Selasa, 21 Juli 2015

Itu semua karena kita satu, Indonesia.


Ada apa dengan Indonesia?
Ada apa dengan media-media yang ada?
Sudah berapa lamakah negara ini merdeka, 70 tahun bukan? 

Banyak hal-hal kelam yang dilewati para pejuang kemerdekaan untuk mewujudkan negara merdeka seperti sekarang ini. Darah, keluarga, kesepian dan juga pilu karena kehilangan keluarga adalah bagian yang mereka korbankan.  Para pejuang saat itu tidak peduli dengan apapun yang dimiliki. Yang mereka pikirkan adalah mengenai generasi, generasi yang hebat, yang bisa berjuang membuat kemajuan dan juga perubahan positif.

Hasil gambar untuk kemerdekaan dan persatuan

Dulu ketika perjuangan dilakukan, jarang sekali peran media dalam kehidupan para pejuang. Entah karena alat komunikasi yang terbatas atau karena saluran komunikasi yang dikuasai oleh penjajah. Yang saya tahu, radio adalah satu-satunya alat komunikasi penting untuk mengetahui situasi eksternal dan internal negara. Namun itu bukan menjadi penghalang, mereka tetap bisa bersama dan membentuk persatuan yang kuat. Saya masih ingat dalam buku pelajaran kelas 5 SD dulu ada sebuah pertanyaan. Senjata ampuh apa yang digunakan oleh pejuang untuk mengusir penjajah? bukan pedang, senapan, maupun bambu runcing.
jawabnya adalah persatuan dan kesatuan.
Sekarang sepertinya kata-kata tersebut tak memiliki arti lagi. Perpecahan dan saling tuding mulai tampak.


Muncul media-media tak bertanggungjawab dengan menyebarkan berita provokasi yang memecah belah kehidupan bermasyarakat di negara ini. Persatuan yang dulu tidak memandang agama, ras dan juga kesukuan mulai pudar. Berita-berita provokasi banyak disebar dan menimbulkan kemarahan disetiap orang yang membacanya. Jika berita tersebut benar, sangat patut sekali masyarakat untuk marah namun bagaimana bila berita yang disebarkan adalah kebohongan. Bukankah itu hanya bentuk kesalahpahaman yang dibiarkan begitu saja tumbuh.

Kawan,
Kita bukan lagi hidup di zaman penjajahan. Zaman dimana edukasi adalah angan-angan. Kita sekarang hidup di zaman yang mengakui pendidikan, yang mengakui kebebasan dalam berpikir dan berpendapat. Lantas mengapa cara pikir dan hidup kita seolah tak berpendidikan. Kita punya otak untuk menganalisis. Gunakan itu untuk menfilter informasi apapun yang ditawarkan media. Jangan mudah percaya pada informasi yang menghasut, informasi hoax, informasi sampah, informasi yang digunakan untuk memecah belah. 

Ingat, musuh kita bukanlah lagi manusia-manusia bersenjata. Tapi attitude buruk kita sendiri, orang-orang yang melakukan tindakan memecah belah dan mereka yang bertindak buruk untuk negara ini (pengedar narkoba, koruptor, pembalak liar, polisi korup, begal dll). Saya menulis ini bukan untuk menggurui atau sok tahu. Saya menulis ini juga untuk mengingatkan diri. Mengingatkan untuk senantiasa berbuat baik dan berusaha sebagus mungkin untuk memperbaiki perilaku buruk yg tertanam dalam diri.
So,
Ada apa dengan negara ini dan juga bagaimana arah media bisa lebih baik itu adalah tugas bersama. Tugas untuk memperbaiki dengan menyebarkan informasi yang bermanfaat bukan informasi pemecah belah yang akan meluruhkan persaudaraan dan juga kebersamaan. 

Post By : Nurul Mutiara Risqi Amalia ( Manajemen A ; Yogyakarta ; 14.01 WIB ; Selasa )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar