Jumat, 22 April 2022

Perjalanan Memanggil Kembali Memori : Ketika Pekalongan Tak Sama Lagi

Melihat metamorfosis Kota Pekalongan saat ini seolah memanggil kembali ingatan masa kecil. Perjalanan waktu telah membuat Kota Batik menjadi tak sama lagi. Perubahan iklim menjadikan kota kreatif ini terancam tenggelam karena rob, hanya dalam waktu singkat.

***

Tahun 2010

Dua bocah perempuan terlihat begitu antusias memungut benda-benda kecil putih di atas pasir. Sembari menenteng ember, mereka mengais-ngais pasir berwarna hitam itu dengan kayu. Di beberapa sudut lain, banyak orang melakukan hal yang sama, mengeruk dengan tangan kemudian mencuci genggaman mereka ke air laut.

Ternyata, mereka tengah berburu kerang putih. Entah karena sedang musim atau apa, kerang putih banyak bermunculan di bibir pantai. Sungguh rezeki tiada tara. Jika biasanya masyarakat harus membeli dengan harga mahal, kali ini, alam memberikan secara cuma-cuma dengan jumlah yang berlimpah.

Bila dicermati seksama, bukan hanya kerang putih saja yang menyembul bebas di atas pasir, ada kepiting-kepiting kecil, Kelomang—orang Pekalongan biasa menyebutnya Keong Gondang—terlihat di atas pasir dan bebatuan. Saat mendapati Kelomang bergerak, tak sedikit anak-anak memungutnya untuk dibawa pulang.

Pada musim penghujan, biasanya kerang-kerang putih akan bermunculan. Mereka bakal terlihat menyembul di antara pasir yang tergulung air laut. Bersamaan dengan itu, masyarakat berbondong-bondong datang untuk mengambil kerang-kerang dengan plastik atau ember.

Pemandangan semacam ini sangat mudah ditemukan sekitar 1 dekade yang lalu. Semburat cerita mengenai kekayaan laut Pekalongan yang sibuk dengan aktivitas ekonomi mulai dari pelelangan, pengalengan, hingga pengeringan ikan asin. Bayangan itu lekat dalam ingatan. Bahkan, sampai sekarang aroma amis khas ikan-ikan kering masih menyengat begitu kuat di hidung.

Ilustrasi keramaian di Pelabuhan Perikanan Nusantara saat
kapal baru menurunkan ikan (sumber gambar : rm.id)

Dua belas tahun lalu, ketika jalanan menuju Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) masih kering, masyarakat berjejal menunggu ikan-ikan diturunkan dari kapal. 

Suara khas orang tawar menawar terdengar riuh bersahutan. Gesekan keranjang berisi es batu dan ikan-ikan berbagai ukuran menjadi irama yang merdu di lokasi tersebut.

Ilustrasi di PPN/TPI sebelum terkena banjir rob (sumber : infopublik.id)

Aku pernah diajak oleh bapak membeli ikan langsung dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Bagiku, pengalaman tersebut super menyenangkan karena kami bisa mendapat banyak ikan laut dengan harga murah.

Kala aktivitas di pelabuhan Pekalongan menggeliat, terlihat truk-truk membawa ikan segar hingga asin hilir mudik di jalanan. Tak jarang, aroma amis yang menguar sangat mengganggu penciuman sehingga orang-orang harus menutup hidung.

Bagi yang belum tahu, Pelabuhan Pekalongan termasuk tempat yang punya image baik soal perikanan tangkap dari tahun 1990 hingga 2002. Bahkan, ia pernah menjadi pelabuhan perikanan tangkap terbesar di Indonesia. Beberapa komoditas utama yang diperjualbelikan yakni ikan layang, tenggiri, banyar, lemuru bahkan tuna.

Tahun 2022

Sekarang, semuanya telah berubah. Banjir rob telah menggenangi lokasi strategis di wilayah pesisir Pekalongan. Akibatnya, pelabuhan, tempat penjemuran ikan asin, restoran, lokasi wisata hingga rumah warga terendam cukup parah. Alhasil, itu mengganggu aktivitas masyarakat.

Tempat penjemuran ikan asin. Dulu sebelum terkena rob, lokasi ini begitu ramai (Dok.Pri)

Beberapa waktu lalu, aku coba menjejak ke wilayah pesisir untuk melihat perubahan yang terjadi. Ya, seperti yang sering diberitakan di televisi hingga media sosial mengenai parahnya Pekalongan tergenang rob. Aku melihat sendiri bagaimana air-air menggenang di area Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).

Akses jalan utama menuju Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)/TPI (Dok.pri)

Di atas ini pemandangan depan PPN Pekalongan. Jika gelombang tinggi, air di depan tempat ini bisa mencapai 30-40 cm sehingga beberapa kendaraan akan cukup sulit menerobos banjir. Sedangkan gambar di bawah ini merupakan kondisi becek di dalam pelabuhan.

Lokasi di dalam Pelabuhan Perikanan Nusantara (Dok.Pri)

Di Kota Pekalongan sendiri, ada 8 kelurahan terdampak rob. Salah duanya, kelurahan Bandengan dan Panjang Wetan. Banyak tempat kerja, fasilitas umum  hingga rumah tergenang mencapai ketinggian setengah meter sehingga ditinggalkan oleh pemiliknya. Tak sedikit pula warga yang meninggikan rumah demi menghindari air masuk ke dalam rumah.

Aku pernah bertanya pada salah satu warga yang rumahnya ditinggikan karena rob. Dia mengatakan bahwa selama beberapa waktu ia dan keluarga bisa mengeluarkan dana Rp 7 juta lebih untuk biaya renovasi hingga tukang. Ini baru satu rumah lho, belum rumah lainnya. 

Berdasarkan hasil kajian Mercy Corps Indonesia, bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim tersebut sudah menimbulkan dampak kehilangan dan kerugian lebih dari Rp 4 triliun hingga tahun 2020.

Analisa kerugian itu didasarkan pada biaya perbaikan (aset atau peralatan rumah tangga), biaya adaptasi, biaya penggantian barang, biaya intangible (kesehatan, stres, dll.), kehilangan pendapatan, penurunan produktivitas lahan, dan kehilangan jasa ekosistem.

Bapakku bekerja di wilayah Panjang Wetan. Setiap banjir rob datang, ketinggian air bisa mencapai lutut orang dewasa. Beberapa kali kendaraan yang bapak gunakan rusak dan harus bolak-balik masuk bengkel. Ya, ini berkenaan dengan sifat korosif air laut sehingga merusak bagian bodi dan komponen kendaraan.

Pemerintah kota dan pusat telah berupaya membangun tanggul-tanggul untuk memitigasi air laut yang semakin naik ke daratan. Beberapa tanggul setinggi 2-3 meter telah disiagakan di pinggir pantai untuk mencegah air laut membuncah ke pemukiman penduduk tatkala gelombang tinggi.

Tanggul yang dibangun untuk mencegah air laut masuk ke daratan (Dok.Pri)
Beberapa karung dan pasir untuk pembangunan tanggul agar lebih tinggi (Dok.Pri)

Dari gambar di atas, kamu bisa menyaksikan salah satu tanggul yang dibangun untuk memisahkan pantai dengan pemukiman penduduk. Titik dimana aku berdiri saat mengambil foto ini merupakan lokasi yang sering terkena gelombang tinggi. 

Tidak heran, tanggul yang aku jejaki ini akan dibuat lebih tinggi. Bisa dilihat karung-karung biru dan pasir yang sudah dipersiapkan untuk pembangunan.

Di sudut lain mendekati lokasi Taman Wisata Pasir Kencana dan Pelabuhan Kota Pekalongan, tanggul yang dibangun Menteri PUPR dan pemerintah kota mencapai ketinggian sekitar 3 meter. Saat ingin melihat pantai, kita perlu naik tangga yang cukup tinggi sehingga harus berhati-hati.

Yang perlu kamu tahu, tanggul pembatas tersebut, 12 tahun yang lalu tidak ada. Jarak air laut dan garis pantai waktu itu masih cukup jauh dari pemukiman penduduk. Namun karena erosi, land subsidence (penurunan muka tanah) hingga kenaikan air laut, pantai itu telah lenyap. Kini, jarak rumah penduduk dengan laut hanya sekitar 10 meter.

Kerang-kerang putih, kelomang hingga kepiting sekarang jarang
 bisa ditemukan disini karena pantainya sendiri sudah hilang (Dok.Pri)

Bisa dilihat pada gambar di atas bahwa jarak air laut dan rumah warga hanya terpisahkan oleh tanggul. Kondisi ini sudah menjadi bukti nyata bahwa climate change telah memunculkan perubahan serta dampak signifikan bila tak diatasi secara cepat dan tepat.

Dampak perubahan iklim yang aku rasakan, Apa saja?

Aku adalah saksi hidup metamorfosis yang terjadi di Pekalongan karena perubahan iklim. Wajah Pekalongan yang dulu berbinar melalui aktivitas-aktivitas pesisir kini menjadi terganggu akibat rob dan bencana lainnya.

Aku pernah merasakan bahagia memungut kerang-kerang putih di pantai dan membawanya pulang 1 kresek besar. Aku pernah merasakan membeli ikan 1 keranjang di Pelabuhan Pekalongan bersama bapak. Aku juga masih ingat pernah datang ke tempat penjemuran ikan asin karena simbahku bekerja di sekitar sana.

Dari gambar bisa dilihat dengan jelas jarak laut dan rumah warga.
Lokasi ini sering terdampak gelombang tinggi yang mengharuskan warga mengungsi (Dok.Pri)

Perjalanan waktu 1 dekade lebih ternyata membuat Pekalongan menjadi sangat berbeda. Ini masih membahas satu kota, belum kota lain seperti Demak, Semarang, Brebes, Tegal hingga Jakarta. Ya, diakui atau tidak, perubahan iklim telah menjadi hantu mengerikan bagi masa depan kota kreatif ini.

Rabu, 23 Maret 2022 lalu, aku mencoba berkelana ke sudut wisata bernama Mangrove Park Pekalongan. Aku mendapati jalanan yang dipenuhi air semacam ini. Bisa dilihat ada spot-spot air yang muncul dari lubang-lubang di jalanan.

Spot air di jalanan menuju Wisata Mangrove Park Pekalongan (Dok.Pri)

Bila gelombang air laut meninggi, jumlah spot air ini akan lebih banyak dan membuat aspal tergenang setinggi mata kaki. Jika sudah begini, bersiaplah mengangkat celana atau rokmu agar tak basah. 

Tahun 2019, aku (berbaju merah muda) pernah jalan-jalan ke Mangrove Park dan mendapati lokasinya basah mendadak karena rob. Padahal, ketika aku dan lainnya datang, jalanan masih kering kerontang.

Rob di lokasi wisata Mangrove. Jujur, agenda wisataku jadi terganggu karenanya (Dok.Pri)

Ini baru membahas rob, bila aku perlu mengurai apa saja dampak perubahan iklim yang bisa kurasakan secara langsung maupun tak langsung, maka ada beberapa hal yang ingin kusampaikan kepada kalian, Kawan! 

Suhu udara yang semakin panas

Pekalongan yang notabene berada di wilayah pantai utara memang memiliki udara yang panas dan pekat. Namun akhir-akhir ini aku merasa semakin panas. Saking gerah dan sering keluar keringat, beberapa kali badanku terkena biang keringat. Sekarang, untuk menetralisir udara panas, kipas angin selalu siaga tiap waktu

Kerusakan fasilitas publik dan kendaraan masyarakat

Beberapa lokasi di 8 kelurahan di Pekalongan sering terendam rob mencapai ketinggian bawah lutut. Tak heran, fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, kampus, pelabuhan hingga lokasi wisata mengalami kerusakan. Ya, walaupun pemerintah tengah berupaya merenovasinya, tentunya itu membutuhkan waktu serta biaya yang tak sedikit.

Bukan hanya itu saja, karena sering terendam rob, kendaraan-kendaraan kerap mengalami kerusakan dan masuk ke bengkel. Selain bapakku sendiri yang mengalami, teman-temanku yang tinggal di wilayah Panjang Wetan sering mengamininya. Motor atau sepeda mereka lebih banyak masuk bengkel karena berkarat.

Jalanan banyak yang rusak

Aku sering melewati beberapa jalanan yang terkena rob karena rumahku memang dekat dengan kelurahan Panjang Wetan. Kamu tahu gak sih? Beberapa kali ban sepeda atau motor yang aku kendarai bocor karena tergesek aspal yang rusak. Rob membuat jalanan berlubang sehingga perlu hati-hati saat melewatinya.

Hujan yang tidak bisa diprediksi

Apakah kalian sering merasakan bahwa hujan akhir-akhir ini tak bisa diprediksi? Jujur, saja aku merasa demikian. Di Pekalongan hujan terjadi secara random. Saat musim kemarau, tiba-tiba hujan bisa muncul begitu deras. Beberapa ahli mengatakan bahwa bagian dari dampak perubahan iklim yakni hujan yang turun tak menentu.

Kehilangan tempat memorable di masa lalu

Bayangkan kawan, dulu saat aku kecil, kedua orang tuaku sering mengajakku untuk melihat proses penjemuran ikan asin dan membeli ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Tempat tersebut kini banyak yang ditinggalkan karena terdampak rob hingga gelombang besar.

Jujur, aku seolah kehilangan tempat-tempat yang memberiku memori masa kecil. Bagaimana jika suatu hari tempat Pekalongan benar-benar tenggelam? Oh tidak. Rasanya nyeri membayangkan itu!

Kawan, semua memori masa lalu sangat kuat menancap dalam ingatan. Wajar, aku tumbuh dan besar sebagai anak pantura. Sering muncul rasa khawatir dan sedih bila mengingat kondisi kotaku saat ini. 

Tiap kali mengusik kembali memori dalam otak, selalu muncul pertanyaan “Kok bisa ya Pekalongan se-berubah ini dan bagaimana kondisi ke depannya?”

Perubahan Iklim, Masalah Nyata yang Harus Diwaspadai

Perubahan iklim adalah permasalahan nyata yang tengah dihadapi bukan hanya di Indonesia tapi dunia. Bila kamu masih menganggap bahwa ia sepele, maka kamu salah besar. 

Dunia menyadari bahwa bumi semakin merana dengan aktivitas-aktivitas manusia yang menghasilkan emisi. Katakanlah seperti pertanian, industri, transportasi, bangunan, penggunaan lahan dan energi.

Kita tahu bahwa semua aktivitas itu menghasilkan gas-gas emisi seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), (CFC) yang mengunci panas di atmosfer dan memantulkan kembali ke bumi sehingga berimbas pada kenaikan suhu bumi dan perubahan iklim.

Mungkin saja, sampai sekarang masih ada dari kita yang belum ngeh arti dari perubahan iklim. Berdasarkan Kementerian Lingkungan Hidup (2001) definisi Perubahan iklim mengacu pada berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia.

Perubahan iklim menjadi pembahasan serius bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga dunia. Bahkan dalam pertemuan G20 di La Nuvola, Roma, Italia, Minggu, 31 Oktober 2021. Ia menjadi isu krusial yang sangat urgen dicari solusi pengendaliannya. 

Menukil artikel dari Kemenkeu.go.id, Sri Mulyani mengatakan bahwa para pemimpin G20 memiliki komitmen lebih ambisius, yakni menurunkan suhu Bumi agar tidak lebih dari 1,5 derajat celcius. Untuk mencapai hal tersebut, pendanaan dan teknologi menjadi syarat penting.

Bukan hanya itu saja, diperlukan kolaborasi yang kompak antara pemerintah, swasta maupun masyarakat agar perubahan iklim bisa dikendalikan dengan optimal. Nah, saat ini, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah adalah sebagai berikut,

Climate Change Fiscal Framework (CCFF), 

Menukil ulasan dari katadata.co.id, Indonesia membutuhkan anggaran dana sekitar Rp 3.461 triliun untuk mengatasi perubahan iklim hingga 2030. APBN menjadi bagian penting sebagai sumber dana dalam bentuk belanja negara, insentif perpajakan, hingga pembiayaan. 

Tak heran, melalui menteri keuangan dibuatlah kebijakan Climate Change Fiscal Framework untuk menjalankan peran mencapai target penurunan emisi karbon yang dilakukan melalui tiga sisi, yakni pendapatan negara, belanja dan pembiayaan.

Nilai Ekonomi Karbon (Carbon pricing)

Nilai Ekonomi Karbon (carbon pricing) merupakan pemberian nilai terhadap setiap unit emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari kegiatan manusia dan ekonomi  (melalui mekanisme pasar agar  biaya emisi  dapat dibebankan kepada kegiatan yang mengeluarkan emisi karbon atau peng-emisi)

Energy Transition Mechanism (ETM)

Energi fosil menyebabkan 70 persen emisi gas rumah kaca yang berasal dari aktivitas di sektor kelistrikan, industri hingga transportasi. Untuk menekan emisi tersebut, diperlukan kebijakan transisi energi.

Pemerintah Indonesia berusaha untuk melakukan transisi energi yang lebih adil dan terjangkau sebagai bagian dari prioritas nasional untuk mencapai pertumbuhan emisi nol di 2060. Tak heran, akhir-akhir ini pembahasan mengenai Energy Transition Mechanism (ETM) sering digaungkan.

Pooling Fund Bencana (PFB)

PFB adalah sebuah skema mengumpulkan, mengakumulasi dan menyalurkan dana khusus bencana oleh sebuah lembaga pengelola dana. PFB dirancang untuk dapat menyediakan dana bagi pembiayaan pra-bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana secara berkelanjutan. 

Melalui beberapa inovasi kebijakan dari pemerintah tersebut, diharapkan mampu meredam dampak bencana serta kenaikan emisi penyebab global warming di udara sehingga misi mewujudkan Zet Nero Emision bisa tercapai di tahun 2030. 

Selain pemerintah selaku pembuat kebijakan, peran swasta hingga para pemangku kepentingan juga harus punya rasa peduli pada hutan sebagai paru-paru dunia. Jangan ada lagi deforestasi sehingga fungsi hutan sebagai penyerap gas rumah kaca bisa optimal. 

Lalu, bagaimana dengan peran masyarakat? Apakah kita juga bisa turut serta menurunkan emisi agar bumi bisa lebih baik? Ya, tentu saja! Kita perlu membiasakan aktivitas ramah lingkungan yang dipersembahkan  #UntukmuBumiku.

Upaya Mengendalikan Perubahan Iklim juga dimulai dari Kita!

Tak ada kata terlambat dan sia-sia untuk tindakan baik yang kita lakukan, termasuk upaya sederhana mengendalikan perubahan iklim. Kita tahu bahwa perubahan iklim terjadi karena meningkatnya aktivitas yang memunculkan emisi. Dengan demikian, mereduksi aktivitas itu bisa jadi solusi sederhana yang bisa kita lakukan.

Baca JugaMencegah Perubahan Iklim dengan Kendaraan Ramah Lingkungan? Yuk Lakukan!

Aktivitas satu orang mungkin tak terlihat hasilnya secara nyata, tapi bagaimana bila dilakukan secara masal dan berkelanjutan? Tentu saja dampaknya bisa terlihat. Dengan demikian, saatnya #TeamUpForImpact temans! 

Ada beberapa aktivitas yang bisa kita lakukan untuk mereduksi kenaikan emisi di bumi ini. Dan semuanya bisa dimulai dari rumah Lho ! Apa saja kah itu?

  1. Hilangkan kebiasaan foodwaste
  2. Gunakan produk ramah lingkungan
  3. Gunakan kendaraan ramah lingkungan
  4. Hemat menggunakan listrik untuk mengurangi vampir listrik. 
  5. Bijak menggunakan air tanah
  6. Mengkampanyekan kepedulian pada lingkungan melalui tulisan di www.naramutiara.com dan media sosial
Kendaraan ramah lingkunganku yang sudah aku miliki
dan pakai sejak kuliah hingga saat ini (Dok.Pri)

BTW Temans, aku dan keluargaku sudah mulai menerapkan beberapa aktivitas tersebut di rumah lho. Meskipun terlihat sederhana namun aku yakin semuanya bakal berdampak bila kita lakukan secara kompak dan berkelanjutan. You must believe it, Guys!

Kesimpulan

Pekalongan dan kota-kota lainnya yang terdampak perubahan iklim tentu tak akan pernah sama lagi. Rob, suhu udara yang panas, penurunan muka tanah dan problematika alam lainnya sudah terlanjur menjadi kisah nyata yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Namun demikian, tak pernah ada kata terlambat untuk mencegah kerusakan lebih parah lagi.

Baca juga : Membumikan Gaya Hidup "Zero Food Waste" dari Diri Sendiri? Yuk Gaskeuun!

Melalui sinergi yang kompak antara pemerintah, swasta, pemangku kepentingan hingga masyarakat, mencegah kenaikan suhu melebihi 1,5 derajat celcius pasti bisa dilakukan. Yang perlu kita perhatikan, jangan tamak, pedulilah pada alam dan sadari bahwa kita diciptakan Tuhan untuk menjaga alam bukan untuk merusaknya. 

Kita bisa memulainya melalui aktivitas sehari-hari. Aku yakin, sekecil apapun tindakan yang kita usahakan pasti akan tetap berdampak baik bagi bumi. Sebab, bila bumi terlanjur sekarat, masa depan seperti apa yang akan kita wariskan ke anak cucu nanti? 

Ayo temans, mari #TeamUpForImpact melalui aktivitas sederhana di rumah. Harapannya, 20 tahun kedepan, bumi bisa lebih baik. 

Sumber referensi :

  • https://katadata.co.id/agustiyanti/finansial/62149157cbbf3/ri-butuh-rp-3461-t-atasi-perubahan-iklim-ini-strategi-sri-mulyani
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/climate-change-framework-cara-apbn-atasi-perubahan-iklim/
  • https://www.merdeka.com/uang/empat-kebijakan-pemerintah-untuk-perubahan-iklim.html
  • https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/menkeu-perubahan-iklim-isu-penting-dalam-pertemuan-g20-mendatang/
  • https://maritim.go.id/soal-perubahan-iklim-indonesia-kurangi-emisi-grk-carbon/
  • https://fiskal.kemenkeu.go.id/strategi-drfi/pooling

25 komentar:

  1. Segala hal yang Kita lakukan secara tidak langsung memberikan dampak. Bagi Kita maupun bagi lingkungan Kita saat ini. Banyak hal yang berubah, perubahan iklim merupakan hal nyata yang harus Kita bersama hadapi dan tanggulangi bersama-sama

    Terimakasih untuk cerita yang sangat amat menarik dan menggugah ini Kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali Kak Kamal yang udah mau mampir ke tulisan blog ini. Salam hangat dan salam kenal :)

      Hapus
  2. Climate change ini ngeri
    Bangeett dampaknya. Benar² membuat kualitas hidup makin terdegradasi.

    Semoga kita bisa saling b'kontribusi agar planet Bumi makin nyaman dihuni.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin Mbak, semoga saja sih. Meski dengan tindakan sekecil apapun ya :)
      Terima kasih sudah mampir ke tulisan ini Mbak

      Hapus
  3. 12 tahun yang mencengangkan. Betapa alam yang dulu bersahabat, kini tak lagi indah karena banyak akibat ulah manusia. Ekosistem yang tak seimbang membuat alam tak mampu lagi menampung banyak masalah. kalau tidak cepat diatasi makan akan semakin buruk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak. Masalah perubahan iklim ini menurutku udah gak bisa disepelekan lagi sih. Tanggapan secara cepat perlu dilakukan oleh segenap pihak :)

      Hapus
  4. Sedih ya rul, entah apa yang kita lakukan 12 tahun terakhir sampe alam pun enggan menampilkan sisi terbaiknya, beneran perubahan iklim itu nyata tp kita lebih terbiasa mengabaikannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Priyo. Di Pekalongan, kerasa banget dampaknya. Apalagi untukku yang tinggal di wilayah pantura :(

      Hapus
  5. Change climate sangat besar impactnya, perubahan yang sangat signifikan, membaca tulisan mbak nurul tentang kota pekalongan yg terdampak change climate menyadarakan saya akan pentingnya untuk peduli lingkungan dan alam dengan aktivitas yang ramah lingkungan, Ayo Selamatkan bumi kita, Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak Fahrin. Sedikit banyak tulisan yang saya tulis ini untuk memberiahu sih kalau di Pekalongan, perubahan iklim sudah punya dampak yang sangat besar. Sampai ekonomi masyarakat pun terganggu karenanya :(

      Hapus
  6. Perubahan iklim memang terus terjadi ya kak, dan ini memang butuh kesadaran masyarakat sih untuk lebih aware lagi menjaga lingkungan. Semoga makin banyak masyarakat yang aware untuk menjaga lingkungan, Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. Selain masyarakat atau kita, pemerintah dan pihak swasta juga punya andil besar di dalamnya sih kak. Terutama menyoal kebijakan hijau yang ramah bumi :)

      Hapus
  7. Sereeem loh dampak perubahan iklim ini 😣. Terkadang gemees Ama orang2 yang masih aja ga peduli lingkungan, penggundulan hutan hanya utk cuan pribadi.. sampah makanan, sampah plastik, sampah baju yg susah terurai...

    Setuju mba, aku pun ngerasain iklim skr semakin panas. Ga kebayang kalo ini semakin parah. Menimbulkan penyakit juga, hewan2 yg tinggal di daerah kutub semakin punah 🤧..

    Memang harus dari kita, walopun mungkin hanya sedikit yg bisa kita lakukan, setidaknya kalo rutin dikerjakan, berharapnya bisa membantu sedikit utk menjaga iklim bumi

    BalasHapus
  8. Ya ampuuun... cuma 10 meter dari laut. Lihat fotonya, bener-bener deh ya. Buka pintu rumah langsung lautan. Jadi inget pepatah, "kalau takut dilimbur pasang jangan berumah di tepi pantai". Duh, tapi dulu waktu mereka bangun rumah di sana, jarak ke pantainya masih jauh ya :( Bener-bener mengerikan perubahan iklim ini. Semoga kita semua (ya pemerintah, ya rakyat, ya korporasi) lebih peduli pada masalah ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Semoga saja ya mbak Retno. Iya nih. Soalnya kalau alam udah rusak, sangat sulit untuk bisa dipulihkan lagi. Bersama, Team Up For Impact sih :)

      Hapus
  9. Benar benar perubahan iklim mengubah segalanya. Saya jadi ingat juga di kampung halaman bapak sudah sangat berbeda sekarang kondisinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di kampung Bapak sekarang gimana Mba Rahmah?

      Hapus
  10. Bajir, memang PR kita dari dulu ya kak. Gak cuma di Pekalongan di daerahku Kota Pontianak juga sering banjir, padahal disini banyak sungai loh. Semoga banyak juga orang-orang yang peduli dengan memulai dari lingkungan masing-masing ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyapp. Betul banget Kak Siti. Di Potianak yang dulu jarang banjir skrng bisa jadi kayak gitu ya Kak. Sedih sih aku kalau lihatnya :(

      Hapus
  11. Yaps setuju banget, semua hal yang ada disekitar kita bisa kita mulai dari diri sendiri. Jika itu menghasilkan sesuatu yang positif dan bermanfaat juga pasti akan dicontoh oleh orang lain, semua itu demi kebaikan bersama-sama baik masyarakat yang sudah lama tinggal atau yang baru datang ke kota tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa Bang Andri. Berbagi tulisan positif untuk melindungi bumi juga termasuk bagian dari iktiyar kita untuk menjaga alam hehe

      Hapus
  12. Sudah sejak lama ingin menikmati wisata Pekalongan, termasuk wisata kulinernya. Banyak teman sebenarnya di Pekalongan, namun waktu yang belum memberikan kesempatan. Tulisan Mbak Nurul ini sedikit banyak mengingatkan kawan-kawan yang sudah lama tak bertemu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan main ke Pekalongan Bang Firman. Sekalian bisa menengok berbagai hal di kota Batik ini hehe
      Salam hangat dari Kota Pekalongan :)

      Hapus
  13. belum pernah explore Pekalongan. Pekalongan ini termasuk kawasan pantai utara ya mba?
    aku kira di pekalongan nggak deket sama laut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Mbak Ainun. Termasuk kawasan pantai utara dan deket dengan laut kok heheh

      Hapus

Mohon tidak memberikan komentar dengan link hidup karena akan langsung dihapus dan ditandai spam