Minggu, 26 Juli 2015

IPK, dan diriku.

Ada yang merasa nilai tinggi (IPK) adalah segalanya?

Bagiku sekarang ini, nilai yang kudapatkan dalam setiap mata kuliah yang ada memang tidak begitu penting seperti saat SMP dan SMA dulu. Memang, aku masih tetap berharap nilaiku dalam daftar indeks prestasi meningkat, paling tidak stabil. Namun harapan itu juga tidak terlalu dalam atau se-ambisius saat menjadi siswa.

Aku jadi terbayang masa silam ketika aku begitu heboh dan berambisi untuk mendapatkan nilai tertinggi. Semua teman-temanku di kelas aku anggap seperti musuh di medan perang yang siap menyerang. Tak ada kata kerjasama dalam kamusku, yang ada hanyalah sebuah persaingan secara ketat yang tidak bisa diganggu gugat.
Selama beberapa waktu aku menjalani pendidikanku dengan cara seperti itu, selama itu pula aku kehilangan hal-hal berharga dalam hidupku. Aku kehilangan teman, dan yang lebih parah muncul arogansi dalam diri. Aku menjadi sosok yang egois, sok pintar dan dipenuhi dengan ambisi-ambisi untuk mengalahkan. Tentu, selama itu pula nilai-nilai dalam raporku begitu tinggi, bahkan aku mendapat juara 1 pararel.
Aku menyadari nilai bukan segalanya setelah menginjak kuliah. Di perkuliahan aku lebih menyukai pembelajaran bebas yang lebih mengutamakan pengembangan skill. Ada organisasi yang membantuku untuk berpikiran terbuka dan menguji kemampuanku dalam hal leadership. Aku menemukan teman-teman dengan berbagai karakter dan kelebihannya masing-masing.

Sekarang, aku tidak ingin hidup hanya untuk mencari nilai tertinggi. Aku ingin hidup menjadi orang yang berguna dan mengembangkan sesuatu yang ada dalam diriku. Nilai memang penting, tapi tidak lagi sepenting dulu. 

Post by : Nurul Mutiara Risqi Amalia ( Yogyakarta, 26 Juli 2015 ; 11.39 WIB )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar