Kamis, 01 Oktober 2015

Mengapa ikut PKM??



Semester ini saya mengikuti kegiatan yang notabene bergengsi  di kalangan mahasiswa. PKM atau Program Kreativitas Mahasiswa. Program ini merupakan kegiatan rutin yang setiap tahun diadakan oleh DIKTI dalam rangka menjaring ide-ide kreatif hasil penelitian dari mahasiswa-mahasiswi seluruh Indonesia.
Diharapkan melalui ide-ide dan penelitian tersebut, mahasiswa bisa membantu memecahkan masalah yang dihadapi di masyarakat.

Ada 5 bidang PKM yang baru-baru ini masih hangat dibahas. PKM Kewirausahaan, PKM Karsa Cipta, PKM Penerapan Teknologi, PKM Penelitian dan PKM pengabdian Masyarakat. Jujur untuk mengikuti PKM ini, saya harus benar-benar fokus.
Kebetulan saya mengikuti 2 PKM yang bertema teknologi. Keduanya membutuhkan sebuah pengamatan dan penelitian yang tidak cepat dan mudah. Saya dan tim di haruskan untuk bisa melihat permasalahan yang ada di masyarakat. Melalui permasalahan itu, kami diharapkan memperoleh solusi atau luaran yang dapat diaplikasikan.

Berbicara mengenai PKM,
PKM seharusnya tak sekedar kegiatan rutin yang ketika telah selesai masa pendanaannya, maka selesai pula penelitian yang dilakukan. 
Menurut pengamatan saya terhadap beberapa teman yang mengikuti PKM, ada PKM yang cukup sulit. Sulit disini bukan mengenai cara membuat proposal atau proses pengajuan dananya. Tapi lebih mengenai tanggungjawab dan kelanjutan saat pendanaan diberhentikan.
PKM M dan PKM T misalnya. PKM ini mengharuskan kita menghasilkan sebuah solusi untuk masalah yang biasanya cukup urgent. Misalnya masalah sampah yang sampai saat ini masih dicari solusi untuk mengatasinya. Butuh pengamatan menyeluruh dan sebuah penelitian yang tidak gampang dan tentu saja berkelanjutan. Mengikuti PKM ini, kita harus mampu berinteraksi benar dengan obyek yang diteliti. Tidak boleh asal-asalan.

Konsekuensi yang harus di pikirkan oleh pembuat PKM ini adalah ketika pendanaan yang ada dihentikan oleh pemerintah karena telah selesai masa penelitian. Kalau PKM T, okelah bisa selesai saat alat sudah jadi dan diaplikasikan. Namun bagaimana dengan PKM M, Apakah harus selesai juga ide yang ingin kita kembangkan di masyarakat tersebut??
Harusnya tidak kan.

Saya tidak tahu apakah penilaian saya obyektif atau tidak, mungkin bisa disanggah. Kebanyakan mahasiswa mengikuti program ini bukan bertujuan utama untuk belajar atau berusaha mencari satu solusi praktis. Tapi lebih pada bisa tidaknya lolos PIMNAS.

PIMNAS merupakan tahap yang lebih bergengsi dari sekedar mendapatkan dana dari pemerintah. Saat lolos PIMNAS, mahasiswa mendapat beberapa poin plus, salah satunya prestasi membanggakan. Prestasi tersebut dibuktikan dengan didapatnya medali emas. Itu bagus memang, namun apakah hanya karena itu. Adakah niat atau tujuan lain yang lebih mulia dan besar dibanding itu. 
Saya ingin berprestasi. Namun prestasi diatas kertas (piagam) bukanlah satu hal utama yang saya kejar. Saya ingin berprestasi dan berkarya. Yakni bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan di perkuliahan, organisasi maupun dimana saja tempat saya memperoleh ilmu.
PKM membuat saya ingin belajar untuk bisa memahami situasi yang real di masyarakat. Dengan terjun langsung didalamnya. Saya ingin tahu apakah ilmu yang saya dapatkan bisa diaplikasikan atau hanya sekedar teori. Jujur, saya masih mencari sesuatu yang bisa membuat saya menjadi berguna dan mampu bermanfaat untuk oranglain. 


Kebetulan saya kuliah di fakultas ekonomi. Tentu mata kuliah di fakultas ini banyak membahas hal-hal berkaitan dengan laba, asset, atau sesuatu yang bernilai ekonomis. Atau menurut pandangan banyak orang fakultas saya lebih banyak membahas mengenai "Uang". 
Sebenarnya tidak, kebetulan saya mengambil progdi Manajemen SDM. Di Manajemen SDM tentu tidak selalu membahas tentang uang. Tapi lebih pada perilaku dan pengolahan sumberdaya manusianya.

Kembali ke bahasan yang ada. Kuliah di fakultas ekonomi membuat saya menyadari beberapa hal. Salah satunya mengenai pentingnya kolaborasi antara teknologi dengan bidang ekonomi, sebab, teknologi memberikan sumbangan penting untuk kemajuan ekonomi. Misalnya saja untuk meningkatkan produktivitas di masyarakat.
Teknologi bisa berkembang dengan baik, ketika ada sumbangan ide dari masyarakat, masyarakat disini terutama adalah para mahasiswa. Nah melalui PKM inilah pemerintah berniat memberi pembelajaran dan kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan kontribusinya.
Jadi, tujuan utama PKM seharusnya benar-benar harus digaris bawahi. Bukan pada bisa tidaknya lolos PIMNAS namun lebih pada mampu atau tidaknya kita memecahkan dan memberi solusi nyata untuk masyarakat.
Pemerintah dan birokrasi menggelontorkan dana sebanyak itu bukan hanya mengajak kita pada tujuan sekecil PIMNAS. Tapi lebih pada keinginan melakukan perubahan nyata untuk negara ini,
Dan saya rasa itulah mengapa mahasiswa juga pelajar disebut sebagai Agent Of Chance. Agen perubahan untuk masyarakat, agen perubahan untuk Indonesia.


Saya harap dengan keikutsertaan saya di PKM ini benar-benar murni untuk berkontribusi bukan sekedar ikut-ikutan. Minimal saya bisa belajar untuk peka terhadap permasalahan yang ada. Semoga kawan-kawan yang ikut program ini juga memiliki keinginan yang sama  yakni "Membuat perubahan berarti di masyarakat"
Untuk kawan-kawanku yang punya keinginan mengaplikasikan karyanya, saya sangat mendukung penuh. Semoga ide-ide hebat yang ada bisa dikembangkan dan menjadikan negara ini lebih maju. Insyaallah.

Post By : Nurul Mutiara Risqi Amalia ; Manajemen 2013 ; Universitas Negeri Yogyakarta ; 00.02 wib