Kamis, 13 April 2017

Be a good parent??

Orang tua adalah sosok yang selalu menjadi panutan bagi anak-anaknya. Yaps, apapun yang dilakukan orangtua, memiliki peluang dilakukan oleh anaknya.
Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa buah mangga jatuh tak jauh dari pohonnya. Nah dari pepatah itu menggambarkan bahwa sifat seorang anak dengan diri orangtua baik karakter, perilaku dsb memiliki hubungan yang dekat.
Lantas, apa hal yang ingin aku ulas kali ini?
Why I talks about parent?

Okay, aku akan bercerita dulu sebelum mulai mengulas sesuatu tentang orangtua. Tentang Parenting.
***

Cerita 1
Aku memiliki seorang teman dekat. Dia adalah anak dari orang yang cukup berpunya dan memiliki segalanya secara material. Setiap kali dia menginginkan sesuatu, pasti orangtuanya akan mengabulkan permintaan dalam kurun waktu yang cukup cepat. Dia anak yang baik menurutku. Namun, sifat manjanya itu membuat dia menjadi anak yang selalu tergantung kepada orangtua. Meski sudah memasuki usia dewasa, tapi kemampuan dia dalam mengambil keputusan hidupnya masih digantungkan ke orangtua. 

Misalnya saja mengenai keputusannya untuk masuk ke perkuliahan. Orangtuanya masih ikut campur dan memaksa anaknya untuk masuk ke fakultas yang diinginkan mereka. Kebetulan ibu dan bapakya berasal dari fakultas kedokteran, sehingga menginginkan anaknya menjadi dokter. Jika tidak menjadi dokter, setidaknya menjadi perawat. 

Dilihat dari skill dia selama berteman bersamaku. Dia menyukai sesuatu yang berhubungan dengan seni. Menggambar dan juga desain adalah sesuatu yang pernah aku lihat dia punyai. Namun karena orangtuanya tidak menganggap kemampuannya itu dan terlanjur memasukkan dia ke salah satu Stikes di kotaku, sehingga dia belajar disana. Sampai sekarang dia sering bercerita kalau dia merasa belajar menjadi perawat itu tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dia merasa salah masuk jurusan.

Cerita 2
Seorang teman pernah kutemui dalam keadaan tak bersemangat dikelas. Aku lantas bertanya alasannya. Dia bercerita kalau dia sedih karena masuk ke jurusan yang tidak sesuai dengan keinginannya hingga orangtuanya datang ke sekolah.

Orangtuanya melakukan protes ke guru. Bertanya alasan anaknya tidak diterima di program IPA. Sang guru menjelaskan bahwa anaknya kurang bisa menerima beberapa mata pelajaran yang berhubungan dengan IPA melalui grade yang terbilang masih dibawah standar. Sang ibu masih ngotot dan ingin anaknya masuk ke program IPA. Namun setelah melakukan negosiasi bersama anaknya juga, pada akhirnya sang ibu menerima anaknya masuk ke IPS.

Berapakah usia yang cukup untuk membuatmu bisa dikatakan menjadi dewasa?
Dewasa disini adalah memiliki kemampuan mengambil keputusan dalam hidup dan berani mengambil segala risiko yang ada. Tidak karena pilihan oranglain sehingga suatu waktu terjebak dengan penyesalan karena salah mengambil keputusan. 
Ingat tho,
Segala risiko, pahit, senang dan suksesnya hidup yang memiliki andil adalah diri sendiri. Orangtua memang memiliki andil. Tapi sebagai penyumbang saran dan pendukung setiap keputusan. Bukan sebagai pemeran utama yang berhak menyetir anaknya untuk hidup seperti ini dan seperti itu.

Mungkin alasan masih adanya orangtua yang menyetir anaknya terjadi karena rasa cinta dan rasa khawatir yang berlebihan. Atau karena itu adalah bagian dari orangtua yang tak bisa tersampaikan di masa mereka muda sehingga berusaha menerapkan ke anak-anak mereka.Entahlah, terlalu banyak alasan yang membuat orangtua masih ikut campur dalam keputusan hidup seorang anak. 

Beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah drama korea berjudul "Page Turner". Terdiri dari 3 episode yang memiliki pesan moral tentang pengaruh orangtua terhadap karakter anak.
Page Turner merupakan sebuah drama pendek yang bercerita tentang persaingan seorang pianis perempuan di sebuah sekolah musik ternama di Korea Selatan. Tokoh utama wanita (Yoo Seul) merupakan seorang pianis berbakat yang selalu memenangkan kontes. Selama berada di sekolah tersebut, Yoo hanya memiliki satu saingan terberatnya yakni Jin-Mok. 

Source : Google
Suatu hari Yoo mengalami kecelakaan fatal yang merenggut penglihatannya. Dengan kondisinya yang seperti itu Yoo harusnya membutuhkan sebuah kepeduliaan dan dukungan dari ibunya. Namun ibunya malah bersikeras menyuruh Yoo untuk tetap bermain piano dan wajib mengikuti kontes piano mengalahkan Jin-Mok. Seolah tak tahu bagaimana perasaan anaknya yang kehilangan penglihatannya. Ibu dari Yoo terus memaksa Yoo untuk bermain piano walau dalam keadaan buta. Dia punya ambisi masa kecil yang tak bisa dicapainya sehingga dia memaksakan keinginan itu pada Yoo.

Yoo sempat tertekan dan berniat melakukan bunuh diri. namun dihalangi oleh Cam-Sik, seorang atlet yang juga mengalami cedera pada kakinya sehingga ia tak bisa menjadi seorang atlet lagi. 
Yoo merasa terpukul dan tak memiliki minat lagi untuk bermain piano. Bermain piano dan memenangkan banyak kontes bukan keinginan dirinya. Tapi ibunya.

Dari cerita Page Turner diatas aku mengambil beberapa hal yang berhubungan dengan parenting. Yang pertama, ibu dari Yoo begitu memiliki ambisi membuat Yoo seperti dirinya. Mengatur segala hal yang berhubungan dengan kehidup[an Yoo. Yoo hanya ingin bermain piano sebagai dirinya, namun ibunya selalu menanamkan jiwa persaingan yang ketat, tidak boleh kalah sedikitpun dengan oranglain, termasuk dengan Jin-Mok.

Ambisi ibunya bahkan tidak bisa memahami, mana yang harusnya ia lakukan sebagai orangtua dan mana yang bukan. Dia terlalu memyetir kehidupan Yoo. Sehingga Yoo berkembang bukan menjadi dirinya sendiri tapi menjadi orang yang diinginkan ibunya.


***
Sampai kapan orangtua akan menganggap anaknya tak mampu mengambil keputusan?
Ingat, bisa jadi seorang anak mengalami karakter yang buruk, mengalami saat-saat berat karena pengaruh orangtua yang terlalu mengekang dalam memilih apa yang menurut anak-anak mereka sukai dan menjadi passion bagi mereka.

Source : google
Jangan sampai anak-anak kehilangan sesuatu yang berharga dari diri mereka karena orangtua yang melarang ini dan itu. Jangan sampai anak tak memiliki kemampuan karena orangtua yang takut jika anaknya mengalami kegagalan, jatuh dan sebagainya. 

Orangtua memberi dorongan dan pengaruh besar terhadap semangat tidaknya anak-anak dalam menjalani kehidupan. Mungkin lingkungan suatu hari nanti punya potensi untuk merubah sifat dan perilaku anak (bisa menjadi baik atau buruk). Namun tameng yang tepat untuk mengatasinya ketika menjadi buruk adalah melalui keluarga. Terutama melalui orangtua mereka.



Be a good parent?
Yap, harus. Kita sebagai calon orangtua juga harus belajar untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita nantinya. Menjadi orangtua yang baik bukan berarti selalu memanjakan anak dengan selalu memberi apapun yang diinginkan tapi juga bukan berarti membebaskan untuk bertindak semaunya. 
Be A Good Parent bebrarti bisa mengkondisikan mana ranah yang harus dilakukan orangtua, mana ranah yang harus dilakukan anak sendiri untuk menjalani kehidupan. Biarkan anak-anak berkembang sesuai sisi natural mereka. Orangtua hanya bisa mengarahkan dan mencegah sesuatu yang terlihat menyimpang.

Yesss, today. Aku ingin mengeluarkan uneg-uneg ku tentang orangtua. Tetap sayangi orangtuamu, tapi juga kamu harus menyayangi dirimu dengan memberikan kekuatan yang baik dari dirimu sendiri. Mengikuti nasehat orangtua itu harus jika sesuai dengan apa yang kita anggap baik dan mampu. Tapi jika kita punya hal lain yang berbeda. Pilihlah pilihanmu sendiri tanpa membuat oragtuamu sedih.


Post By : Nurul Mutiara R.A (Manajemen A 2013 UNY) at Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar