Laman

Senin, 20 Maret 2023

Dari TN Zamrud hingga FOLU Net Sink 2030 sebagai Upaya Mitigasi Perubahan Iklim

Hutan yang menutupi Danau Zamrud (Dok.Pri)

“Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.” Eric Weiner 

*** 

Perahu Pompong membelah Danau Zamrud siang itu. Riak air gambut berwarna kecoklatan terlihat jelas tatkala kami bergerak dari dermaga penjemputan hingga ke bagian tengah danau. 

Sembari menyeimbangkan diri selama di perahu, saya bersama kawan-kawan dari media, Perkumpulan Elang dan petugas BBKSDA setempat berusaha secermat mungkin mengamati panorama Taman Nasional yang masih asri itu.

Perjalanan ke rumah nelayan menggunakan perahu (Dok.Pri)

Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 50 menit itu, kami disuguhi bentang alam yang sangat indah, alami serta rimbun. Air gambut berwarna merah kecoklatan yang menjadi ciri khas Danau Zamrud seolah mengucapkan selamat datang kepada kami.  

Halo manusia, inilah kami kawasan Danau Gambut terbesar ke-2 dunia, selamat menikmati kekayaan alam yang kami miliki. Air gambut kecoklatan, hutan tropis yang masih pekat, kelelawar yang beterbangan hingga kicau burung yang berbahagia

Warna air di danau Zamrud karena pengaruh zat organik dari gambut (Dok.Pri)

Kekaguman yang begitu besar bergolak dalam benak. Bagaimana mungkin saya tak pernah tahu jika di bagian barat Indonesia, tepatnya di Kabupaten Siak, Riau ini ada Danau Gambut yang demikian indah dan luas. Sebelumnya, ketika bicara tentang Danau, Toba atau Sentarum selalu jadi peringkat teratas.  

Dari perjalanan inilah kemudian pikiran saya bertualang, mencoba meraba begitu kayanya alam Indonesia apabila dijaga dengan baik dan benar.  

Danau Zamrud termasuk dalam kawasan Taman Nasional yang terbentang seluas 31.480 hektare. Bentang alam yang bisa dilihat berupa perairan dan pulau-pulau yang mengapung di bagian tengah hingga sisi kiri dan kanan.  

Kawasan danau Zamrud terbagi menjadi 2 yakni danau besar seluas 2.416 hektare dan danau bawah seluas 360 hektare. Orang-orang lokal disini biasa menyebut danau dengan istilah “Tasik”. Jadi jangan bingung ketika mendengar kalimat tasik besar dan tasik kecil. 

Hari itu, 15-16 Maret 2023, saya bersama teman-teman mencoba menyusuri tasik besar menggunakan perahu pompong milik BBKSDA. Kami berangkat sekitar pukul 12 siang dari titik penjemputan perahu dan berhenti di salah satu rumah nelayan di tengah danau.

Rumah nelayan yang berada di bagian tepi danau (Dok.Pri)

Rumah nelayan tempat kami berhenti itu mengapung di antara rimbunnya hutan dan air danau. Mulanya, kami hendak menginap disana untuk satu malam. Hanya saja, beberapa pertimbangan membuat kami memutuskan  hanya transit untuk makan siang. 

Rumah nelayan tempat kami makan siang dan singgah sementara (DokPri)

Sekitar pukul 13.00 lebih, kami memutuskan melanjutkan perjalanan berkeliling Danau. Lensa kamera yang kami miliki mulai aktif menjepret tiap fenomena di sekeliling.  

Tiba-tiba dari arah pepohonan yang rimbun, muncul kelelawar yang terbang secara mengelompok. Mungkin, mereka kalut setelah mendengar deru mesin yang begitu keras sehingga membuat mereka bergegas menjauh mencari lokasi lainnya.

Kelelawar yang terbang di antara pepohonan (dok.pri) 
Zoom kelelawar yang ada di Taman Nasional Danau Zamrud (dok.pri)

Para kelelawar itu merupakan satu dari sekian banyak satwa yang hidup di kawasan Taman Nasional Danau Zamrud. Perlu diketahui, ada beragam jenis flora dan fauna endemik yang menempati kawasan tersebut, mulai dari tanaman, primata, mamalia, berbagai jenis burung hingga ikan dan udang.  

Siang itu, kami berkesempatan secara langsung menyaksikan nelayan Danau Zamrud menangkap udang dari dalam keranjang yang terapung di air.

Keranjang-keranjang berisi udang milik nelayan Danau Zamrud (Dok.Pri)

Keranjang-keranjang tersebut diikat menggunakan tali yang ditandai oleh botol-botol plastik. Jadi jangan salah, saat membelah Danau, kita akan melihat botol-botol plastik terombang-ambing. Itu bukanlah sampah yang sengaja dibuang ke air. 

Masyarakat nelayan di wilayah TN Danau Zamrud sangat menggantungkan hidup pada alam. Mereka mengais rezeki dengan menangkap udang dan beragam ikan seperti tapah, toman, baung, lele hingga ikan tawar lain.

Toman-toman yang diletakkan dalam keranjang, ada sekitar
4 toman ukuran besar yang ditangkap hari itu (Dok.Pri)
Salah satu nelayan bernama Abdul Muis yang memegang toman
hasil tangkapan (Dok.Pri)

Dengan kondisi alam yang masih lestari di wilayah Danau Zamrud, membuat komoditas tersebut mudah didapatkan. Alam yang sehat, masih menyediakan bahan-bahan makanan bagi nelayan setempat, pun dengan satwa-satwa yang hidup di area hutan.

Pertanyaannya sekarang, apakah kawasan hutan tropis di Taman Nasional Danau Zamrud akan tetap lestari hingga 15, 20, 30, 50 atau 100 tahun mendatang? 

Tentu saja. Hutan-hutan di kawasan TN Zamrud yang berada di Semenanjung Kampar-Karumutan ini akan tetap lestari apabila dijaga bukan hanya dari masyarakat tetapi juga pemerintah melalui berbagai kolaborasi. 

Pemerintah Kabupaten Siak dan Pelalawan sendiri sudah berkomitmen terhadap FOLU Net Sink 2030, tentu saja, itu tak lepas dari dukungan semua, termasuk NGO lokal seperti Perkumpulan Elang, Perkumpulan Mandala Katalika Indonesia, dan EcoNusantara.

Hari kedua menginjakkan kaki ke Pekanbaru, saya dan kawan-kawan mencoba belajar dan berdiskusi mengenai upaya-upaya pengurangan emosi karbon melalui restorasi hutan dan lahan gambut.

Teman-teman media dan blogger tengah berdiskusi mengenai
Folu Net Sink 2030 di kantor Perkumpulan Elang (Dok. oleh Fachrul Adam)

Bertempat di kantor Perkumpulan Elang, media dan blogger diajak untuk menjelajah pikiran mengenai mitigasi berkelanjutan melalui pendekatan FOLU Net Sink 2030. Berdasar nukilan informasi dari kabaralam.com, ada 15 ruang lingkup dari FOLU Net Sink 2030, yaitu:

  • Pengurangan laju deforestasi lahan mineral.
  • Pengurangan laju deforestasi lahan gambut dan mangrove.
  • Pengurangan laju degradasi hutan-hutan lahan mineral.
  • Pengurangan laju degradasi hutan lahan gambut dan mangrove.
  • Pembangunan hutan tanaman.
  • Pengelolaan hutan lestari.
  • Rehabilitasi dengan rotasi.
  • Rehabilitasi non-rotasi.
  • Restorasi gambut dan perbaikan tata air gambut.
  • Rehabilitasi mangrove dan aforestasi pada kawasan bekas tambang.
  • Konservasi keanekaragaman hayati.
  • Perhutanan sosial.
  • Introduksi replikasi ekosistem, ruang terbuka hijau, dan ekoriparian.
  • Pengembangan dan konsolidasi hutan adat.
  • Pengawasan dan law enforcement dalam mendukung perlindungan dan pengamanan kawasan hutan.

Sebagai blogger yang beberapa kali mengkampanyekan tulisan mengenai lingkungan, saya sadar bahwa untuk mencapai Net Zero Emission, dibutuhkan aksi-aksi nyata yang bersifat mitigasi serta berkelanjutan. Terlebih, Indonesia termasuk negara dengan kawasan hutan tropis dan gambut terluas di dunia.

Bila melihat kembali keluaran GRK di Indonesia, sekitar 40% berasal dari sektor hutan dan lahan. Dengan demikian, untuk menggapai target FoLU (Forest and other Land Uses) Net Sink 2030, salah satunya dalam hal pelestarian lahan gambut dan mangrove, maka perlu memperkuat pengelolaan hutan lestari, tata kelola lingkungan hidup, dan tata kelola karbon.

Janes Sinaga dan MUI dari Jakarta (Dokumentasi Pribadi)

"Masyarakat terbiasa membakar lahan gambut untuk mengurangi asam yang ada pada gambut, dengan demikian, perlu ada pendampingan agar pembakaran itu bisa dicegah" (Janes Sinaga-Direktur Eksekutif Perkumpulan Elang).

Saat ini, tutupan hutan yang dimiliki oleh Semenanjung Kampar-Karumutan masih sekitar 600.000 dari total 1300.000. Sisa titupan hutan tersebut memiliki fungsi yang besar dalam menurunkan emisi karena kondisi hutan yang masih pekat.

Demi mengupayakan agar hutan sebesar 600.000 itu tak tersentuh deforestasi, sejumlah NGO lokal seperti Perkumpulan Elang bersinergi dengan pemerintah daerah setempat memasukkan program restorasi dan pemulihannya ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pelalawan 2021-2026.

Harapan kedepan, program restorasi menjaga ekosistem Semenanjung Kampar-Karumutan sehingga potensi penyerapan karbon melalui hutan bisa tercapai. Meski begitu, tantangan yang dihadapi adalah aksi ilegal logging dan alih fungsi hutan menjadi kebun sawit oleh perusahaan maupun masyarakat.

Dokumentasi Pribadi

Perjalanan ke Taman Nasional Danau Zamrud membuka mata saya bahwa ketergantungan flora dan fauna serta masyarakat terhadap hutan masih sangatlah kuat. Hutan gambut yang masih utuh, bebas dari sampah serta air yang tidak tercemar telah menyediakan sumber pangan yang tidak terelakkan.

Pantaslah bila udang rawa, ikan toman, ikan tapah, kelelawar, hingga berbagai jenis burung bisa dengan mudah kami temui. Sebab, lingkungan TN Zamrud ini masihlah lestari. Bayangkan bila suatu hari, kserakahan manusia membuat itu terkikis, maka kutipan Eric Weiner---mungkin saja---akan menjadi kenyataan.

Tentu kita tak mau jika 100 tahun yang akan datang, anak-anak muda tak lagi tahu bahwa Indonesia memiliki Danau Gambut terbesar ke-2 dan hutan tropis terbesar ke-3 karena rusaknya ekosistem oleh aktivitas manusia. Itu menyedihkan, Teman!

Dokumentasi pribadi

Melalui pendekatan FOLU Net Sink 2030 diharapkan mampu menjadi solusi serta mitigasi perubahan iklim yang berasal dari sektor kehutanan dan lahan. Dengan demikian, dua keuntungan bisa didapatkan sekaligus, yakni iklim yang membaik dan hutan yang bebas deforestasi. 

Lalu, Bagaimana dengan Peran Swasta? 

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam mencari solusi untuk mengatasi iklim melalui pendekatan FOLU Net Sink 2030, diperlukan sinergitas yang kuat. Termasuk dari pihak swasta. 

Pada 20 Maret 2023 di Jakarta, koalisi serumpun yang terdiri dari Perkumpulan Elang dan Manka mengadakan FGD bersama pihak swasta.

(Dokumentasi Perkumpulan Elang)

Seperti apapun, pihak swasta punya andil penting dalam mengimplementasikan langkah-langkah konkret pemulihan iklim melalui fungsi hutan dan lahan di Riau. 

Ada sekitar 8 perusahaan swasta yang hadir dalam FGD bertajuk "Restorasi dan Pemulihan Ekosistem Semenanjung Kampar-Kerumutan dengan Pendekatan Folu Net Sink 2030 sebagai Solusi Iklim Riau untuk Global" hari itu. 

Demi memperkuat diskusi, FGD juga dihadiri oleh pemerintah Kabupaten Siak, pemerintah Kabupaten Pelalawan, APHI, Kadin dan Kedutaan Norway. Beberapa poin penting yang disepakati antara swasta, pemerintah dan LSM yang hadir kala itu yakni, 

  1. Pengembangan platform untuk pencatatan pengurangan emisi tingkat landskap
  2. Pengembangan dan perumusan kelembagaan tingkat landskap
  3. Penyampaian progress inisiatif tersebut dalam COP 28 di Dubai

Demikianlah beberapa pembahasan yang tengah diupayakan agar kolaborasi pemulihan iklim bisa tercipta. Tentunya, semua sektor harus bekerjasama secara nyata dan berkelanjutan. Sebab, hutan di Riau tak akan bisa terselamatkan andai tak ada langkah-langkah serius untuk menjaganya. 

28 komentar:

  1. Masya Allah, keren sekali Taman Nasional Danau Zambrud ini ya, Mbak. Masih terjadi kelestariannya, sehingga terus memberi manfaat bagi nelayan setempat. Kalau lestari terus, akan mudah mencari ikan.
    Tapi dari cerita Mbak Muti, hewan memang tidak ingin diusik manusia. Contohnya mendengar deru mesin perahu saja, rombongan kalelawar merasa terusik. Apalagi kalau terjadi penebangan liar, sampai perburuan satwa. Inilah tugas kita semua utuk terus bersama menjaga kelestarian alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Pak Bambang. Tugas kita untuk menjaga hutan dengan cara yang kita bisa

      Hapus
  2. Alhamdulillah, senang rasanya membaca tentang kelestarian alam di Indonesia. Semoga semakin banyak yang bergerak, bersama-sama menjaga agar alam dan lingkungan di sekitar kita tetap terjaga dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bang. Bener banget. Bergerak bersama walau langkah2 kecil asalkan konsisten pasti bisa memberi perubahan

      Hapus
  3. MasyaAllaah, mata langsung ijoooo dan bahagiaaa meskipun cuma bisa baca dari blog dan lihat situasinya dari foto.
    Alhamdulillaahnya semoga di sana akan selalu "virgin" ya kak hutannya, hewannya pada kasian nti kalo kayak di Jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Sebenarnya kalau di perjalanan menuju Siak, isianya sawit semua sih mbak. Gak sehijau ini hiks

      Hapus
  4. Aku langsung kepoin google map, di mana sih tempatnya Danah Zamrud tsb. Engga duga sama sekali ada Danau Indah di tengah TMN. Harus nih dijaga kawasan tersebut jangan sampai menciut lalu mengering deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener banget mbak. Sebenarnya ini yang sedang diusahakan oleh teman-teman NGO di Riau melalui Perda Siak Hijau untuk jaga hutan di wilayah Siak biar tetap lestari

      Hapus
  5. Baca ini, harapannya semoga selalu terjaga keasriannya ya. Terhindar dari tangan² jail dan tidak berkepentingan. Maka peran semua pihak dalam menjaganya, khususnya mengatasi perubahan iklim juga pasti sangat diperlukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Sejumlah NGO lokal juga terus berupaya utk menjaga hutan melalui realisasi Perda Siak hijau. Luar biasa sih itu

      Hapus
  6. MasyaAllah, indah sekali Pulau Zamrud ini. Baru mendengar sekali ini, semoga tetap lestari dan terjaga dari tangan-tangan jahil yang tidak sadar akan pentingnya menjaga alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Aku pas ke Riau aja baru tahu kalau ada Taman Nasional Danau Zamrud. Keren banget sih beneran.

      Hapus
  7. MasyaAllah masih ada danau gambut ya. Harus dijaga ini, mutiara banget untuk kelangsungan hidup manusia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget kak. Di Riau ternyata ada Danau Gambut terbesar ke dua di dunia hehe

      Hapus
  8. Kutipan Eric Weiner ini menohok bgt buat pemangku kepentingan yg lbh suka mencari cuan dibanding melestarikan lingkungan. Emg sih lingkungan ga akan menghasilkan cuan scr instan. Tp akan berdampak jangka panjang. Hal2 spt ini yg jrg bgt diperhitungkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bang. Apalagi sekarang ada perubahan iklim, kerasa gak sih lebih banyak bencana yang disebabkan oleh aktivitas klimatologi?

      Hapus
  9. jadi ingat istilah mau healing ke alam tapi mau healing gimana kalau alamnya aja terancam punah karena perubahan iklim yaa, ini ngeri sih. menjaga dan melestarikan cagar alam jadi hal yang penting ya karena selain sebagai habitat hidup makhluk hidup tumbuhan dan hewan tapi juga manusia, seperti di Taman Nasional Danau Zamrud ini nih. indah banget danaunya dan ikannnya besar-besar, saya juga auto pengen healing ke sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak. Semoga ada rezeki untuk bisa traveling ke tempat yang asri ya kak.

      Hapus
  10. jadi ingat istilah mau healing ke alam tapi mau healing gimana kalau alamnya aja terancam punah karena perubahan iklim yaa, ini ngeri sih. menjaga dan melestarikan cagar alam jadi hal yang penting ya karena selain sebagai habitat hidup makhluk hidup tumbuhan dan hewan tapi juga manusia, seperti di Taman Nasional Danau Zamrud ini nih. indah banget danaunya dan ikannnya besar-besar, saya juga auto pengen healing ke sini

    BalasHapus
  11. jadi ingat istilah mau healing ke alam tapi mau healing gimana kalau alamnya aja terancam punah karena perubahan iklim yaa, ini ngeri sih. menjaga dan melestarikan cagar alam jadi hal yang penting ya karena selain sebagai habitat hidup makhluk hidup tumbuhan dan hewan tapi juga manusia, seperti di Taman Nasional Danau Zamrud ini nih. indah banget danaunya dan ikannnya besar-besar, saya juga auto pengen healing ke sini

    BalasHapus
  12. Mengupayakan pelestarian hutan dan lahan gambut serta mangrove merupakan langkah penting dalam mencapai target Net Zero Emission. Kolaborasi antara NGO lokal dan pemerintah daerah untuk memasukkan program restorasi dan pemulihan ke dalam rencana pembangunan adalah langkah yang positif. Namun, tantangan seperti ilegal logging dan alih fungsi hutan perlu diatasi agar upaya pelestarian dapat berhasil. Semua pihak perlu berkomitmen dan bekerja sama untuk menjaga ekosistem dan meningkatkan potensi penyerapan karbon melalui hutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener sekali Kak Kiky. Kolaborasi dari semua pihak itu perlu banget

      Hapus
  13. bagus banget yaa mba ini kegiatan mitigasi utk perubahan iklimnya di riau, ikut memberdayakan warga dan nelayan setempat, semoga bs jadi pilot project utk daerah lain di Indonesia nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja Kak Shinta, sepertinya ini memang tengah diusahakan di beberapa daerah kak

      Hapus
  14. Salut banget dengan bergerak bersama lindungi alam dari mulai hutan, danau hingga keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Semua membutuhkan concern dari kita semua agar bisa bersama-sama memberikan solusi atas perbuatan manusia selama ini yang seenaknya mengubah lahan gambut menjadi lahan sawit, misalnya.
    Peruntukan yang gak sesuai ini bikin semua ekosistemnya berubah dan bumi perlahan menangis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul banget Kak Lendy. Menjaga hutan secara kolaboratit itu penting banget

      Hapus
  15. Seru bangte Mba acaranya langsung di Kawasan TN Danau Zamrud. Setuju banget, nih harapanku juga tetap lestari dan tidak ada lagi ilegal loging karena bumi butuh pepohonan untuk menyerap karbon dalam mengatasi perubahan iklim.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Bener banget. Pas main ke sana beneran seru dan dapat pengalaman luar biasa.

      Hapus

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam