Jumat, 30 September 2011



Reuters Kondisi kelaparan di Somalia, Selasa (2/8/2011)

NAIROBI, KOMPAS.com - Kekeringan dan kelaparan di Somalia, hingga Kamis (4/8/11), telah menewaskan lebih dari 29.000 anak balita dalam tiga bulan ini.  Jumlah ini sangat mencengangkan, suatu bencana kemanusiaan terparah dalam krisis di Tanduk Afrika itu.         
PBB telah mengatakan sebelumnya bahwa puluhan ribu orang telah tewas akibat kekeringan yang terburuk di Somalia dalam 60 tahun ini.  PBB mengatakan 640.000 anak  kekurangan gizi akut, suatu statistik yang dapat mengidikasikan bahwa angka kematian anak akan naik.         
Nancy Lindborg, pejabat lembaga bantuan pemerintah AS di depan komite Kongres AS di Washington, Rabu, bahwa AS memperkirakan lebih dari 29.000 anak balita Somalia selatah tewas dalam 90 hari terakhir.  Jumlah itu berdasarkan survei gizi dan kematian yang diverifikasi oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDCP) AS.         
PBB juga pada hari Rabu menyatakan tiga daerah baru masuk dalam di zona kelaparan Somalia, sehingga jumlah wilayah menjadi lima di seluruh Somalia selatan. Dari populasi sekitar 7,5 juta, PBB mengatakan 3,2 juta warga Somalia sangat membutuhkan bantuan darurat.         
Distribusi bantuan semakin sulit karena kelompok militan Al Shabab, yang tidak lain adalah sayap Al Qaeda, mengendalikan sebagian besar wilayah negara yang paling menderita itu.  Al Shabab membantah ada kelaparan. Mereka melarang Program Pangan Dunia PBB (WFP) menyalurkan bantuan ke sana.         
Puluhan ribu pengungsi telah melarikan diri ke daerah tengah Somalia dengan harapan akan menemukan makanan di kamp-kamp di Ethiopia, Kenya dan di Mogadishu. Ratusan juta dollar AS telah disumbangkan untuk melawan krisis kelaparan, tetapi PBB mengatakan mereka membutuhkan lebih ratusan juta dollar lagi.