Jumat, 31 Maret 2017

Resensi : Teacher's diary (Thai film)

Merasa jatuh cinta pada orang yang tak pernah ditemui?
Emang bisa?
***
Hari ini aku membuka-buka kembali laptopku karena bosan. Biasanya rasa bosan kuisi dengan beberapa aktivitas yang membuatku merasa lebih baik. Menulis-nulis seperti sekarang ini, atau sekedar menonton film-film yang ada di laptopku. 

Setelah mencari-cari film, akhirnya aku dapatkan sebuah film yang belum pernah kutonton sama sekali. Judulnya Teacher's diary. Film tersebut merupakan film percintaan buatan negeri Gajah Putih, Thailand. Awalnya aku tak terlalu tertarik dengan alur ceritanya, namun setelah beberapa jalan kuikuti, ternyata filmnya sangat bagus. Recomended banget untuk di tonton.
Teacher's Diary merupakan film yang mengisahkan tentang cinta. Namun pengemasan dan jalan ceritanya sangat bagus dan ispiratif. Tidak seperti film cinta yang biasanya. Adegan di akhir ceritanya juga membuatku benar-benar penasaran dan merasa tak sabar untuk melihatnya.

Oke kembali ke cerita Teacher's Diary.

Dimulai dari cerita 2 tokoh utama yang memerankan masing-masing menjadi guru. Tokoh utama wanita bernama Bu Ann, dan tokoh utama pria bernama pak Song. Keduanya menjadi guru di sebuah sekolah bernama sekolah kapal. Sekolah kapal sendiri merupakan sekolah cabang dari sekolah utama yang berada di kota. Letaknya berada di tengah perairan. Murid-murid yang bersekolah di sekolah kapal merupakan anak-anak dari nelayan di sekitar perairan tersebut. 
***
Dalam cerita, 2 tokoh berperan dalam setting waktu yang berbeda. Pada awalnya, penokohan lebih terlihat pada karakter utama laki-laki, namun diakhir justru sebaliknya.
***
Bu Ann lebih dulu mengajar sedangkan Pak Song meneruskan mengajar di sekolah kapal setelah Bu Ann pergi.
Suatu hari pak Son menemukan sebuah diary diatas papan tulis. Diary tersebut merupakan curhatan sehari-hari bu Ann selama mengajar di sekolah kapal. Lembar demi lembar Pak Song membacanya hingga tak sadar, ia jatuh cinta pada pemilik diary tersebut.

Jatuh cinta pada orang yang belum pernah ditemui?
Dalam film inilah hal unik tersebut terjadi.

Ya, hal unik dari cerita ini pada cara masing-masing tokoh saling jatuh cinta. Cerita ini menurutku lebih mengarah pada inti " Pertemuan jodoh dengan cara yang unik" dan secara tersirat menyampaikan pesan bahwa "Jodoh itu akan selalu satu vibrasi, artinya memiliki kesamaan satu sama lain"

Penasaran dengan ceritanya?
Dijamin ketika melihatnya, akan ada beberapa hal menarik. Tak lupa, didalamnya ada sisipan komedi yang membuat mulut ingin tertawa lepas.

Aku gak akan spoiler terlalu banyak deh. Pokoknya bagus banget ceritanya. Untuk film ini aku beri nilai 10, artinya aku menyukainya. 

Post By : Nurul Mutiara R.A (Manajemen 2013 A UNY)
Resensi pendek film Thailand (di kamar kos, Yogyakarta)

Sabtu, 18 Maret 2017

Pernahkah kamu merasakan Cinta??


Kalau aku ditanya hal yang sama, maka aku akan menjawab sering. Menurutku merasakan cinta itu sesuatu yang manusiawi. Dan aku sering juga merasakannya. Aku tipikal orang yang mudah menyukai seseorang ketika seseorang itu punya sesuatu yang menarik. Bagiku, laki-laki yang menarik itu ketika dia punya karakter peduli oranglain, tegas, anti mengeluh, dewasa, dan memiliki pandangan masa depan yang baik.

Berbicara mengenai cinta, hari ini aku mendapatkan cerita yang inspiratif dari Mb Dewi dan suaminya, Mas To biasa dipanggil. Mb Dewi dan Mas To merupakan pemilik "Nglathak" warung makan tempat aku kerja parttime. Oh iya, mereka juga merupakan tentor dalam kegiatan yang diadakan untuk mendidik calon ayah atau ibu bernama Sekolah Calon Ayah dan Calon Ibu.

Sore ini, Mb Dew bercerita tentang awal-awal berumah tangga. Banyak kendala yang dialami keduanya. salah satunya adalah masalah ekonomi. Pada awal-awal pernikahan, mas To belum memiliki usaha tetap. Usaha kambing milik mereka saat itu masih belum stabil. Bahkan, mb dewi bercerita kalau Mas To melamar dirinya saat menghadapi kebangkrutan untuk usaha perternakan yang dimiliki. Ya, kalau orang yang gak nerima, pasti bakal nolak tuh ama lamaran dari orang yang belum punya apa-apa. Berbeda dengan Mb Dew, karena telah merasa bahwa segala sesuatu pasti ada rezekinya.

Pernah kata Mb Dew, awal-awal menikah, Mb Dew harus nyabit rumput untuk kambing-kambingnya. Dan Mas To sendiri berada di kandang untuk merawat kambing-kambingnya tersebut. 
Pernah juga mb Dewi hanya memiliki uang didompetnya sebesar 10 ribu rupiah,udah listrik rumah dalam keadaan mati karena belum membayar. Wadawww, sangat sangat miris ya, duh...duh...
Harusnya kalau nyala kan bisa masak gitu, tapi karena mati listrik yaudahlah. Cuma bisa pasrah.

Awal-awal menikah dengan keadaan serba pas-pasan memang memiliki tantangan tersendiri bagi pasangan muda. Kelebihan dari itu semua yakni mereka bisa merasakan indahnya berjuang bersama. Masing-masing orang bisa saling memahami bahwa mencari uang itu harus dengan perjuangan dan kerja keras. Tidak tergantung pada orangtua dan belajar untuk memanaj diri sendiri dan keluarga.

Seperti apa yang pernah aku katakan di awal bahwa aku merasakan cinta pada seseorang yang menurutku istimewa. Istimewa bukan karena melihat dari segi ekonomi lho, tapi istimewa dari segi ketahanan hidup. Aku ingin merasakan semangat perjuangan bersama suamiku nantinya. 
Menurutku cinta bukan hanya sekedar menikmati manisnya hidup bersama orang yang dicintai, tapi juga bercerita tentang berjuang dan saling melengkapi kekurangan. Dan yang pasti terdapat perannan Tuhan di dalamnya.

Cerita cinta pasangan Mb Dew dan mas To membuatku belajar bahwa segala sesuatu yang dimulai dari awal itu menyenangkan dan memiliki kesan yang mendalam. Yang pasti tentunya penuh dengan kesabaran.

Semoga suatu hari nanti aku ataupun yang lainnya bisa merasakan semangat perjuangan bersama pasangan baik suka, bahagia maupun saat dalam duka.

Post By : Nurul Mutiara R.A (Manajemen A 2013 UNY) di Warung Sate Nglathak jalan Seruni no 7