CURHAT

Secuil Ingatan Tentang Masa Lalu
Handphone-ku berbunyi, menandakan ada notifikasi yang masuk ke facebookku. Kulihat, dan itu adalah sebuah pemberitahuan peringatan ulang tahun seorang sahabat. Ya, sahabat sejak SMA dulu. Melihat namanya, seolah membuka kembali catatan dalam ingatan mengenai awal aku bertemu dengannya dan proses hidup seperti apa yang aku lalui bersamanya. 
Nama sahabatku itu Siti. Dia berasal dari Sragi---sebuah nama kecamatan di kabupaten Pekalongan. Dia adalah sahabatku yang benar-benar menginspirasiku. Persahabatan yang aku dapatkan bersamanya bukan karena permulaan yang baik, tapi bermula pada sebuah persaingan ala anak SMA dalam mengejar nilai dan prestisiusnya lomba. Olimpiade Ekonomi.
Di kelas X SMA aku sudah cukup percaya diri dan berambisi untuk menjadi yang terbaik. Aku ingin mendapatkan peringkat pararel 1. Setiap hari aku belajar, menghafal dan meresapi setiap buku pelajaran yang aku punya. Yang ada dipikiranku kala itu adalah nilai...nilai... dan nilai tertinggi. Pada pengambilan raport semester pertama aku memperoleh peringkat 4 kelas dan 28 pararel. Saat itu memang sedikit kecewa, namun aku tak peduli, minimal 10 besar di kelas (itu yang kupikirkan karena masih belum ada penjurusan program study). Aku agak kesulitan di mata pelajaran fisika, matematika dan kimia, jadi aku tak kaget dengan nilai yang pas-pasan untuk ketiga mapel itu. Semester 2 pun tak jauh beda, rangkingku kelas malah menjadi 15 dan pararel...?? entah aku lupa,hehe
Di kelas XI barulah aku mulai menaikkan kadar ambisiku. Aku masuk jurusan Ilmu Sosial---yang notabene dianggap sebagai jurusan anak-anak nakal (percayalah itu hoax, tergantung diri sendiri mau nakal atau enggak, wkwkwk). Di jurusan tersebut aku mulai debutku sebagai siswa yang “ Rajin” Dan “Pintar”. Setiap hal kupelajari secara detail. Apapun mata pelajaran yang bisa kukuasai menjadi sebuah bahan bakar bagiku untuk menjadi yang terbaik. The best pararel rank in SMA. Aku berapi-api untuk mendapatkan nilai terbaik. Ibaratnya, seperti orang yang kelaparan, apapun makanan yang ada kulahap tanpa aturan. Apapun yang bisa kulakukan untuk jadi juara kelas akan kulakukan. Salah satu angka saja turun, rasanya sudah mengecewakan dan membuat mataku menjadi sembab. Pokoknya saat itu yang ada dipikiranku adalah belajar supaya mendapatkan nilai sempurna. Aku sudah cukup yakin dan arogan dengan hasilnya nanti ketika penerimaan raport. Arogansiku mencapai level “Dewa”. Aku mulai meremehkan teman-temanku. Seolah aku yang paling pintar.
Tibalah penerimaan raport semester pertama, mukaku sudah berisi keyakinan dan kebanggaan untuk menjadi juara. “Pak, aku rangking berapa?” tanyaku pada bapak saat itu. Bapakku tersenyum “Nduk, kamu dapat ranking 1 kelas, dan pararel 2”. Mendengar kata-kata bapakku aku tak percaya, kubuka dan kulihat sendiri selembar kertas dalam amplop berwarna putih itu.”Ranking 2 pararel dari 118 siswa”. Tahu tak?? perasaanku saat itu seperti tercabik-cabik (ah lebay tenan bahasaku). Bahkan tangisku pun seperti berhenti di tenggorokan. Aku tak bisa berkata-kata. Aku marah. Aku kecewa dan aku sangat penasaran. Aku penasaran siapa peraih peringkat 1 pararel itu??
Seminggu kemudian aku tahu kalau yang mendapatkan peringkat pertama bernama Siti. Ya, dia anak kelas XI IPS 2. Saat itu aku cukup merasa marah dan iri dengannya. Aku berusaha memahami setiap detail tentang dia. Kok bisa rangking satu ngalahin aku ya?? kalimat itu yang ada dipikiranku. Muncul perasaan ingin bersaing dengannya. Semangat bersaingku sangat tinggi dan aku mulai berapi-api untuk mengalahkan. Skaaaaassshhhh (wkwkwk kata yang terinspirasi dari Alik). Otakku mulai kusudutkan pada ambisi untuk rangking dan mengalahkan Siti. Setiap malam aku belajar dan belajar lebih lama.
Saat penerimaan raport semester 2. Aku harap-harap cemas. Arogansiku saat itu kuturunkan levelnya. Aku hanya berharap dapat menjadi yang terbaik di kelas. Dan,...Taraaaaaaa, aku rangking 1 pararel. Aku bahagia tapi tak terlalu bahagia. Tak bisa tertawa, tak bisa terharu. rasanya datar. Mungkin karena aku sudah tahu dari salah satu guruku sebelumnya. Aku saat itu hanya merasa puas bisa mengalahkan Siti. Oh iya, tidak hanya urusan rangking, aku juga bersaing dengan Siti dalam olimpiade Ekonomi. Aku terpilih dengan skor tertinggi (bukan maksud sombong, hanya brcerita, hehe).
Siti adalah orang dengan karakter pendiam. Dia tak mau bicara jika tak ditanya dan bisa berbicara hanya pada orang-orang yang dekat saja. Aku bukan termasuk orang yang dekat dengannya. Sehingga dia merasa enggan untuk berbicara denganku. Apalagi saat itu mukaku sangat tidak bersahabat dengannya (Astagfirullah, maafkan aku Sit). Persaingan dan ambisi-ambisi itu membuat aku menjadi orang yang buruk. Menjadi orang yang tak ramah dan tak pantas untuk ditiru.
Aku mulai dekat dengan Siti, akhir-akhir pelaksanaan olimpiade tingkat kabupaten. Karena yang berangkat perwakilan dari IPS hanya aku dan dia, jadi mau tak mau aku harus selalu bersama dengannya. Suatu siang, dia bercerita banyak hal, aku mulai tertarik berbicara dengan Siti mulai hari itu. Karena sama-sama lelah, akhirnya kami melepas cerita dan bergurau bersama. Tak disangka ada sebuah cerita yang menusuk perasaanku. Sebuah perjuangan yang ia lakukan untuk bisa sekolah SMA. Dia bekerja sendiri dan mengumpulkan uang untuk membiayai adik-adik dan dirinya. Aku tak tahu, apa yang membuat dia cerita begitu banyak padaku. Namun aku benar-benar merasa tertampar sekaligus terharu.
Oh iya, aku belum cerita. Seorang siswa yang berhasil mendapatkan rangking 1 pararel di hadiahi biaya gratis 6 bulan dari SMA. Dan aku mulai tahu mengapa saat itu Siti mendapat rangking 1. Yup, mungkin saat itu adalah rezeki baginya. Rezeki untuk meringankan bebannya untuk membayar biaya sekolah. Sedang aku, meski orangtuaku juga sederhana, namun aku masih bisa membayar tanpa harus bekerja seperti dia. Aku mulai sadar saat itu. Aku mulai memperbaiki pikiran-pikiran burukku. Sudut pandangku mulai kuubah ke bagian yang lebih baik. Ambisiku masih tetap ada namun berbeda dari ambisi sebelumnya yang begitu ingin mengalahkan orang. Aku tetap berniat pararel 1. Tapi bukan dengan ambisi yang menakutkan, tapi dengan niat untuk membanggakan orangtua.
Aku mulai dekat dan saling terbuka dalam banyak hal. Aku juga cerita tentang pengalaman-pengalaman hidupku dan dia pun demikian. Setiap cerita yang kami tukar satu sama lain, membuat sebuah persahabatan kami menjadi dekat. Aku mulai bahagia dan senang. Seperti mendapatkan sesuatu yang tak lama kudapatkan. Seorang sahabat sebagai tempat bertukar pikiran dan cerita. Tak terasa cerita-cerita itu membuat aku dan Siti menjadi akrab. Rasa ingin bersaing dengannya berkurang sedikit demi sedikit. Ambisiku pun tak seburuk dan sehebat seperti dulu. Aku ingin menjadi orang yang baru.
Singkat cerita, ujian nasional telah usai dan pengumuman kkelulusan sudah dikumandangkan. Nilai UN ku menjadi yang terbaik di IPS. Aku bahagia sekali. Next adalah pengumuman penerimaan PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Dan sebulan kemudian pengumuman menyatakan bahwa aku diterima di UNY untuk jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi. Dan Siti. Ia juga diterima di Manajemen. Guess what? di Universitas Indonesia. WoooooW. Aku saat itu merasa bahagia. Entah kenapa, tak ada lagi rasa iri atau marah dengan keberhasilan Siti diterima di UI. Justru aku merasa kalau ada sebuah takdir yang akan membuatnya kuat ketika dia kuliah disana nantinya. Aku mulai menyadari kesalahan-kesalahanku kala itu. Tuhan menyadarkanku bahwa rezeki setiap manusia itu sudah memiliki alurnya masing-masing. Baik itu untuk Siti, aku ataupun orang lain. Nilai membuat mataku tertutup (bukan berarti aku menyepelekan nilai lho ya). Dan nilai membuatku memiliki ambisi yang tak terkendali.
Mulai hari kelulusan itu, aku selalu merasa bahagia atas pertemuanku dengan Siti. Dia anak yang baik, pintar, manut pada orangtua dan sahabat yang apa adanya. Sosok Siti sampai sekarang masih menginspirasiku. Aku telah mengaku kalah darinya. Bukan. Bukan karena nilai atau mengenai tempat kuliah. Tapi mengenai keberanian dan daya bertahan dia di kota orang, Depok. Jakarta. Kota yang cukup keras untuk seorang anak berkarakter pendiam. Aku kalah berani dan juga rajin darinya. Aku kalah berjuang dan mandiri darinya. Tapi kekalahan itu aku anggap sebagai bahan bakarku untuk menjadi lebih baik. Aku tak mau lagi menjadi bocah yang hanya mencari nilai. Aku ingin menjadi yang terbaik, terbaik untukku, keluargaku dan oranglain. Dalam hal apa???. Karakter.
Kembali ke notifikasi di facebookku.Tanggal 27 januari lalu adalah hari ulang tahunnya yang ke 22. Rasanya aku rindu untuk bertemu dengannya, mengucapkan selamat dan bercerita pengalaman mengenai tanah rantau masing-masing.Pikiranku kala ini seperti kembali menjelajah waktu. Kembali ke masalalu. Kembali pada secuil cerita yang begitu berharga bagiku. Kembali mengingakanku bahwa aku begitu beruntung dan bahwa Tuhan itu Maha Tahu.
Hmmm, cerita yang kutuliskan ini adalah sebentuk pemikiranku tentang masa SMA-ku. Oh iya, hal mendasar yang ingin kubagikan adalah mengenai ambisi untuk menjadi yang Terbaik. Tak apa, itu wajar dan alamiah. Tapi lakukan niat yang baik. Nilai itu penting namun bukan segalanya. Aku membutuhkan nilai untuk motivasi. Namun bukan berarti selama hidup aku hanya mengejar itu. Mungkin di luar sana banyak karakter seperti diriku saat itu. Terlalu berambisi dan berkeinginan mengalahkan hingga tak sadar sifat arogan menguasai diri. Tapi semoga bisa kembali pada niat untuk belajar.
Just wanna share story and experience
Barakallah Fii Umrik untuk sahabatku Siti maryam Suroso. Semoga Allah selalu menguatkan mu dan melindungimu disana. Mari suatu hari kita berbincang tentang ide-ide hebat dan cerita-cerita yang meninspirasi. :)
Post by : Nurul Mutiara R.A (Manajemen A 2013 pada 29 januari 2017 di kosan pada pukul 7.40 Wib, Yogyakarta)


Pernahkah kau jatuh merasakan Cinta?

Pada sebuah pagi 4 bulan lalu yang benar-benar dingin aku bertanya pada diriku sendiri. Tentang sesuatu yang katanya alami pada diri manusia. Ya, sekali lagi aku menegaskan pada diri bahwa aku sedang merasakan cinta. Aku merasa cinta pada satu orang yang menarik perhatianku. Siapa dia??
Sebut saja namanya "Langit". Aku menyukai langit dari tata cara dia berbicara, dari usaha yang dia lakukan saat memimpin teman-temannya dan saat apa lagi aku juga tak paham dan lupa.
Banyak hal yang membuatku bangga kala melihat track record pembelajarannya. Tentu, dari orag yang dulu biasa saja, menjadi orang yang begitu luar biasa. Oh iya, sekedar info aja. aku adalah tipikal orang yang merasa tertarik dengan seseorang yang pandai dalam leadership dan bertanggungjawab. Rasanya gimana gitu sama ngelihatnya wkwkwk. Tanggungjawab disini kulihat berdasarkan karakternya terhadap oranglain, egois atau tidak.
Pagi ini aku seperti mendapat pikiran yang sama. Namun bukan untuk merasakan cinta lagi. Ada hal yang sepertinya harus aku lepaskan darinya. Rasanya aku menyadari bahwa ada hal yang salah dariku karena menyukainya. Langit. Aku pernah berdoa pada Tuhan bahwa jika kau bukan jodohku, maka pertemukan kau dengan orang lain dan dekatkan aku dengan seseorang menurut versi-Nya. Dan saat ini sepertinya proses itu telah terjadi. Perlahan nama dan bayangmu menjauh. Ada seseorang yang---aku rasa---mulai masuk kedalam hidupmu. Dan aku rasa sekali lagi aku harus me-Remove namamu dari catatan dalam otakku sebagai orang yang kusuka. Ya, mulai pagi ini. Pada pikiran dan rasa dingin yang sama aku ingin memutuskan. Memutuskan untuk menetralkan perasaanku hingga aku telah siap bertemu orang baru. Orang yang sejatinya aku cintai dan Tuhan kirimkan untukku. Hai Langit, selamat tinggal.......
Untukmu Langit yang cerah
Semoga Tuhan menguatkan dan melindungimu

Yogyakarta, 30 Januari 2017 : 17.16 Wib di kosan tercinta
Post by : Nurul Mutiara Risqi A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar