Sabtu, 14 April 2018

Memaknai Harkonas dengan menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

"Konsumen itu bagian yang paling penting dalam sebuah lini bisnis, tanpa mereka, bisnis perdagangan tak akan pernah berjalan" 
Kalimat itu masih terngiang jelas di dalam ingatan takkala dosen saya mengatakannya di depan kelas ekonomi bisnis beberapa waktu silam. Kalau dipikir secara mendalam kalimat tersebut memang benar. Sebab, konsumen merupakan subyek yang paling utama dalam menentukan pembelian sebuah produk. 
"Konsumen adalah Raja"
Apakah kamu pernah mendengar pepatah diatas. Bagaimana menurutmu? 
Melalui pepatah tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa konsumen memang diakui sebagai pemain utama dalam sebuah transaksi perdagangan. 

Saya mencoba berpikir sederhana. Kebetulan saya juga masih menjadi pramusaji parttime di sebuah kedai sate di kota Jogja. Setiap kali saya melayani konsumen, saya harus belajar untuk memberikan pelayanan terbaik dengan senyum ramah serta cara bicara yang lembut sehingga membuat para konsumen nyaman.

Ya, saya sangat setuju jika konsumen memang raja dalam sebuah bisnis perdagangan. Namun jangan sampai sebutan "Raja" menjadikan konsumen menjadi jumawa, seolah-olah harus selalu diutamakan dan berbuat sesukanya. Konsumen yang cerdas tidak akan bertindak seperti itu. Konsumen yang cerdas akan paham mengenai hak dan kewajibannya dalam bertransaksi. 
Dear konsumen cerdas,
Tak terasa ya waktu telah berubah. Selamat datang di era digital. Era dimana keberadaan teknologi dan informasi memegang peranan kunci. Sebuah era di mana digitalisasi tidak hanya menjadi gaya hidup, tetapi juga kebutuhan. Sebuah era di mana dengan bermodalkan gawai, aplikasi, dan akses internet, kamu bisa memilih destinasi liburan, memesan hotel dan layanan transportasi, bertransaksi via e-wallet, membeli makanan, hingga belanja kebutuhan pokok. Cukup dengan klik dan tap. 

Well, era digital telah membawa kemudahan bagi saya untuk melakukan transaksi bahkan hanya melalui jentikkan jari. Melaluinya, saya bisa dengan mudah mengakses aplikasi atau media sosial yang saya pergunakan untuk mencari informasi seputar produk yang saya butuhkan. Begitu mudah bukan?

Meskipun saya cukup gemar mencari informasi sebuah produk melalui online, namun dalam memilih merchant pembelian, saya tidak sembarangan. Apalagi untuk barang-barang elektronik semacam gadget.  Alasannya karena saya tidak ingin menjadi korban penipuan jual beli abal-abal di dunia maya. 

Saya pernah merasa miris dan trauma dengan kejadian penipuan online, meskipun sebenarnya yang mengalami adalah sahabat saya. Namun, setelah kejadian itu, perasaan was-was selalu menjadi momok tersendiri bagi saya ketika bertransaksi via dunia digital. 

Sebut saja teman saya bernama Tika. Suatu hari dia hendak membeli kamera jenis DSLR untuk keperluan usaha jasa persewaan kamera miliknya. Harga yang ditawarkan si penjual kepada Tika tergolong menggiurkan. Jika biasanya harga satu kamera jenis DSLR seharga 4 juta lebih, si penjual hanya menjual dengan harga 1,7 juta dengan alasan sedang butuh uang. Tak curiga sedikitpun, Tika akhirnya membeli melalui transfer bank. Dua minggu semenjak transfer, Tika menghubungi si penjual lagi via whatsapp karena tak kunjung mendapatkan paket kiriman kamera DSLR yang ia beli. Dan ternyata si penjual sudah memblokir kontak miliknya. Tak berapa lama, Tika akhirnya tahu bahwa ia menjadi korban penipuan.

Beberapa waktu setelah kejadian itu, saya melihat berita di akun bernama Info Cegatan Jogja via facebook. Dalam berita itu tertulis bahwa seorang konsumen telah tertipu atas akun online penjualan kamera bernama Hartono. Sontak saya langsung menghubungi teman saya, Tika, untuk menanyakan nama penjual yang berhasil menipunya. Dan ternyata memang benar bernama Hartono. 

Penipuan Hartono ternyata telah memakan banyak korban. Rata-rata mereka yang tertipu adalah konsumen yang tidak tahu mengenai informasi harga kamera dan penjualan terpercaya di wilayah Jogjakarta. Banyak sekali akun yang menginformasikan penipuan yang dilakukan oleh Hartono. Salah satunya akun milik member Info Cegatan Jogja ini. Maaf, nama beliau saya blur untuk menjaga privasi.
Kejadian penipuan yang mengatasnamakan Hartono telah memakan banyak korban. Saya tak menyangka bahwa sahabat saya sendiri bisa menjadi salah satu korbannya. Namun, apalah dikata, semuanya sudah terjadi. 

Kejadian seperti ini haruslah di hindari. Penipuan memang bisa terjadi pada siapa saja, tetapi setidaknya bisa dicegah dengan kecermatan kita sebagai konsumen. Jangan asal memilih penjual produk apalagi secara online. Salah memilih penjual dampaknya pada kerugian kita sebagai sebagai konsumen. Pastinya kamu gak mau kan?
Menjadi konsumen cerdas di era digital ini sangatlah penting. Dengan menjadi konsumen cerdas, setidaknya kita bisa mengurangi kejadian-kejadian yang merugikan. Seperti kasus penipuan yang dialami sahabat saya misalnya.

Konsumen cerdas di era digital adalah mereka yang memahami hak dan kewajibannya sebagai pembeli. Selain itu konsumen cerdas membeli atas dasar kebutuhan bukan sekedar keinginan tanpa memperhatikan kegunaan dan kualitas produk. 

Jangan sampai nih ya, kamu membeli produk hanya karena iming-iming harga yang murah atau diskon yang besar, namun soal kualitas produk, kamu gak tahu. Nanti bukannya kamu mendapatkan kepuasaan atas produk yang kamu beli malah penyesalan karena produk yang  kamu beli tidak sesuai dengan harapan kamu. Jangan deh, beneran. Itu berat.
 Si Koncer
Sekedar informasi nih, berdasarkan data dari Kementerian perdagangan pada tahun 2016, Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) di Indonesia hanya mencapai nilai 30,86 % lho sob dari nilai tertinggi 100. Hmm, artinya apa? Artinya tingkat pengetahuan konsumen terhadap hak dan kewajiban mereka dalam melakukan transaksi jual beli sudah cukup baik, namun dalam pemanfaatannya yang masih kurang. Konsumen banyak yang tidak memahami bahwa ada aturan yang bisa melindungi mereka ketika dirugikan dalam bertransaksi.

Selain itu, diketahui juga banyak alasan yang melatarbelakangi konsumen tidak mau mengadu dan memperjuangkan hak mereka ketika mendapati kerugian saat membeli produk. 

Berikut merupakan indeks alasan konsumen yang diungkapkan menteri perdagangan Enggartiasto Lukita.
Ternyata, 42% konsumen memilih tidak melaporkan tanpa diketahui alasannya. 
Selanjutnya ada beberapa alasan yang diketahui membuat konsumen ogah-ogahan melaporkan tindakan nakal para penjual. Alasan yang terbesar justru karena menyepelekan jika kerugian yang didapat tidak seberapa. Padahal, menyepelekan hal semacam ini justru membuat penjual tak jera dan terus berbuat curang.

Dilanjutkan dengan ketidaktahuan konsumen untuk mengadukan dan alasan rumitnya prosedur pengaduan. 

Alasan yang terakhir karena kenal dengan si penjual, sehingga ada perasaan tidak enak saat akan melaporkan. Biasanya ini terjadi ketika konsumen melakukan transaksi secara offline. 

Sebagai konsumen yang cerdas, seharusnya kita tahu lho sob mengenai apapun yang berhubungan dengan hak dan kewajiban kita. Baiklah, kalau kamu belum tahu, melalui tulisan ini, saya mau nih membagikan ciri-ciri konsumen cerdas serta hak dan kewajiban yang kudu kita pahami dan perjuangkan. 
Ini penting dan wajib bagi kita para konsumen. Teliti dulu sebelum membeli produk. Misalnya kamu membeli produk gadget, pastikan spesifikasinya sesuai dengan yang kamu butuhkan. Selain itu, jangan mudah tergiur dengan penjual yang menawarkan produk dengan harga yang sangat murah, dibawah standar penjualan. 

Saya sering menemukan kasus jual beli online yang menawarkan gadget dengan spesifikasi tinggi namun hanya berharga lima ratus ribuan. Plisss, percaya deh, itu sebentuk penipuan. Mana ada produk smartphone yang harusnya berharga 8 jutaan dijual dengan harga 500 ribu. Itu tidak logis. Jangan tergiur dengan harga murah.

Kasus jual beli tersebut hampir sama dengan penipuan yang dialami oleh Tika, sahabat saya. Ya, penipuan dengan kedok butuh uang dan menjual produk dengan harga yang sangat murah. Hati-hati ya Sob. 

Teliti sebelum membeli produk juga bisa dilakukan dengan mengecek kesesuaian antara kualitas produk dengan harga yang ditawarkan. Jangan sampai kamu membayar untuk produk asli, eh malah dikasih produk KW. Duh malah rugi donk. 
Well, ini nih yang kadang menjadi tantangan bagi kita sebagai konsumen. Budayakan membaca sebelum menggunakan produk ya. Jangan sampai kita melakukan kesalahan dengan produk yang kita beli karena keteledoran kita sendiri. Misalnya saja produk obat-obatan. 

Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan aturan pakai bisa menimbulkan dampak fatal lho bagi penggunanya. Yuk mulai membiasakan diri membaca panduan. 
Siapa disini yang sering membeli produk parcel? Saat kamu dapat atau membeli parcel, pastikan ya tiap produk didalamnya tidak mendekati atau bahkan sudah kadaluwarsa. Bisa bahaya. 

Saya pernah menemukan produk minuman soda yang tanggal kadaluwarsanya hampir dekat, di etalase sebuah minimarket. Produk tersebut terbilang sudah cukup lama tersimpan berdasarkan kemasan yang terlihat kusam. Memang, harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding produk lain yang sejenis. Terdapat diskon yang cukup menggiurkan. Namun sekali lagi, kita kudu cerdas membeli. Jangan asal tergiur dengan harga yang relatif murah tapi produknya sudah tidak layak konsumsi. 
Penerapan SNI (Standar Nasional Indonesia) pada produk bertujuan untuk melindungi konsumen lho? Hmm, kok bisa. Yap, ketika kamu membeli produk yang sudah bertanda SNI, produk tersebut telah terjamin aman untuk digunakan. Saya sudah menerapkan untuk membeli barang ber-SNI lho, dari helm, pompa air, air mineral botol, kipas angin, hingga bohlam lampu. Kamu kapan menerapkan?
Kenapa sih konsumen yang cerdas harus milih produk yang ber-SNI?

Adanya SNI akan membantu konsumen untuk memilih produk yang berkualitas. Gak mungkin lho udah ada SNI nya tapi produknya abal-abal. Soalnya SNI merupakan standar nasional yang dibuat oleh pemerintah untuk mengakui bahwa produk tertentu lolos beberapa kualifikasi, jadi gak bakal main-main. 

SNI membantu konsumen terbebas dari produk yang berbahaya bagi keselamatan. Iyap, misalnya saja kamu beli produk helm nih. Coba deh kamu bandingkan kualitas bahannya. Pasti beda deh antara helm tak ber-SNI dengan helm yang sudah ada SNI nya. Helm yang saya beli sudah ber-SNI, dan realitanya memiliki bahan yang lebih bagus dibanding helm saya yang tidak ber-SNI. 

Beberapa hari yang lalu saya sempat membeli mainan untuk adik saya yang berulangtahun. Tak tanggung-tanggung. Saya juga mengecek standar dalam kemasan produk supaya kualitasnya bisa saya percayai. Dan tentu saja, produk tersebut telah memiliki SNI.
Mainan yang ber-SNI tentu telah melewati proses pemeriksaan yang ketat. Saya percaya untuk bahan yang digunakan pun sudah sesuai dengan standar produk yang baik, sehingga saya yakin mainan tersebut aman ketika dimainkan adik saya yang masih terbilang kecil. 
Udah tahu belum nih sob mengenai hak dan kewajiban konsumen dalam membeli produk? Kalau belum, saya akan bagi pengetahuan deh. Baiklah, ini nih hak dan kewajiban konsumen yang wajib kita pahami dan lakukan. 
Well, sudah tahu kan hak dan kewajiban kita sebagai konsumen. Hak dan kewajiban tersebut, tertuang tegas lho dalam Undang-undang No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Jelas terlihatkan, bahwa sebenarnya perlindungan konsumen merupakan sesuatu yang penting dan secara bersama-sama sedang diupayakan pemenuhannya oleh pemerintah.
Pernah enggak sih kamu merasa ingin membeli ini dan itu ketika kamu punya cukup uang. Padahal jika dilihat dari sisi kebutuhan, kamu gak terlalu butuh barang tersebut. 

Sebenarnya setiap orang mungkin pernah merasa seperti itu, punya banyak keinginan yang ingin dibeli. Termasuk saya sendiri. Tapi sob, membeli barang tanpa dibutuhkan itu termasuk tindakan yang kurang bijak lho. Itu termasuk tindakan yang mengarah pada konsumerisme. 

Konsumen cerdas itu konsumen yang membeli barang atas dasar kebutuhan. Jadi mereka bisa memprioritaskan mana yang lebih dibutuhkan ketimbang yang diinginkan. Jangan sampai kita jadi konsumen yang asal beli karena tergiur diskon lantas barang tersebut akhirnya gak terpakai karena gak kita butuhkan. 
Produk buatan anak negeri gak kalah saing kok dengan produk impor, bahkan banyak produk anak negeri yang diakui kualitasnya oleh dunia internasional. Kalau dunia internasional aja mengakui kualitas produk kita, kenapa kita enggak?

Saya mencintai produk Indonesia. Yap, sebagai bangsa yang kagum dengan buatan dalam negeri, saya lebih suka memilih produk-produk hand made yang unik dan berkualitas.

Saya sering ke Sunday Morning Jogja (pasar minggu) untuk membeli berbagai kebutuhan. Di Sunday Morning, di jual berbagai macam produk. Baik produk impor maupun produk buatan masyarakat lokal dengan kualitas yang bagus.  

Baiklah, mari saya ajak untuk berkeliling melihat produk-produk buatan anak negeri. 
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Dengan membeli produk asli Indonesia yang dibuat oleh masyarakat lokal, kita turut membantu meningkatkan aktivitas ekonomi mereka lho. 
Nih tiga kebaikan yang bisa kamu dapatkan ketika membeli produk asli Indonesia. Yang pertama, membuat puas diri sendiri karena mendapatkan produk yang kita inginkan, yang kedua kita turut mensejahterakan masyarakat karena membeli produk buatan mereka, dan yang ketiga kita ikut andil dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia.
Gambar-gambar di atas merupakan dokumentasi yang saya ambil ketika berbelanja di Sunday Morning beberapa waktu lalu. 

Saya cukup tertarik dengan produk-produk dari para penjual yang bersifat etnik atau produk lokal yang dibuat oleh UMKM di sekitaran Jogja.

Dear Konsumen cerdas,
Harkonas merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap konsumen. Melalui Harkonas ini, diharapkan masyarakat memahami arti penting mereka sebagai bagian dari pergerakan ekonomi nasional. Pemerintah bahkan sedang berupaya untuk terus mendukung pemenuhan hak dan kewajiban konsumen.

Pada tanggal 20 April 2017 lalu bertepatan dengan peringatan Harkonas 2017, menteri perdagangan Enggartiasto Lukita pernah menyampaikan bahwa konsumen yang Cerdas mampu memacu daya saing produk Nasional. Mengapa demikian? Konsumen merupakan subyek dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Diharapkan dengan kesadaran dan kecerdasan konsumen terhadap pemilihan produk, dapat memicu semangat para pelaku usaha untuk menghasilkan produk yang berkualitas.

Kita semua tahu bahwa digitalisasi era telah mempengaruhi hampir di semua aspek kehidupan. Digitalisasi juga mengubah pola pasar, perilaku konsumen, marketing, model bisnis, investasi, pertumbuhan ekonomi, dan masih banyak lagi. Tak dapat dipungkiri, penetrasi internet di Indonesia yang berkembang pesat semenjak tahun 2000 mengakomodasi para digital native untuk membuat perubahan. Termasuk perubahan di dunia perdagangan. 

Sekarang ini cara bertransaksi di dunia perdagangan telah berubah. Konsumen bisa dengan mudah berbelanja hanya dengan mempermainkan jari mereka. Cukup bermodalkan gadget dan akses internet. Konsumen tinggal klik dan scroll, mereka bisa langsung membeli produk yang dibutuhkan. 

Namun demikian, kemudahan mengakses internet dan bertransaksi via digital juga memiliki sisi negatif. Kemudahan ini bisa dimanfaatkan oleh penjual nakal untuk melakukan penipuan.

Saya mencoba membuka linimasa media sosial yang ada di gadget saya. Hampir di setiap media sosial saya, baik instagram, facebook, whatsapp dan BBM berisi penawaran produk. Mulai dari baju hingga gadget. Harga yang ditawarkan oleh mereka pun beragam. Ada yang sesuai standar, ada pula yang dibawah standar harga normal. 

Nah, untuk penjual yang menawarkan produk dengan harga dibawah standar, kamu wajib untuk curiga Sob. Seperti kejadian sahabat saya yang ditipu saat membeli kamera, awalnya ia juga diiming-imingi harga yang sangat murah oleh si penipu. 

Cobalah menjadi konsumen yang cerdas di era digital ini. Teliti setiap produk yang akan kita beli. Kalau perlu, bandingan harga pada tiap merchant penjualan, entah penjualan online ataupun offline. Apakah logis atau mencurigakan. Jangan mudah percaya juga dengan testimoni-testimoni yang terpampang. Bisa jadi itu sebentuk testimoni yang sengaja dibuat supaya merchant terlihat meyakinkan. 
Adanya Harkonas telah menjadi simbol pengakuan bagi kita para konsumen. Kita harus memahami peran, hak dan kewajiban kita sebagai konsumen yang cerdas. Apalagi melalui tantangan di era digital seperti sekarang ini. Kejelian dan ketelitian adalah hal utama. 

Bagi kamu yang pengen tahu lebih lanjut mengenai upaya pemerintah dalam mewujudkan konsumen cerdas Indonesia, kamu bisa lho kepoin Harkonas.id. Ada beragam informasi yang pastinya bakal kamu butuhkan dan menambah wawasan kamu.

Oke, saatnya kita bersama memaknai Harkonas dengan menjadi konsumen yang cerdas. Cerdas dalam memilih dan menentukan prioritas. Cerdas dalam menjalankan hak dan kewajiban. Cerdas dalam mencintai produk dalam negeri dan produk ber-SNI. 

Beneran, menjadi konsumen cerdas di era digital itu harus dan wajib. Titik. 
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Harkonas 2018 dengan tema “Konsumen Cerdas di Era Digital”


Sumber data : 
  • Harkonas. id
  • http://www.depkes.go.id/article/view/17042000002/mendag-konsumen-cerdas-pacu-peningkatan-daya-saing-produk-nasional.html
  • http://www.jurnalhukum.com/pengertian-konsumen/
  • http://www.jurnalhukum.com/hukum-perlindungan-konsumen-di-indonesia/
  • Akun facebook Info Cegatan Jogja

36 komentar:

  1. Kalau saya biasanya lihat rating dan testimoni lapak seller, seller dengan reputasi yang ba3bisanya mau terima pengembalian dana dan uang jika salah kirim barang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, perlu jeli. Gak hanya lihat testimoni sih kalau saya. Soalnya kadang testimoni bisa dibuat-buat. Saya malah biasanya memilih langsung COD jika barang yang ingin saya beli lumayan mahal.

      Hapus
  2. astagfirullah ketipu 1,7 juta nyesek banget. makanya saya kalau belanja lewat tokped, biasanya jaminan dari tokped. Termasuk barang mahal kyk ho, jg dari tokped

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, uang 1,7 juta ilang dengan sia-sia. Sedih dan berasa agak trauma saya kalau melihat kasus sahabat saya ini mba. Mau dilaporkan tapi udah diblokir dan gak ada jejak sama sekali. Duh

      Hapus
  3. Harus banget jadi konsumen cerdas, dengan teliti dan belanja sesuai kebutuhan bukan keinginan. jangan sampai nyesel belakangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, harus dan wajib. jangan sampai kena tipu oleh oknum2 tak bertanggungjawab. Ntar malah jadi rugi :(

      Hapus
  4. Iya sepintar pintar ya penipu kita pembeli harus lebih pintar. Hehehe...
    Jangan tergiur harga murah tapi malah celaka... Waspada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, kita kudu jadi konsumen cerdas yang bisa meminimalisir terjadinya penipuan. Murah belum tentu membuat hati cerah soalnya hehe

      Hapus
  5. Kebangetan si Hartono nih, cari duit lewat cara keji. Bikin jelek yg punya nama Hartono saja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya menang mas, kasihan nama Hartono jadi kambing hitam.

      Hapus
  6. Semoga konsumen makin cerdas dan asertif ya. supaya tidak terjdi lagi hal2 semacam ini
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. Saya yakin konsumen juga bakal semakin berhati-hati ketika bertransaksi. Apalagi kalau transaksi online. Perlu kecermatan :)

      Hapus
  7. iya ya kalau kita udah aware dengan produk berSNI nyaman dan aman ya beli barang baik online maupun offline.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mba Gita. Istilahnya tuh, udah lolos kualifikasi gitu untuk jadi barang yang layak di beli :D

      Hapus
  8. Produk-produk ber-SNI memang jaminan kualitas. Apalagi kalau mainan anak-anak, mesti banget dicek udah punya tanda SNI-nya atau belum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, emang kudu di cek kualitasnya. Kadang kalau anak kecil suka masukin mainan ke mulut. Nah, kalau bahannya udah gak layak untuk mainan, bisa berbahaya. Kalau udah SNI mah udah tenang, inshaallah :D

      Hapus
  9. Aku dulu pernah ditipu sampe beberapa ratus ribu mbak. Waktu itu entah kenapa ngga pake cek dulu, padahal biasanya aku paling rajin cek semua hal tentang penjualnya. Dan yang jadi korban ternyata bukan aku doang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang kak, yang namanya penipuan itu bisa terjadi sama siapa aja. Yang bikin kzl kadang kalau ada penjual yang nawarin barang, dan tertulis seolah-olah testimoninya bagus-bagus, hingga kelihatan tidak mencurigakan. Padahal penipuan. Sedih bangets :(

      Hapus
  10. karena maraknya penipuan tersebut membuat aku bener-bener selektif banget dalam memilih online shop, temenku juga ada yang ketipu beli kamera gitu. duuuh semoga kita semua bisa lebih pandai meriset penjual sebelum membeli sesuatu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak. dan yang pasti jangan asal tergiur dengan harga murah. Kadang aja kalau harganya beneran kita bisa ditipu. Bila perlu sih COD an aja mba mendingan hehe

      Hapus
  11. Soalnya kalau beli kebabalaan dan cuma mneuruti hawa napsu ya bisa kalapppp. makanya jadi konsumen cerdas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, belajar utk tidak menuruti keinginan mulu.

      Hapus
  12. Menjadi konsumen cerdas memang sangat sangat penting. Makasih tipsx ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak. Emang penting banget kak. Apalagi di era digital kayak sekarang ini

      Hapus
  13. Emang jadi konsumen kudu cerdas ya.
    Btw saya juga beli kamera via onlen tapi lewat marketplace, jd bayarnya juga lewat marketplace.
    Saya hanya beli ke OS perorangan kalau saya kenal orgnya TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti udah terpercaya ya mba?
      Alhamdulillah kalau kayk gitu.

      Hapus
  14. Semoga dengan adanya Harkonas, Kita semakin cerdas ya dalam belanja. Dan semoga prigram penyadaran ini bisa merata hingga ke pelosok. Soalnya aku masih sering lho nemuin makanan kedaluwarsa yang masih dijual. Penjual boleh aja main curang dan gak mau rugi dengan masih tetep jual produk itu. Tapi kalo konsumennya cerdas, gak bakal Ada kasus penipuan atau keluhan sakit dll akibat Hal begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip bener mbak. Saya sering malah dapat parcel yang tanggalnya udah mendekati kadaluwarsa. Dan herannya kok ya tega di jadikan parcel lebaran :(

      Hapus
  15. Kalau beli barang online, dan ternyata mendapat produk yang nggak bagus berarti bisa diadukan juga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya kita ngomong baik2 dulu sama penjualnya kak, kalau memang itu kesalahan dari penjual dan penjual gak mau bertanggungjawab, baru bisa diadukan :D

      Hapus
  16. betull kaak.. konsumen cerdas.. harus beli yang dibutuhkan bukan yang di inginkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sih biasanya gitu bang, soalnya eman-eman juga ngabisin uang tapi barang gak tak butuhin meskipun aku lagi punya uang misalnya

      Hapus
  17. Lengkap banget penjelasannya. Menjadi konsumen benar2 harus cerdas agar tidak salah beli ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak, yap. kita kudu pinter biar gak gampang kena tipu penjual nakal :D

      Hapus
  18. Saya baru dengar baru2 ini ada Harkonas. Sebagai konsumen kita memang harus cerdas mbak, apalagi kalau produk yang akan kita beli itu bakal dikonsumsi sama keluarga kita juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, ada mbak. Harkonas ada karena pemerintah berusaha untuk mengupayakan hak dan kewajiban konsumen. Soalnya konsumen itu penting banget.
      Cerdas memilih barang itu bagian dari memaknai harkonas secara nyata hehe

      Hapus