Jumat, 12 Februari 2016

Purworejo dan cerita kami didalamnya

Rabu 3 Februari 2016

Pagi itu nada BBM di smartphone-ku berbunyi. Ku lihat. Itu berasal dari Maria, kawanku satu kelas Manajemen. Rencananya aku dan Maria akan pergi ke Purworejo untuk refreshing sekaligus silaturrahim ke rumah Arina yang juga kawanku satu kelas.
Waktu menunjukkan pukul 05.38 Wib. Kucek kembali semua barang-barang yang kubutuhkan mulai dari baju ganti, kamera dan juga handphone didalam tas. "Oke, sudah siap" aku berkata dalam hati.
Tinggal menunggu Maria yang akan menghampiri kosku menuju stasiun Lempuyangan.
Tumpangan yang akan kami gunakan menuju ke Purworejo adalah kereta. Yap, kereta bernama Prameks (Prambanan Ekspres) yang datang pada pukul 06.27 Wib.
***
Sampailah kami di Stasiun Lempuyangan. Maria dan aku segera membeli tiket dan menuju ketempat membeli oleh-oleh. Kami membeli Bakpia untuk dibawa ke Purworejo.
Pukul 06.12 Wib. Kereta belum datang. Aku dan Maria memutuskan untuk duduk-duduk dulu dikursi tunggu sambil melihat orang-orang dengan segala aktivitas mereka.

Banyak sekali para penumpang yang menunggu kereta pagi itu. Mulai dari warga domestik sampai wisatawan asing.
Taraaa, 
Pada pukul 06.25 kereta yang kami tunggu akhirnya datang. Segera kami menuju dan bersiap untuk naik didalamnya.





Dari foto diatas dapat dilihat guys, basahnya stasiun yang disebabkan oleh hujan yang dari dini hari tidak kunjung reda.
Perjalanan kami dimulai pukul 07.28 WIB. Kereta mulai berangkat meninggalkan stasiun Lempuyangan menuju stasiun Kutoarjo.


***
Setelah sekitar 1,5 jam kami melakukan perjalanan, akhirnya kami sampai di Purworejo. Aku dan Maria segera menuju keluar stasiun untuk menunggu Arina yang akan menjemput kami menuju rumahnya.


Gambar di atas diambil di depan stasiun Kutoarjo

Di sebuah warung oleh-oleh, kami duduk sambil menghindari hujan yang intensitas jatuhnya semakin besar. Jika dilihat di foto di atas, aktivitas masyarakat yang ada tak terlalu terlihat padat. Yap, hujan memaksa mereka untuk berteduh.

Menunggu...menunggu...dan...menunggu.
Sambil menunggu,
Aku memutuskan untuk mengambil beberapa gambar melalui kamera yang aku bawa untuk mengurangi kepenatan.

hingga akhirnya...

Arina datang bersama bapaknya dari kejauhan,
Yeaaay, akhirnya setelah kurang lebih setengah jam menunggu.
Dan, cuzzzzzz. Kami berempat meluncur menuju rumah Arina.
***
Suasana khas pedesaaan benar-benar sudah mulai nampak. Hamparan sawah dan juga aktivitas pertanian terlihat jelas disana. Hijaunya sawah membuat mataku benar-benar terpaku dan merasakan syahdu.hehehe 
Sebuah atmosfer yang tidak aku temukan di wilayah kampusku. Ya iyalah.
Di kampusku, di UNY, lingkungan yang ada terisi jalan raya, kendaraan-kendaraan, rumah-rumah dan juga bangunan-bangunan.
Terkadang jenuh melihat pemandangan seperti itu. Maka dari itu aku dan Maria ingin mencoba menyegarkan pikiran dengan berkunjung ke Purworejo yang notabene masih asri dengan suasana desa yang khas.




Begitu hening, dan menandakan kemurnian alam yang masih terjaga, itulah desa Waled tempat Arina tinggal.
Jalanan di tempat Arina itu sudah cukup parah rusaknya. Kalau kulihat, dulu pernah di aspal namun sepertinya sudah lama sekali. Kata Arina, jalan di desa tersebut di aspal saat ia masih SD. Kebayangkan sampai sekarang udah berapa tahun itu.
Kendaraan yang ada juga motor, sepeda dan sesekali kulihat angkot lewat saat pagi. Suasana dan keadaan lingkungannya belum padat penduduk. Jumlah rumah yang ada pun masih jarang-jarang.

Oh iya,
Pada malam hari aku pernah mau membeli sesuatu di warung terdekat. Guess what?
wilayah sekitar rumah Arina benar-benar gelap dan suasananya sepi. Penerangan yang ada masih jarang, hanya terlihat lampu di beberapa rumah, termasuk rumah Arina.

Apalagi kalau kulihat sepanjang jalur menuju warung dipenuhi dengan pohon-pohon besar. Cukup menambah suasana horor malam itu.

kamis, 4 Februari 2016

Pagi itu suasana desa Waled begitu dingin dengan nuansa pedesaannya. Kesegaran dan keindahan panorama yang ditawarkan begitu memanjakan mata dan hati ini. Aku terbangunkan oleh suara adzan yang terdengar syahdu memanggil dari jarak yang cukup jauh. Bukan hanya aku. Maria, Arina dan yang lainnya juga turut bangun untuk berinteraksi dengan-Nya.

Pukul 06.56 WIB kulihat di handphoneku. Hmm, waktu yang cukup tepat untuk melihat indahnya desa pagi ini. Aku melangkah keluar menuju halaman rumah yang sudah terlihat basah oleh hujan semalam tadi. Suasana yang menambah gregetnya aroma pedesaan.
Rencananya jam tersebut aku, Arina, Maria dan Ibu Arina akan menuju ke Jembatan untuk melihat jaring yang telah terpasang. Jaring itu dipasang untuk menangkap ikan-ikan yang biasanya akan banyak muncul setelah sungai yang ada banjir.



Kami berempat menuju ke arah jembatan.



Jembatan itu letaknya tidak jauh dari rumah Arina. Hanya beberapa meter saja, mungkin sekitar 50 meter.
Setetah kami sampai di jembatan tersebut. Ibu Arina mengambil kayu untuk mencongkel tali yang mengikat jaring. tujuannya untuk mengambil ikan-ikan yang terperangkap dalam jaring yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga ikan yang lewat akan terjebak.


Jaring yang dipasang akan di diamkan setelah diambil ikan yang terjaring.


Jaring di atas akan dipasang sepanjang waktu selama volume air yang ada belum surut. Karena derasnya arus air, ikan-ikan yang terbawa arus akan masuk kedalam jaring.
Dan hasil tangkapannya adalah.....


ikan kecil yang biasa disebut Lunjar. Ini yang kupegang cuma satu. Tapi ketika ditangkap dalam jaring, jumlahnya akan sangat banyak.




kalau gambar di atas adalah campuran ikan-ikan. Dominan adalah ikan Lunjar dewasa (biasa disebut Melem), Kating (yang ada sungut/kumisnya), dan mujaer.
oh iya, tidak hanya ikan yang di dapat. Kadang juga didalam jaring terdapat udang dan juga hewan bercapit alias Yuyu.



kami mendapatkan banyak ikan sehari itu. Jumlah ikan yang di masak pun sampai 5 kilogram mungkin ada. Saking banyaknya sampai ikan yang didapat harus dibagikan ke tetangga dan juga saudara dari Arina. Hasil tangkapan benar-benar berlimpah. Alhamdulillah,hehe

Kalau ku lihat, di bagian lain juga orang-orang melakukan hal yang sama yakni "Njodang". Njodang sendiri sebutan untuk kegitan menangkap ikan dengan jaring.
namun bukan cara dipasang seperti jaring milik Arina, tetapi dengan cara jaring lebar dimasukkan ke sungai dalam waktu beberapa menit, kemudian diangkat pada waktu yang ditentukan.




Kami melakukan aktivitas pemburuan ikan seharian itu. 
Aku benar-benar merasa puas dan bahagia. Maklum, jarang sekali aku bisa berinteraksi dengan alam secara langsung.
Untuk lebih membuat suasana dan dokumentasi, tak lupa kami cekrek..cekrek dulu sebelum kembali ke dalam rumah untuk membersihkan ikan yang menumpuk di halaman.




Yap, kami sudah puas cekrek..cekrek, tinggal masuk ke rumah dan membantu ibu Arina membersihkan ikan-ikan.

Jumat, 5 Februari 2016

Pagi ke 2 aku dan Maria di Purworejo. Sama seperti sebelumnya, aku pun dibangunkan oleh suara adzan yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
Ini adalah hari terakhir aku dan Maria refreshing dan meneduhkan otak. Aku harus kembali ke Yogyakarta secepatnya karena ada kegiatan organisasi yakni Upgrading Organisasi.

Siip, pukul 7.45 aku, Maria, Arina dan Bapaknya Arina berangkat menuju stasiun Kutoarjo. Kami saling bersalaman dan berpamitan.
karcis kereta sudah berada di tangan.




Di dalam kereta sendiri, aktivitas yang ada bermacam-macam.




Setelah kurang lebih menempuh perjalanan selama 1, 5 jam akhirnya kami sampai di Yogyakarta. Stasiun lempuyangan. Yap, kami kembali.


Taraaaa,
Welcome Lempuyangan, Welcome Yogyakarta :)
Kembali ke keadaan asal, harus bergelut dengan aktivitas organisasi dan perkuliahan.


Post by  : Nurul Mutiara Risqi Amalia (Manajemen A 2013 UNY) Latepost.


2 komentar:

  1. Pengalamannya menarik banget mbak. Saya sudah lama merindukan masa - masa bisa main ke perkampungan terus menangkap kepiting dan ikan di sungai hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak widya,
      saya saat ke sana merasa menjadi anak kecil lagi. lari2 dan seneng banget kalau jaring yang ada dipenuhi dengan ikan. Ada kepuasan tersendiri.hehehe

      Hapus