Selasa, 18 April 2017

Kenali Indonesia dengan data : Bonus Demografi dan Fenomena Penggunaan Teknologi Digital bagi Perekonomian Indonesia

"Indonesia menempati urutan ke-4, negara dengan jumlah penduduk terpadat setelah Tiongkok, India dan Amerika serikat"

Kalimat diatas merupakan informasi yang sering  terdengar ketika saya belajar di bangku sekolah. Terutama ketika SMP dan SMA. Dengan posisi keempat tersebut, banyak yang memiliki persepsi mengenai Penduduk Indonesia. 

Mampukah jumlah populasi dengan bonus demografi yang banyak tersebut membawa manfaat, atau malah membawa masalah bagi Indonesia?

Mengenali Indonesia dengan angka (data). Ya, memberi manfaat atau tidaknya populasi penduduk bisa dilihat melalui fakta yang disajikan. Kecenderungan penyerapan tenaga kerja, jumlah penurunan kemiskinan, perkembangan ekonomi, dunia digital dan pembaharuan diberbagai sektor merupakan beberapa indikator tercapainya kemajuan dalam bidang kependudukan. 

Berbicara mengenai penduduk, penduduk didunia memiliki beberapa kategori dalam pembagian komposisi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Ada 3 jenis piramida yang digunakan untuk menggambarkan komposisi penduduk dunia.
1. Piramida Penduduk Muda (Stationer)
Berdasarkan piramida tersebut, banyak penduduk muda yang ada disuatu negara. Hal tersebut disebabkan besarnya angka kelahiran karena banyak faktor (pernikahan dini, pernikahan usia muda) dan kecilnya angka kematian (mortalitas). Negara dengan jumlah kelahiran terbesar merupakan negara yang masih berada dalam kategori berkembang.

2. Piramida Penduduk Dewasa
Pada piramida jenis ini jumlah angka kelahiran memiliki angka yang hampir seimbang. Jumlah antara bayi yang lahir dan jumlah kematian memiliki angka yang hampir sama sehingga tidak terjadi ketimpangan. Piramida jenis ini biasanya dimiliki oleh negara-negara yang sudah cukup maju, misalnya negara Singapura.

3. Piramida Penduduk Tua (Konstruktif)
Pada kategori penduduk dengan bentuk piramida konstruktif, jumlah penduduk usia tua lebih banyak daripada penduduk usia muda atau dewasa.  

Lalu, piramida manakah yang menunjukkan negara Indonesia?
Ya, Piramida Stationer (Penduduk Muda).
Dengan jumlah usia muda lebih banyak dari penduduk usia dewasa dan tua, membuat Indonesia memiliki potensi SDM atau biasa disebut memiliki bonus demografi yang besar.
Wait!!!!
Apa itu bonus demografi?
Bonus demografi merupakan penduduk angkatan muda/produktif dengan rentang usia 15 hingga 64 tahun. Mereka merupakan angkatan kerja yang siap untuk bekerja pada sektor apapun. 
Nah di Indonesia, karena jumlah penduduk usia muda lebih banyak, maka Indonesia memiliki bonus demografi. 

Sumber : BPS Indonesia
Besarnya jumlah penduduk Indonesia, terutama penduduk usia produktif dan usia muda membuat banyak spekulasi yang muncul mengenai permasalahan-permasalahan yang bisa timbul. Namun pada dasarnya selain permasalahan terdapat banyak pula sisi positif dengan jumlah penduduk sebesar itu. Apalagi sebagian besarnya merupakan usia produktif.
Sisi positif yang ada diantaranya sebagai penggerak perekonomian Indonesia. Bagaimana bisa?

Pada ulasan saat ini saya akan menyinggung mengenai Sumber Daya Manusia (SDM) dan Teknologi. Sumber Daya Manusia  berpengaruh besar terhadap kemajuan. Semakin tinggi tingkat kemajuan SDM suatu negara semakin besar pula negara itu bisa bersaing dengan negara lain dalam berbagai aspek. Banyaknya jumlah penduduk dengan SDM yang berkualitas memiliki andil dalam kemajuan ekonomi Indonesia. Penggunan Teknologi, terutama Teknologi Informasi merupakan sesuatu yang saat ini sedang gencar dilakukan. 

Di Asia pasifik saja, Indonesia merupakan negara dengan ketergantungan internet yang tinggi. Masyarakat rata-rata menghabiskan waktu lebih dari 3 jam menggunakan telepon selulernya (Smartphone). Selain untuk berita dan informasi, masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya untuk bersosialisasi di jejaring sosial seperti Facebook, Twitter atau Instagram ( databoks.katadata.co.id ).

Pengguna terbesarnya pun tercatat masih kategori belia. Berdasarkan data dari databoks.katadata.co.id 75% pengguna internet merupakan anak-anak dan remaja. Pada tahun 2016, tercatat ada 132 juta orang mengakses internet dalam kehidupan sehari-hari. Jika didasarkan atas usia, 75,5 persen merupakan anak-anak usia (10-24 tahun) dan yang tertinggi adalah kelompok usia (25-44 tahun) sebesar 75,8 persen.


Tingginya angka penggunaan internet tersebut juga membuat jumlah Internet Service Provider (ISP) mengalami peningkatan. Seperti data yang dilansir oleh databoks.katadata.co.id pada tahun 2012-2015, terdapat 281 perusahaan yang terdaftar sebagai jasa penyedia Internet. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 17 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 240 perusahaan. Jumlah pelanggannya pun meningkat mencapai 8,39 juta yang mencakup pelanggan personal, perusahaan dan berbentuk warnet.
Tingginya penggunaan internet memiliki peluang teraksesnya informasi yang berkaitan dengan kemajuan dunia terutama dari segi pemberdayaan kreativitas dan informasi mengenai berbagai bidang termasuk bidang perdagangan dan ekonomi.

Data yang dihimpun databoks.katadata.co.id mengatakan bahwa Statistik Telekomunikasi Indonesia 2015 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa 82,05 persen penduduk mengakses internet untuk keperluan sosialisasi, 73,50 untuk mendapatkan layanan informasi 45, 10 persen untuk hiburan, 35,08 persen untuk pengerjaan tugas dan sisanya untuk mengakses informasi maupun perdagangan.

Tingginya penggunaan internet mempermudah terjadinya kolaborasi antara pekerjaan dengan teknologi. Semakin besar penggunaan internet, ide-ide dari masyarakat semakin besar pula dalam hal inovasi produk, sistem perdagangan yang berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi terutama ekonomi digital. 
Indonesia memiliki populasi penduduk (Bonus Demografi) dengan penerimaan informasi yang baik, semakin besar pula kemampuan dalam penyebaran ide-ide dan kreativitas. Misalnya saja penggunaan media sosial sebagai perantara untuk menjual produk baik barang atau jasa (toko-toko online).
Bayangkan saja, jika jumlah akses informasi barang dan jasa itu sampai ke masyarakat secara menyeluruh. Penjualan akan meningkat dan berpotensi menumbuhkan pendapatan negara.
Kita bisa melihat dari banyaknya penjualan barang dan jasa dengan sistem "Daring". Contohya seperti Lazada, Blibli, Bukalapak, Gojek, Zalora, Matahari Mall, Tokopedia dan sebagainya. 
Diagram diatas menunjukkan 7 Start up yang memiliki basis digital dan berpengaruh positif terhadap penyerapan SDM (karyawan) untuk Indonesia. Penggunaan internet memberikan dorongan setiap orang untuk terus berkembang dalam hal persaingan ide dan sistem penjualan. 

Bayangkan saja jika setengah jumlah populasi yang ada di negara ini dipenuhi oleh orang-orang yang paham mengenai penggunaan teknologi digital dalam peningkatan perdagangan dan daya beli, maka ekonomi negara ini pun akan meningkat. Apalagi dengan bonus demografi yang besar. Penyerapan tenaga kerja menjadi besar, selain itu tenaga kerja akan dengan sendirinya berusaha memperkuat daya saing melalui peningkatan skill mereka. 

Peningkatan skill yang baik akan menciptakan SDM yang berkualitas. Sekarang ini peningkatan Skill telah dilakukan pemerintah dengan mempermudah warganya mendapatkan beasiswa Pendidikan Tinggi bahkan sampai keluar negeri. Beasiswa bidikmisi dan LPDP misalnya.

Lalu masihkah menganggap bonus demografi hanya menciptakan permasalahan?

Bagi saya. Persepsi mengenai manfaat atau tidaknya bonus demografi bisa dilihat dari data yang disajikan. Penyerapan informasi-informasi melalui internet meningkatkan pula pemahaman mengenai berkembangnya sistem penjualan. Teknologi digital, penjualan produk, kemajuan ekonomi dan jumlah penduduk memiliki keterikatan. Kita bisa melihat fenomena transaksi Daring (Online) sebagai bagian dari penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan sistem perekonomian Indonesia.
Berikut merupakan data statistik yang diambil dari databoks.katadata.co.id :


Tahun 2016, 8,6 juta orang melakukan transaksi secara Online

Perkembangan jumlah konsumen online di Indonesia semakin meningkat. Pada 2016, riset dari eMarketer memperkirakan akan mencapai 8,6 juta orang yang berbelanja melalui internet. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 7,9 juta orang. Dengan bertambahnya jumlah penduduk yang mengenal internet seiring lahirnya generasi Z (Gen Z) yang lahir di era digital membuat kebiasaan belanja barang dan jasa yang sebelumnya secara konvensional akan beralih menjadi online. 
Dalam industri e-commerce, Indonesia sudah punya modal dasar berupa volume pasar yang sangat besar. Dengan jumlah populasi 250 juta (terbesar di ASEAN), Indonesia dapat menjadi pasar e-commerce yang sangat menjanjikan. Guna mendorong transaksi online, pemerintah telah menerbitkan paket kebijakan ekonomi yang khusus untuk mempermudah dan melindungi bisnis perdagangan secara elektronik (e-commerce) di dalam negeri.
Diagram Konsumen yang menggunakan E-Commerce :


Jika dilihat secara cermat, penjualan melalui online sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat. Semakin gencarnya kolaborasi antara teknologi terutama Teknologi Informasi (internet) dengan SDM yang ada nantinya, akan mempengaruhi perkembangan ekonomi nasional melalui perdagangan.

Jumlah penduduk (bonus Demografi) Indonesia besar?
Siapa takut!!!!


Tulisan ini diikutkan dalam lomba Blog Kata data :

#DataBlog
#KataData


POST By : Nurul Mutiara Risqi Amalia (Manajemen 2013 Universitas Negeri Yogyakarta)

2 komentar: