencur, jamu brotowali hingga sirih. 

Masih ingat ketika itu aku masih kelas 1 SD, karena sakit batuk yang tak kunjung reda, akhirnya ibu membelikanku jamu brotowali yang dicampur sirih.

Kata ibu, aku harus meminum jamu tersebut supaya batuk pilek hilang dan badan bisa sehat kembali. Setelah meneguk sedikit saja, tahu apa rasanya? Pahit minta ampun. 

Tenggorokanku rasanya kaku. Selepas meminum jamu brotowali, aku tak henti-hentinya menelan air putih, berharap pahitnya menghilang.

Aku merasa kapok. Melihat mukaku yang menahan pahit, ibu menawari jamu beras kencur dan kunir asam. Katanya manis sebagai penghilang pahit. 

Namun, aku tak tertarik. Takut dibohongi agar mau minum jamu. Jujur saja, sejak itu aku tak pernah tertarik dengan jamu, terutama yang dijual berkeliling.

Dari Kiringan, Yogyakarta, Cintaku Bersemi pada Jamu Tradisional

Perjalananku bertemu jamu ternyata tak selesai ketika bocah. Setelah beranjak dewasa dan berkuliah di sebuah perguruan tinggi di Jogja. Aku mencicipi lagi jamu tradisional. 

Waktu itu, aku aktif salah satu organisasi tingkat universitas dan didaulat menjadi ketua panitia untuk acara bernama COMDEV (Comunity Development). Sebagai ketua panitia, jelas aku harus mendampingi dan mengawasi kegiatan. 

Kegiatan COMDEV menyasar anggota organisasi untuk terjun ke masyarakat secara langsung. Mulanya aku bingung soal pemilihan lokasi. Di Jogja banyak sekali desa wisata yang cukup menarik untuk dijadikan tempat belajar.

Kunjungan aku dan teman-teman organisasi di Desa Jamu, Kiringan, Yogyakarta 

Kemudian, salah satu kawan yang berasal dari daerah Parangtritis memberi ide mengunjungi desa pembuat Jamu tradisional di Kiringan, Bantul, Yogyakarta. Jarak Desa Kiringan dari kampus kurang lebih 25 kilometer. Membutuhkan waktu sekitar 35 bila menggunakan motor.

Menjejak ke Desa Kiringan, aku dan teman-teman organisasi disambut dengan ramah oleh Bapak Sutrisno. Beliau merupakan pengagas berdirinya Desa Wisata Jamu tradisional di Kiringan. 

Pak Sutrisno menjelaskan bahwa penjual jamu di Desa Wisata Kiringan berjumlah 115 orang. Semuanya merupakan perempuan. Biasanya, para ibu penjual akan berkeliling menggunakan sepeda dan menjajakan jamu tradisional melalui tumbler air. Menurut salah satu penjual, tumbler lebih praktis dan mudah dibersihkan.
Jamu tradisional di Kiringan yang menggunakan tumbler sebagai wadah jamu 
Saat itu, aku pertama kali mencoba jamu kunir asam yang diracik oleh salah satu penjual jamu. Awalnya sempat ragu karena aku tak pernah meminum jamu tradisional. Takut pahit. Tapi karena si ibu sudah memberikan gelas berisi jamu, akhirnya ku teguk sesegera mungkin. 

Ternyata rasanya segar dan nikmat. Herbal dari kunyit dan asam berlenggang kuat tapi tetap ramah di lidah. Aku juga merasakan sensasi pahit tapi tipis. Its okay, bagiku itu masih lumrah, tak sepahit jamu brotowali saat zaman SD dulu. 

Sejak mencoba minum jamu dari Kiringan itulah, aku menyadari kalau varian jamu ada banyak, dan tentu saja rasanya segar, terutama untuk varian kunir asam dan beras kencur. Kalau mau jamu brotowali, aku masih belum berani mencobanya. 
Istri Pak Sutrisna, penggagas Desa Wisata jamu di Kiringan
 memperkenalkan bahan-bahan pembuat jamu
Yeah, sejak kunjungan ke Desa Kiringan, Yogyakarta, aku jatuh cinta pada jamu tradisonal. Bahkan, tiap masa menstruasi tiba atau badan tak enak karena masuk angin, aku tak pernah melewatkan mampir ke mbok jamu dekat kosan. Jika beliau libur jualan, aku akan membeli jamu instan di minimarket. 

Pengalaman Ibu dan Simbah sebagai Pecinta Jamu


Bicara soal Jamu, aku akui bahwa itu benar-benar memberi manfaat bagi orang yang meminumnya. Sedikit bercerita, ketika hamil adikku, ibuku membeli sepaket Jamu tradisional. 

Berkat Jamu tersebut, stamina ibu selama masa nifas begitu terjaga. Masih ingat rasanya ketika ibu harus tidur selama seminggu karena luka jahit yang belum sembuh. 

Darah masih sering mengucur di atas tempat tidur. Lantas, ibu meminta dibuatkan jamu kemasan yang dibeli di toko herbal langganan. 

Sebenarnya, kebiasaan ibu meminum jamu memang berasal dari simbah. Sejak kecil, simbahku tak terbiasa minum obat-obatan. Makanya, simbah selalu sedia jamu di pagi dan sore hari.
Penjual jamu tradisional di sekitar rumah
Ketika punya anak pertama, simbahku datang menghadiahi ibu 1 kotak jamu tradisional instan. Aku lupa dengan merek-nya. Yang pasti, itu bukan jamu instan yang biasa dijual bebas. 

Jika bertemu dengan jamu keliling seperti Mbak Yanti, simbah biasanya akan membeli dan meminumnya. Bagi simbah, jamu merupakan obat yang tak bisa ditawar keberadaannya. 

Simbahku sudah terbiasa minum jamu sejak kecil. Menurut simbah, zaman dulu orang tak meminum obat-obatan pabrik seperti sekarang ini. Bila merasa demam atau masuk angin, orang tua simbah akan membeli bahan-bahan herbal di pasar dan meracik jamu sendiri.

Gak heran ini, simbah sudah katam dengan berbagai rasa jamu dari yang berasa manis untuk aktivitas harian hingga yang terasa pahit seperti jamu brotowali dan daun sirih untuk penyembuhan.

Jenis-jenis Jamu Tradisional Indonesia dan manfaatnya


Pada 6 Desember 2023 lalu, di Republik Botswana, UNESCO resmi menetapkan Jamu sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia. Adanya pengakuan tersebut menjadikan Indonesia sah sebagai pemilik jamu, si minuman herbal menyehatkan. 

Jamu harus menjadi warisan yang diagungkan sejak zaman dulu. Catatannya bahkan tertuang dalam relief Candi Borobudur. 

Sebagai generasi muda, kita wajib bangga. Nah, bicara tentang jamu, ternyata ada banyak variannya lho, mungkin bagi kamu yang suka jelajah rasa, bisa mencobanya, 

Jamu Kunir Asam

Jamu kunir asem adalah ramuan yang terbuat dari percampuran kunyit, asam Jawa dan bahan lainya. Minuman tradisional ini dikenal memiliki manfaat melancarkan haids, meredakan sakit, memperlancar pencernaan, mengurangi asam lambung, antibiotik, menyegarkan tubuh, dan menghilangkan jerawat.

Jamu Beras Kencur

Beras kencur merupakan jamu yang terbuat dari bahan-bahan utama berupa kencur, tumbukan beras, gula jawa, air dan jahe. Rasa jamu ini manis dan segar. Biasanya enak diminum di pagi hari setelah sarapan.

Berdasarkan informasi dari Alodokter, Jamu beras kencur dikenal memiliki manfaat bagi tubuh sebagai antiradang, antikanker, antioksidan dan antibakteri karena kandungan bahannya sepertif lavonoid, kalium, fosfor, magnesium, zat besi, mangan, dan zinc.

Jamu Brotowali

Brotowali merupakan tanaman jamu tradisional Indonesia yang biasa ditanam di pekarangan atau tumbuh liar di hutan. Ketika diolah, brotowali akan berasa pahit. 

Rebusan batangnya yang terasa sangat pahit biasa dijadikan obat reumatik, mengurangi gula darah, menurunkan panas, dan membantu mengurangi gejala kencing manis.

Para tetangga yang menderita gula darah, sering memesan jamu Brotowali untuk menurunkan kadar gula darah dalam tubuh. Tentu, minum jamu ini tak boleh ditambahkan gula karena bisa mengurangi manfaatnya.

Jamu Daun Sirih

Daun siri ternyata juga bisa dijadikan minuman jamu. Beberapa pedagang jamu tradisional di sekitar rumah sering membuat rebusan daun sirih dan bahan lainnya lalu menawarkan ke konsumen.

Aku sendiri tak terlalu suka dengan rasa jamu ini karena pahit, tapi menurut Alodokter, daun sirih mengandung,
  • Vitamin A: 1,9–2,9 mg
  • Vitamin B1: 13–70 mcg
  • Vitamin B2: 1,9–30 mcg
  • Asam nikotinat: 0,63–0,89 mg
  • Protein: 3%
  • Iodin: 3,4 mcg
  • Sodium: 1,1–4,6%
Semua kandungan di atas sangat bermanfaat bagi tubuh. Tak heran, orang meminum jamu daun sirih untuk menurunkan kolesterol, menjaga gula darah, anti septic, menjaga gigi dan mulut, meredakan nyeri haid dan menjaga kesehatan organ perempuan.

Jamu Temulawak

Temulawak merupakan tanaman obat dengan banyak senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan. Kandungan penting yang ada pada temulawak yakni vitamin, kalsium, zat besi, sodium, potasium, hingga asam folat. 

Selain itu, tanaman herbal ini juga mengandung zat aktif seperti pati, kurkumin, minyak atsiri, turmerol, borneol, dan phellandren. Biasanya temulawak dimanfaatkan oleh orang tua untuk menambah nafsu makan.

Aku sendiri sering membeli minuman jahe dicampurkan temulawak. Menurut ibuku, ketika sakit, temulawak efektif menurunkan demam dan membuatku doyan makan. 

Jamu Jahe 

Jahe merupakan tanaman rimpang yang memiliki rasa pedas dan biasa dipakai sebagai bumbu dapur. Namun, jahe juga bisa dimanfaatkan sebagai minuman jamu, terutama untuk menghangatkan tubuh dan mengobati masuk angin.

Jahe mengandung vitamin C, vitamin B6, mikronutrien seperti magnesium, potasium, tembaga, mangan, serat, dan air. Jahe juga tinggi fitokimia dan polifenol. Gingerol, shogaol, dan paradol adalah tiga komponen aktif utama dari terpen yang ditemukan dalam jahe.

Saat ini jamu jahe sudah bisa ditemukan dalam bentuk minuman instan yang bisa kita beli di supermarket atau minimarket terdekat. Atau, kalau mau bentuk racikan jamu tradisional, kita bisa membelinya di tukang jamu keliling.

***

Itu dia variasi Jamu yang bisa dengan mudah kita temukan. Beberapa Jamu bahkan telah dikembangkan oleh pabrik, dibuat minuman instan yang gampang diseduh dan disimpan. Semakin ke sini, jamu menjadi minuman enak yang bisa dinikmati secara mudah dan cepat.

Hayoo, kalau pergi supermarket atau minimarket, kamu biasanya beli jamu instan apa nih? Kalau aku jahe dan beras kencur. Diseduh bersama es, rasanya segar sekali. I love Jamu so much!

Jamu Menjaga Stamina dan Melengkapi Hariku


Aku mulai menyukai Jamu ketika kuliah yakni setelah melakukan perjalanan ke Desa Kiringan lalu ditawari rasa Jamu yang segar dan nikmat. Bagiku saat ini, Jamu termasuk minuman yang kucari tiap aku merasa tak enak badan. 

Saat masa-masa menstruasi misalnya, perutku selalu memilih kesakitan di hari pertama dan kedua. Untuk meredakan rasa sakit, aku biasanya membeli Jamu gendong dekat rumah.
Jamu dekat rumah yang tiap pagi singgah, tersedia beragam jamu tradisional
Harganya murah meriah. Satu gelas Jamu, aku bisa membayar Rp 3000. Biasanya aku membeli Jamu beras kencur 3, Jamu kunyit asam 3 dan sari jahe untuk kucampur dengan segelas susu yang kuminum pada malam hari. 

By the way, semua jamu itu tidak kuminum sendirian, adik atau ibuku biasanya minta untuk dimasukkan ke kulkas. Ketika sudah dingin, mereka akan meminumnya. Itu setiap hari lho.
Jamu kunyit asam dan beras kencur yang selalu aku beli tiap pagi
Rutin, aku melakukan itu selama 5 hari tiap masa-masa menstruasi tiba, badanku serasa lebih enak. 

Jujur saja, aku memang menghindari penggunaaan obat-obatan terlalu sering agar tak ketergantungan. Sebagai gantinya, aku rutin minum jamu beras kencur, jahe atau jamu kunir asam.
 
Jamu adalah warisan berharga untuk menjaga kesehatan keluarga sekaligus aset berharga bagi Indonesia. 

Sejak zaman nenek moyang, tepatnya tertulis di relief Candi Borobudur, jamu menjadi obat tradisional. Tak heran, jamu diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia.
Aku dan segelas jamu kunyit asam setelah sarapan pagi
Sebagai generasi muda, kita layak berbahagia dengan jamu-jamu yang dikembangkan. Cara menikmati kebanggaan itu dengan menjadikan jamu tradisional sebagai partner sehat. 
Meminum jamu untuk menjaga stamina tubuh, yuk
Aku pun mulai rutin meminum jamu untuk menjaga kesehatan tubuh. Yup, cintaku pada Jamu bersemi ketika aku berada di Kiringan, Yogyakarta, kala itu. 

Akhir kata,

Mari merayakan dengan bangga Hari Jamu Nasional setiap tanggal 27 Mei. Jamu warisan dari Indonesia untuk menjaga kesehatan keluarga dan masyarakat dunia. Kalau bukan kita yang mengenalkan ke generasi selanjutnya, siapa lagi???

Referensi :
  • https://kemlu.go.id/darwin/id/news/27480/unesco-resmi-menetapkan-jamu-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-dari-indonesia#:~:text=Jamu%20menjadi%20warisan%20budaya%20tak,sehat%20jamu%20untuk%20masa%20depan.
  • https://www.alodokter.com/5-manfaat-jamu-beras-kencur-untuk-kesehatan
  • https://www.sidomuncul.co.id/id/product/daun_sirih.html
  • https://www.kompas.com/food/read/2021/02/28/080600475/resep-jamu-beras-kencur-minuman-tradisional-yang-bisa-tambah-imunitas-tubuh
  • https://www.halodoc.com/artikel/4-jamu-tradisional-indonesia-dengan-segudang-manfaat

24 komentar:

  1. Jamu kunyit asam yang selalu saya konsumsi sampai sekarang
    Awalnya iseng ikutan saudara yg langganan minum jamu sekarang malah keterusan. Khasiatnya emang terasa bermanfaat

    BalasHapus
  2. wah ternyata ada juga ya desa wisata jamu. berarti mata pencaharian orang-orangnya dominan membuat jamu ya. kali-kali mampir ah, biar bisa melihat pengolahan jamu tradisional dan original

    BalasHapus
  3. Jamu.. jamu... para keponakan saya juga suka minum jamu, tapi jamu Buyung Upik hehehe. Tapi memang jamu ini minuman yang paling menyehatkan. Terus diramu untuk berbagai kebutuhan. Termasuk buat Bapak-bapak juga suka jamu pegal linu. Harganya pun masih sangat terjangkau.

    BalasHapus
  4. Membiasakan keluarga untuk mengkonsumsi jamu dapat menjadi langkah mudah untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas. Jamu tidak hanya menyehatkan, tetapi juga memiliki rasa yang unik dan lezat.

    BalasHapus
  5. Aku suka banget dengan jamu kunyit asem dan beras kencur. Ini bisa dikonsumsi sehari-hari untuk menjaga stamina. Trus waktu abis melahirkan, aku disuruh minum jamu uyup-uyup, katanya agar ASI bisa lancar, dan tentunya bikin badan lebih segar.

    BalasHapus
  6. Aku belum belum pernah kasih coba jamu ke Paksu, nanti mau coba bikin dan kasih ke dia, gimana reaksinya.

    BalasHapus
  7. Dari dulu saya juga minum jamu. Ada penjual jamu langganan mama. Pernah nyobain jamu brotowali juga, dan rasanya memang bikin kapok hehe.

    BalasHapus
  8. Daku konsumsi jamu pernahnya yang kunyit asam sama yng tolak angin. Maklum efek kerja di ruangan ber-AC kudu antisipasi biar gak masuk angin

    BalasHapus
  9. jamu itu tradisi orang jawa ya. kayak keluarganya ayah nih biasa minum jamu. klo mama yg orang palembang gak biasa minum jamu.

    BalasHapus
  10. Brotowali mix sirih. Ya ampuuun, duet maut itu sih. Hehe... Syukurlah udah nggak trauma jamu lagi ya, Mbak. Pengalaman pertama memang sangat menentukan langkah selanjutnya.

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah di kampung saya pun masih ada mbak-mbak yang keliling jualan jamu tradisional, bedanya kalau dulu jamunya digendong pakai bakul, sekarang udah modern sampai ada yang menjajakannya pakai sepeda motor segala

    BalasHapus
  12. Kangen banget sama jamu gendong :(( di sini udah juaraaaang banget. padahal itu yang paling enak dibanding jamu2 di cafe2

    BalasHapus
  13. Ah iya, aku dulu juga suka minum jamu gendong
    Jamu adalah ramuan tradisional kebanggaan bangsa yang membantu menjaga kesehatan keluarga

    BalasHapus
  14. Jamu gendong atau jamu yang dibawa mbok jamu yang naik sepeda memang menurutku the best sih. Pernah bikin sendiri rasanya nggak sama

    BalasHapus
  15. Walau ga ada hari Jamu nasional sekalipun, aku jg ttp minum jamu nih kak. Semua sih demi kesehatan.

    Ga nyangka ada desa wisata jamu spt ini ya kak. Ini potensi desa yg patut dilestarikan. Bahkan ditularkan ke desa2 lain agar mencontohnya.

    BalasHapus
  16. Kesukaanku sih kunyit asam sama beras kencur. Apalagi kalo badan udah pegel², selain pijit, jamu bisa jadi andalan.

    BalasHapus
  17. sejak kecil aku juga sudah akrab sama jamu. Biasanya sih jamu ke mbak-mbak jual jamu. Beras kencur, kunir asem. Berasa kayak minuman seger aja gitu...

    BalasHapus
  18. Suara penjual jamu di desa saya ketika pagi, "Jamu, jamu, beras kencur.. kunir asem, hmm seger." Seperti hipnotis, banyak yang orang yang keluar rumah menyerbu untuk membelinya.

    Jamu ini minuman yg sangat berkhasiat, dari bahan alami yg mudah diddapatkan, cara membuat ya juga cukup praktis.

    BalasHapus
  19. Baru tau kalo ada hari jamu. Petut dirayakan sih emang minuman tradisional yang menyehatkan ini.

    BalasHapus
  20. Jamu, ah sudah lama aku tak meminumnya. Mungkin 20 tahun lebih, nggak tahu gimana sekarang rasanya, ya pastinya tetap pahit. Dulu kalau minum selalu dicampur madu, biar nggak terlalu pahit.

    BalasHapus
  21. Bener yaa.. kata orang bahwa selalu ada yang pertama untuk jatuh cinta.
    Sejak nyobain jamu pertama kali, langsung ga takut dan jatuh cinta dengan minum jamu karena manfaat alaminya untuk kesehatan tubuh. Paling suka sama jamu beras kencur.

    BalasHapus
  22. Ternyata varian jamu itu banyak, ya. Jadi inget dulu simbah juga sering bikin jamu tapi dari bentis. Rasanya asam gimana gitu, tapi efeknya bikin mbah tetep sehat sampai tua.

    BalasHapus
  23. jamu memang khasiatnya banyak banget, selain untuk kesehatan juga untuk ibu melahirkan nih yang mau nifas dan menyusui, saya pernah soalnya dan terasa banget khasiatnya, hehe

    BalasHapus
  24. Aku dan keluarga termasuk yang mendapatkan manfaat sehat dari jamu yang dikonsumsi. Saat badan lagi berasa mau meriang, jahe merah campur serai bisa jadi andalan.

    BalasHapus

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam