Sabtu, 19 Desember 2015

Musyawarah Anggota UKM Rekayasa Teknologi 2015

Kamis malam lalu, kami (PI/PH + pengurus) dan panitia Musyang 2015 melakukan rapat besar yang dilaksanakan di depan ruang sekretariat. Banyak hal yang di bahas, mulai dari evaluasi seputar persiapan Musyang sampai evaluasi kepengurusan secara singkat.
Selesai itu, kami melakukan sesi foto bersama untuk PI/PH yang hadir.

***
Tepatnya hari ini dan besok merupakan hari dimana UKM Rekayasa Teknologi, sebuah organisasi tingkat universitas yang saya ikuti melakukan sidang umum kepengurusan yang disebut Musyang.

Dari pukul 7.00 seluruh panitia bersiap-siap untuk memulai acara. Saya, yang notabene harus mengikuti kuliah dulu, terpaksa datang terlambat, yakni pukul 10.14 wib. Tapi, tak apalah yang penting dateng.hehe


Sidang dimulai dengan pembahasan tata tertib untuk pelaksanaan Musyang, dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban dari masing-masing divisi.

Saya berada di divisi Teknologi Tepat Guna dan mendapat giliran presentasi terakhir kali pada bidang 1.

***
Oh iya sebelumnya saya perkenalkan dulu apa itu UKM Rekayasa Teknologi dan bagian apa saja yang ada di dalamnya. 


UKM Rekayasa Teknologi merupakan organisasi yang mewadahi seluruh mahasiswa UNY yang ingin berkarya di bidang teknologi. Nah, bicara mengenai teknologi, UKM ini memang rata-rata berisi anak-anak teknik. Hampir 90 % anggotanya berasal dari fakultas teknik. 
Memang, ada juga anak-anak dari fakultas lain, misalnya dari FMipa, dari FBS (Fakultas Bahasa dan Seni), FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan), FIS (Fakultas Ilmu Sosial) dan FE (Fakultas Ekonomi) tempat saya melakukan kuliah, tapi prosentasenya tak terlalu banyak.
Di UKM "Restek", strukturnya terdiri dari ketua,sekertaris, bendahara, kabid 1 dan kabid 2 sebagai PI (pengurus Inti) dan ada para Kadiv/wakadiv sebagai PH (Pengurus Harian). 
Untuk Kabid 1 bertugas mengkoordinasi 5 divisi yakni divisi Robotika, Rancang Bangun, Teknologi Tepat Guna, TI dan Mobil sedangkan Kabid 2 mengkoordinasi bagian keorganisasian UKM, yakni bagian humas, KSK dan juga HRD.
Oh iya,
Di UKM Restek, ada 3 pembimbing yang bertugas untuk memberi pertimbangan dan juga saran untuk UKM. Beliau semua berasal dari fakultas teknik. Dua merupakan dosen jurusan elektro dan satu merupakan dosen jurusan otomotif.

***
Kembali ke Musyang.
Saya kebetulan tahun ini diamanahi sebagai wakil kepala divisi Teknologi Tepat Guna, yakni sebuah divisi yang bergerak untuk pengabdian masyarakat melalui karya teknologi aplikatifnya.
Di divisi TTG, ada beberapa proker dan juga laporan yang harus kami sampaikan di hadapan seluruh komponen organisasi ini, mulai dari DPO, alumni, anggota bahkan pengurus itu sendiri.
Dimulai dari laporan proker pertama U-Nitech (sebuah even lomba teknologi aplikatif tingkat nasional), dilanjutkan dengan proker Seminar Nasional Technopreneurship, program recruiting tim Kincir angin, diskusi karya dan lomba dan Comdev (Comunnity Development).
Untuk divisi lain, sama. Mereka harus presentasi seperti yang kami lakukan. Dilanjutkan dengan komen, kritik dan saran dari DPO ataupun peserta Musyang yang lain.

Tak terasa, setelah beberapa jam berlalu, akhirnya pada pukul 7 tadi, saya dan juga teman-teman seperjuangan dalam 1 tahun kepengurusan akhirnya resmi "DE-MI-SI-O-NER".
Saya bahagia, sebab akhirnya ini bisa menyelesaikan 2 periode kepengurusan di UKM Restek ini.



Yup, 19-20 Desember 2015, Musyawarah Anggota dilaksanakan di dua tempat, ruang theater FT dan di aula FT.
Semoga menjadi sebuah akhir kepengurusan yang menyenangkan dan menjadikan sebuah awal untuk keberhasilan.
Salam teknologi!!!
Berkontribusi berkompetisi berprestasi :)


Post By : Nurul Mutiara Risqi Amalia (Manajemen A 2013, Universitas Negeri Yogyakarta, at Kos )

Jumat, 27 November 2015

I just wanna tell something today

Hai Bloogy, 
tak akan seperti biasanya. Hari ini aku ingin menjadikan kamu sebagai media berbagi cerita.
Aku ingin bercerita tentang perasaan ku hari ini.
Bloggy, salahkah jika aku punya rasa terhadap seseorang??
***
Aku tipikal orang yang meyukai tak sembarangan laki-laki. Aku tidak memilih atau mencintai laki-laki dari wajah ataupun sesuatu yang mereka miliki seperti uang dan kendaraan yang mentereng. Ketika aku mencintai, akan ada sesuatu yang bisa membuatku terpana, yakni kesederhanaan, kejujuran, atau hal lainnya. Why? aku tak menyoalkan mengenai kekayaan, karena aku rasa hal material seperti itu sudah Allah plottingkan untuk setiap jiwa, jadi aku tak harus khawatir. Namun disini juga aku tak hanya menyukai karena cinta. Aku menyukai karena aku punya satu kenyaman dan juga kebahagiaan saat bersama seseorang.
***
Diawal perkuliahan tepatnya saat aku masuk salah satu organisasi yakni akhir tahun 2013, aku menyukai seseorang yang merupakan satu sie denganku, yakni sie konsumsi. Dia orang yang cekatan, kocak dan juga sederhana. Saat itu aku hanya menyukai melalui hal-hal sederhana yang ia ceritakan, tak lebih. Aku begitu menikmati rasa dalam hati yang ada kala itu. Begitu mengalir dan menyenangkan. 
Namun lama-lama aku jadi tahu bahwa kami memiliki banyak perbedaan, termasuk mengenai prinsip dalam diri. Hingga suatu hari aku merenung dan memutuskan untuk merelakan dia dengan orang lain. Setidaknya saat itu aku sudah tahu tanda-tanda bahwa dia akan bersama orang lain. Dan dugaanku ternyata tepat. Beberapa minggu setelah lost Contact, akhirnya dia resmi menjalin hubungan baru.
Awalnya aku cukup sedih dan merasa sakit. Namun waktu dan suatu hal membuatku tersadar, bahwa ini semua mengenai takdir. 

***
Hari ini aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah perasaanku ini sama seperti dulu??
Jika aku harus menjawab, kali ini berbeda. Perasaan yang ada di hatiku ini tidak tiba-tiba. Sudah lama sebenarnya. Dimulai dari kekaguman dan juga sebuah gambaran tentang kesederhanaan. Melalui kesederhanaan dan juga sikap "apa adanya" itu aku menjadi jatuh hati pada seseorang. Siapakah dia??
hanya aku, Allah, Kakak dan mbak Merya (mbak ku di organisasi) yang tahu.
Untuk kali ini aku tidak akan berlebihan dalam mencintai. Jika Allah mengizinkan, aku akan tetap menyimpan perasaan ini sampai saatnya tiba. Aku tak akan salah langkah seperti dulu. Aku benar-benar ingin mencintai dia selamanya bukan sementara. 
Bloggy, 
Jika pun suatu hari aku dipertemukan dengan oranglain dan ia pun demikian, aku tak mengapa. Karena aku yakin segala sesuatu adalah takdir yang terbaik dari Allah :)

Now, for me, there is No pacaran, just love in the silent. Because if one day he is my destiny, I am sure that Allah will keep our love.

Tulisan ini adalah sebuah bentuk perwakilan untuk rasaku hari ini. Entah jika kemudian berubah, maka aku tidak akan pernah tahu. Bukankah Allah itu maha membolak-balikkan hati dan juga maha kuasa untuk merubah keadaan.


Post By : Nurul Mutiara Risqi A (Manajemen 2013, fakultas Ekonomi, 21.05 at sekretariat UKM Rekayasa Teknologi)


Selasa, 10 November 2015

Selamat hari pahlawan

10 November 2015

Selamat hari pahlawan,..

Setiap status di media sosial tentunya akan mengutarakan minimal 3 kalimat itu. Ya, karena hari ini merupakan hari spesial untuk mengenang para pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Hari pahlawan memang diperingati setiap tahun sekali. Namun bagi saya, pahlawan itu selalu terkenang sepanjang hari. 

Pahlawan itu orang-orang yang luar biasa. Mereka adalah manusia yang rela mengorbankan apa yang mereka miliki untuk orang lain.
Sejatinya, bagi saya pahlawan itu tidak pernah mati, karena mereka akan selalu ada dan mengalir dalam diri kita. Sekarang atau suatu hari kita pun bisa disebut sebagai pahlawan. Karena apa??
Karena perjuangan melawan sebuah penjajahan belum selesai. Penjajahan secara fisik mungkin sudah tak terlihat tapi penjajahan secara mental dan sikap masih ada dan cukup sulit untuk diberantas. 
Maka dari itu kita saat ini akan menjadi pahlawan untuk melawan penjajahan itu semua. Satukan niat dan pertinggi empati. Karena kunci dari kemerdekaan adalah kebersamaan, sikap saling melindungi dan sebuah keberanian. 

http://www.beranda.co.id/wp-content/uploads/2015/11/

Semangat untuk para pahlawan Indonesia. Siapapun yang selalu berjuang untuk kepentingan banyak orang maka mereka itu juga bisa disebut sebagai pahlawan.


POST BY : Nurul Mutiara Risqi Amalia ( Manajemen 2013 fakultas ekonomi  Universitas Negeri Yogyakarta : 11.32 )

Kamis, 01 Oktober 2015

Mengapa ikut PKM??



Semester ini saya mengikuti kegiatan yang notabene bergengsi  di kalangan mahasiswa. PKM atau Program Kreativitas Mahasiswa. Program ini merupakan kegiatan rutin yang setiap tahun diadakan oleh DIKTI dalam rangka menjaring ide-ide kreatif hasil penelitian dari mahasiswa-mahasiswi seluruh Indonesia.
Diharapkan melalui ide-ide dan penelitian tersebut, mahasiswa bisa membantu memecahkan masalah yang dihadapi di masyarakat.

Ada 5 bidang PKM yang baru-baru ini masih hangat dibahas. PKM Kewirausahaan, PKM Karsa Cipta, PKM Penerapan Teknologi, PKM Penelitian dan PKM pengabdian Masyarakat. Jujur untuk mengikuti PKM ini, saya harus benar-benar fokus.
Kebetulan saya mengikuti 2 PKM yang bertema teknologi. Keduanya membutuhkan sebuah pengamatan dan penelitian yang tidak cepat dan mudah. Saya dan tim di haruskan untuk bisa melihat permasalahan yang ada di masyarakat. Melalui permasalahan itu, kami diharapkan memperoleh solusi atau luaran yang dapat diaplikasikan.

Berbicara mengenai PKM,
PKM seharusnya tak sekedar kegiatan rutin yang ketika telah selesai masa pendanaannya, maka selesai pula penelitian yang dilakukan. 
Menurut pengamatan saya terhadap beberapa teman yang mengikuti PKM, ada PKM yang cukup sulit. Sulit disini bukan mengenai cara membuat proposal atau proses pengajuan dananya. Tapi lebih mengenai tanggungjawab dan kelanjutan saat pendanaan diberhentikan.
PKM M dan PKM T misalnya. PKM ini mengharuskan kita menghasilkan sebuah solusi untuk masalah yang biasanya cukup urgent. Misalnya masalah sampah yang sampai saat ini masih dicari solusi untuk mengatasinya. Butuh pengamatan menyeluruh dan sebuah penelitian yang tidak gampang dan tentu saja berkelanjutan. Mengikuti PKM ini, kita harus mampu berinteraksi benar dengan obyek yang diteliti. Tidak boleh asal-asalan.

Konsekuensi yang harus di pikirkan oleh pembuat PKM ini adalah ketika pendanaan yang ada dihentikan oleh pemerintah karena telah selesai masa penelitian. Kalau PKM T, okelah bisa selesai saat alat sudah jadi dan diaplikasikan. Namun bagaimana dengan PKM M, Apakah harus selesai juga ide yang ingin kita kembangkan di masyarakat tersebut??
Harusnya tidak kan.

Saya tidak tahu apakah penilaian saya obyektif atau tidak, mungkin bisa disanggah. Kebanyakan mahasiswa mengikuti program ini bukan bertujuan utama untuk belajar atau berusaha mencari satu solusi praktis. Tapi lebih pada bisa tidaknya lolos PIMNAS.

PIMNAS merupakan tahap yang lebih bergengsi dari sekedar mendapatkan dana dari pemerintah. Saat lolos PIMNAS, mahasiswa mendapat beberapa poin plus, salah satunya prestasi membanggakan. Prestasi tersebut dibuktikan dengan didapatnya medali emas. Itu bagus memang, namun apakah hanya karena itu. Adakah niat atau tujuan lain yang lebih mulia dan besar dibanding itu. 
Saya ingin berprestasi. Namun prestasi diatas kertas (piagam) bukanlah satu hal utama yang saya kejar. Saya ingin berprestasi dan berkarya. Yakni bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan di perkuliahan, organisasi maupun dimana saja tempat saya memperoleh ilmu.
PKM membuat saya ingin belajar untuk bisa memahami situasi yang real di masyarakat. Dengan terjun langsung didalamnya. Saya ingin tahu apakah ilmu yang saya dapatkan bisa diaplikasikan atau hanya sekedar teori. Jujur, saya masih mencari sesuatu yang bisa membuat saya menjadi berguna dan mampu bermanfaat untuk oranglain. 


Kebetulan saya kuliah di fakultas ekonomi. Tentu mata kuliah di fakultas ini banyak membahas hal-hal berkaitan dengan laba, asset, atau sesuatu yang bernilai ekonomis. Atau menurut pandangan banyak orang fakultas saya lebih banyak membahas mengenai "Uang". 
Sebenarnya tidak, kebetulan saya mengambil progdi Manajemen SDM. Di Manajemen SDM tentu tidak selalu membahas tentang uang. Tapi lebih pada perilaku dan pengolahan sumberdaya manusianya.

Kembali ke bahasan yang ada. Kuliah di fakultas ekonomi membuat saya menyadari beberapa hal. Salah satunya mengenai pentingnya kolaborasi antara teknologi dengan bidang ekonomi, sebab, teknologi memberikan sumbangan penting untuk kemajuan ekonomi. Misalnya saja untuk meningkatkan produktivitas di masyarakat.
Teknologi bisa berkembang dengan baik, ketika ada sumbangan ide dari masyarakat, masyarakat disini terutama adalah para mahasiswa. Nah melalui PKM inilah pemerintah berniat memberi pembelajaran dan kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan kontribusinya.
Jadi, tujuan utama PKM seharusnya benar-benar harus digaris bawahi. Bukan pada bisa tidaknya lolos PIMNAS namun lebih pada mampu atau tidaknya kita memecahkan dan memberi solusi nyata untuk masyarakat.
Pemerintah dan birokrasi menggelontorkan dana sebanyak itu bukan hanya mengajak kita pada tujuan sekecil PIMNAS. Tapi lebih pada keinginan melakukan perubahan nyata untuk negara ini,
Dan saya rasa itulah mengapa mahasiswa juga pelajar disebut sebagai Agent Of Chance. Agen perubahan untuk masyarakat, agen perubahan untuk Indonesia.


Saya harap dengan keikutsertaan saya di PKM ini benar-benar murni untuk berkontribusi bukan sekedar ikut-ikutan. Minimal saya bisa belajar untuk peka terhadap permasalahan yang ada. Semoga kawan-kawan yang ikut program ini juga memiliki keinginan yang sama  yakni "Membuat perubahan berarti di masyarakat"
Untuk kawan-kawanku yang punya keinginan mengaplikasikan karyanya, saya sangat mendukung penuh. Semoga ide-ide hebat yang ada bisa dikembangkan dan menjadikan negara ini lebih maju. Insyaallah.

Post By : Nurul Mutiara Risqi Amalia ; Manajemen 2013 ; Universitas Negeri Yogyakarta ; 00.02 wib


Jumat, 18 September 2015

Divisi Teknologi Tepat Guna

Dua tahun sudah saya menjalani masa-masa perkuliahan di sebuah universitas di kota gudeg. Universitas Negeri Yogyakarta namanya. Di UNY ini saya mengembil program S1 Manajemen dan mengikuti satu organisasi tingkat universitas bernama UKM Rekayasa Teknologi. UKM Restek biasa disebut, merupakan sebuah organisasi yang memiliki basis teknis, sehingga rata-rata anggota dan pengurusnya merupakan mahasiswa yang berasal dari fakultas teknik.
Sebagai mahasiswi dari fakutas ekonomi awalnya saya cukup merasa canggung dan kurang percaya diri. Namun karena teman-teman UKM yang begitu welcome dan menyenangkan, pada akhirnya saya merasa sangat nyaman dan bahagia bisa bergabung di dalam organisasi ini.




Di tahun 2015 ini saya diamanahi sebagai wakil kepala divisi Teknologi Tepat Guna (TTG). Sebuah divisi yang mewadahi teman-teman mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada pembuatan teknologi aplikatif.
Apa itu teknologi aplikatif?
Jika ingin menjawab pertanyaan tersebut, maka saya akan memberi gambaran mengenai salah satu alat yang biasa saya lihat di pasar tradisional. Alat pemarut kelapa otomatis. Alat pemarut tersebut merupakan teknologi yang di buat untuk memudahkan pedagang kelapa parut. Kehadirannya memberi dampak yang besar bagi pekerjaan manusia. Karena otomatis, maka alat tersebut lebih menghemat waktu dan tenaga dibanding  ketika menggunakan alat pemarut manual.
Oke, karena memudahkan dan membantu tersebutlah maka alat pemarut otomatis tersebut termasuk teknologi aplikatif atau teknologi tepat guna. Berikut merupakan gambar alat pemarut kelapa otomatis.


This is it,
kebersamaan kami dalam keluarga divisi TTG


Kembali ke divisi teknologi tepat guna, kali ini 
saya akan memperkenalkan pengurusnya, yang dimulai dari kepala divisi berikut para stafnya.

Kepala divisi Teknologi Tepat Guna berikut ini bernama Dwi Agung Yulianto. Berasal dari pendidikan teknik mesin 2013, fakultas teknik. Agung berasal dari kota Purworejo jawa tengah. Di prodinya, Agung memilih konsentrasi di bagian permesinan.

Untuk wakil kepala divisi kebetulan di amanahkan di tangan saya. Bernama Nurul Mutiara Risqi Amalia. Berasal dari prodi Manajemen 2013 fakultas ekonomi. Saya berasal dari kota Pekalongan. Di UNY ini saya hanya mengikuti satu organisasi yakni Restek ini.

Nah kemudian akan saya perkenalkan staf-staf dari divisi Teknologi Tepat Guna, akan saya mulai dari yang perempuan,

Nama lengkapnya adalah Rizki Arumningtyas. Merupakan mahasiswi prodi Pendidikan IPA 2014 fakultas Matematika dan IPA. Tyas berasal dari desa Cangkringan daerah Sleman Yogyakarta. Selain di divisi TTG, Tyas juga aktif mengikuti kegiatan di divisi lain yakni divisi mobil.

Satrio Sigit Purnomo, merupkan mahasiswa pendidikan teknik mesin 2014, fakultas teknik. Dia berasal dari kota Kebumen jawa tengah. Satrio merupakan staf TTG yang memiliki kesibukan di 2 organisasi. Yakni di Hima mesin dan di Restek. 

Alik Setiawan. Alik biasa dipanggil, merupakan mahasiswa yang berasal dari jurusan elektro dengan prodi mekatronika 2014 fakultas teknik. Alik berasal dari daerah Bantul yogyakarta. Selain di UKM Restek, Alik juga aktif di organisasi olahraga yakni pencak silat.

Galih Adityawan. Biasa dipanggil Galih. Merupakan Mahasiswa pendidikan teknik mesin 2014 fakultas teknik. Galih berasal dari kota Magelang jawa tengah. Selain di Restek, Galih juga aktif di organisasi tingkat fakultas yakni UKMF Matriks. Sebuah UKM yang memiliki basis di bidang penelitian.

Fachrudin. Biasa dipanggil Udin. Udin merupakan mahasiswa teknik Otomotif 2013 fakultas teknik. Udin berasal dari kota Cirebon jawa barat. Di UNY ini, Udin mengambil D3 jadi bukan pendidikan. Jangan salah Fachrudin itu jago di bidang desain lho :D

Selanjutnya adalah Attourohman. Biasa dipanggil Atto. Atto merupakan mahasiswa prodi kimia murni fakultas Matematika dan IPA. Seperti saya, Atto sudah 2 tahun berada di divisi TTG ini. Atto berasal sama seperti Udin, yakni kota Cirebon jawa barat. Atto sekarang ini mengikuti 2 organisasi yakni di Restek dan di Hima Kimia.

Demikian merupakan anggota pengurus dari divisi teknologi tepat guna. Di divisi ini saya benar-benar belajar banyak hal. Saya bisa memperluas pengetahuan saya tidak hanya di bidang ekonomi saja, tetapi juga di bidang teknologi meski tidak secara menyeluruh. Saya juga merasa memiliki keluarga saat berada di organisasi ini terutama di divisi ini.

Inilah kami divisi Teknologi Tepat Guna,




Post by : Nurul Mutiara Risqi Amalia (Manajemen 2013 ; Yogyakarta)


Selasa, 15 September 2015

Secuil catatan dalam sebuah diary


Beberapa waktu yang lalu aku melakukan bersih-bersih kamar kos. Kutata tumpukan buku yang sudah kian menggunung itu. Tiba-tiba dibagian bawah kutemukan sebuah buku catatan (diary) saat masa SMA-ku. Ku baca satupersatu tulisan di dalamnya. Aku nyengir-nyengir sendiri bahkan sampai tertawa gila gara-gara tulisanku. Banyak hal yang kutulis ternyata. Mulai dari cerita sehari-hari yang menyenangkan, konyol, membosankan, dan juga menyedihkan. 
Membaca hampir setengah jalan, ada hal menarik yang kutuliskan didalam sebuah catatan tertanggal 6 Maret 2011. Di catatan itu aku menulis tentang banyak hal yang ingin kulakukan dimasa depan. Dari berbagai keiginan itu ternyata ada beberapa yang sudah terealisasi. Termasuk kuliah di jurusan manajemen seperti sekarang ini. Hmm, 3 dari sekian keinginanku membuatku sedikit terkejut.

Yang pertama tentang cita-citaku dimasa depan. Menjadi seorang manajer dalam perusahaan agrikultur sendiri.  Aku masih ingat saat itu adalah momen dimana harga bawang merah dan cabe selangit. Banyak para ibu yang mengeluhkan hal tersebut. Nah, karena itulah terpikir olehku untuk memiliki sebuah lahan pertanian sendiri. Lahan pertanian yang bisa menghasilkan berton-ton tanaman holtikultur dan juga cabe-cabean. Eh, maksudku segala macam bumbu gak hanya cabe.
Aku pernah membayangkan jika dengan perusahaan itu aku bisa membantu pemerintah melakukan swasembada sayur atau beras seperti di negara lain. Paling tidak kebutuhan dalam negeri bisa tercukupi.hehe


Keinginanku yang kedua adalah bisa memotret langit dari tempat atau negara manapun dan memajangnya dalam sebuah ruangan. Di ruangan itu, aku ingin menyediakan satu pigura besar yang kutempeli dengan bermacam-macam  foto langit yang sudah kudapat di kamera. Mulai dari yang didalam negeri sampai nanti di luar negeri. Mungkin tempelan  foto-foto langit itu akan terlihat sama, namun arti dan kenangan didalamnya akan menjadi luar biasa. Sebenarnya aku tak ingin memotret langit itu sendiri. Namun suatu hari nanti aku akan bersama dengan seseorang, hmmm bisa dikatakan my husband, hehe. But, dia masih dirahasiakan Allah. hahaha
Keinginanku ini memang agak aneh sih, tapi itu terbesit karena aku sangat menyukai langit yang memberikan efek positif saat melihatnya.haha



Keinginanku selanjutnya adalah memiliki rumah dengan banyak tumbuhan hijau disekitarnya. Seperti menyukai langit, aku juga menyukai suasana hijau yang teduh. Ingin punya rumah dengan pekarangan dan halaman yang luas sehingga bisa ditanami buah-buahan dan sayu-sayuran, tak lupa memiliki kolam ikan yang diatur memanjang memutari rumah. Jadi seperti bentuk sungai gitu.
Why kok berbentuk seperti sungai?
Dulu aku suka menangkap ikan saat kecil, saat banjir dan banyak ikan di sungai, sebuah jaring (seser disebutnya di daerahku) sudah siap ditangan. Aku ingin bisa menangkap ikan seperti dulu. Namun bukan menangkap ikan di sungai alami tapi di sungai buatan.

Yah, itulah sekilas cuplikan cerita dalam buku diary ku yang usang. Masih banyak hal menarik di dalamnya sih tapi aku ingin membagi 3 hal itu saja. Karena 3 keinginan itu yang membuatku selalu bersemangat.

Membaca tulisan-tulisan itu sekarang, sebenarnya ada perasaan heran juga bahagia, kok aku punya keinginan seperti itu ya.Hehehe
Entah kapan, tapi aku yakin Allah pasti akan membantuku merealisasikannya. InshaAllah :)

Post by : Nurul Mutiara Risqi Amalia ( Manajemen A 2013 ; Yogyakarta )

Selasa, 08 September 2015

Langit dan kekagumanku terhadapnya

Setiap orang punya selera dan kekaguman sendiri terhadap alam . Ada orang yang kagum terhadap keindahan pantai, pegunungan, hijaunya persawahan atau bagian lainnya. Sama, aku pun demikian. Aku adalah seorang manusia yang sangat mengagumi  alam terutama langit. Apa yang spesial dengan langit? tak ada. Ya, bagi mereka yang tak mengerti mungkin tak ada. Tapi, langit selalu membuatku tenang. Melihat langit membuatku bisa merasakan bahwa Sang Maha Besar, Allah benar-benar indah dan maha segalanya. Langit. Aku ingin bisa selalu melihatnya. Entah langit biru, mendung ataupun langit sore dengan keindahan siluetnya. 

Langit senja 







Langit biru




Langit mendung





NB : gambar di ambil dari google

Langit begitu indah dan menyejukan, sebuah gambaran ketenangan dan juga sebuah harapan. Love sky, love Allah SWT,..


Post by : Nurul Mutiara R.A (Manajemen 2013 ; Yogyakarta)

Rabu, 02 September 2015

Cerita dan sebuah pagi




Sendu ini kian memuncak,
Sepaket sinar matahari tak membuatku beranjak,
Aku terdiam, aku terlelap
Tak ada gerak, tak ada riak
Semuanya hambar tak terelak,
Kucoba menatap sang mentari melalui desiran angin,
Namun sinarnya terlalu terang,
Menyilaukan mata, membuatku hanya terpana
Aku mencoba bertanya pada diri
Akankah selalu berarti?
Seperti mentari yang mengamatiku sedari tadi
Akankah selalu begini?
Merasa tak memiliki jati diri
Tapi,
Hidup telah membuatku memiliki arti,
Arti tentang diri, arti tentang sebuah langkah pasti
Bahkan saat mentari kian jauh bersembunyi
Langkahku masih tetap rapi
Tak ada alasan pasti
Aku hanya melangkah mengikuti kata hati
Dan inilah rangkaian ceritaku dalam sebuah pagi



Post and made by : Nurul Mutiara R.A (Manajemen 2013 UNY)
in Yogyakarta

Kamis, 13 Agustus 2015

Sekolah dan Ceritaku Didalamnya

Perkenalkan namaku Nurul Mutiara Risqi Amalia. Biasa dipanggil Nurul, Tiara, Nur, Tia, Nara, Mut, atau apapun, terserah asal sesuai dengan kaidah,hehehe

Aku terlahir dalam keluarga besar yang berjumlah 8 orang. Kakakku, Aku, dan 4 adikku. Eh tak lupa kedua orangtuaku.
Yup, di dalam tulisan ini aku akan curhat mengenai perjalananku dari SD sampai SMA. Kutulis ini sebagai pengingatku suatu hari nanti. Siapa tahu aku lupa. Oke, begin from the basic, elementary School.

SD Negeri Pacar

 Foto 1

Pacar adalah nama salah satu desa di Kabupaten Pekalongan. Biasanya, orang baru yang mendengar nama itu akan merasa heran.

"Hah nama desamu pacar?".

Memangnya ada yang aneh ya dengan nama itu. I don't know. Oh iya, SD Negeri Pacar adalah nama sekolah dasar dimana aku mengenyam pendidikan. Step hidupku dimulai sebagai anak kecil ingusan yang cupu dan malas. Meskipun begitu aku selalu ingin mendapat prestasi melebihi teman-temanku, walau agak sulit sih masa itu. Karena rekanku satu kelas banyak yang pintar melebihi aku. Dan sifatku yang masih malas-malasan menjadi penghambatku.

Di SD aku pernah mengikuti ekstrakulikuler Drum Band, ekskul yag cukup bergengsi saat itu. Aku mendapat kesempatan untuk memegang pianika, dan alat bernama tam-tam. Sangat menyenangkan.

Selama kelas 1 sampai kelas 6, ada beberapa pengalaman yang selalu teringat di otakku. Pertama adalah saat aku kelas 1 SD. Aku pernah kehilangan uang spp sejumlah Rp 3000,- dimana jumlah tersebut cukup besar pada saat itu. Aku dimarahi habis-habisan oleh ibuku. Padahal guruku sudah berpesan, jangan bilang ke ibu, biar beliau yang mengganti uangnya. Dasar anak kecil. Aku tak bisa menyembunyikan ketakutan dan tangisan dihadapan ibuku. Ketahuan deh jadinya,haha

Pengalaman kedua adalah saat aku ditabrak sepeda oleh kakak kelas. Masih kelas 1 SD. Ceritanya saat itu aku sedang main kejar-kejaran dengan temanku ( India-indiaan banget yah), eh ternyata dari samping si kakak kelas (sebut saja namanya Rudi) menabrakku hingga aku jatuh tersungkur. Saking kerasnya, badanku sampai babak belur. Aku pulang dalam keadaan kotor, penuh luka dan tentunya, terisak-isak ( Duh cengeng banget sih aku ini ). Setelah kejadian tabrak-menabrak itu, ada kejadian tak terduga. Si Rudi ternyata datang ke rumah tetanggaku yangmana bersebelahan denganku. Otomatis aku bilang pada ibuku bahwa anak yang duduk dirumah tetangga itu yang menabrakku. Ibuku langsung menemui dan marah-marah gak karuan sama si Rudi. Duh kasihan kalau aku ingat itu. Maaf ya. Aku masih kecil soalnya.hehe
Pengalaman ketiga adalah saat aku kelas 3 SD. Di Ulangan Akhir Semester aku pernah menggunakan kalkulator saat mengerjakan ujian matematika. Dan gregetnya ketahuan guru hingga aku dimarahi habis-habisan. Aku sampai nangis karena ketakutan akan dipanggilkan orangtua. Tapi aku bilang tidak akan mengulanginya lagi. So, dimaafkan deh sama pak guru.

Saat aku kelas 5, aku pernah tidak masuk sampai 1 bulan. Gak berturut-turut sih, tapi dikit demi sedikit. Kadang masuk, kadang enggak, kadang enggak, kadang masuk. Gara-gara hal tersebut aku sering dimarahi dan diancam akan dikeluarkan dari sekolah. Serem.

Di kelas 6 SD aku sedikit demi sedikit mulai merubah sifat burukku. Seorang guru memberiku inspirasi dan mendorongku untuk bersemangat dalam bersekolah. Beliau adalah guru yang tidak hanya menjadi favorit bagiku atau sekelas, tapi juga dari lain kelas. Beliau bernama Pak Hadiq. Pak Hadiq membuatku selalu bersemangat untuk berangkat. Pelajaran yang diberikan beliau tidak hanya tentang teori-teori yang membosankan. Tapi diselingi cerita-cerita lucu, haru dan unik. Selain itu sifat sabarnya itu yang disukai anak-anak. Ya, sampai sekarang aku masih memasukkan nama beliau didaftar orang berpengaruh untuk hidupku.

SMP 2 Tirto

Foto 2

Selepas bersekolah di SD, aku melanjutkan pendidikan di tingkat menengah pertama. SMP 2 Tirto. Sebuah sekolah yang terkenal di tempatku sebagai sekolah "buangan"

Why, kok bisa dikenal seperti itu?

SMP 2 Tirto terletak di wilayah yang cukup terpencil, bangunannya masih sederhana, sering terkena banjir dan merupakan sekolah yang menerima siswa yang tidak diterima di sekolah kelas favorit atau kelas menengah.

Foto 3

foto 4
Foto 3 dan 4 merupakan gambaran kondisi SMP-ku saat musin hujan. Dalam foto ke 4 ada bapak Asnawi, penjaga sekolah.

Awalnya aku agak malu masuk di sekolah itu. Yup, karena titelnya itu lho.
Aku masuk di SMP 2 Tirto karena terlambat mendaftar di SMP 1. So, tak ada pilihan lain selain di SMP tersebut.
Mindsetku tentang SMP 2 saat itu adalah sebuah sekolah yang berisi anak-anak nakal dan bodoh.
You know,

Itu salah guys. Aku belajar banyak saat bersekolah disana. Aku jadi tahu kehidupan teman-temanku yang sebagian besar dari keluarga petani dan pedagang biasa. Aku belajar mengenai karakter teman-teman dan para guru dari tempat tersebut. Aku bertemu dengan teman-teman yang sederhana. Aku memiliki guru-guru yang sangat care terhadap anak didiknya. Selain itu, aku juga tidak terlalu membebani kedua orangtuaku karena biaya di sekolah tersebut sangat murah.
Selama 3 tahun aku belajar banyak. Aku belajar bagaimana menghilangkan sikap arogan dengan memahami teman-temanku yang sederhana. Aku mulai menerima hidupku disana. Memulai mengembangkan beberapa prestasiku di bidang akademik. Prestasiku di SMP cukup bagus, tidak seperti di SD dulu.  Aku berusaha memperbaiki diri. Mulai belajar dan menghilangkan sifat malasku.

Aku masih ingat, saat Ujian Nasional dulu, aku mendapat rangking pertama dengan nilai total 32,45. Aku cukup bahagia dengan pencapaianku itu. Tak terlalu buruk.

Aku sangat mencintai SMP-ku. Aku malah pernah memiliki keinginan untuk membangunnya menjadi sekolah yang berkualitas dari segi guru maupun gedung. Sampai saat ini keinginan itu masih ada di otak. Yup, Inshaallah akan kuwujudkan.

SMA 1 Wiradesa

Foto 5

Tiga tahun aku berada di SMP, akhirnya aku bisa melanjutkan ke jenjang  yang lebih tinggi. Sekolah Menengah Atas. Aku berhasil masuk SMA 1 Wiradesa. Sebuah sekolah yang memiliki akreditasi yang cukup bagus dimata masyarakat.

Di SMA, saat kelas 10 aku menjadi seorang yang cukup getol mengejar nilai. Aku bahkan memiliki ambisi yang tinggi untuk bisa rangking 1 pararel. Namun masih cukup sulit, karena aku kurang pandai dalam matematika, Fisika dan Biologi.

Saat kenaikan kelas, ada 2 program studi yang harus kupilih, IPS atau IPA. Para guru dan orangtua menginginkanku masuk IPA namun aku menolak dan lebih memilih IPS. Aku mantap dengan keinginanku. Program itu yang sudah aku bidik dari awal masuk dulu.

Selama masuk sebagai siswa IPS, aku merasakan kebahagiaan. Aku merasa benar dengan pilihanku meski banyak guru-guru yang menyayangkan aku memilih program studi tersebut. Yah, tahu sendirilah kalau IPS itu dikenal berisi anak-anak badung dan tak taat aturan. Berbeda dari anak IPA yang cenderung rajin dan patuh terhadap guru. 

Kalau ku perhatikan sebenarnya memang anak-anak IPS cenderung lebih bebas dan senang melanggar aturan. Tapi tidak semua anak-anak IPS seperti itu. Banyak juga mereka yang keren dan cerdas. Bahkan ketua osis angkatanku berasal dari IPS. Perempuan pula. She is good in leadership. 

Sebenarnya stereotip buruk tentang IPS cukup bisa diredam saat angkatanku. Aku tak tahu mengapa, mungkin karena prestasi baik mulai terlihat dari anak-anak IPS.

Di kelas 11 aku pernah mengikuti olimpiade ekonomi tingkat kabupaten. Aku mendapat peringkat 5, sehingga tak berhak masuk ke tingkat selanjutnya. Aku juga pernah mengikuti lomba bahasa Prancis di UNNES. Hasilnya sama peringkat 5. Cukup baguslah untuk pemula yang baru belajar selama 1 tahun.hehe

Di kelas 12, aku cukup sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional. Belum lagi. Aku diharuskan untuk mengambil keputusan mau apa setelah lulus nanti. Aku tak pernah membayangkan akan kuliah. Awalnya. Namun karena guruku memberi dorongan untuk melanjutkan maka aku mengikuti saran dari guruku tersebut. Terlebih lagi aku sudah mengkonsultasikan ke kedua orangtuaku. Dan mereka berdua setuju.

Aku memilih 2 jurusan di UNY yang pertama adalah Manajemen dan Pendidikan Ekonomi.
Lalu 2 jurusan di UNNES, Manajemen dan Pendidikan Sejarah.
Aku memilih jurusan-jurusan tersebut karena sesuai dengan basikku, IPS.

Foto 6

Sekitar bulan Mei aku lulus dari SMA. Tinggal menunggu pengumuman dari universitas yang aku pilih. Ada 1 jawaban yang kutunggu. Itu menjadi saat paling horor dalam hidupku. Terdapat 2 jawaban nantinya. Ya atau tidak diterima.

Post By : Nurul Mutiara R.A ( Manajemen 2013 ; 2.12 WIB ; Yogyakarta )


Senin, 10 Agustus 2015

Pendidikan untuk perempuan, itu hal penting.


Saat aku pulang ke Pekalongan, aku mendapat undangan pernikahan teman masa SMP dulu. Dia adalah teman yang cukup dekat denganku. Suatu waktu, ketika aku sedang bersalaman dengannya, si ibu bertanya padaku tentang kegiatanku sekarang ini. Aku jawab aku masih kuliah di Yogyakarta. Lalu si ibu itu bertanya lagi, "Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya menjadi ibu rumah tangga?" 

Aku terdiam. Beberapa detik kemudian aku menjawab bahwa aku hanya ingin memberi pendidikan terbaik untuk anak-anakku nanti. Salah satunya dengan berpendidikan tinggi. Sebab seorang ibu merupakan poin penting dalam mengembangkan pemikiran dan jiwa seorang anak. ( kujelaskan dengan bahasa dan versi orang Pekalongan ) hehe

Perempuan memang memiliki kodrat yang demikian, menjadi ibu rumah tangga. Namun tak boleh hanya menjadi ibu rumah tangga biasa, harus menjadi seorang ibu yang hebat dan bisa memberi pendidikan terbaik. Meskipun pendidikan tak harus dilakukan di sekolah, namun Allah masih memberi kesempatanku untuk berpendidikan melalui kuliah. Oleh karena itu kesempatan seperti ini tak akan ku sia-siakan.


Entah, mengapa masih banyak mereka yang belum terlalu peduli mengenai hal bernama pendidikan. Mungkin karena pendidikan merupakan hal abstrak yang tidak terlihat pengaruhnya secara langsung. Tak hanya untuk laki-laki, pendidikan sangat dibutuhkan oleh perempuan. Meskipun perempuan tak akan bekerja nantinya namun mengubah pola pikir, mengembangkan skill berupa mental kepemimpinan, keberanian, tanggungjawab dan juga kesabaran didapatkan melalui pendidikan. Pendidikan bisa mengenalkan berbagai macam pengetahuan dan juga mengenalkan berbagai karakter orang-orang.  Mereka yang memiliki mental baja, penuh semangat dan juga memiliki kreativitas yang tinggi adalah mereka yang mau melakoni satu hal bernama pendidikan. 

Menurutku pendidikan itu tidak hanya dipandang sebagai cara seseorang mendapatkan pekerjaan yang hebat lalu menghasilkan uang yang banyak atau sekedar untuk dipandang keren dimasyarakat. Pendidikan itu sebagai kunci bagaimana diri bertindak, bersikap lebih dewasa dan menggunakannya untuk kepentingan sosial. Pendidikan memberi sumbangan pemikiran yang lebih variatif dan terbuka.


Sebagian besar teman-temanku yang sekarang berkuliah bisa aku katakan orang-orang yang sangat hebat. Itu bisa kulihat dari berbagai skill yang mereka miliki. Ada yang hebat dalam kepemimpinan di organisasi, akademik dengan IPK yang tinggi, ada yang bisa membuat karya hebat hingga menang di ajang internasional, ada yang bisa mendesain karya hingga menjadi luar biasa dll. Aku mengenal mereka melalui pendidikan yang aku tempuh. Yup aku seorang perempuan tapi aku juga tak mau kalah dalam mengembangkan skill ku dan juga mengembangkan mindset-mindset positifku. Aku seorang perempuan dan aku harus menjadi hebat. Karena aku juga seorang calon ibu suatu hari nanti dan aku ingin membuat anak-anakku hebat. 

Inti dari ulasanku adalah seorang perempuan itu harus hebat melalui  pendidikan yang didapatkannya. Karena mereka adalah guru bagi putra-putrinya kelak.
Bukankah anak-anak adalah agent of change
Bukankah anak-anak adalah calon raja suatu negeri  (Asuma Sarutobi)
kehebatan mereka didapat dari pendidikan yang diberikan dari lingkungan keluarga. Terutama seorang ibu. Ya seorang perempuan.

Post By : Nurul Mutiara Risqi Amalia ( Manajemen 2013 UNY ; Yogyakarta ; 10 Agustus 2015 ; Senin )

Minggu, 26 Juli 2015

IPK, dan diriku.

Ada yang merasa nilai tinggi (IPK) adalah segalanya?

Bagiku sekarang ini, nilai yang kudapatkan dalam setiap mata kuliah yang ada memang tidak begitu penting seperti saat SMP dan SMA dulu. Memang, aku masih tetap berharap nilaiku dalam daftar indeks prestasi meningkat, paling tidak stabil. Namun harapan itu juga tidak terlalu dalam atau se-ambisius saat menjadi siswa.

Aku jadi terbayang masa silam ketika aku begitu heboh dan berambisi untuk mendapatkan nilai tertinggi. Semua teman-temanku di kelas aku anggap seperti musuh di medan perang yang siap menyerang. Tak ada kata kerjasama dalam kamusku, yang ada hanyalah sebuah persaingan secara ketat yang tidak bisa diganggu gugat.
Selama beberapa waktu aku menjalani pendidikanku dengan cara seperti itu, selama itu pula aku kehilangan hal-hal berharga dalam hidupku. Aku kehilangan teman, dan yang lebih parah muncul arogansi dalam diri. Aku menjadi sosok yang egois, sok pintar dan dipenuhi dengan ambisi-ambisi untuk mengalahkan. Tentu, selama itu pula nilai-nilai dalam raporku begitu tinggi, bahkan aku mendapat juara 1 pararel.
Aku menyadari nilai bukan segalanya setelah menginjak kuliah. Di perkuliahan aku lebih menyukai pembelajaran bebas yang lebih mengutamakan pengembangan skill. Ada organisasi yang membantuku untuk berpikiran terbuka dan menguji kemampuanku dalam hal leadership. Aku menemukan teman-teman dengan berbagai karakter dan kelebihannya masing-masing.

Sekarang, aku tidak ingin hidup hanya untuk mencari nilai tertinggi. Aku ingin hidup menjadi orang yang berguna dan mengembangkan sesuatu yang ada dalam diriku. Nilai memang penting, tapi tidak lagi sepenting dulu. 

Post by : Nurul Mutiara Risqi Amalia ( Yogyakarta, 26 Juli 2015 ; 11.39 WIB )

Kamis, 23 Juli 2015

Happy Feet and Happy Feet 2

Terkadang cerita-cerita yang kita lihat atau kita dengar bisa membuat kita merasakan kagum atau bahkan haru. Cerita-cerita itu penuh dengan keistimewaan yang siapapun pembaca atau pendengarnya seolah-olah berada didalamnya. Hari ini aku ingin mengulas mengenai sebuah cerita yang dibuat dalam bentuk film animasi "Happy Feet". Tahu atau pernah lihat film tersebut?

Sebuah film yang disutradarai oleh George Miller ini merupakan cerita tentang pinguin yang sedang mencari jati diri. Mumble merupakan tokoh utama dalam film tersebut. Mumble adalah seekor pinguin yang hidup di kawanan pinguin penyanyi. Namun dia tidak bisa bernyanyi seperti kawanannya tersebut. Dia memiliki kemampuan lain yakni menari dengan menghentakkan kaki-kakinya. Karena kemampuan berbedanya itu, ia di cemooh oleh kawanannya, bahkan dianggap memiliki kecacatan karena secara tidak sengaja jatuh oleh sang ayah ketika masa pengeraman.
Cemooh dan makian berlanjut hingga dia memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan yang ia lakukan bukan tanpa alasan. Dia melakukan perjalanan untuk mencari tahu alasan ikan-ikan mulai langka di wilayah tersebut, padahal ikan merupakan makanan utama para pinguin. Dia memang tidak sendiri. Ditemani oleh pinguin dari wilayah lain, Mumble memulai perjalanannya.



Perjalanan itu memang membuahkan hasil. Mumble akhirnya tahu alasan ikan-ikan mulai langka. Ikan-ikan itu ditangkap secara masal oleh manusia. Singkat cerita kemampuan Mumble dalam menari itulah yang menyelamatkan Mumble beserta ras pinguin lain. 
Mungkin bagi teman-teman yang sudah pernah menonton, film ini sudah berlalu terlalu lama. Yup, karena dibuat tahun 2006. 

Sebenarnya yang ingin kuulas disini yaitu mengenai amanat yang diselipkan dalam cerita. Begitu dalam dan menggetarkan hati. Cerita tentang sosok yang tidak patah semangat dan haus akan keingintahuan. Sosok yang memberi pelajaran bahwa Tuhan menciptakan setiap hal dengan kelebihan masing-masing. Dalam cerita tersebut Mumble memang tak bisa bernyanyi. Tapi kemampuan menari yang dimiliki itulah yang kemudian membawa manfaat bagi diri dan juga teman-temannya.
Jujur, aku sampai menangis saat melihat adegan Mumble diusir dari kawanannya karena kemampuan menarinya tersebut.


***

Oh iya pada tahun 2011 lalu George Miller juga membuat sekuel dari Happy Feet  yakni Happy Feet 2 yang bercerita tentang Erik anak dari Mumble dan Gloria (tokoh pinguin betina). Ceritanya tentu tak kalah seru dari cerita bagian pertama. Kalau ku amati, cerita yang kedua lebih mengenai cinta seorang ayah terhadap anaknya dan juga mengenai sebuah persatuan yang hebat. 





Cerita dalam Happy Feet baik yang 1 maupun ke 2 memiliki pesan-pesan tersirat yang membuat bergidik. Bagiku cerita dalam kedua film tersebut adalah suatu keistimewaan. Aku akan tak pernah bosan memontonnya walau berkali-kali. Sungguh cerita yang hebat dan memberiku nilai positif. Bagi yang belum menonton, nonton deh. Keren sekali pokoknya ^_^


Post By : Nurul Mutiara Risqi Amalia ( Manajemen A 2013 ; Yogyakarta ; 17.53 WIB )